
Pria paruh baya bernama Tirta Nugraha itu mendesah kesal setelah mendengar semua keinginan putrinya, lelaki itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Sang putri seorang diri. Tirta malangkah lebar menuju mobil yang terparkir di garasi, mulai menginjak pedal gas menuju ke rumah sakit tempat di mana Johan dirawat. Lelaki itu berniat untuk menemui Arum dan berbicara empat mata agar bisa menghentikan rencana jahat putrinya.
Setibanya di rumah sakit, Tirta segera menuju ke ruang di mana Johan dirawat. Tentu saja ia sudah tahu karena Fitri juga menceritakan semuanya padanya dan apa yang sebenarnya terjadi di malam itu. Fitri yang melihat mobil Johan keluar dari restoran tempat ia meeting bersama Tirta segera membuntuti mobil Johan. Wanita itu sempat membuat Johan menghentikan mobilnya dan menyatakan perasaan cintanya pada lelaki itu. Namun, lagi-lagi mendapat penolakan dari pria itu. Johan tetap tak bisa menerima Fitri karena ia sudah memiliki Arum. Apalagi saat itu Arum tengah hamil muda, lelaki itu segera bergegas pergi meninggalkan Fitri seorang diri untuk menjemput Arum yang berada di kediaman Aline.
Namun, tanpa diduga Fitri malah mengikuti mobil itu dan menabrak bagian belakang mobil Johan hingga oleng lalu menabrak pembatas jembatan. Tentu saja semua itu telah direncanakan dengan matang oleh Fitri. Bahkan, ia juga meminta seseorang untuk merusak CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian agar tak ada seorangpun yang bisa menemukan bukti tindak kejahatan yang ia lakukan.
Kini, Tirta telah berdiri di depan pintu ruangan Johan. Melihat Arum yang setia berbaring di ranjang pasien bersama sang suami melalui kaca kecil yang ada di pintu tersebut. Perlahan, Tirta mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu beberapa saat sampai Bi Marni muncul dari balik pintu.
"Maaf, siapa ya?" tanya Bi Marni dengan kedua mata yang menyipit karena sama sekali belum pernah melihat pria paruh baya yang kini berdiri di hadapannya.
"Selamat malam, Bu. Bisa saya bicara dengan Arum?" ucap Tirta berusaha bersikap se-sopan mungkin.
"Non Arum ada di dalam, silakan masuk." Tirta mengikuti langkah wanita paruh baya itu untuk masuk ke dalam. Menghampiri Arum yang mulai memejamkan matanya di samping sang suami.
Dengan hati-hati, Bi Marni menyentuh pundak bagian belakang wanita itu, "Non, ada yang mencari Non Aru."
Lirih suara Bi Marni membuat arum kembali membuka matanya, "Siapa, Bi? Arka atau Aline?"
"Bukan, Non. Saya juga tidak tahu beliau ini siapa."
Arum bangkit dari posisinya, menatap pria paruh baya yang sudah berdiri di belakang Bi Marni.
"Bapak siapa ya?" tanya Arum yang juga tak pernah bertemu dengan Tirta sebelumnya.
__ADS_1
Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri pada istri Johan, "Perkenalkan Arum, saya Tirta. Rekan bisnis Johan sekaligus Ayah Fitri."
Jantung Arum berdegup kencang mengetahui siapa lelaki yang tengah berdiri di hadapannya.
"Apalagi ini, hari ini putrinya ketahuan jika diam-diam selalu mengintip kamar rawat suamiku dan sekarang Ayahnya datang menemuiku?" batun Arum dalam hati kemudian menyalami lelaki itu sekilas.
"Arum, Saya ingin bicara empat mata dengan kamu. Apakah kamu ada waktu?" Arum berpikir sejenak sebelum menjawab, ia juga takut jika lelaki itu juga memiliki niat tertentu kepada dirinya.
"Kamu tidak usah takut, kita bisa bicara di kursi tunggu luar ruangan ini kalau kamu takut untuk pergi bersama saya," ucap Tirta seakan mengerti gurat kegelisahan di wajah Arum, wanita itu mengangguk kemudian berjalan keluar dari kamar rawat Johan dengan Tirta yang mengekor di belakangnya. Keduanya menghenyak di kursi tunggu yang ada di dekat pintu.
"Ada perlu apa Bapak menemui saya?" tanya Arum to the point.
"Saya ingin jujur kepada kamu, tapi sebagai seorang ayah, bolehkah saya meminta satu hal kepada kamu?"
"Setelah saya mengatakan semuanya, Saya mohon kamu jangan melaporkan putri saya ke kantor polisi." Ucapan Tirta membuat Arum semakin kebingungan, seolah Fitri benar-benar dalang dibalik semua ini.
"Bagaimana saya bisa mengambil keputusan kalau bapak saja belum menceritakan semuanya," jawab Arum yang terdengar ambigu.
"Tirta menghela nafasnya panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan, lelaki itu mulai menceritakan rentetan kejadian yang menimpa Johan dari awal sampai akhir. Termasuk kebiasaan putrinya yang selalu datang ke rumah sakit." Mata Arum bola sempurna, tangannya membekap mulutnya sendiri yang menganga karena terkejut mendengar cerita dari pria paruh baya itu. Ternyata tebakannya selama ini tidaklah salah, Fitri benar-benar penyebab dari kecelakaan yang dialami oleh Johan.
"Bapak bilang saya tidak boleh melaporkan semuanya kepada polisi? Lalu, bagaimana jika Bapak berada di posisi saya? Saya tengah hamil besar, bahkan sebentar lagi saya harus melakukan prosedur operasi caesar untuk melahirkan anak saya. Tapi, suami saya sudah koma selama berbulan-bulan dan sampai sekarang belum sadarkan diri karena ulah putri bapak!" Suara Arum mulai serak akibat menahan tangis.
"Justru karena itu saya ke sini. Saya punya pilihan jika kamu ingin Fitri menghentikan semua tingkah konyolnya ini."
__ADS_1
"Pilihan? Pilihan macam apa yang Bapak maksud? Apa saya harus merelakan suami saya untuk bersama putri Bapak yang seorang psikopat itu?" geram Arum seraya mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
Bagaimana bisa lelaki itu meminta dirinya untuk memaafkan Fitri yang sudah jelas-jelas telah sengaja memporak-porandakan kehidupan rumah tangganya.
"Semua pilihan ada di tangan kamu Arum. Jika kamu tidak mau meninggalkan Johan, saya yakin jika Fitri akan semakin nekat," ucap Tirta dengan nada sedikit mengancam. Namun, tak berhasil membuat Arum merasa takut dan mau menuruti permintaan pria setengah tua itu.
"Terserah putri anda mau berbuat apa, yang jelas saya tidak akan pernah mau meninggalkan suami saya!" tegas Arum kemudian kembali masuk ke dalam ruang rawat sang suami, meninggalkan Tirta yang mengusap wajahnya kasar karena frustasi. Lelaki itu melangkah gontai meninggalkan rumah sakit untuk kembali berusaha membujuk Fitri agar menghentikan semua rencana gilanya.
********
Sinar mentari baru saja menampakkan sinarnya, menyesap bulir-bulir embun yang membasahi dedaunan. Arum yang baru saja terbangun dari lelap tidurnya merasakan lapar yang luar biasa. Wanita muda itu menghampiri Bi Marni yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Arum laper banget, Bi. Pengen makan ketupat sayur yang ada di seberang rumah sakit ini," ujar Arum mengutarakan keinginannya.
"Kalau begitu biar saya yang belikan saja ya, Non. Supaya Non Arum nggak capek jalan terus."
Arum buru-buru menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, Bi. Biar saya aja yang beli sendiri, diibungkus nanti sekalian kita makan berdua di sini ya. Arum juga mau ngambil uang di ATM. uang Arum sudah mulai menipis."
"Yaa sudah, tapi Non hati-hati ya. Kalau nyebrang juga lihat kanan kiri dulu, Bibi takut terjadi sesuatu sama Non. Apalagi setelah tahu kalau wanita itu adalah dalang di balik semua ini," pesan Bi Marni yang seolah sedang memperingati anak kecil.
Arum tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala, wanita itu melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu kemudian mengambil tas selempang kecilnya dan mulai berjalan menuju ke kedai ketupat sayur yang berada di seberang rumah sakit itu. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Arum berniat untuk kembali ke rumah sakit dan menikmati sarapan bersama asisten Vi Marni. Namun, saat Arum hendak menyeberang jalan tiba-tiba dari arah lain muncul sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Arum yang begitu terkejut hanya bisa membeku di tempatnya. Tak mampu lagi untuk menghindari kecelakaan itu.
"Bu Arum awas!" teriak seseorang yang berdiri di pinggir jalanan depan rumah sakit.
__ADS_1