Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 45


__ADS_3

Aline baru saja tiba di rumahnya bersama Arka, wanita itu tak sabar untuk langsung mengambil telepon pintar miliknya yang berada di dalam tas. Jemari lentik wanita itu menari di atas layar, mencari-cari kontak bertuliskan nama Arum dan segera menekan icon berwarna hijau di layar handphonenya untuk menelepon sahabatnya tersebut, Aline harus menunggu beberapa kali deringan sampai Arum mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo Aline," sapa Arum dari seberang telepon.


"Hallo Arum, kamu dan Johan besok malam ada acara nggak?" tanya Aline to the point.


"Nggak, besok malam aku sama Mas Johan nggak ada acara. Ada apa memangnya?" Arum membalikkan pertanyaan pada sahabatnya itu.


"Aku sama Arka ungin mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumahku besok jam tujuh malam, sekalian aku juga mau kasih kabar bahagia buat kalian berdua." ucapan Aline membuat Arum terdiam sejenak karena merasa penasaran dengan kabar bahagia apa yang akan diberikan oleh sahabatnya itu.


"Kabar bahagia apa sih, Aline? Jangan suka bikin penasaran deh, atau jangan-jangan kamu mau meresmikan pernikahan kalian berdua ya?" tebak Arum yang ternyata meleset.


"Bukan, bukan masalah itu. Pokoknya besok kalian datang ke rumahku jam tujuh malam ya, bye."


Aline mematikan panggilan telepon itu secara sepihak, membuat Arka yang sedari tadi berdiri di depan wanita itu hanya bisa tersenyum melihat sang istri kembali menampakkan binar bahagia di wajahnya. Karena selama ini Aline hampir tak pernah bisa tertawa selepas itu semenjak kehilangan anaknya dahulu.


"Sayang, sepertinya kamu bahagia sekali?" tanya Arka yang ikut menghenyak di sofa samping sang istri.


Aline tersenyum kemudian memeluk tubuh kekar sang suami, "Aku bahagia banget, Mas. Akhirnya Tuhan mempercayakan aku untuk memiliki seorang malaikat kecil di dalam perutku." Wanita itu mengelus perutnya yang masih rata.


Arka mengurai pelukan itu, menatap lekat-lekat wajah ayu wanita yang telah menjadi pendamping hidupnya dan sebentar lagi akan memberikannya seorang anak. Arka terdiam sejenak, kemudian mengecup kening sang istri dengan penuh rasa cinta.


"Aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa lihat kamu tertawa lepas seperti ini," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Selama ini aku masih bersikap seenaknya sama kamu, aku tidak bisa menjadi selayaknya seorang istri yang menyenangkan suaminya," balas Aline dengan wajah bersalah.


Arka langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang istri, sebagai kode agar wanita itu tak lagi mengungkit kisah masa lalu mereka.


"Masa lalu kita memang buruk, kenangan kita juga hampir semuanya buruk. Semoga setelah ini kita bisa mengukir kebahagiaan untuk selamanya. Aku, kamu dan juga anak kita," harap Arka dengan raut wajah yang begitu serius.


Hati Lelaki itu benar-benar terasa menghangat. Arka juga berpikir untuk segera meresmikan pernikahan mereka secara hukum.


"Aline, kamu kan sekarang lagi hamil. Jadi kapan kamu bersedia untuk meresmikan pernikahan kita?" tanya Arka pada sang istri, Aline terdiam. Wanita itu tampak sedang berpikir dengan begitu serius.


"Bagaimana kalau setelah aku melahirkan saja sekalian, Mas? Karena di saat hamil seperti ini pasti aku nggak akan mampu untuk ngurusin semua persiapan acara pernikahan ulang kita," ujar Aline yang memang ada benarnya juga. Apalagi usia kehamilannya masih sangat muda, berbahaya jika dia sampai kelelahan.


Sementara itu di tempat lain, Arum menghampiri Johan yang sedang sibuk bersama laptopnya di dalam kamar. Sejak mengetahui sang istri sedang hamil, Johan memang memutuskan untuk bekerja dari rumah dan hanya akan datang ke kantor jika ada meeting penting yang tidak bisa diwakilkan oleh asistennya. Sedangkan untuk urusan Caffe, sesekali keduanya akan datang bersama untuk memeriksa laporan keuangan. Hal itu sengaja dilakukan Johan karena ia ingin menjadi suami yang siaga, yang selalu ada di saat Arum menginginkan sesuatu. Termasuk mengidam hal-hal aneh seperti kemarin.


"Mas," panggil Arum lembut, membuat sang suami mengalihkan fokusnya kepada sang istri.


"Ada apa? Kok wajah kamu kayak bingung begitu?" tanya Johan sembari menautkan kedua alisnya.


"Ini lho, Mas. Aku barusan dapat telepon dari Aline," Arum sengaja menjeda kalimatnya sejenak.


"Terus kenapa kalau ada telepon dari Aline?" tanya Johan yang juga ikut penasaran setelah menatap ekspresi wajah sang istri.


"Dia mengundang kita untuk makan malam di rumahnya besok jam tujuh malam, katanya sih sekalian mau ngasih tahu kita kabar bahagia," jelas Arum pada sang suami.

__ADS_1


Fokus Johan kembali beralih pada layar laptop di hadapannya, mencari-cari suatu berkas kemudian menatap sang istri dengan kedua bola mata yang bergerak ke kanan ke kiri. Seolah sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menolak permintaan sang istri.


"Sayang, kayaknya aku nggak bisa ikut makan malam di tempat Aline deh besok. Aku ada meeting penting jam delapan malam," ujar Johan dengan begitu lembut karena tak ingin menyulut emosi sang istri.


"Yaahh, terus aku harus ke sana sendiri gitu?" Arum sudah mulai mengerucutkan bibirnya. Tentu saja Johan tahu jika sang istri sudah mulai merajuk. Lelaki itu langsung memeluk tubuh sang istri agar amarahnya tak semakin memuncak.


"Tenang saja, besok aku antar kamu ke sana terus aku berangkat meeting. Pulangnya juga nanti aku jemput lagi setelah urusan aku selesai, gimana?"


Arum nampak berpikir sejenak.


"Apa aku nggak usah pergi aja ya, Mas?" celetuk Arum menampilkan puppy eyes andalannya.


"Ya jangan dong, katanya Aline mau ngasih kamu kabar bahagia. Kalau kamu nggak datang nanti dikira nggak mau ikut merasakan kebahagiaan dia lagi."


Arum kembali berpikir, mencerna ucapan Johan baik-baik kemudian menimbang-nimbang keputusannya.


"Ya sudah, tapi bener ya. Besok kamu langsung jemput aku setelah selesai meeting. Memangnya kamu meeting sama siapa sih? Kok kayaknya penting banget sampai nggak bisa diwakilkan," tanya Arum dengan tatapan menyelidik, entah mengapa tiba-tiba jiwa kepo dan cemburunya meronta-ronta.


Johan nampak sedikit gelagapan setelah mendengar pertanyaan itu. Tak tahu bagaimana harus menjawab karena takut Arum akan murka jika tahu siapa yang akan meeting dengannya besok malam. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari tersenyum canggung.


"Mas, kok nggak dijawab sih? Kamu meeting sama siapa?" Wanita itu mengulangi pertanyaannya tadi.


"Emb, kamu janji dulu. Nggak akan marah," pinta Johan pada sang istri.

__ADS_1


Arum malah semakin curiga mendengar permintaan Johan, apalagi wajah suaminya itu nampak begitu gugup seolah sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Udah deh, Mas. Cepetan bilang, kamu besok malam meeting sama siapa? Kenapa nggak kamu wakilin aja?"


__ADS_2