
Terdengar suara benturan yang sangat keras hingga memancing atensi para pengguna jalan. Mobil yang tadi melaju dengan kecepatan tinggi telah menabrak tiang listrik. Sedangkan Arum, wanita itu tergeletak di pinggir jalan setelah diselamatkan oleh seseorang yang tadi berteriak memperingatkannya. Hendra, dia adalah dokter muda yang menangani Arum selama ini.
"Dokter, Ibu itu berda- rah," teriak seorang wanita yang berdiri di tepian jalan membuat fokus pandangan Hendra tertuju pada bagian bawah Arum, dan benar saja da- rah segar mengalir di sela-sela kaki wanita itu.
Hendra yang sudah dilanda kepanikan melihat kondisi Arum segera membopong tubuh wanita itu untuk masuk ke dalam rumah sakit agar segera mendapat pertolongan dari dokter kandungan. Sementara si pengemudi mobil yang juga terluka dibawa oleh beberapa orang ke UGD.
Bi Marni yang baru saja mendapat kabar kecelakaan itu memilih untuk menghubungi Aline melalui telepon genggam milik Arum. Wanita paruh baya itu masih memegang janji untuk tak meninggalkan Johan sendiri apapun keadaannya.
Aline yang baru saja sarapan dan memang berniat untuk ke rumah sakit bersama sang suami mengerutkan dahi melihat panggilan masuk dari sahabatnya.
"Hallo Arum, aku baru saja mau berangkat ke rumah sakit bersama Mas Arka," cerocos Aline yang mengira sedang berbicara dengan Arum.
Terdengar suara tangisan di ujung telepon, membuat Aline sadar jika itu adalah suara Bi Marni.
"Bi, ini Bi Marni? Bibi kenapa menangis Bi?" cecar Aline karena panik.
"Mbak Aline, Non Arum hampir saja ditabrak oleh seseorang. Tapi beruntung, ada Dokter Hendra yang menyelamatkannya. Tapi Non Arum sekarang sedang menjalani pemeriksaan karena mengalami pendarahan," jelas Bi Marni diiringi dengan suara isak tangis.
"Ya Tuhan, Arum. Saya akan ke sana untuk menjaga Arum, Bibi jangan ke mana-mana dan tetap jaga Johan ya, Bi." Aline langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Mas! Mas Arka! Buruan ke sini, Mas!" teriak Aline memanggil sang suami yang masih berada di dalam kamar.
__ADS_1
Arka berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang istri yang kelihatan begitu panik, "Kamu kenapa Aline? Kok sampai teriak-teriak begitu?"
"Mas, Arum hampir saja ditabrak oleh seseorang di depan rumah sakit. Tapi Dokter Hendra berhasil menyelamatkannya dan saat ini Arum sedang menjalani pemeriksaan karena mengalami pendarahan setelah terjatuh akibat dorongan dari Dokter Hendra tadi," tutur Arum memberikan penjelasan pada sang suami.
"Apa? Ya Tuhan, Johan saja masih belum sadar dari koma dan sekarang Arum hampir ditabrak oleh seseorang?"
"Sudah, Mas. Kita ke rumah sakit saja sekarang, kita temani Arum. Biar Bi Marni yang jagain Johan."
Arka langsung menganggukan kepala, menyetujui ucapan sang istri. Lelaki itu menggandeng tangan Aline untuk menuju ke mobil yang masih terparkir di carport. Arka langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan UGD tempat di mana Arum dan orang yang berniat menabraknya menjalani pemeriksaan. Arka dan Aline mondar-mandir di depan pintu karena panik menunggu sang dokter selesai melakukan penanganan pada sahabatnya itu. Keduanya sama sekali tak menyangka jika musibah akan kembali menimpa Arum.
"Ya ampun, Mas. Semoga kandungan Arum nggak akan kenapa-kenapa ya?" harap Aline di tengah kecemasan, ia yakin jika sampai terjadi sesuatu pada kandungan Arum maka wanita itu akan benar-benar terpuruk sampai di titik terendah.
Sementara di ruang rawat Johan, Bi Marni menangis sembari menggenggam erat jemari tangan Johan, tak menyangka jika kebahagiaan Arum benar-benar sesingkat ini. Air mata wanita paruh baya itu menetes, membasahi tangan Johan yang masih dipasangi selang infus.
Brak!
Bi Marni dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar oleh Arka, lelaki itu masuk dengan mata memerah karena menahan tangis. Langkahnya lebar mendekat ke ranjang pasien tempat Johan berbaring.
"Bangun Johan, bangun! Jangan jadi pengecut yang bisanya cuma tidur doank. Kamu harus temani Arum berjuang sekarang. Asal kamu tahu, dia menolak dioperasi karena ingin melahirkan ditemani olehmu. Bangun Johan!" Teriakan Arka memenuhi seluruh penjuru ruangan, air mata yang sedari tadi ditahan oleh lelaki itu telah luruh. Sungguh Arka tak tega melihat keadaan Arum saat ini, tubuh Arka luruh di lantai karena putus asa melihat tubuh Johan yang tetap tak memberikan reaksi apapun.
Bi Marni mendekat untuk membantu Arka berdiri, wanita paruh baya itu juga ingin mengetahui keadaan Arum.
__ADS_1
"Mas Arka, bagaimana keadaan Non Arum. Kenapa Mas Arka sampai seperti ini?" Suara Bi Marni terdengar bergetar karena merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
Arka menyeka air mata yang masih terus mengalir, "Arum harus segera menjalani operasi caesar karena mengalami pendarahan dan pecah ketuban, Bi. Tapi dia menolak, dia ingin Johan menemani saat melahirkan bayinya."
"Ya Tuhan, Non Arum." Air mata kembali membasahi pipi Bi Marni.
"Dan asal Bibi tahu, ternyata orang yang dengan sengaja ingin mencelakai Arum adalah Fitri, Bi!"
"Apa?" Bi Marni mengayun langkahnya untuk mendekati Johan yang masih terbaring dengan mata terpejam.
"Mas Johan, Bibi mohon bangun sekarang! Mas Johan harus menemani Non Arum berjuang. Lihat, wanita bernama Fitri itu sudah berani mencelakai Non Arum. Mas Johan harus menjaga anak dan istri Mas Johan. Ayo bangun, Mas." Lagi-lagi Arka dan Bi Marni harus menelan pil pahit karena Johan belum juga mau memberikan reaksi yang berarti.
Sementara itu, Aline tengah berada di ruang UGD menemani Arum. Berusaha membujuk sahabatnya agar mau dioperasi secepatnya.
"Arum, kamu harus segera dioperasi. Kalau tidak, keselamatan anak di dalam kandungan kamu akan terancam. Apa kamu rela kehilangan mereka berdua," bujuk Aline sembari menahan tangis.
"Aku nggak mau, Aline. Kenapa aku harus berjuang sendirian, aku ingin Mas Johan menemaniku berjuang untuk melahirkan keturunannya," balas Arum, pandangannya nanar menatap ke arah langit-langit ruangan itu.
Aline mendesah kasar, memikirkan cara agar Arum mau mendengarkan nasihatnya.
"Kamu nggak boleh egois donk, Arum. Kondisi Johan sekarang tidak memungkinkan. Tapi, pasti dia akan marah kalau kamu sengaja membahayakan nyawa anak kalian seperti ini."
__ADS_1
"Sudahlah, Aline. Berhenti membujuku, kalau aku mati bersama anak ini harusnya kamu bahagia. Aku tak akan lagi merepotkan dirimu dan Mas Arka. Kalian juga bisa bahagia." Suara Arum terdengar putus asa, sama dengan Aline yang sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk wanita itu.
Sejurus kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Arum segera memalingkan wajah karena sudah pasti itu adalah Dokter Miranda dan Dokter Hendra yang juga datang untuk memintanya segera menjalani operasi.