Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 75


__ADS_3

Setelah beberapa jam mondar-mandir di depan ruang operasi karena menunggu sang istri selesai ditangani, akhirnya Arka bisa bernapas lega. Aline dan juga sang bayi sama-sama selamat, wanita itu melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan kini Aline sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Meski wanita itu belum sadarkan diri karena efek anastesi yang diberikan sebelum operasi.


Arka yang tertidur di kursi samping ranjang tersentak kaget kala mendengar suara nada dering dari telepon genggamnya. Perlahan, lelaki itu mulai membuka mata kemudian merogoh saku kemejanya dan mengambil benda pintar miliknya untuk melihat siapa yang menelepon sepagi ini. Nama kontak Johan tertulis di layar, membuat lelaki itu segera menggeser icon berwarna hijau tanpa menunggu lama.


"Hallo, Johan," sapa Arka dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hallo Arka. Kamu di mana, aku dan Arum berencana untuk melihat keadaan Tirta di rumah sakit." Suara Johan terdengar di ujung telepon.


Arka menepuk jiratnya sendiri, ia baru teringat jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit dan belum sempat mengabari kedua sahabatnya tentang apa yang menimpa Aline semalam.


"Kamu dan Arum langsung saja ke rumah sakit harapan jaya. Tempat Tirta dirawat, aku sejak semalam juga berada di sini," perintah Arka pada Johan.


"Apa? Memangnya untuk apa kamu berada di sana? Apa kamu terlalu khawatir Tirta akan melarikan diri sampai menungguinya semalaman?" tanya Johan Ayah masih tak habis pikir dengan tingkah Arka yang memilih untuk berjaga di rumah sakit.


"Ngawur, aku di sini bukan untuk Tirta. Tapi, semalam Aline jatuh dari tangga dan memgalami pendarahan. Dia baru saja selesai menjalani operasi untuk melahirkan anak kami," jelas Arka dengan sedikit kesal, sahabatnya rerkadang suka asal kalau bicara.


"Jadi, Aline sudah melahirkan? kalau begitu aku akan segera ke sana," balas Johan kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Tiga puluh menit kemudian, Aline mulai membuka mata. Wanita itu kembali memancingkan indera penglihatannya yang silau karena terkena cahaya lampu.


"Mas, aku di mana?" tanya wanita itu seraya memegangi kepalanya yang masih terasa berputar.


Arka tersenyum melihat sang istri yang telah tersadar. Lelaki itu langsung menangkup kedua pipi sang istri yang begitu ia cintai.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu," ujar Arka, mengatakan apa yang tengah ia rasakan sejak semalam.


Aline tak menjawab, wanita itu meraba perutnya yang sudah sedikit mengecil karena baru saja menjalani operasi.


"Mas, anak kita. Anak kita di mana?" panik Aline setelah menyadari keadaannya. Wanita cantik itu juga mulai mengingat kejadian ketika ia terjatuh dari tangga semalam. Arka mengelus lembut puncak kepala sang istri, berusaha untuk memberikan ketenangan.


"Kamu tenang ya, anak kita baik-baik saja. Dia sudah lahir ke dunia. Laki-laki, tampan sekali dan sekarang masih berada di ruang bayi," jelas Arka membuat sang istri bernafas lega.


"Syukurlah, Mas. Aku takut kalau aku akan kehilangan anak kita."


Pintu ruang rawat terbuka, bersamaan dengan Johan dan Arum yang masuk ke dalam. Menghampiri sang sahabat yang masih nampak pucat.


"Aline, bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja? Lalu, kenapa kamu sampai pendarahan dan bisa operasi?" Arum memberondong Aline dengan berbagai pertanyaan.


"Apa kalian sudah bertemu dengan Tirta?" tanya Arka pada ke kedua sahabatnya dan dijawab oleh Johan dengan sebuah gelengan kepala.


"Sebaiknya kalian berdua saja ya yang menemui dia, biar aku di sini menemani Aline," pinta Arum seraya menatap kedua lelaki di hadapannya secara bergantian. Arka dan Johan mengangguk, menyetujui ucapan Arum. Keduanya berjalan keluar dari ruangan itu setelah pamit pada dua wanitanya.


Arum segera duduk di kursi samping ranjang, menggenggam lembut jemari Aline. Ia begitu bersyukur, sahabatnya bisa selamat. Begitu pula dengan sang bayi yang selama ini begitu dinantikan kehadirannya oleh Aline dan Arka.


"Ibu mana, Aline. Kok nggak kelihatan?" tanya Arum yang celingukan mencari keberadaan Bu Kanti namun tak bisa ia temukan.


"Ibu lagi keluar sebentar, katanya mau beli air mineral," jawab Aline.

__ADS_1


Pintu ruangan kembali terbuka, seorang perawat muncul bersama box bayi yang berisi anak Aline.


"Ibu Aline, silakan bayinya disusui dulu ya. Alhamdulillah anaknya sehat dan sangat tampan sekali. Semourna tanpa kurang satu apapun," ucap seorang perawat seraya membantu Aline untuk menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan menyerahkan bayi laki-laki berwajah tampan serta berhidung bangir itu. Aline tersenyum, dengan senang hati ibu muda itu menyusui putranya. Nampak sang bayi begitu lahap menikmati ASI dari sang ibu. Arum juga mengulas sebuah senyumn, ia teringat akan baby Zio dan baby Zia yang ia tinggalkan di rumah bersama Bi Marni. Karena tak mungkin jika harus mengajak mereka ke rumah sakit.


Sementara itu, Johan dan Arka telah tiba di depan sebuah kamar di mana Tirta dirawat. Nampak dua orang polisi yang sedang berjaga di depan pintu.


"Selamat pagi, Pak," sapa Johan pada keduanya.


"Selamat pagi, Pak Johan."


"Bagaimana keadaan Pak Tirta?" tanya Johan pada kedua polisi itu.


"Beliau sudah sadar, tapi masih perlu beberapa hari lagi untuk menjalani perawatan. Silakan kalau Pak Johan ingin masuk dan bertemu dengan beliau."


"Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin memastikan saja." Johan mengintip ke dalam melalui sebuah kaca yang ada di pintu. Kedua lelaki itu segera pamit setelah memastikan Tirta aman dan tak kabur dari pengawasan polisi.


Arka dan Johan berjalan di sepanjang lorong rumah sakit dengan perasaan lega. Johan merasa begitu berhutang budi pada mantan suami istrinya itu. Karena tanpa Arka, pasti sekarang keluarganya masih mengalami teror mengerikan yang diberikan oleh Tirta. Tanpa aba-aba, Johan memeluk tubuh Arka dengan begitu erat. Membuat sahabatnya mematung seraya mengerutkan dahi menerima perlakuan dari Johan.


"Kau masih normal kan, Jo? Kenapa kamu memelukku seperti ini? Aku ini Arka, bukan Arum," celetuk Arka, membuat Johan segera melepaskan pelukannya.


"Sial kau, Ka. Jelaslah aku ini masih normal, aku masih sangat mencintai istriku. Aku hanya merasa berhutang budi padamu, karena kamu sudah banyak membantu keluargaku. Terima kasih atas segala bantuanmu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikanmu," tutur Johan dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah, Jo. Anggap saja semua yang aku lakukan ini untuk menebus segala kesalahanku di masa lalu pada istrimu. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang menguji kebahagiaan kita. Hanya tinggal menunggu Aline pulih dan bisa pulang ke rumah," ucap Arka seraya mengulas senyuman. Kedua lelaki itu melanjutkan langkah untuk menuju ruangan Aline dengan sembari sesekali melempar candaan.

__ADS_1


__ADS_2