
Seketika mata Johan membola dengan sempurna, lelaki itu langsung menutup kembali kotak yang baru saja ia buka agar Arum dan Bi Marni tak perlu untuk melihatnya.
"Lho Mas, kok malah ditutup lagi kotaknya? Kan aku belum lihat," protes Arum pada sang suami.
"Isinya bukan apa-apa kok, lebih baik kamu dan Bi Marni nggak usah lihat. Aku yakin bukan Arka dan Aline pengirimnya, biar aku buang saja sekarang." Lelaki itu beranjak hendak membuang kotak yang masih berada di atas meja. Namun, tangannya telah terlebih dahulu dicekal oleh sang istri.
"Tunggu, Mas. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan, buka kotak itu sekarang. Aku mau lihat isinya!" perintah Arum yang seolah tak ingin lagi mendapat bantahan.
Johan menghembuskan napas kasar, kemudian kembali menghenyak di sofa dan memandangi kotak sialan itu. Kenapa juga kitiman kotak itu harus datang sepagi ini dan merusak kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Kalian yakin mau melihat isi kotak ini?" Arum dan Bi Marni langsung mengangguk bersamaan, mengiyakan pertanyaan dari lelaki itu.
"Ya sudah, kalian buka saja sendiri dan lihat ala isinya, pasti kalian akan menyesal setelah melihatnya," ucap Johan dengan wajah penuh kegelisahan, membuat Arum dan Bi Marni semakin penasaran akan isi kotak itu.
Dengan tangan gemetar, Bi Marni mulai membuka penutup kotak itu.
"Ya Tuhan, siapa yang tega melakukan ini semua?" pekik Bi Marni setelah melihat apa yang ada di dalam kotak hitam itu. Berbeda dengan Arum yang hanya diam. Wanita itu bergeming, matanya nanar menatap ke dalam isi kotak. Sebuah bangkai merpati berwarna putih disertai dengan foto Arum dan Johan yang berlumuran da-rah.
"Mas, kamu buang dan bakar saja kotak itu," titah Arum dengan bibir bergetar, Johan mengangguk dan segera membawa kotak itu pergi ke halaman belakang untuk dibakar.
Sedangkan Bi Marni segera mendekati majikan perempuannya, menuntun Arum untuk masuk ke dalam kamar.
"Istirahat aja ya, Non. Nggak usah dipikirkan, mungkin itu hanya pekerjaan orang iseng," ujar Bi Marni yang mencoba untuk menenangkan Arum. Wanita itu masih bergeming, air mata mulai menetes di kedua netra indahnya. Membayangkan jika firasat buruknya semalam akan menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali cobaan yang harus kita lalui? Baru saja kita merasakan sedikit kebahagiaan, sudah datang lagi teror seperti ini. Apa mungkin ini semua pekerjaan Fitri, Bi?" Arum menatap Bi Marni dengan mata sembabnya.
"Sepertinya tidak mungkin, Non. Si Fitri itu kan sekarang masih berada di rumah sakit jiwa."
Arum nampak berpikir dengan keras, siapa lagi yang bisa melakukan ini semua jika bukan Fitri? Hati Arum terus bertanya-tanya, tanpa menyadari jika Bi Marni tengah menatap ke arahnya dengan pandangan gelisah. Wanita paruh baya itu khawatir jika Arum akan mengalami baby blues bila terus-terusan merasa tertekan seperti ini.
Hampir setengah jam berlalu, Arum masih duduk termenung di atas ranjang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga tiba-tiba baby kembar terbangun dan menangis. Bi Marni buru mengambil Zio dan memberikannya pada Arum untuk mendapatkan ASI. Namun, tangis bayi itu bukannya mereda malah semakin kencang.
"Bi, kok Zio malah tambah kencang nangisnya. Kenapa ini, Bi?" panik Arum seraya menimang-nimang Zio agar tangisnya mereda.
Bi Marni terpaksa kembali meletakan Zia ke dalam box, "Non, coba diliat. Apakah ASI Non Arum keluar."
Arum menurut, ibu muda itu memencet sumber ASI miliknya namun tak ada setetespun cairan yang keluar.
Bersamaan dengan itu, Johan masuk ke dalam kamar. Lelaki itu sedikit kaget kala melihat kedua bayinya menangis dan Arum tak meng-ASIhi keduanya.
"Sayang, kenapa? Kok mereka nggak mimik?" tanya Johan seraya menggendong tubuh mungil Zia yang masih terus menangis.
"Mas, ASInya nggak keluar, Mas." Wajah Arum telah basah oleh air mata, wanita itu takut jika kedua bayinya akan kelaparan karena tak ada ASI yang keluar.
"Aku juga nggak tahu, Sayang. Bagaimana ini, Bi?" Johan meminta pendapat pada Bi Marni yang tentunya lebih paham tentang masalah ini.
"Sabar, Mas. Sekarang Mas Johan gendong Zia dan Non Arum gendong Zio ya. Saya akan hangatkan ASI yang ada di dalam frezzer. Untung kemarin Non sempat pumping saat ASInya melimpah." Pasangan suami istri itu seketika bernapas lega. Saking paniknya, Arum sampai lupa jika ia memiliki stok ASI perah di dalam frezzer.
__ADS_1
Arum dan Johan terus menimang-nimang kedua bayi itu sampai Bi Marni datang membawa dua buah dot berisi ASI perah. Memberikan satu pada Johan dan satu lagi untuk Arum. Kedua malaikat kecil itu langsung menghisap dot masing-masing dengan kuat sampai seluruh isinya tandas dan mereka kembali terlelap.
"Ya ampun, Bi. Akhirnya mereka tidur juga, Arum takut mereka kelaparan kalau nggak ada ASI, Bi." Arum berujar setelah meletakkan kembali kedua bayinya ke dalam box.
"Sekarang Non istirahat, jangan stres. Kalau Non stres otomatis ASInya jadi nggak keluar. Bibi ke belakang dulu ya, nanti Bibi buatkan sayur daun katuk biar ASInya lancar." Arum mengangguk, membiarkan Bi Marni keluar dari kamar itu.
Sepeninggal Bi Marni, Johan mendekat dan menghenyak di samping sang istri. Tentu ia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh sang istri saat ini, pastinya sama dengan apa yang sedang ia pikirkan.
"Kamu masih memikirkan soal tadi?" tebak Johan, membuat Arum mendongak. Memandang kedua manik mata teduh milik sang suami kemudian mengangguk samar.
Johan merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya, mengecup Puncak kepala wanita tercintanya dengan penuh kasih sayang, "Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. asti ini hanya kerjaan orang yang ingin membuat kita khawatir."
"Tapi, Mas. Kenapa firasatku mengatakan jika Fitri yang telah melakukan semua ini?" lirih Arum, wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Johan menghembuskan napas kasar, mengurai pelukan itu kemudian menangkup kedua pipi sang istri. Menghapus jejak-jejak air mata dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan berpikir macam-macam, Fitri kan masih ada di rumah sakit jiwa. Tidak mungkin dia melakukan semua ini."
"Aku tidak percaya kalau aku belum melihatnya sendiri, Mas!" tegas Arum, sorot matanya berubah menjadi tajam.
Johan terdiam sejenak, memikirkan cara untuk membuat sang istri terlepas dari bayang-bayang sosok Fitri.
"Baiklah, besok kita ke rumah sakit jiwa. Kamu lihat sendiri apakah dia masih ada di sana atau tidak," ucap Johan pada akhirnya.
__ADS_1
Arum mengangguk, wanita itu kembali merangsek masuk ke dalam pelukan sang suami. Berusaha menenangkan gejolak hatinya yang gelisah tak karuan akibat teror yang mengusik pagi bahagianya.