Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 70


__ADS_3

Malam telah kembali berkunjung, membawa pekatnya gulita malam. Bersama rembulan dan gemintang yang menghiasi. Arum yang baru saja selesai menyusui kedua bayi kembarnya tengah duduk bersandar di kepala ranjang bersama sang suami. Berusaha untuk mengistirahatkan pikiran sejenak meski tetap tak bisa. Tatapan mata keduanya sama-sama nanar memandang ke arah dinding kamar, pikiran mereka juga terus melayang. Memikirkan setiap masalah dan teror yang tak hentinya menghampiri mereka setelah menikah. Bahkan kebahagiaan seolah tak mau bertahan lama di sisi mereka.


Tiba-tiba Johan teringat akan CCTV yang baru tadi siang terpasang di rumahnya. Lelaki itu mengambil laptop yang tersimpan di atas meja kemudian menyalakannya. Bola mata Lelaki itu bergerak ke kanan dan ke kiri mengamati pemandangan setiap sudut rumah yang terpampang nyata pada layar datar di depannya. Arum yang melihat itu juga ikut penasaran, mata wanita itu memandang penuh selidik ke arah layar laptop milik sang suami.


"Ini beneran semua sudut rumah udah kelihatan dari sini, Mas?" tanya Arum dengan pandangan yang masih fokus ke arah layar laptop sang suami.


Johan menatap sang istri dengan sebuah senyum tipis kemudian mengangguk, "Seperi yang kamu lihat sendiri. Semoga saja dengan ini kita bisa tahu siapa sebenarnya orang yang sudah melakukan teror itu."


Arum mengangguk, hati wanita itu benar-benar penasaran. Ingin segera mengetahui siapa sosok yang telah memporak-porandakan hidupnya selama beberapa hari ini. Bahkan, hampir mencelakai kedua bayi kembarnya.


"Sayang, coba kamu lihat ini!" Tiba-tiba Johan mengagetkan Arum dengan suara pekikannya.


"Ada apa, Mas?" Arum mengangkat wajahnya untuk menatap sang suami.


"Kamu lihat, ini ada mobil yang parkir di depan rumah kita. Dan kamu lihat orang yang duduk di balik kemudi itu, dia terus memandang ke arah rumah kita."


"Siapa dia, Mas?" Mata Arum menyipit, mengamati titik CCTV yang ditunjuk oleh jemari Johan.


"Entahlah, dia pakai masker jadi nggak kelihatan. Tapi, gelagatnya terlihat begitu mencurigakan." Johan mengelus dagunya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu tipis.


"Mungkin saja dia sedang menunggu seseorang?" tebak Arum yang masih berusaha untuk berpikiran positif.

__ADS_1


"Coba kita tunggu setengah jam lagi, kalau mobil itu tetap nggak pergi, aku yang bakal nyamperin ke sana," ucap Johan dengan penuh penekanan.


Setengah jam telah berlalu dan mobil itu masih terparkir di sana, membuat Johan semakin penasaran. Siapa gerangan sosok ang duduk di balik kemudi itu.


"Kamu lihat sendiri kan, Sayang. Mobil itu masih berada di sana, biar aku samperin aja. Alu ingin tahu apa tujuannya." Johan hendak beranjak, namun tangannya terlebih dahulu dicekal oleh sang istri.


"Tunggu, Mas!"


"Kenapa sih, Sayang. Aku penasaran sekali dengan orang itu," kesal Johan seraya mengusap wajahnya kasar.


"Kalau kamu ke sana sekarang, yang ada dia akan tancap gas untuk melarikan diri!" Johan terdiam sejenak, memikirkan ucapan Arum yang sepertinya ada benarnya.


"Satu-satunya lampu yang masih nyala di rumah ini hanya kamar kita, lebih baik sekarang kamu matikan lampunya. Dan kita lihat apa yang akan dilakukan oleh orang itu." Arumencoba untuk memberikan solusi yang langsung disetujui oleh sang suami.


Johan berjalan menuju ke arah saklar kemudian mematikan lampu kamar itu. Dari luar gerbang, tampak jelas jika tak ada lagi cahaya di rumah itu. Namun, mata Arum dan Johan masih terus tertuju ke arah CCTV yang menampakan jika sosok seorang lelaki yang keluar dari mobil. Tapi tetap saja, Arum dan Johan tak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu karena masker yang ia kenakan.


Terlihat jelas, jika lelaki itu keluar dari mobil dengan membawa sebuah kotak. Dan benar saja, lelaki itu dengan perlahan mulai membuka pintu gerbang rumah Arum.


"Kamu lihatkan, Mas. Dia membawa sebuah kotak. Aku takut jika isinya adalah sesuatu yang akan membahagiakan kita." Wajah Arum terlihat mulai khawatir, ia takut jika si peneror itu akan berbuat nekat sepwrti tadi pagi saat melemparkan sebuah batu ke jendela kamar mereka.


"Lebih baik aku keluar sekarang. Kalau aku keluar, pasti dia akan kembali membawa pergi kotak itu. Dan ... kalau aku beruntung, aku bisa menangkapnya juga," ucap Johan dengan mantap.

__ADS_1


Lelaki itu beranjak dari posisinya dan berjalan keluar tanpa mengenakan alas kaki agar tak menimbulkan suara. Tepat saat si peneror hendak meletakkan kotak yang di bawanya ke depan pintu, Johan muncul dari balik pintu hingga membuat lelaki itu panik dan langsung melemparkan kotak yang di bawanya ke badan Johan. Si peneror tersebut langsung lari tunggang langgang meninggalkan rumah itu dan menginjak dalam pedal gasnya hingga Johan tak mampu lagi untuk mengejar.


"Arrgh, sial!" teriak Johan yang merasa kesal karena tak mampu menangkap si peneror.


Bi Marni yang memang belum benar-benar terlelap, seketika berjingkat kaget karena mendengar suara teriakan dari majikan laki-lakinya. Wanita paruh baya itu bergegas lari menghampiri sumber suara bersama dengan Arum yang juga keluar dari dalam kamar. Kedua wanita beda generasi itu mulai melangkah lebar menuju ke pintu depan, di mana Johan masih berdiri dengan wajah kesalnya.


"Bagaimana, Mas? Apa dia kabur lagi?" tanya Arum pada sang suami, Johan hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sang istri. Kemudian lelaki itu teringat akan kotak yang baru saja dilemparkan si peneror kepada dirinya.


"Tapi tunggu dulu, dia masih meninggalkan kotak itu," ucap Johan, jemari tangannya tertuju ke arah kotak yang kini berada tepat di bawah kakinya.


"Kita bawa ke dalam saja, Mas. Kita buka, biar kita bisa mengetahui isinya," cetus Bi Marni, wanita paruh baya itu merasa penasaran dengan isi dari kotak besar tersebut.


"Tapi, bagaimana kalau isinya adalah sesuatu yang membahayakan kita?" ujar orang dengan wajah panik, sepertinya wanita itu terlalu paranoid setelah jendela kamarnya dilempar dengan batu tadi pagi.


"Aku rasa ini bukan sesuatu yang membahayakan, benar kata Bi Marni. Lebih baik kita bawa ke dalam dan kita buka saja." Johan mengambil kotak itu dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah, tak lupa untuk menyalakan lampu terlebih dahulu.


"Ayo, Mas buka. Saya penasaran sekali dengan isi kotak itu," pinta Bi Marni yang sudaherasa tak sabar.


Johan mengangguk, tangannya yang gemetar mulai membuka penutup kotak itu. Namun, Johan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sembari menahan mual.


"Sial, sepertinya orang ini sakit jiwa. Atau kalau tidak, mungkin dia adalah seorang psycopath!"

__ADS_1


__ADS_2