Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 46


__ADS_3

Arum semakin mendesak sang suami untuk segera menjawab pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Mau tak mau Johan harus mengatakan hal yang sebenarnya, lelaki itu juga tak mau jika sampai sang istri mengetahui hal ini dari mulut orang lain. Ia yakin jika sampai hal itu terjadi, akan menyebabkan terjadinya keributan besar dalam rumah tangga mereka.


Johan mendekat, merangkul bahu sang istri dan bersiap-siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Berharap Arum tak berprasangka buruk apalagi sampai menuduhnya macam-macam.


"Sebenarnya, aku besok ada meeting sama ayahnya Fitri, dan beliau sama sekali nggak mau kalau aku diwakilin sama asistenku. Jadi aku terpaksa harus datang sendiri." Kalimat itu akhirnya berhasil lolos dari bibir Johan.


Seketika Arum menghempaskan tangan sang suami dari bahunya dengan kasar. Wanita itu menatap tajam ke arah Johan yang tengah menunduk.


"Kalau kamu meeting sama ayahnya Fitri, berarti ada perempuan gatal itu juga dong Mas di sana?"


Emosi Arum langsung memuncak setelah mendengar penjelasan dari sang suami. Rasa cemburu berkobar begitu saja di hati Arum, seketika perasaan wanita itu menjadi tak enak. Takut jika sampai Fitri memiliki rencana lain di balik acara pertemuan itu. Dan entah mengapa, sudut mata Arum tiba-tiba basah. Merasakan ketakutan yang luar biasa tanpa sebab.


"Sayang, kamu menangis? Ada apa?" tanya Johan saat melihat mata basah sang istri.


Wanita itu bukannya menjawab, malah merangsek masuk ke dalam pelukan sang suami dan menangis kencang di sana.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok nangisnya malah semakin kencang begitu?" heran Johan namun berusaha memaklumi, mungkin itu hanya efek hormon kehamilan yang dialami oleh istrinya.


Arum melepaskan diri dari pelukan sang suami, menatap lekat-lekat wajah tampan lelaki di hadapannya. Tangan Johan terulur, menghapus jejak air mata di pipi sang istri menggunakan ibu jarinya.


"Ayo katakan ada apa, nggak biasanya kamu sampai nangis seperti ini?" titah Johan pada sang istri.


Arum mendesah kasar, "Aku juga nggak tahu kenapa, Mas. Tapi, tiba-tiba aku ngerasa sedih banget setelah dengar kamu besok mungkin akan bertemu dengan Fitri di sana. Aku takut kalau dia punya rencana lain. Aku juga takut banget kalau nantinya aku akan kehilangan kamu."

__ADS_1


Air mata kembali mengalir dari kedua netra indah milik Arum.


"Sudah, mungkin itu hanya karena perubahan hormon kehamilan kamu. Makanya kamu jadi gampang sedih dan gampang emosi. Aku janji sama kamu, aku nggak akan pernah tergoda sama Fitri. Apalagi sebentar lagi kita akan punya dua bayi kembar di rumah ini." Johan mencoba untuk menenangkan wanita yang tengah hamil muda itu, Arum mengangguk dan kembali memeluk mesra tubuh sang suami.


******


Hari masih sore, namun Arum sudah asyik mengacak-ngacak seluruh isi lemarinya. Entah apa yang dicari oleh wanita itu. Sang suami yang baru saja masuk ke dalam kamar dibuat heran oleh tingkah sang istri. Perlahan, lelaki itu mendekat dan memeluk Arum dari belakang.


"Sayang, kok lemarinya diberantakin semua? Kasihan dong nanti Bi Marni harus beresin lagi," bisik Johan dengan lembut.


Arum memutar badannya menghadap sang suami, bibirnya mengerucut dengan wajah yang cemberut.


"Aku itu lagi bingung, Mas. Lagi nyari-nyari baju yang cocok buat aku pakai untuk pergi makan malam ke rumah Aline, nanti malam. Badan aku kan sekarang gendut banget semenjak hamil, aku takutnya kalau baju yang aku pakai malah bikin aku terlihat semakin gendut," rengek Arum seperti seorang anak kecil yang tengah bermanja pada ayahnya.


Johan terkekeh geli melihat tingkah absurd sang istri beberapa waktu ini. Bagaimana bisa Arum bilang kalau badannya itu gendut, sedangkan perutnya saja masih rata. Berat badannya pun mungkin juga belum naik.


Johan menarik tangan sang istri dan membawanya ke sebuah cermin besar yang ada di kamar mereka.


"Itu lihat, badan kamu masih langsing, perut kamu juga masih rata. Kamu masih tetap cantik pakai baju apapun, jadi enggak usah bingung nanti mau pakai baju apa." Lelaki itu tengah mencoba menghentikan kekonyolan sang istri.


Mata Arum memicing, memindai pantulan dirinya di dalam cermin dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian tersenyum puas.


"Eh iya juga ya, Mas. Ternyata aku masih langsing. Ya udah deh, aku pakai baju apa aja kalau gitu. Makasih ya, Mas," ucap Arum tanpa rasa bersalah, wanita itu berjalan kembali menuju lemari yang sudah berantakan dan membereskan baju-baju itu sendiri karena kasihan jika Bi Marni yang harus membereskan semua kekacauan itu.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusan lemari yang berantakan, Arum segera membersihkan dirinya dan memakai sebuah dress selutut berwarna hitam yang dipadukan dengan flat shoes warna senada. Tak lupa untuk memoles wajah cantik alaminya dengan make up natural agar terlihat semakin segar dan mempesona. Setelah memastikan penampilannya sempurna, wanita muda itu langsung menghampiri sang suami yang sedari tadi sudah menunggunya di ruang tamu.


"Ayo, Mas. Kita berangkat sekarang. Nanti kamu malah telat lagi meetingnya sama si nenek lampir itu," ajak Arum dengan nada ketus yang sengaja ia buat-buat.


"Ya ampun, galak banget sih istri aku ini. Kan belum tentu kalau ada si Fitri, siapa tahu aja cuman ayahnya yang datang untuk meeting sama aku," sangkal Johan berusaha meredam emosi sang istri. Namun, tak ada tanggapan lagi dari Arum.


Wanita itu langsung menggandeng tangan sang suami menuju ke mobil yang masih terparkir di car port. Johan mulai menginjak pedal gasnya, melajukan mobil miliknya dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Aline. Setibanya di sana, Johan langsung pergi tanpa bertemu dengan Aline dan Arka terlebih dahulu. Sementara Arum bergegas untuk menekan bel pintu rumah sahabatnya, beberapa menit kemudian Aline dan Arka muncul dari balik pintu dengan wajah yang sumringah.


"Selamat datang Arum," ucapan Aline terhenti, dahinya mengernyit melihat sang sahabat yang hanya datang seorang diri.


"Lho kok cuma sendirian?" tanya Aline kemudian.


"Mas Johan lagi ada meeting mendadak, jadi nggak bisa ikut ke sini. Tadi dia cuma antar aku aja, tapi nanti pulangnya dia jemput lagi kok," jelas Arum membuat sang sahabat manggut-manggut sebagai tanda mengerti.


"Ya udah, yuk masuk. Kita makan dulu." Aline langsung menggandeng tangan sahabatnya itu ke ruang makan yang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan hasil masakannya sendiri.


"Tunggu, kok kita langsung makan? Katanya kamu mau ngasih kabar gembira buat aku?" cegah Arum saat Aline akan mengambilkan nasi untuk dirinya.


Aline terkekeh geli, memandangi wajah sahabatnya yang masam karena terlanjur penasaran dengan kabar apa yang akan disampaikan oleh sahabatnya.


"Sabar dong, sekarang makan dulu ya," ucap Aline kemudin kembali menyendokkan nasi untuk Arum.


Pada akhirnya Arum tetap menyantap semua makanan yang disuguhkan oleh sahabatnya hingga seluruh isi piringnya tandas.

__ADS_1


"Arum ...." Ucapan Aline terhenti karena suara nada dering yang berasal dari handphone Arum.


Wanita itu mengambil gawainya dari dalam tas, dahinya mengernyit kala melihat panggilan telepon dari nomor telepon yang tak dikenal.


__ADS_2