
Gurat rona senja telah terlukis, menghias langit sore itu. Menandakan jika terangnya sang Bagaskara akan segera berganti dengan pekatnya gulita malam. Arum tengah berjalan di lorong rumah sakit yang sama dengan tempat di mana Johan dirawat. Wanita itu baru saja keluar dari poli kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Enam bulan sudah Johan terbaring koma, masih belum ada tanda-tanda lelaki itu akan segera sadar.
Arum yang sudah hampir putus asa tetap berusaha kuat menjalani hidup tanpa sang suami yang dulu selalu mencurahkan ribuan kasih sayang untuknya. Berusaha untuk tegar menjalani masa-masa kehamilannya seorang diri, meski Arka dan Aline selalu menemani wanita itu. Namun, tak bisa dipungkiri, Arum tetap merindukan sosok Johan untuk selalu menemani dirinya. Kandungan Arum yang sudah memasuki usia tujuh bulan membuatnya semakin berada di puncak kegelisahan. Wanita itu takut jika sampai nanti ia melahirkan, Johan tetap belum sadar.
Pikiran Arum terus melayang, memikirkan kejadian-kejadian buruk yang akan menimpanya di masa depan hingga tanpa sengaja bahunya menyenggol seorang wanita yang berpapasan dengannya.
"Aduh maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap Arum dengan wajah bersalah.
Namun, ekspresi wajahnya berubah saat kepalanya mendongak. Menatap siapa wanita yang telah ia tabrak barusan. Sosok yang tengah tersenyum miring menatap ke arah dirinya
"Fitri? Kamu Fitri kan?" ucap Arum dengan mata yang memancing, memastikan jika penglihatannya tidaklah salah.
Fitri tersenyum miring menatap Arum dengan pandangan mengejek, seolah sedang merendahkan Arum.
"Bagaimana rasanya hamil tanpa ada suami kamu yang menemani?" ejek wanita berhijab itu sembari memindai penampilan Arum dari ujung kaki hingga ujung kepala. Entah apa maksud wanita itu.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu,Fitri?"
"Aku sudah bilang bukan, kalau aku tidak akan membiarkan kamu dan Johan bahagia di atas penderitaanku," ujar Fitri kemudian berlalu pergi, meninggalkan Arum yang masih shock setelah pertemuan dengan wanita itu.
Fitri, sosok wanita yang selama ini dicurigai sebagai penyebab kecelakaan Johan tiba-tiba muncul. Arum terduduk lemas, mengacak rambutnya kasar karena frustasi. Namun, sejurus kemudian Arum teringat jika ada Fitri di sana, bisa saja wanita itu baru saja menemui Johan atau bahkan wanita itu sudah melakukan suatu pada Johan.
__ADS_1
Arum yang pikirannya sedang kalut segera bangkit dari posisinya. Wanita itu berusaha berjalan cepat sembari memegangi perut besarnya menuju ke ruang rawat sang suami. Keringat mengucurderas dari dahi wanita itu, membayangkan jika saat ini telah terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Bahkan, Arum sampai melupakan jika sedari tadi ada Bi Marni yang menjaga Johan di sana.
Braakk!
Pintu ruangan rawat Johan dibuka dengan kasar oleh Arum. Dada wanita itu naik turun menahan rasa ketakutan dan juga rasa lelah. Namun, seketika Arum bernafas lega karena melihat Bu Marni yang masih duduk di samping ranjang sang suami sembari membaca ayat-ayat suci. Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi kala menatap Arum yang terlihat begitu kelelahan, padahal tadi majikannya itu pamit untuk memeriksakan kondisi kandungannya.
Bi Marni buru-buru beranjak dan menghampiri sosok Arum sembari memberikan segelas air putih.
"Masya Allah, kenapa Non Arum keringetan seperti ini? Apa Non habis lari-lari?" tanya Bi Marni setelah Arum menenggak air putih yang ia berikan.
Wanita paruh baya itu menuntun majikannya menuju ke sebuah sofa yang berada dalam ruangan.
"Sa- saya tadi habis ketemu sama Fitri, Bi. Saya takut kalau Fitri melakukan hal yang buruk pada Mas Johan." Lagi-lagi Bi Marni hanya bisa mengerutkan dahi karena tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Arum.
"Ya ampun, Bi. Itu loh Fitri, wanita yang dulu pernah mengaku sebagai kekasihnya Mas Johan dan orang yang saya curigai menjadi penyebab kecelakaan suami saya, Bi," jelas Arum panjang lebar.
Wanita itu membelalakkan mata setelah mendengar penjelasan dari Arum. Jujur saja, Bi Marni mendadak merasakan ketakutan setelah Arum menceritakan hal itu padanya. Takut jika Fitri akan datang bukan sekedar untuk menyelakai Johan, tapi juga mencelakai Arum yang saat ini tengah hamil besar. Wanita paruh baya itu memutar otak, bagaimana caranya untuk menjamin keamanan Johan dan juga Arum.
"Non, Non coba telepon Mas Arka dan Mbak Aline saja. Siapa tahu mereka punya solusi untuk masalah ini," ujar lebih Marni memberikan saran pada majikannya.
Arum mengangguk pasrah, wanita itu mengambil benda pipih yang berada di tas nakas samping ranjang pasien. Jarinya menari-nari di atas layar. Namun, entah mengapa Arum bukannya menghubungi Aline, wanita itu malah menghubungi Arka, mantan suaminya. Arum langsung menekan icon berwarna hijau pada layar benda pipih itu, menunggu beberapa saat sampai Arka menjawab panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Halo Arum, ada apa?" Bukan Arka yang menjawab, namun suara Aline yang saat ini terdengar di ujung telepon.
"Halo Aline, kalian bisa ke sini nggak sekarang? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," pinta Arum.
"Hal penting? Hal penting apa memangnya? Apa nggak bisa bicara di telepon saja?" Aline terdengar enggan untuk menuruti permintaan sahabatnya itu.
"Nggak bisa, Aline. Ini ada hubungannya dengan orang yang aku curigai sebagai penyebab kecelakaan yang dialami Mas Johan." Mau tak mau Akhirnya Arum terpaksa memberikan sedikit bocoran.
"Baiklah, aku dan Mas Arka akan ke sana sekarang," ucap Aline kemudian memutus panggilan itu secara sepihak
Arum kembali meletakkan gawainya ke atas nakas kemudian melangkah ke sofa dan duduk di sana sembari menunggu kedatangan dua sahabatnya.
Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Arka dan Aline pun masuk ke ruang rawat Johan. Wajah Aline terlihat begitu masam, wanita itu seolah tak suka jika Arka terus-menerus datang dan ikut mengurusi masalah kehidupan Arum. Rasa cemburu yang dirasakan Aline memang sudah tak bisa dikendalikan lagi. Wanita itu terlalu takut mengingat dirinya yang dulu merebut Arka dari Arum, bisa saja saat ini Arum juga akan mengambil kembali Arka darinya. Pikiran-pikiran negatif itu membuat Aline selalu berjaga-jaga agar hal buruk itu tak sampai terjadi padanya, apalagi sebentar lagi ia akan melahirkan buah hatinya bersama Arka.
Arka dan Alime mendekat, duduk di sofa yang sama dengan Arum.
"Ada apa, Rum? Katanya kamu mau bicarain masalah orang yang kamu curigai sebagai penyebab kecelakaan Johan?" tanya Arka pada wanita muda itu.
"Iya, jadi aku tadi ketemu Fitri di lorong rumah sakit. Kalian ingat Fitri kan? Wanita yang pernah mengaku sebagai kekasih Johan. Aku penasaran dengan apa yang ia lakukan di rumah sakit ini, aku juga takut kalau dia datang ke sini karena ingin melakukan hal yang buruk pada suamiku," ucap Arum dengan wajah was-was.
Aline dan Arka kembali terdiam, pasangan itu saling pandang. Memikirkan solusi apa yang harus mereka berikan pada Arum agar tak terlalu khawatir.
__ADS_1
Sdangkan Aline sendiri Lebih fokus memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Arum tak terus-menerus mengusik hidupnya.
"Bagaimana kalau kita cek CCTV saja? Siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi dari sana?" Arka mengusulkan sebuah ide yang langsung disetujui oleh kedua wanita itu.