Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 22


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Johan terus melaju hingga sampai di depan caffe miliknya. Lelaki itu hanya mengantarkan kekasihnya dan baru akan kembalike caffe siang nanti karena ada urusan kantor yang harus ia selesaikan. Seperti biasa, Arum menunggu mobil Johan menghilang dari pandangan baru kemudian masuk ke dalam. Namun, baru saja hendak memutar badannya. Sebuah mobil yang sangat familiar berhenti tepat di hadapan wanita cantik itu. Arum hanya diam sembari menunggu si pemilik keluar dari dalam mobil.


"Selamat pagi, Arum," sapa Arka dengan begitu lembut.


"Pagi, ada apa? Ini masih jam tujuh dan caffe baru akan buka nanti jam sembilan," ujar Arum sedikit ketus.


"Ketus banget sama aku, padahal tadi sama Johan keliatan full senyum banget," goda Arka yang membuat Arum kian merasa kesal.


"Jelas aku full senyum, karena dia adalah calon suamiku." Arum mengangkat jari manisnya untuk menunjukan cincin berlian pemberian dari Johan semalam.


"Ka- kamu beneran mau menikah dengan Johan?" Mata Arka melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, sedangkan Arum hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil kemudian segera berlalu untuk masuk ke dalam caffe.


Arka hanya bisa menatap punggung mantan istrinya yang semakin menjauh dengan penuh penyesalan. Hati Arum sudah benar-benar menjadi milik Johan, tak ada lagi yang bisa dilakukan olehnya. Apakah ini artinya Arka harus menerima kehadiran Aline dan bayi yang berada dalam kandungannya dengan sepenuh hati. Arka mengusap wajahnya kasar, menyesali perbuatannya pada Arum di masa lalu.


Drrttt drrrt drrrttt.


Handphone yang bergetar di dalam saku membuat lamunan Arka buyar seketika, dahi lelaki itu mengernyit melihat kontak sang ibu yang terteta di layar. Dengan segera Arka menggeser icon berwarna hijau di layar benda pipih itu.


"Hallo, Bu. Ada apa? Arka baru aja sampai kantor," bohong Arka pada wanita di seberang telepon.


"Arka, kamu pulang sekarang. Ini Aline jatuh terus pendarahan." Suara Bu Kanti terdengar begitu panik.


"Apa? Kok bisa? Ya sudah, aku pulang sekarang." Arka mengakhiri panggilan itu secara sepihak kemudian kembali melajukan mobilnya untuk pulang dengan kecepatan tinggi setelah meminta izin untuk cuti.

__ADS_1


"Kenapa Aline sampai pendarahan segala sih," gumam Arka yang menginjak pedal gasnya semakin dalam.


Setibanya di rumah, Arka langsung mencari-cari keberadaan sang istri. Dengan langkah lebar, lelaki itu menaiki anak tangga menuju ke kamar tapi tak menemukan keberadaan sang istri. Sampai terdengar suara teriakan dari Bu Kanti yang berada di lantai bawah.


"Arka!! Aline ada di sini!"


Dengan buru-buru Arka kembali menuruni anak tangga, menuju ke kamar sang ibu yang menjadi sumber suara. Arka begitu terkejut kala mendapati sang istri tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan darah segar yang mengalir dari sela-sela kakinya. Tanpa bicara, Arka langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke mobil dengan Bu Kanti yang mengekor di belakang.


"Kenapa Aline bisa sampai seperti ini sih, Bu?" tanya Arka yang mulai melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.


"Ta- tadi, Ibu suruh dia bersihkan kamar mandi. Eh, malah kepeleset dan jadi seperti ini," jawab Bu Kanti dengan wajah takut.


"Ya ampun, Ibu kan tahu kalau Aline nggak bisa melakukan itu. Apalagi dia lagi hamil muda dan fase ngidam, pasti badannya lemes," ucap Arka yang mulai murka, entah mengapa lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi perhatian pada sang istri.


Mobil yang dikemudikan oleh Arka telah sampai di rumah sakit. Beberapa perawat segera mendorong tubuh Aline yang sudah terbaring di atas brankar menuju ke UGD. Sedangkan Arka dan Bu Kanti harus menunggu di depan ruangan.


Entah mengapa, Arka yang biasanya tak peduli pada Aline. Kini begitu takut kehilangan, takut jika Aline akan pergi bersama calon anak mereka. Lelaki itu terus mondar-mandir di depan pintu, tak sabar menunggu dokter dan perawat keluar untuk memberitahukan keadaan Aline beserta janinnya.


"Arka, kamu ngapain sih mondar-mandir begitu. Bikin Ibu pusing aja lihatnya," keluh Bu Kanti tanpa rasa bersalah.


"Kok ngapain sih, Bu? Tentu saja Arka pengen tahu gimana keadaan Aline dan bayinya. Memangnya Ibu nggak pengen tahu?"


"Alah, pasti mereka juga baik-baik aja. Aline aja yang manja pakai pingsan segala."

__ADS_1


Pintu telah terbuka, Arka dengan buru-buru menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya? Mereka baik-baik saja kan, Dok?" cecar Arka pada dokter wanita itu.


"Mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha se-maksimal mungkin, tapi karena usia kandungan Bu Aline yang masih muda dan benturan yang cukup keras sehingga membuat Bu Aline kehilangan bayinya."


Deg!


Jantung Arka mencelos seketika mendengar penjelasan sari sang dokter yang baru saja berlalu dari hadapannya. Lagi-lagi Arka kembali didera rasa bersalah, ia yang selalu sibuk untuk mengejar kembali cinta Arum sampai tak pernah memperhatikan kondisi Aline dan kandungannya. Kini, janin itu telah benar-benar pergi. Memupus harapan Arka untuk segera menjadi seorang ayah. Tubuh lelaki itu luruh ke lantai bersamaan dengan bulir bening yang menetes di pipinya. Arka tak peduli lagi dengan orang-orang yang berlalu lalang dan menatap aneh kepadanya.


Bu Kanti yang merasa malu melihat tingkah sang anak segera mendekat. Menarik tubuh Arka agar kembali berdiri dan mendudukannya di salah satu kursi tunggu yang berada si depan ruangan UGD.


"Arka, sudah donk. Jangan nangis begitu, malu dilihatin banyak orang. Kamu dan Aline itu masih muda, pasti Aline akan cepat hamil lagi. Nggak usah lebay begitulah," ucap Bu Kanti seolah tak peduli dengan perasaan Arka saat ini.


Sejujurnya bukan hanya rasa bersalah yang mendera Arka saat ini, namun ia juga bingung bagaimana caranya mengatakan pada Aline jika wanita itu telah kehilangan calon anak mereka. Di tengah-tengah kebingungan Arka, pintu ruangan itu kembali terbuka. Para perawat mendorong brankar Aline menuju ke ruang rawat. Arka dengan setia mengekor di belakang para perawat itu.


Kini tubuh Aline masih terbaring tak sadarkan diri, Arka duduk di sebuah kursi samping ranjang sembari menggenggam jemari sang istri. Air mata masih menetes dari sudut netranya.


"Aline, maafkan aku. Lagi-lagi aku gagal menjadi seorang suami, bahkan kali ini aku gagal menjadi seorang ayah. Maafkan aku yang tak bisa menjaga kalian berdua," sesal Arka yang sesekali mengecup lembut punggung tangan Aline di dalam genggamannya.


Bu Kanti mendekat dan menepuk lembut bahu putranya itu.


"Sudah Arka, kamu tidak gagal. Kamu laki-laki yang baik," ucap Bu Kanti berusaha menenangkan putranya.

__ADS_1


"Mana ada laki-laki baik yang menghamili sahabat istrinya, Bu. Dan di mana ada lelaki baik yang tak bisa menjaga istri dan calon bayinya." Arka kembali mengingat perbuatan buruknya di pada Arum dan Aline.


__ADS_2