
Arka masih setia menunggui sang istri yang sampai sekarang belum sadar setelah menjalani proses kuretase. Bahkan lelaki itu sampai tertidur di kursi samping ranjang istrinya. Perlahan, Aline membuka matanya dan langsung memincing kala terkena cahaya lampu yang menembus kornea matanya. Wanita itu memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, menatap sekelilingnya hingga menemukan sang suami terlelap di kursi samping ranjang dengan berbantalkan lengan. Aline menatap lekat wajah Arka yang ternyata masih peduli pada dirinya. Awalnya, Aline mengira jika ia hanya sendirian di ruang rawat itu.
"Mas," lirih suara Aline namun masih bisa didengar oleh sang suami.
"Aline, kamu sudah sadar? Gimana? Apanya yang masih sakit?" Arka langsung memberondong sang istri dengan berbagai pertanyaan.
"Aku nggak apa-apa, cuma sedikit pusing. Kandungan aku gimana, Mas? Bayi kita baik-baik saja kan?" Pertanyaan dari Aline membuat lelaki itu menggaruk bagian belakang kepalanya, tak tahu bagaimana harus mengatakan pada sang istri tetang anak mereka yang telah pergi.
Di tengah kebingungan Arka, Bu Kanti masuk membawakan makanan untuk putranya. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut kala melihat sang menantu yang sudah sadar.
"Aline kamu sudah sadar, Nak?" tanya Bu Kanti berbasa-basi yang dibalas Aline dengan sebuah anggukan kepala.
"Bu, kandungan Aline baik-baik saja kan? Kenapa Aline harus pakai pembalut, Aline ini kan lagi hamil?" Kini giliran Bu Kanti yang harus menjawab pertanyaan Aline.
Wanita paruh baya itu mendekat dan mengelus kedua bahu menantunya.
"Aline, kamu yang sabar ya, Nak. Janin dalam kandunganmu tidak bisa terselamatkan, dan kamu juga baru saja menjalani kuretase," ucap Bu Kanti dengan hati-hati.
"Apa? Nggak, ini nggak mungkin. Pasti Ibu bohong kan, Ibu cuma mau bikin Aline jadi sedih kan?" histeris Aline setelah mendengar kabar duka dari ibu mertuanya, tangan wanita muda itu terulur menarik kerah baju sang suami.
"Katakan, Mas! Semua ini bohong kan, nggak mungkin aku kehilangan anak kita. Ayo bilang, Mas. Bilang kalau Ibu bohong." Suara Aline kian meninggi diikuti dengan suara isak tangis yang menyayat hati.
"Maaf, tapi apa yang dikatakan Ibu semuanya benar."
Kepala Arka tertunduk, hatinya terasa nyeri kala merengkuh sang istri ke dalam pelukan tapi malah malah mendapat penolakan dari Aline yang langsungendorong tubuhnya cukup keras.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Ibu, kalau saja Ibu nggak nyuruh aku bersihin kamar mandi pasti anakku masih ada. Dan ini juga gara-gara kamu, Mas. Kalau aja kamu nggak sibuk mengejar mantan istri kamu pasti nggak akan kayak gini kejadiannya. Kalian jahat, aku benci kalian. Kalian yang sudah membunuh anakku," maki Aline menatap suami dan mertuanya dengan tatapan penuh kebencian.
Mata wanita muda itu menatap nanar ke dinding rumah sakit yang berwarna putih. Rasa sedihnya kian menjadi, meratapi nasib yang sepertinya sama sekali tak berpihak kepadanya. Tapi ini semua juga salahnya sendiri, andai waktu itu ia tak jatuh cinta dan menggoda Arka terlebih dahulu. Pasti hidupnya masih baik-baik saja. Memiliki pekerjaan bagus dan sahabat yang baik seperti Arum.
"Ya Tuhan, apakah ini karma untukku karena sudah merebut suami sahabatku sendiri," batin Aline dengan air mata yang terus luruh dari netranya.
Arka kembali mendekat dan memeluk tubuh sang istri yang masih terduduk di ranjang rumah sakit. Kali ini tak ada penolakan dari Aline, namun wanita itu juga tak berniat untuk membalas pelukan dari sang suami. Hatinya masih terasa begitu sakit setelah kehilangan janinnya.
"Aline, aku ingin kita perbaiki semuanya. Kita menikah secara resmi ya? Aku janji akan berubah," bisik Arka di telinga sang istri.
Aline tak bergeming, ucapan Arka malah seperti batu besar yang menghantam kehidupannya. Menikah resmi dengan Arka? Menikah siri saja sudah membuat hidupnya kacau seperti ini, apalagi menikah resmi. Bisa-bisa Bu Kanti makin seenaknya.
"Kita bahas itu nanti, aku pengen ketemu sama Arum. Tolong kamu ajak dia ke sini, Mas," pinta Aline seraya mengurai pelukan sang suami.
"Ketemu sama Arum? Mau ngapain kamu? Mau bikin dia ngetawain Arka dan diri kamu sendiri?" sahut Bu Kanti yang sedari tadi menyimak pembicaraan menantu dan putranya.
"Apa kamu yakin mau minta aku ajak Arum ke sini? Memangnya apa sih yang mau kamu bicarakan sama dia? Kalau dia menertawakan kesedihan kita saat ini bagaimana?" tanya Arka pada sang istri.
"Aku ingin minta maaf padanya, Mas. Mungkin semua ini karma untukku yang sudah merebut kamu dari dia, dan kalaupun dia ingin menertawakan aku. Itu adalah hak dia."
"Baiklah, aku akan ke caffe dan ajak dia ke sini."
Arka segera pergi setelah mendapat sebuah anggukan kepala dari sang istri. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju caffe tempat Arum bekerja. Setibanya di sana, ternyata ada Johan yang juga baru saja tiba di caffe. Arka segera turun dari mobil dan menghampiri pemuda itu.
"Johan!" panggil Arka dengan cukup keras hingga membuat si empunya nama menoleh.
__ADS_1
Kedua alis Johan saling bertaut kala mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya.
"Arka, ada apa lagi? Mau gangguin calon istri saya lagi?" ketus Johan pada pria yang sudah berdiri di hadapannya.
"A- aku ingin bertemu dengan Arum, tapi ini semua karena permintaan Aline. Aku janji tidak akan membuat keributan di sini." Arka sengaja merendahkan nada suaranya agar Johan mau mengizinkan dirinya bertemu dengan Arum.
Johan, terdiam sejenak. Menimbang-nimbang, haruskah ia mengijinkan sang kekasih bertemu dengan mantan suaminya.
"Duduklah, biar aku panggilkan dia dulu," titah Johan yang langsung berlalu menuju ruangan Arum.
Arka menurut, lelaki itu langsung menghenyak di salah satu kursi. Beberapa menit kemudian, Johan kembali dengan menggandeng mesra tangan Arum.
"Ada apa lagi?" Suara Arum terdengar begitu dingin dan angkuh, Arka bahkan seolah tak mengenali wanita yang sudah duduk di seberang mejanya itu.
"Arum, maaf aku mengganggu. Tapi aku ke sini karena permintaan Aline," ucap Arka jujur namun berhasil membuat Arum menautkan kedua alisnya.
"Permintaan Aline, memangnya ada apa dengan wanita itu?" tanya Arum dengan kedua mata memincing, sedangkan Johan hanya memilih diam dan menyimak pembicaraan mereka.
"Aline baru saja kehilangan bayinya, dia keguguran dan sekarang masih di rumah sakit. Dia minta aku ajak kamu ke sana, Rum. Katanya dia mau minta maaf sama kamu. Apa kamu mau ikut aku ke rumah sakit dan bertemu dengan Aline?" Arka mengatakan tujuannya menemui Arum.
"Apa? Aline keguguran, kok bisa?" Nampak sekali jika Arum masih peduli pada mantan sahabatnya itu.
"Kepleset di kamar mandi, jadi gimana? Kamu mau ikut aku ke rumah sakit untuk menemui Aline?" Arka mengulangi permintaannya tadi.
Arum terdiam untuk beberapa menit, sesekali ekor matanya melirik ke arah Johan yang sudah memasang wajah masam.
__ADS_1
"Aku-