Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 25


__ADS_3

Tiga hari sudah Aline dirawat di rumah sakit, dan selama itu pula Bu Kanti sama sekali tak pernah menjenguknya. Hanya Arka sendiri yang menjaga dan mengurus segala keperluan sang istri hingga harus mengambil cuti selama satu minggu. Hari ini Aline sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Arka dengan telaten membantu sang istri berganti baju dan membereskan barang-barang mereka sebelum pulang ke rumah. Kegiatan itu terhenti kala terdengar suara handphone Aline yang berdering.


"Mas, bisa minta tolong ambilin handphoneku di dalam tas," pinta Aline yang langsung diangguki oleh sang suami.


Dahi Arka mengernyit kala melihat nama Arum yang tertera di layar benda pipih itu. Namun, Arka memilih menahan sejenak rasa penasaranya dan segera memberikan handphone itu pada istrinya.


"Hallo Arum," sapa Aline dengan ramah, seperti saat hubungan keduanya masih baik-baik saja seperti dulu.


"Hallo Aline, kamu jadi pulang hari ini?" tanya Arum di ujung telepon.


"Jadi, ini aku udah beres-beres sama Mas Arka. Setelah itu aku mau langsung pulang."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Nanti sore aku mau jengukin kamu sama Johan."


"Iya, makasih ya."


"Sama-sama."


Panggilan telepon diakhiri, Aline menyerahkan kembali ponselnya pada sang suami.


"Arum telepon kamu? Apa kalian sering komunikasi sekarang?" tanya Arka setelah menyinpan kembali telepon pintar milik sang istri di dalam tasnya.


"Iya, Mas. Hubungan aku dan Arum udah kembali membaik, nanti sore katanya dia juga mau jengukin aku," jawab aline dengan seuntai senyuman yang tersungging di bibir tipisnya.


"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu ya. Terus kamu istirahat." Aline menganggukan kepala, mengiyakan ucapan sang suami.


Arka mendorong Aline menggunakan kursi roda untuk menuju ke mobil. Sikap Arka memang sekarang jauh berubah semenjak sang ustri mengalami keguguran, lebih perhatian dan terlihat lebih menyayangi Aline dengan tulus. Namun, entah mengapa Aline masih ragu untuk mengikuti rencana Arka yang ingin meresmikan pernikahan siri mereka.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan oleh Arka mulai melaju membelah jalanan kota siang itu. Sesekali ekor mata lelaki itu melirik ke arah sang istri yang lebih memilih untuk memalingkan pandangannya ke luar jendela.


"Aline," lirih Arka memecahkan suasana hening yang sedari tadi mereka ciptakan sendiri.


"Hmmm," balas Aline yang masih fokus pada pemandangan di luar sana.


"Jadi kapan kamu mau menikah secara resmi denganku?" Kali ini pertanyaan Arka berhasil membuat Aline menoleh ke arah sang suami yang masih fokus menyetir.


"Menikah resmi? Apa kamu yakin, Mas? Jujur saja, setelah aku kehilangan anakku. Aku malah ragu untuk menikah secara resmi denganmu," jujur Aline membuat Arka memilih untuk menepikan mobilnya dan berbicara dengan sang istri terlebih dahulu.


Arka menatap lekat-lekat wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya secara agama. Nampak jelas gurat keraguan di wajah cantik yang masih sedikit pucat itu. Namun, satu hal yang Arka sadari. Tatapan cinta di mata Aline untuknya kini sudah mulai memudar. Tapi, Arka tahu ini bukan salah Aline. Wanita itu berubah juga karena sikapnya yang sudah sangat keterlaluan selama ini. Apalagi sekarang Aline juga baru saja kehilangan janinnya.


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kamu sudah benar-benar benci padaku sekarang?" Mata Arka memincing menunggu jawaban yang akan terlontar dari bibir wanita muda itu.


"Aku masih mencintaimu, Mas. Tapi jujur, jika sikap Ibu masih seperti itu pasti aku nggak akan bisa bertahan. Aku bukan Arum yang bisa diam dan menerima saat Ibumu menindasnya, kesabaranku hanya setipis tisue," lirih Aline ranpa berani menatap ke arah Arka.


"Aku bisa mengerti apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Tapi aku janji, akan memperlakukan kamu dengan baik. Aku nggak akan biarkan Ibu menindas istriku lagi," ujar Arka penuh keyakinan, tapi tak cukup untuk membuat Aline percaya.


"Kamu buktikan saja semuanya, Mas. Yang jelas, aku tak akan mau menikah resmi denganmu sebelum kamu bisa membuktikan bualanmu itu," balas Aline setengah menyindir.


Arka tak lagi menanggapi ucapan sang istri, lelaki itu memilih untuk kembali melajukan mobilnya dan suasana hening kembali terjadi sampai mobil itu berhenti di depan kediaman Arka.


"Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong aja?" tawar Arka setelah membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Aku masih bisa jalan sendiri kok."


Arka dengan sigap memapah sang istri untuk masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, keduanya dibuat geleng-geleng kepala melihat kondisi rumah yang begitu kotor. Bungkus cemilan di mana-mana, piring bekas makan menumpuk di wastafel. Belum lagi baju-baju kotor Bu Kanti yang sudah menggunung di keranjang pakaian kotor.

__ADS_1


"Kamu lihat, Mas. Aku baru saja pulang dari rumah sakit, tapi keadaan rumah ini sudah seperti kapal pecah. Lalu, siapa yang akan membersihkan semuanya kalau bukan aku?" kesal Aline yang masih memandang jijik setiap sudut rumah itu.


"Sabar, kamu nggak perlu beresin ini semuanya."


"Maksudmu?"


"Bu ... Ibu!" teriak Arka memanggil Bu Kanti yang belum mengetahui kepulangan mereka.


Dengan langkah malas Bu Kanti keluar dari dalam kamar, wajahnya sedikit terkejut kala melihat anak dan menantunya yang ternyata sudah pulang dari rumah sakit.


"A- Arka, Aline, kalian kok nggak bilang kalau hari ini sudah pulang dari rumah sakit," heran Bu kanti, wajahnya nampak begitu gugup apalagi setelah melihat kondisi rumahnya saat ini.


"Memangnya kenapa kalau Arka nggak bilang? Ini kenapa rumah bisa seperti kapal pecah begini sih, Bu?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Arka membuat wanita paruh baya itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.


"Aduh, Arka. Ibu ini sydah tua, mana sanggup kalau harus membersihkan rumah sebesar ini. Lagi pula, sekarang kan Aline sudah pulang. Jadi dia bisa dong bersihin semuanya." Bu Kanti memasang wajah memelas untuk membuat Arka kembali kasihan padanya, sedangkan Aline hanya diam sembari memutar bola matanya jengah.


Kali ini Aline memang sengaja tak mendebat perkataan mertuanya karena ingin melihat apakah Arka bisa membuktikan semua bualanya tadi. Lelaki itu mendekat dan memegang kedua bahu sang ibu.


"Bu, Aline ini bukan pembantu. Dia istri Arka. Lagi pula, rumah ini tidak akan sekotor ini kalau Ibu tak malas. Arka, nggak mau tahu. Pokoknya Ibu bersihkan semua, aku mau temani Aline istirahat dulu di atas. Dia baru saja sembuh dan perlu banyak istirahat."


Lelaki itu segera berlalu, membantu Aline manaiki anak tangga menuju ke kamar mereka. Meninggalkan Bu Kanti yang sibuk mengomel dan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


Dengan malas, Bu Kanti mulai membersihkan rumah itu. Mulai dari memasukan baju-baju kotornya ke dalam mesin cuci, mencuci piring sampai menyapu sekaligus mengepel lantai rumah itu.


"Ya ampun, capek banget rasanya. Pantas dulu Arum sampai kucel dan dekil gitu penampilannya," oceh Bu Kanti sembari memijat sendiri pinggangnya yang terasa begitu pegal setelah membersihkan seluruh rumah.


Arka dan Aline yang sedari tadi mengintip dari lantai atas hanya bisa terkekeh geli mendengar ocehan wanita paruh baya itu. Sejurus kemudian terdengar suara bunyi bel pintu yang kembali membuat Bu Kanti berdecak kesal karena baru saja beristirahat sudah ada lagi yang mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2