
Arum terdiam sejenak setelah mendengar kalimat pertanyaan berulang yang terlontar dari bibir tipis milik Aline. Ingatan wanita itu terlempar pada peristiwa beberapa waktu lalu, di mana Fitri tiba-tiba datang ke cafe dan mengaku sebagai kekasih Johan hingga hampir menjadi penyebab terjadinya pertengkaran antara Arum dan Johan. Apalagi saat itu Fitri sempat mengancam tidak akan membiarkan pernikahan mereka bahagia. Bukan maksud Arum untuk menuduh gadis cantik itu, namun entah kenapa pikirannya terus tertuju sosok Fitri.
"Arum, kok kamu malah ngelamun sih. Jangan-jangan emang ada seseorang yang kamu curigai ya?" todong Aline secara langsung.
Arum memejamkan matanya sejenak, menghirup napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Mata wanita itu menatap ke arah Arka dan Aline secara bergantian.
"Aku bukan menuduh, tapi entah mengapa pikiranku terus tertuju pada sosok Fitri. Anak dari pengusaha yang semalam meeting dengan Mas Johan sebelum kecelakaan itu terjadi," jelas Arum kemudian.
Aline dan Arka Saling melempar pandangan bingung. Bagaimana Arum bisa sampai mengenal anak dari rekan kerja Johan. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka. Arka hanya diam, tak ingin terlalu dalam mengungkit masalah pribadi Arum karena merasa tak enak. Mengingat statusnya sekarang hanyalah sebagai mantan suami. Sedangkan Aline justru semakin bersemangat untuk mengetahui apa yang telah terjadi antara Arum dan sosok gadis bernama Fitri itu.
"Kok kamu bisa sampai kenal dengan wanita yang namanya Fitri itu? Memangnya kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Alin dengan pandangan penuh selidik.
Arum menganggukkan kepalanya samar, mengiyakan apa yang baru saja diucapkan oleh Aline.
"Ya,Aline. Aku mengenalnya karena gadis itu pernah datang ke kafe satu hari setelah pernikahanku dengan Johan. Dan, asal kalian tahu saja. Waktu itu dia mengaku sebagai kekasih Johan."
"APA?" sorak Arka dan Alin secara bersamaan. Bi Marni yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka juga ikut membelalakkan mata mendengar ucapan Arum barusan. Tanda tanya besar langsung memenuhi otak Bi Marni. Apakah mungkin Johan memiliki wanita lain selain majikan perempuannya itu? Jkka benar, maka Bi Marni adalah orang pertama yang paling tak rela jika Arum harus kembali tersakiti.
__ADS_1
"Non, apa Mas Johan punya wanita selain Non Arum?" tanya Bi Marni yang sudah terlanjur penasaran.
Wanita paruh baya itu benar-benar tak ingin jika Arum harus mengalami sakitnya perceraian untuk kedua kalinya. Arum tersenyum tipis dan mendekat ke arah wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sejak bayi itu, kedua tangan Arum terulur untuk mengelus lembut kedua pundak Bi Marni. Menatap lekat-lekat wajah wanita itu, berniat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Bibi tenang saja, Mas Johan nggak punya wanita selain Arum."
"Terus? Kenapa tadi kamu bilang kalau Fitri itu mengaku sebagai kekasih Johan? Arum, kamu jelasinnya jangan setengah-setengah dong biar kita nggak salah paham!" sahut Aline yang juga tak kalah penasaran dengan Bi Marni.
"Jdi begini, Fitri dan Mas Johan itu lumayan dekat. Lalu, Fitri salah tanggap dengan perlakuan baik Mas Johan dan mengira kalau suamiku itu menyukainya. Setelah itu, Fitri dengan pedenya menganggap kalau dia sebagai kekasih Mas Johan tanpa tahu kalau sebenarnya Mas Johan itu sudah menikah denganku." Arum menjeda sejenak kalimatnya untuk mengambil napas.
"Lalu?" Aline masih belum merasa puas dengan penjelasan Arum.
Mata Arka memicing, pikirannya mencoba mencerna setiap penjelasan yang diberikan oleh Arum. Mengingat semalam Johan meeting dengan ayah dari wanita itu, tidak menutup kemungkinan jika hal itu adalah sesuatu yang disengaja.
"Arum apa kamu berpikir kalau Johan dicelakai oleh Fitri?" tanya Arka kemudian.
Arum menghembuskan napas kasar, tak tahu harus bersikap bagaimana hingga wanita itu menikih menceritakan keluh kesahnya pada Aline dan Arka.
__ADS_1
"Aku hanya menerka berdasarkan firasat yang aku rasakan. Tapi, aku tidak berani untuk langsung menuduh ataupun melaporkan wanita itu ke polisi tanpa bukti. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu Johan segera sadar dan bisa menceritakan semuanya," ujar Arum yang sebenarnya ada benarnya juga, karena tak mungkin jika ia langsung melaporkan Fitri ke polisi tanpa bukti. Apalagi di lokasi kejadian sama sekali tak ada CCTV yang hidup saat kecelakaan itu.
Aline mengetuk-ngetukan ibu jarinya di dagu, wanita itu sedang memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di balik kecelakaan ini.
"Aku juga berpikir seperti itu, dan bagaimana bisa CCTV sebanyak itu tidak ada yang hidup satupun saat kejadian. Mungkin nggak sih kalau kecelakaan ini sudah direncanakan dengan matang? Dan CCTV itu juga kemungkinan sengaja dirusak oleh seseorang?" tebak Aline seperti seorang detektif yang sedang berusaha memecahkan sebuah kasus.
"Aku sebenarnya juga bukan asal menuduh, sebelumnya Mas Johan sudah bercerita kepadaku perihal dengan siapa dia akan meeting semalam, dan aku sempat ingin ikut. Namun, saat aku ingin membatalkan acara makan malam kita, Mas Johan melarangku karena dia ingin aku ikut merasakan kabar bahagia yang akan kamu berikan, Aline. Meski ragu, tapi akhirnya aku menurut juga dan aku benar-benar tak menyangka jika mas Johan akan mengalami kecelakaan itu," lirih Arum.
Entah mengapa Aline kesusahan menelan salivanya sendiri setelah mendengar kata-kata Arum barusan. Sedikit rasa bersalah menelusup di sudut hatinya, merasa secara tidak langsung ia juga menjadi penyebab terjadinya kecelakaan pada suami sahabatnya. Andai saja Aline tak mengundang mereka untuk makan malam, mungkin hal ini tak akan terjadi.
Wanita itu mendekat dan menggenggam jari-jemari lentik milik Arum, "Arum aku minta maaf, seharusnya aku tidak mengundang kalian untuk makan malam di rumahku. Andai saja kamu tidak pergi makan malam ke rumahku, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi."
Arum tak menyangka jika ternyata perasaan sahabatnya sepeka itu.
"Tidak, Aline. Kamu nggak salah, ini semua sudah takdir. Saat ini aku hanya minta tolong pada kalian untuk membantu aku menghadapi semua masalah ini. Dan semoga kasus ini juga cepat terungkap. Jika benar wanita itu yang menyebabkan Johan kecelakaan, sampai mati pun aku tak akan rela jika Fitri tidak mendapatkan pembalasan yang sepantasnya," ucap Arum dengan mata berkilat penuh amarah.
Aline dan Arka terhenyak karena tak pernah melihat ekspresi semengerikan itu di wajah teduh milik Arum. Bi Marni yang sedari tadi duduk di sisi ranjang Johan, merasakan pergerakan jari telunjuk lelaki itu yang menyentuh kulitnya. Mata wanita paruh baya itu memincing menatap ke arah tangan Johan. Dan benar saja, jari telunjuk milik Johan terlihat mulai bergerak-gerak.
__ADS_1
"Non, Mas Johan, Non!"