Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 31


__ADS_3

Arum berdecak kesal karena Johan yang terburu-buru memotong kalimatnya sebelum wanuta itu bisa menjelaskan semuanya.


"Tapi karena sekarang ini aku lagi datang bulan dan aku mau minta tolong sama kamu buat belikan aku pembalut!" pekik Arum yang sudah ikut tersulut emosi karena sang suami yang tak memberinya kesempatan untuk bicara.


Mulut Johan menganga setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh sang istri. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Cobaan apa lagi ini, saat Johan sudah membayangkan adegan romantis malam pertama mereka malah sang istri mendadak datang bulan. Johan mendekat ke arah sang istri dengan sebuah senyuman canggung disertai rasa bersalah karena sempat membentak sang istri.


"Sayang, maaf ya aku marah-marah tadi. Tapi ini kamu cuma becanda kan datang bulanya. Tadi sore aja kamu nggak apa-apa kok? Kamu cuma nge-prank aku ni pasti," cicit Johan yang berharap semua ini hanya sebuah candaan dari sang istri.


"Aku serius, Mas. Ngapain juga aku becanda kayak begitu, nggak lucu. Sekarang tolong beliin aku pembalut di mini market ya. Yang pembalut malam dan bersayap, pilih yang bubgkusnya warna biru. Sekalian sama kiranti yang original biar perut aku nggak sakit," pinta Arum dengan wajah memelas, membuat sang suami menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku minta Bi Marni aja ya yang beliin? Kan malu, masa laki-laki harus beli pembalut sih," Johan mencoba untuk menawar permintaan sang istri.


"Ya jangan donk, kalau Bi Marni yang pergi kan jalan kaki pasti lama. Ntar keburu bocor akunya, lagi pula kasian malam-malam si Bibi harus jalan sendirian. Lagian banyak juga laki-laji yang beliin pembalut buat istrinya, itu udah biasa tahu," rengek Arum manja membuat Johan tak bisa menolak lagi.


Dengan angkah gontai, lelaki itu mengayun kakinya menuruni anak tangga. Nampak kondisi lantai satu yang sudah sepi. Pertanda jika Bi Marni sudah tidur. Johan mulai melajukan mobilnya menuju sebuah Indoapril depan perumahan yang memang buka dua puluh empat jam.


Lelaki itu kembali dibuat bingung dengan rak berisi deretan pembalut wanita dengan berbagai merek di hadapanya. Karena seumur hidup, ini pertama kalinya Johan membeli sebuah pembalut.


"Banyak banget lagi, yang dimaksud Arum yang mana ya? Alah, daripada ribet mending aku beli semua pembalut malam yang warna bungkusnya biru," gumam Johan kemudian mulai mengambil pembalut dan memasukanya ke keranjang belanjaan yang ia bawa.


Setelah selesai dengan urusan pembalut, kini Johan berganti untuk mengambil Kiranti yang dipesan oleh Arum. Beruntung, sang istri sempat berpesan untuk membeli varian original. Lelaki itu langsung menuju ke kasir untuk membayar semua belanjaanya tanpa memperdulikan tatapan beberapa wanita yang memandang aneh ke arahnya.


Akhirnya, lelaki itu bisa bernapas lega dan segera melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah.


Setibanya di rumah, Johan buru-buru menaiki anak tangga menuju ke kamar. Di mana sang istri masih menunggu di dalam kamar mandi dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Mas, kok lama banget sih. Perut aku udah sakit banget ini," keluh Arum saat melihat sang suami masuk ke dalam kamar.


"Maaf, tadi aku bingung. Semua pembalut malam bungkusnya warna biru. Nih, kamu pilih aja sendiri ya." Johan mengulurkan satu kantong kresek besar berisi pembalut malam dengan berbagai macam merek.


Kali ini Arum tak protes, wanita itu segera menutup pintu kamar mandi dan kembali keluar dengan wajah lega.


"Ini, kirantinya diminum dulu biar perutnya nggak sakit," titah Johan seraya mengulurkan sebotol kiranti yang sudah ia buka sebelumnya.


"Makasih ya, Mas. Kamu emang suami paling baik sedunia." Arum langsung menenggak isi botol itu hingga tandas kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mulai memejamkan mata tanpa peduli pada Johan yang mengerutkan dahi menatap ke arahnya.


"Wanita memang makhluk paling absurd di dunia ini."


Sejurus kemudian, mulai terdengar dengkuran halus dari bibir Arum.


*****


Mentari pagi telah kembali bersinar, Arum terbangun karena cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela gorden. Wanita itu menatap wajah sang suami yang masih terlelap di sampingnya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menelusup ke dalam hati mengingat apa yang telah ia lakukan pada sang suami semalam. Arum beranjak dari kasur empuknya menuju ke kamar mandi kemudian kembali dengan penampilan yang lebih segar dan berniat untuk membangunkan sang suami.


"Mas, bangun yuk. Udah pagi, kita sarapan dulu," bisik lembut Arum seraya mengelus rambut sang suami dengan penuh kasih sayang.


Perlahan, Johan mulai membuka matanya dan tersenyum kala melihat wajah ayu sang istri.


"Maaf ya, semalam aku udah ngerepotin kamu," ucap Arum dengan wajah bersalah.


Johan bangkit dan merengkuh tubuh wanita tercintanya itu ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kamu kan lagi dapet. Tapi aku jadi harus puasa deh, padahal aku udah bayangin malam pertama sama kamu lho." Johan menyunggingkan senyum manisnya menatap sang istri.


"Aww, sakit Sayang," pekik Johan saat Arum mencubit pinggangnya secara tiba-tiba.


"Rasain, mesum sih otaknya."


"Ya nggak apa-apa donk, mesum sama istri sendiri. Udah ah, aku mandi dulu terus kita turun ya. Pasti Bi Marni udah nungguin kita buat sarapan bareng."


Johan segera masuk ke kamar mandi sedangkan Arum memilih untuk merapikan ranjangnya dan menyiapkan baju ganti untuk sang suami. Celana pendek berwarna hitam dan kaos oblong berwarna putih menjadi pilihanya.


Setelah Johan selesai dengan ritual membersihkan diri, keduanya bergandengan tangan untuk turun ke lantai bawah. Dan benar saja, Bi Marni sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.


"Duh, mesranya pengantin baru. Gimana malam pertamanya, pasti asyik banget nih?" goda Bi Marni pada keduanya.


Johan mencebikan bibirnya dan langsung menghenyak di kursi sedangkan Arum hanya menggedikan kedua bahunya.


"Mas Johan, habis unboxing kok malah cemberut gitu sih." Bi Marni masih belum mau berhenti menggoda majikan laki-lakinya.


"Malam pertama sama unboxing apaan, Bi? Orang semalam saya malah disuruh Arum ke indoapril buat beli pembalut sama kiranti," jelas Johan pada akhirnya, bibirnya mengerucut menandakan jika lelaki itu sedang merasa kesal.


"Walah, apes. Kok ya Non Arum tamunya datang nggak lihat waktu. Untung kemarin Bibi nggak kasih ramuan obat kuat buat Mas Johan. Kalau iya bisa celaka," ucap Bi Marni kemudian terkekeh.


"Udah ah, Bi. Jangan digodain terus. Kan malu, makan aja yuk. Laper nih," rengek Johan seperti anak kecil.


Ketiganya menikmati sarapan pagi itu dengan berbagai candaan yang dilontarkan Bi Marni untuk Johan dan Arum. Usai sarapan, rencananya Johan akan mengajak Arum melihat caffe sebentar kemudian jalan-jalan menikmati liburan mereka.

__ADS_1


__ADS_2