Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 58


__ADS_3

Semalaman penuh Arka dan Aline tak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan rumah yang kini telah diambil alih oleh teman arisan sosialita Bu Kanti. Hati Arka begitu kecewa, mengingat rumah itu ia beli dengan hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun dan sengaja ia berikan untuk sang ibu. Namun, ternyata Bu Kanti sama sekali tak memikirkan perasaannya, wanita itu lebih mengutamakan kesenangan untuk dirinya sendiri.


Pagi telah menjelang saat Aline dan Arka mendengar suara keributan dari arah dapur, mata Arka memincing menatap ke arah jam dinding yang baru menunjukan pukul lima pagi. Lelaki itu menoleh, menatap sang istri yang juga tengah memandang dirinya dengan wajah bingung.


"Siapa yang masak di dapur, Mas? Apa mungkin Ibu?" cetus Aline mulai bangkit dari ranjang empuk miliknya.


"Mana mungkin, kamu tahu sendiri lan kalau Ibuku itu tak pernah mau bangun pagi. Apalagi untuk sekedar memasak makanan," balas Arka yang masih menyimpan rasa kesal pada sang ibu.


"Siapa tahu ibu sudah benar-benar berubah sekarang, kita lihat yuk." Aline menarik tangan sang suami untuk bangun kemudian berjalan ke arah dapur.


Ternyata tebakan Aline memang benar, Bu Kanti nampak sedang asyik memasak dengan mengenakan daster rumahan dan rambut yang disanggul dengan asal. Seketika Arka terdiam, ingatanya terlempar pada kenangan masa kecil di mana sang ibu belum mengenal dunia sosialita dan sang ayah juga masih ada. Wanita itu, dahulu adalah seorang istri dan ibu yang baik. Yang selalu memasak dan mengurusi segala kebutuhan anak serta suaminya.


Aline melangkah mendekati ibu mertuanya, "Ibu, kok pagi sekali bangunnya?"


Bu Kanti tersenyum, wanita itu sama sekali tak menyadari kehadiran Arka yang juga berdiri di dekat pintu dapur.


"Ibu ingin menebus semua kesalahan Ibu, Aline. Maafkan Ibu yang dulu selalu bersikap buruk kepadamu. Bahkan, Ibu sama sekali tak mengetahui kalau sekarang kamu sudah hamil sebesar ini." Wajah Bu Kanti nampak begitu bersalah, sudut mata wanita paruh baya itu telah basah.


Arka masih diam mematung di tempat, ingin mendengar lebih banyak lagi curahan hati sang ibu.

__ADS_1


"Sudahlah, Bu. Aline sudah memaafkan semuanya, asal jangan Ibu ulangi lagi kesalahan itu. Mulai sekarang Ibu tinggal di sini bersama kami, sebentar lagi cucu Ibu juga akan lahir." Aline menggenggam erat jemari wanita paruh baya itu.


"Terima kasih ya, Nak. Ibu juga ingin meminta maaf pada Arum, Ibu sudah terlalu jahat kepadanya dulu."


"Arum baru saja melahirkan kemarin, Bu." Suara Arka membuat wanita paruh baya itu sedikit berjingkat karena kaget.


"Apa Arka? Jadi, Arum juga sudah hamil?"


"Iya, Bu. Tapi, karena Ibu sudah masak, dan aroma sup ikan buatan Ibu membuatku lapar. Bagaimana kalau kita sarapan dulu, setelah itu kita bicara banyak hal. Tapi Aline sama Mas Arka mandi dulu ya." Ajakan Aline langsung mendapatkan anggukan dari suami dan Ibu mertuanya.


Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar bersama Arka untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian keduanya kembali keluar dengan tampilan yang lebih segar, menghampiri Bu Kanti yang baru saja selesai menata masakannya di meja makan. Ketiganya menikmati sarapan pagi itu tanpa suara. Arka fokus menikmati masakan sang ibu yang sudah bertahun-tahun lamanya tak ia rasakan semenjak wanita paruh baya itu mengenal dunia sosialita.


Usai makan, Aline membantu ibu mertuanya membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka. Kamudian menyusul Arka yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga. Lelaki itu menatap sang ibu dengan pandangan yang sulit diartikan.


Lelaki itu terdiam sejenak, merenungi semua yang telah terjadi. Ingin marah, tapi ia juga tak tega pada Bu Kanti yang nampak begitu menyesali segala perbuatannya. Ingin menebus rumah itu juga percuma, ia sudah nyaman tinggal di sini bersama Aline.


"Sudahlah, Bu. Arka sudah memaafkan Ibu, asal Ibu jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Berhenti bergaul dengan teman-teman sosialita Ibu, mereka hanya ingin menjerumuskan Ibu saja." Arka mencoba untuk menasehati sang ibu agar tak terjatuh di lubang yang sama.


Senyum kebahagiaan seketika terlukis di wajah tua yang sudah tak terpoles make up seperti biasanya, "Terima kasih, Nak. Kalian mengizinkan Ibu untuk tinggal di sini saja, Ibu sudah sangat bahagia."

__ADS_1


Aline merangkul bahu ibu mertuanya itu, "Sekarang Ibu jangan sedih, sebentar lagi kan Ibu mau menimang cucu."


"Oh ya, ini sudah jam delapan kok Arka belum berangkat kerja?" tanya Bu Kanti yang baru saja menyadari sesuatu.


Arka memang sudah lama resign sejak Johan kecelakaan dan sibuk mendampingi Arum. Selain itu, Arum memintanya untuk mengurus perusahaan dan caffe milik Johan.


"Arka sudah resign dari perusahaan lama, Bu. Sekarang Arka mengurus perusahaan dan caffe milik suami Arum karena dia kecelakaan dan mengalami koma selama berbulan-bulan," jelas Arka memberi pengertian pada sang ibu.


"Kata kalian, Arum baru saja melahirkan. Ibu ingin menjenguk dia, sekaligus ingin meminta maaf."


"Boleh, ayo kita berangkat, Bu. Sekalian kita bawain sup ikan gabus buatan Ibu. Kebetulan Arum kemarinn operasi caesar karena bayinya prematur." Aline tersenyum menanggapi permintaan ibu mertuanya itu.


"Ibu siap-siap dulu ya. Aline, kamu tolong siapkan sup ikan buat Arum ya." Bu Kanti melenggang ke kamar setelah mendapat sebuah anggukan dari sang menantu.


Aline segera menyiapkan sup untuk sang sahabat. Arka dan sang istri mengira jika Bu Kanti akan menghabiskan waktu yang lama untuk bersiap-siap, memilih baju dan memoles make up tebal seperti dahulu. Namun, ternyata di luar dugaan. Bu kanti keluar dari kamar dengan memakai sebuah gamis dan jilbab sederhana. Wajahnya juga dibiarkan polos tanpa make up. Tapi, hal itu malah membuat Bu Kanti terlihat anggun dan berwibawa di mata Aline serta Arka.


"Ibu cantik sekali," ucap Arka memuji penampilan sang ibu.


"Apa sih, Ka. Ibu ini sudah tua. Yuk kita berangkat," ajak Bu Kanti pada anak dan menantunya.

__ADS_1


Arka mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. Lelaki itu tak bisa mengebut karena kondisi jalanan pagi yang begitu ramai. Setibanya di rumah sakit, ketiganya langsung menaiki lift untuk menuju lantai lima di mana ruangan baru Arum dan Johan berada. Sengaja mereka memilih pindah ke ruang rawat yang dekat dengan ruang bayi.


Namun, setelah keluar dari dalam lift. Arka dan Arum dikejutkan dengan keberadaan seorang wanita berambut panjang yang terlihat sedang mengintip ke dalam ruangan Arum.


__ADS_2