
Sesuai dengan janji Johan untuk mengajak Arum pergi ke rumah sakit jiwa menjenguk Fitri. Maka mereka meminta tolong pada Aline dan Arka untuk menjaga kedua bayi mungil mereka, Bu Kanti ikut datang untuk membantu Bi Marni. Johan dan Arum segera berangkat setelah pamit pada Bi Marni dan juga Bu Kanti. Tak lupa memompa ASInya untuk baby kembar terlebih dahulu. Johan mulai melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah sakit jiwa, tempat di mana Fitri dirawat.
Setibanya di sana, Johan segera menuju ke bagian informasi untuk menanyakan di sebelah mana kamar gadis itu.
"Selamat pagi, Bu," sapa Johan pada seorang perempuan paruh baya yang duduk di balik meja bertuliskan "Bagian Informasi".
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Pak?" balas wanita itu dengan cukup ramah.
"Saya ingin menjenguk pasien bernama Fitri Wulandari," ucap Johan menyampaikan tujuannya. Wanita itu nampak berpikir sejenak kemudian mencari data-data Fitri di sebuah komputer yang ada di meja kerjanya.
"Mohon maaf, Pak. Tapi saudara Fitri baru saja meninggal beberapa hari yang lalu karena bunuh diri."
"APA?" sorak Arum dan Johan secara bersamaan, pasangan suami istri itu tak menyangka Jika ternyata Fitri sudah meninggal dunia.
"Apa benar itu, Bu? Fitri meninggal karena bunuh diri? Bagaimana bisa?" Arum sepwrtinya tak langsung percaya begitu saja.
"Iya, Mbak. Kami juga tidak menyangka dan kami juga tidak tahu dari mana Fitri bisa mendapatkan sebuah pisau lipat yang ia gunakan untuk memotong urat nadinya," jelas wanita paruh baya itu dengan hati-hati.
Arum dan Johan terdiam sejenak, tak menyangka jika ternyata Fitri telah pergi dari dunia ini dengan cara seperti itu. Namun, Arum tetap belum bisa percaya jika belim melihat langsung di mana kuburan Fitri.
"Bu, apa saya boleh tahu di mana Fitri dimakamkan?" tanya Arum pada petugas rumah sakit jiwa tersebut.
"Fitri dimakamkan di pemakaman umum dekat rumah sakit ini, Mbak. Karena kebetulan lokasinya juga dekat dengan kediaman orang tuanya."
__ADS_1
"Baik, terima kasih ya atas informasinya," ucap Aum setelah merasa puas dengan jawaban dari wanita itu.
"Sama-sama." Johan dan Arum bergandengan tangan untuk kembali ke mobil.
"Apa kamu ingin ke makam Fitri sekarang?" tawar Johan pada wanita tercintanya, Arum hanya mengangguk mengiyakan.
Johan segera melajukan mobilnya untuk menuju ke sebuah pemakaman di mana Fitri katanya dimakamkan di sana. Saat tiba di sana, mereka tak perlu kesulitan untuk mencari makan Fitri karena tanpa sengaja mata Johan menangkap pemandangan mengharukan. Di mana Tirta, ayah Fitri sedang menangis sembari mengelus nisan putrinya. Arum menarik tangan Johan, mencegah sang suami untuk mendekat ke arah pria tua tersebut.
"Kenapa? Katanya kamu mau ke makam Fitri?" Johan menoleh ke arah sang istri.
"Cukup, Mas. Aku sudah percaya kalau Fitri memang sudah meninggal. Lebih baik sekarang kita pulang." Ajakan Arum tersebut langsung disetujui oleh suaminya. Dengan kecepatan sedang, Johan memacu mobil hitam itu menuju ke rumah.
Saat tiba di rumah, Bu Kanti membukakan pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Pasangan suami istri itu segera masuk ke dalam rumah setelah mencium punggung tangan Bu Kanti.
"Baby kembar gimanan, Aline? Mereka rewel nggak?" Bukannya menjawab, Arum malah memberikan pertanyaan lain pada sahabatnya itu.
"Mereka pintar kok, nangisnya cuma pas haus saja. Setelah minum susu ya tidur lagi. Jadi gimana? Apa kalian sudah bertemu dengan Fitri?" Aline kembali mengulangi pertanyaannya tadi.
Arum dan Johan bergeming, tak ada yang menjawab. Hanya saling melempar pandangan.
"Kok malah saling pandang begitu? Fitri ada kan di rumah sakit jiwa?" desak Arka agar kedua sahabatnya itu segera menjawab.
"Fitri sudah meninggal," jawab Johan kemudian.
__ADS_1
"Apa? Fitri meninggal? Kok bisa?" pekik Aline setelah mendengar jawaban dari lelaki itu.
"Menurut penjelasan dari petugas rumah sakit jiwa, katanya Fitri itu baru saja bunuh diri beberapa hari yang lalu," jelas Arum kemudian.
"Memangnya kenapa sih? Kok kalian sampai ingin melihat Fitri di rumah sakit jiwa?" Arka menanyakan hal yang mengundang rasa penasarannya dari tadi. Karena Bi Marni juga sama sekali tak menceritakan perihal teror yang datang kemarin pagi.
Johan mendesah kesal mengingat kejadian yang sudah menghancurkan kebahagiaannya kemarin. Lelaki itu dengan terpaksa menceritakan semuanya pada Aline, Arka serta Bu Kanti.
"Ya ampun, kenapa cobaan nggak ada henti-hentinya menghampiri kalian berdua. Kamu yang sabar ya, Arum. Ibu yakin pasti semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan," ujar Bu Kanti mencoba memberikan ketenangan untuk Arum
"Iya, Bu. Terima kasih, tapi Arum masih nggak ngerti. Siapa lagi yang meneror kita kalau Fitri saja sudah tak ada lafi di dunia ini."
"Sudahlah, Sayang. Mungkin yang melakukan itu memang hanya orang iseng," balas Johan sembari mengelus punggung tangan sang istri.
"Orang iseng? Orang iseng dari mana yang bisa mendapatkan foto pernikahan kita, Mas?" Nada suara Arum mulai meningkat satu oktaf, membuat Johan seketika mengunci bibirnya. Tak lagi mendebat perkataan sang istri.
"Sudah, lebih baik kalian berhenti bertengkar seperti ini. Karena jika kalian terus bertengkar dan berdebat begini, orang yang melakukan teror itu akan semakin bahagia," sahut Bu Kanti yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan antara Arum dan Johan.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Arum dan mengelus punggung mantan menantunya dengan lembut, "Arum, kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, Nak. Lebih baik kamu fokus mengurusi kedua malaikat kecilmu itu, untuk urusan pelaku teror itu. Serahkan semuanya pada Johan, dia adalah kepala keluarga dan sudah tugasnya untuk melindungi kalian dari bahaya apapun," ujar Bu Kanti dengan bijak, ibu muda itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Merasa tertampar dengan perkataan Bu Kanti. Apalagi mengingat kejadian kemarin, di mana ASInya tidak keluar karena ia terlalu stress memikirkan kejadian-kejadian buruk yang menimpa keluarga mereka.
"Apa yang dikatakan oleh Bu Kanti itu benar, Sayang. Kamu fokus aja mengurus anak-anak, biar aku yang melindungi kalian bertiga. Percayalah padaku, aku akan selalu menjaga kalian dari orang-orang jahat yang berniat buruk pada keluarga kita."
Arum akhirnya mengangguk pasrah, wanita itu kembali memfokuskan pikirannya pada kedua bayi mungil yang tengah terlelap di dalam kamar. Sejujurnya, bukan Arum takut terjadi apa-apa kepada dirinya. Tapi ia takut jika sampai kejadian buruk kembali menimpa kedua anaknya seperti saat di rumah sakit. Selain itu ia masih tak habis pikir, apa salah dirinya dan suaminya sampai orang-orang bisa berbuat seperti ini kepada keluarganya.
__ADS_1