Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 28


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, masa iddah Arum juga sudah berakhir. Kini, wanita itu tengah sibuk mempersiapkan hari pernikahannya dengan Johan yang akan digelar satu minggu lagi. Seperti hari ini, ia sedang mempersiapkan sebuah undangan yang akan diberikan secara khusus pada Aline dan Arka yang rencanya hari ini akan datang ke rumahnya untuk berkunjung. Arum memandangi undangan yang kini berada di tangannya.


"Aku nggak nyangka, Jo. Setelah beberapa tahun, akhirnya kamu yang tetap menjadi jodohku. Semoga kita benar-benar berjodoh sampai hanya maut yang akan memisahkan kita," batin Arum dalam hati kemudian menyunggingkan sebuah senyum manis.


Tok tok tok.


Suara ketukan di pintu membuat Arum memalingkan pandangannya. Wanita itu mengayun langkahnya menghampiri seseirang yang sedang berdiri di balik pintu.


"Ada apa, Bi?" tanya Arum pada wanita paruh baya yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Ada Mas Arka dan Mbak Aline menunggu di bawah, Non," jawab Bi Marni.


"Oke, sebentar lagi saya akan turun. Bibi tolong buatin minuman ya," titah Arum yang langsung diangguki oleh wanita paruh baya itu.


Arum memperbaiki sejenak penampilannya di depan cermin kemudian menghampiri tamunya di lantai bawah sembari membawa sebuah undangan yang berada di tangannya.


"Hai, maaf ya lama nunggu," sapa Arum kemudian menghenyak duduk di samping Aline.


"Nggak apa-apa. Sama Bibi udah dibuatin muniman biar betah nunggu kamu," kelakar Arka yang mengundang tawa Arum dan juga Aline.


"Bisa aja, nih aku ada sesuatu buat kalian." Arum meletakkan undangan yang dibawanya tadi ke atas meja.


Arka dan Aline saling pandang melihat apa yang ada di depan mata mereka. Sungguh keduanya tak menyangka jika Johan dan Arum akan benar-benar memutuskan menikah secepat ini.

__ADS_1


"Arum, aku masih nggak nyangka kalau kamu beneran akan menikah sama Johan. Selamat ya, semoga semuanya lancar dan kalian selalu dilimpahi kebahagiian." Aline kembali memeluk sang sahabat setelah mengucapkan do'a tulus untuknya.


"Makasih ya Aline, terus kapan ini kalian jadi nikah secara resmi?"


Pertanyaan dari Arum membuat Arka dan Aline saling pandang. Keduanya membisu, lidah Arka rasanya kelu untuk berucap menjawab pertanyaan dari mantan istrinya. Arka yang selalu mengajak Aline untuk meresmikan pernikahan mereka secara hukum namun, selalu mendapat penolakan dengan alasan bahwa Aline masih ingin meyakinkan dirinya.


Tapi, entah apa yang ada di dalam hati Aline sebenarnya. Ketika Arka telah berubah menjadi suami yang begitu baik dan memprioritaskan dirinya, Aline malah merasa jika cintanya pada Arka semakin hari kian memudar.


"Lho kok malah diem sih, atau ... jangan-jangan kalian udah meresmikannya tapi sengaja nggak ngabarin aku dan Johan?" Arum menaikan-turunkan kedua alisnya untuk menggoda pasangan itu.


"Nggak, kita memang belum meresmikan pernikahan ini karena katanya Aline masih belum siap," jelas Arka pada akhirnya, terlihat gurat kekecewaan di wajah tampan mantan suami Arum itu.


Andai saja Arum tahu kenyataan yang sebenarnya, pasti Arum tak akan sampai hati untuk menanyakan hal itu. Karena selama ini meskipun hubungan Arka dan Aline nampak harmonis, namun Aline sama sekali tak pernah mau disentuh oleh Arka. Entah apa yang membuat sikap Aline berubah menjadi dingin pada suaminya. Wanita itu tak pernah mengungkap sebuah alasan jelas, hanya kata lelah yang selalu menjadi jawaban kalau Arka meminta haknya sebagai seorang suami.


Kegagalan menjaga janin yang pernah dikandung oleh Aline membuat Arka selalu ingin menjadi yang terbaik untuk istrinya. Tapi, entah sampai kapan Arka akan bertahan dalam kondisi seperti ini. Bagaimanapun juga, ia adalah laki-laki dewasa normal yang membutuhkan kasih sayang dari seorang wanita. Terutama sang istri.


"Aline, kenapa kamu nggak mau meresmikan pernikahan kalian? Atau mau bareng sama aku aja sekalian?" kelakar Arum untuk mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa sedikit tegang.


"Aku mah gampang, yang penting hubunganku dan Arka baik-baik saja. Ini kan cuma soal waktu. Oh ya, Johan ke mana? Kok nggak kelihatan?" Aline mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu, Arum yang juga bisa membaca ekspresi wajah sahabatnya memilih untuk tak bertanya lebih jauh lagi.


"Biasa, lagi sibuk dia. Katanya mau menyelesaikan pekerjaan biar bisa cuti lama setelah menikah nanti," jawab Arum yang kembali menyunggingkan senyumnya.


"Duh senengnya, mau haneymoon ini pasti. Jadi kepengen," ucap Arka dengan ekor mata melirik ke arah sang istri.

__ADS_1


"Nggak honeymoon kok, cuma istirahat aja di rumah."


"Mana ada pengantin baru mau istirahat, yang ada keramas teroooss," timpal Aline yang berhasil membuat tawa ketiganya pecah.


Obrolan itu terhenti kala terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Tentu saja Arum sudah bisa menebak siapa yang datang di jam mendekati makan siang begini. Benar saja, sejurus kemudian Johan muncul dengan menenteng beberapa kotak makanan.


"Wah, panjang umur ni Johan udah muncul aja," celetuk Arka setelah lelaki itu menghenyak di samping Arum.


"Iya nih, aku bawain makan siang buat kalian. Mie yamin kesukaan Arum dan Aline. Sayang, ini yang satu kamu kasih ke Bi Marni ya," titah Johan seraya mengulurkan sebuah kotak makanan pada sang kekasih.


Arum mengangguk kemudian beranjak menghampiri Bi Marni di kamarnya. Setelah Arum kembali, mereka langsung menyantap makan siang yang dibawakan oleh Johan. Wajah Aline dan Arum langsung berbinar kala menyuap mie yamin itu ke dalam mulut mereka.


"Ini enak banget, Jo," puji Aline yang masih asyik menyuap mie miliknya.


Sejenak Arka melirik ke arah sang istri yang tengah tersenyum bahagia. Senyum yang tak pernah diberikan Aline untuknya sejak kejadian keguguran itu.


"Gimana, Arka? Enak nggak, itu aku sendiri yang bikin di caffe," tanya Johan pada lelaki yang baru saja menghabiskan makanannya.


"Enak banget, Jo. Salut aku sama kamu, bisnismen, tapi selalu ada waktu buat membahagiakan calon istri. Aku yakin, Arum pasti bahagia punya pria sebaik kamu," ucap Arka kembali mengingat kesalahanya dahulu.


Obrolan ringan itu terus berlanjut sampai Aline dan Arka harus pamit pulang karena hari telah sore. Meninggalkan Johan yang masih betah berada di rumah calon istrinya.


"Jo, kayaknya hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Aline menolak untuk meresmikan pernikahan mereka secara hukum," celetuk Arum setelah Aline dan Arka meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku udah tahu, aku bisa lihat dari mata Aline yang kayaknya sudah nggak ada rasa sama Arka. Tapi biar aja, kita nggak ada hak buat ikut campur. Yang penting kita fokus aja sama pernikahana kita, semoga Arka dan Aline juga menemukan jalan yang terbaik," ujar Johan bijak membuat Arum terpana karena ternyata calon suaminya juga memiliki sisi dewasa meskipun jarang ia tunjukan.


__ADS_2