Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 57


__ADS_3

Aline yang merasa tidurnya mulai terusik perlahan membuka mata, menatap ke arah sekeliling untuk mencari tahu di mana dirinya berada saat ini.


"Kita sudah sampai, Mas? Kok nggak langsung masuk aja?" tanya Aline yang masih menguap karena menahan kantuk.


Arka tak menjawab, lelaki itu malah mengarahkan jari telunjuk ke teras rumahnya hingga membuat dahi sang istri mengernyit mengikuti ke mana tujuan telunjuk sang suami. Aline terlihat sedikit terkejut, kenapa tiba-tiba ada seseorang yang tidur di teras rumahnya? Tapi, siapa orang itu? Apakah mungkin jika itu adalah seorang pengemis. Atau mungkin pemulung, namun sejak kapan ada tunawisma yang berani tidur di teras rumahnya.


"Kita masuk aja, Mas. Agar kita bisa tahu dia siapa," titah Aline pada sang suami, Arka menggangguk. Lelaki itu kembali menyetir mobilnya hingga sampai ke carport.


Namun, sepertinya orang yang dikira Aline sebagai pengemis itu tak menyadari kehadiran mereka. Orang itu masih terlelap dengan wajah dan tubuh yang tertutup kain jarik batik. Aline dan Arka melangkah pelan tanpa meinimbulkan suara, berusaha untuk melihat siapa gerangan orang yang tengah tertidur.


Aline yang berjalan di depan langsung menghentikan langkah kala melihat siapa wanita paruh baya yang ada di teras rumahnya. Mata wanita cantik itu memincing, memastikan jika pandangannya tak salah. Orang yang sekilas terlihat seperti lemulung itu adalah Bu Kanti, ibu mertuanya.


"Mas, ini kan Ibu, Mas? Tapi, ngapain dia tidur di sini? Mana bawa tas gede begini lagi?" heran Aline, wanita itu menatap sang suami dengan pandangan penuh tanya.


Arka sama sekali tak menjawab, lelaki itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena sama sekali tak tahu-menahu mengapa sang Ibu bisa tiba-tiba berada di sana. Mungkinkah Bu Kanti berniat untuk menginap di rumah mereka dan menunggu kedatangan keduanya sampai ketiduran? Tapi, rasanya tak mungkin, selama ini wanita itu tak pernah mau bertandang ke rumah Aline. Bahkan, tak mengizinkan mereka berdua untuk mengunjunginya.


Beliau hanya meminta transferan uang setiap bulannya. Lalu? Mengapa sekarang tiba-tiba Bu Kanti muncul dengan keadaan yang mengenaskan seperti itu.


"Mas, coba deh kamu bangunkan. Kasihan Ibu tidur di sini, ini kan udah malam dan udara juga dingin banget. Nanti kalau ibu sampai sakit bagaimana?" perintah Aline pada sang suami, Arka mulai menyentuh bahu ibu kandungnya dan menggoyangkannya dengan lembut.


"Bu, bangun. Ibu ngapain tidur di sini?" bisik Arka di telinga wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Bu Kanti mulai menggeliat, perlahan matanya mulai terbuka menatap dua orang anak muda yang tengah berdiri di hadapannya.


"Aline, Arka, kalian baru pulang? Ibu menunggu kalian di sini dari sore, dan Ibu lapar karena dari pagi belum makan," keluh wanita paruh baya itu sembari memegangi perutnya yang sudah berdemo ingin segera diisi.


"Kita masuk dulu ya, Bu. Biar Aline buatkan makanan untuk ibu!" Wanita muda itu menuntun ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumah bersama Arka yang mengekor di belakang sembari membawakan tas besar milik sang ibu.


Aline mendudukan wanita paruh baya itu di meja makan kemudian membuatkan mie instan serta teh hangat untuknya.


"Ini, Ibu makan dulu ya. Maaf cuma ada mi instan karena hari ini Aline nggak masak."


Bu Kanti mengangguk kemudian menyantap makanan yang dihidangkan Aline tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Wanita paruh baya itu nampak begitu lahap, sepertinya Bu Kanti memang begitu lapar hingga tak perlu waktu lama untuk memindahkan semua isi piring ke dalam perut wanita paruh baya itu.


"Kenyang sekali rasanya, nunggu kalian pulang lama sekali," ucap Bu Kanti seraya mendorong piringnya menjauh.


Bu Kanti hanya bisa menundukan kepala, tak berani menatap wajah anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu hanya sibuk memainkan kuku-kuku jarinya, membuat Arka dan Aline saling melempar pandangan karena curiga dengan sikap Bu Kanto yang tak seperti biasa.


"Bu, Ibu cerita ya sama kami. Alu dan Mas Arka nggak akan marah kok." bujuk Aline dengan lembut, saat Aline membisikan kalimat itu, Bu Kanti baru menyadari jika sang menantu saat ini tengah hamil besar. Tangan wanita paruh baya itu terulur untuk menyentuh perut buncit milik Aline yang sudah nampak begitu jelas.


"Aline, kamu lagi hamil, Nak?" tanya Bu Kanti dengan diiringi sebuah senyum yang mengembang di bibir.


"Iya, Bu. Alhamdulillah usia kandungannya sudah delapan bulan," jawab Aline dengan raut wajah berbinar.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya ada apa ini, Bu?" Arka mengulangi pertanyaannya tadi, Bu Kanti masih belum menjawab. Wanita paruh baya itu menggigit bibir bawahnya, seolah takut jika Arka akan murka setelah mendengar cerita yang keluar dari bibirnya. Namun, karena terus didesak, dengan terpaksa akhirnya Bu Kanti menceritakan semuanya.


"Sebenarnya, rumah Ibu sudah diambil alih oleh teman Ibu," cetus Bu Kanti yang berhasil membuat mata Arga membelalak.


"Apa maksud Ibu?" Suara Arka meninggi. Bagaimana bisa rumah miliknya diambil alih oleh orang lain, kali ini ulah apalagi yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu.


"Tunggu- tunggu, maksud Ibu rumah kita diambil alih sama teman Ibu? Bagaimana ceritanya, Bu? Kenapa bisa, memangnya apa yang Ibu lakukan?" Arka mendesak sang Ibu agar menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan jelas.


Wajah wanita paruh baya itu nampak frustasi, memikirkan bagaimana cara menyusun kalimat agar sang anak tak semakin murka kepada dirinya.


"Jadi, Ibu kan arisan. Terus sama teman-teman Ibu diajak main kartu. Nah, uang taruhan Ibu kan abis. Lalu, teman Ibu ngasih ide untuk menggadaikan rumah. Jadi Ibu gadaikan seratus juta. Eh ternyata Ibu malah kalah dan nggak bisa bayar."


"Terus?" potong Arka yang semakin tak sabar.


"Terus Ibu diusir, makanya Ibu ke sini ingin numpang tinggal bersama kalian."


Arka menggebrak meja makan itu karena frustasi. Tak habis pikir jika sang ibu bisa melakukan konyol seperti itu. Bahkan, sampai kehilangan satu-satunya tempat tinggal mereka. Aline yang melihat raut kemarahan di wajah sang suami segera mendekat dan mengelus lembut kedua bahu lelaki itu. Dia takut jika Arka akan melakukan hal yang buruk kepada sang ibu.


"Sudah, Mas. Besok pagi saja kita bahas masalah ini, sekarang biarkan Ibu istirahat dulu ya. Sudah malam, kasihan, pasti Ibu lelah menunggu kita dari sore;" ucap Aline dengan bijaksana. Arka mengangguk kemudian terduduk di kursi dengan lemas. Sementara Aline mengantar wanita paruh baya itu menuju ke kamar tamu.


"Sekarang Ibu istirahat ya, biar Aline coba bicara sama Mas Arka," ujar lembut wanita yang tengah hamil besar itu.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Aline. Kamu masih mau menerima Ibu." Raut penyesalan tergambar jelas di wajah Bu Kanti, teringat bagaimana dulu ia memperlakukan menantunya itu. Aline hanya tersenyum kemudian mengangguk, sejurus kemudian wanita itu keluar dari kamar dan kembali menemui sang suami yang masih terduduk di meja makan dengan wajah penuh amarah.


__ADS_2