
Arum ditemani dengan Arka dan Aline tengah berjalan di koridor rumah sakit, menuju ke ruang CCTV untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan Fitri datang ke rumah sakit itu. Setibanya di sana, Arka langsung menyapa seorang petugas yang tengah duduk di depan layar komputer.
"Selamat malam, Pak," sapa Arka berbasa-basi, membuat fokus pandangan lelaki paruh baya itu terarah padanya.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" balas lelaki berkumis itu dengan ramah.
"Begini, Pak. Saya ingin melihat rekaman CCTV di depan ruangan VIP nomor dua hari ini apakah boleh? Karena kami mencurigai ada orang yang berniat jahat pada pasien," pinta Arka dengan wajah serius. Nampak lelaki itu berpikir sejenak kemudian menggangguk.
Arka harus menunggu sejenak sampai petugas tersebut menemukan file rekaman CCTV di sekitar ruang rawat Johan hari ini.
"Silakan, ini rekaman cctv-nya." Lelaki itu menggeser kursinya agar mereka bisa melihat dengan jelas gambar yang terpampang di layar komputernya.
Arum mendekat bersama Aline dan Arka, mata ketiganya memincing menatap dengan serius layar datar yang berada di hadapannya. Mata ketiganya semakin melebar kala melihat sosok berhijab yang nampaknya sedang mengintip ke dalam ruangan Johan melalui kaca kecil yang ada di pintu tersebut.
"Itu, Mas. Itu yang namanya Fitri, dan dia yang tadi ketemu sama aku," cetus Arum setelah memastikan penglihatannya.
"Pak, bisa kita melihat rekaman hari sebelumnya?" ucap Arka, petugas itu kembali mengganggu kemudian memutar file rekaman CCTV di hari sebelumnya. Dan lagi-lagi mereka menemukan sosok Fitri sedang melakukan hal yang sama.
"Apa jangan-jangan wanita itu diam-diam datang ke sini setiap hari hanya untuk melihat keadaan Johan?" tebak Aline yang berdiri di samping Arka.
Arka pun meminta petugas untuk untuk memutar rekaman hari-hari sebelumnya mulai dari pertama kali Johan di rawat di rumah sakit. Lagi-lagi mereka dibuat terperangah karena kebenaran tebakan Aline. Ternyata Fitri hampir setiap hari datang untuk sekedar mengintip keadaan Johan dari kaca dan wanita itu selalu datang di waktu yang berbeda setiap hari. Kadang pagi, siang, sore bahkan juga malam.
__ADS_1
"Mas, apa rekaman Ini bisa jadi bukti yang kuat kalau suatu saat kita menuntut Fitri?" Arum mendongak untuk menatap wajah Arka.
"Iya bisa, Arum. Ini bisa mendukung kalau suatu saat Johan sadar dan bisa memberikan keterangan siapa yang telah berusaha mencelakai dirinya." Arum sedikit bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban Atka yang berhasil memberikan sedikit angin segar untuk wanita itu.
"Kalau begitu kita minta saja rekaman itu, Mas. Bisa saja wanita itu kembali dan berusaha menghilangkan jejak," saran Aline yang cukup cerdas dalam menganalisa keadaan.
"Pak, apa boleh kalau kita minta rekaman CCTV itu untuk membuktikan suatu kebenaran dan mencari keadilan?" Arka menatap petugas itu dengan tatapan memohon, berharap udaha merrka tak akan dipersulit.
"Yah, baiklah. Saya akan copykan dulu filenya." Petugas tersebut segera mengcopy file rekaman CCTV tersebut ke dalam sebuah flashdisk yang kebetulan selalu dibawa oleh Arka kemanapun ia pergi.
"Ini." Petugas tersebut mengembalikan flashdisk Arka yang sudah berisi rekaman sesuai permintaanya. Lelaki itu langsung mengajak kedua wanita di sampingnya untuk keluar dari ruangan CCTV dan kembali menuju ke kamar Johan karena kebetulan mereka juga belum sempat menyantap makan malam.
"Biar aku pesankan makanan aja ya, sekalian kita makan bareng di sini sama Bi Marni juga," celetuk Aline setelah mereka memasuki ruang rawat Johan, di mana Bi Marni dengan setia menunggu majikannya itu.
Lima belas menit kemudian, seorang kurir datang untuk mengantar makanan yang dipesan oleh Aline. Mereka berempat menikmati makan malam dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pikiran Arum sendiri terus melayang pada sosok Fitri, kalau memang Fitri tak melakukan apapun pada Johan. Lalu, untuk apa hampir setiap hari wanita itu datang ke rumah sakit hanya untuk mengintip keadaan Johan secara diam-diam dari luar ruangan.
Arum benar-benar menaruh curiga pada wanita itu. Entah mengapa ia juga merasa jika Fitri sedang merencanakan seatu hal buruk yang lain untuknya.
"Rum, kenapa ekspresi kamu dari tadi gelisah begitu sih? Kamu masih memikirkan wanuta itu?" tanya Aline yang bisa melihat dengan jelas gurat kecemasan di wajah sahabatnya.
Arum mendengus mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang sahabat, "Entahlah Aline, setelah kita melihat rekaman CCTV itu. Aku merasa kalau Fitri juga sedang merencanakan sesuatu yang lain untukku. Atau mungkin juga untuk Mas Johan, aku takut wanita itu akan nekat dan kemungkinannya hanya dua."
__ADS_1
"Maksud kamu kemungkinan apa, Rum?" Arka ikut menyahyt kalaendengar jawaban Arum yang terasa ambigu.
"Pertama, dia akan berusaha untuk kembali melenyapkan Mas Johan. Atau kemungkinan kedua, dia akan mencelakaiku untuk memisahkan kami." Arum langsung menunduk lemas memikirkan segala kemungkinan buruk itu.
"Kamu nggak usah khawatir selama masih ada aku dan Mas Arka, kami akan selalu berusaha untuk melindungi kamu." Aline menjeda kalimatnya kemufian menatap ke arah Bi Marni.
"Dan untuk Bi Marni, kami minta tolong kalau misalkan Arum sedang ke kamar mandi atau tidak ada di ruangan untuk menjaga Johan. Tolong jangan sekalipun Bi Marni meninggalkan Johan sendirian!" Lanjut Aline yang juga meminta peran serta dari wanita paruh baya itu.
"Baik, Mbak Alin. Saya mengerti, saya akan selalu menjaga Mas Johan di sini," ucap Bi Marni, tentu saja wanita paruh baya itu bisa merasakan kegelisahan Arum selama ini. Apalagi kemungkinan besar, beberapa minggu lagi Arum harus menjalani proses operasi caesar untuk melahirkan bayi kembar dalam kandungannya.
Sementara itu di tempat lain, wanita yang bernama Fitri tengah duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Tirta Nugraha, ayahnya.
"Fitri, apalagi yang kamu rencanakan?" tanya pria paruh baya itu pada putrinya.
"Apalagi, Ayah? Ya tentu saja Fitri ingin agar Johan dan istri sialannya itu berpisah. Setidaknya jika Johan selamat, maka wanita itu yang harus lenyap dari dunia ini. Aku tidak akan pernah rela jika Johan dimiliki oleh wanita lain," ucap Fitri penuh dendam.
"Nak, Johan itu sudah menikah dan sekarang istrinya sedang mengandung. Apa masih tidak cukup kamu membuat Johan terbaring koma seperti itu?" ujar Tirta berusaha untuk menghentikan rencana putrinya.
"Tentu saja tidak cukup, Ayah. Aku baru akan berhenti setelah Johan benar-benar menjadi miliki. Jika aku tak bisa memiliki Jihan, maka wanita itu juga tak boleh memilikinya," lirih Fitri penuh penekanan.
"Jika wanita itu meninggalkan Johan, apa kamu akan berhenti untuk berusaha mencelakai mereka?" tanya pria paruh baya itu dengan pandangan penuh selidik.
__ADS_1
"Tentu saja, Ayah. Kalau wanita itu pergi, berarti tak ada lagi penghalang untukku bisa memiliki Johan," balas Fitri dengan senyum mengerikan.
Tirta terdiam, lelaki itu mau tak mau harus turun tangan untuk menghentikan rencana jahat putrinya yang seolah memiliki dua sisi berbeda. Kadang begitu manja dan penurut. Namun, akan berubah menjadi kejam jika tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.