Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 47


__ADS_3

Dengan ragu-ragu, Arum menggeser icon berwarna hijau pada layar telepon pintar miliknya.


"Hallo, siapa ini?" tanya Arum dengan ragu. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak setelah menerima panggilan itu.


"........"


"Ya saya sendiri, ada apa?"


"........"


"Mas Johan!" pekik Arum seketika.


Air mata luruh begitu saja dari kedua netra indah milik Arum, tubuhnya terduduk lemas di lantai. Bahkan, telepon yang tadi berada di tangannya kini telah terjatuh di lantai diiringi dengan suara tangisan yang semakin kencang. Aline dan Arka saling melempar pandangan, kedua sejoli itu kaget melihat Arum. Wanita itu tiba-tiba menangis setelah menerima panggilan telepon yang entah dari siapa. Aline memeluk sahabatnya, mengelus punggung wanita itu untuk memberikan ketenangan.


"Ada apa, Arum? Siapa yang meneleponmu, kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Aline dengan sangat hati-hati.


"Mas Johan, Mas Johan kecelakaan di jembatan ujung jalan sana dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit,"jawab Arum di sela suara isak yamgisnya.


"Ya sudah, sekarang kita ke sana ya. Aku dan Mas Arka akan mengantar kamu," ucap Aline kemudian membantu sahabatnya untuk berdiri.


Dengan terburu-buru, ketiganya menuju ke mobil Arka. Lelaki itu langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam, mengantarkan Arum menuju rumah sakit di mana Johan tengah dirawat. Setibanya di sana, ada beberapa polisi yang berkumpul di depan ruangan UGD. Arum segera berlari menghampiri mereka, melupakan keadaan jika dirinya sekarang tengah hamil muda dan tak boleh berlari seperti itu.


"Bagaimana kondisi suami saya, Pak? Dia baik-baik saja kan, Pak?" cecar Arum pada seorang polisi paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Bagaimana semuanya bisa terjadi, Pak? timpal Arka yang ingin mengetahui kronologi dari kecelakaan tersebut.

__ADS_1


"Mobil yang dikendarai oleh Pak Johan tiba-tiba oleng dan menabrak pembatas jembatan, kemungkinan beliau mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk."


Mata Arum membola mendengar penjelasan dari polisi barusan. Apa ini, Johan mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Itu tidak mungkin, Johan bukan penikmat minuman beralk- ohol.


"Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres," batin Arum dalam hati, wanita itu langsung menyadari jika ada kejanggalan dalam kecelakaan sang suami.


"Lalu, kondisi suami saya bagaimana,Pak?" tanya Arum setelah mendengar cerita dari polisi tersebut.


"Ibu tenang dulu ya, kita tunggu hasil pemeriksaan dokter di dalam. Semoga suami Ibu baik-baik saja." Ucapan polisi tersebut terasa ambigu di telinga Arum, air mata kembali mengalir dengan derasnya. Wanita itu benar-benar takut jika harus kehilangan sang suami. Apalagi kini di dalam kandungannya ada dua bayi kembar yang telah bersemayam.


"Mas, aku yakin kamu kuat, aku yakin kamu nggak akan meninggalkanku dan anak kita. Bertahanlah, Mas," harap Arum di dalam hatinya. Wanita itu sudah duduk lemas di kursi samping pintu UGD, menunggu sang dokter selesai menangani sang suami. Arka dan Aline terus berusaha menenangkan sahabatnya itu. Aline juga terus memeluk dan mengelus punggung Arum agar tangisannya mereda. Sementara polisi-polisi tersebut telah pergi untuk kembali melakukan penyelidikan di lokasi kejadian atas permintaan dari Arka.


Entah mengapa, Arka juga merasa jika ada sesuatu yang tak beres dalam kecelakaan ini. Lelaki itu juga merasa tak tega melihat Arum yang sedari tadi terus menangis. Bahkan, Arum belum sempat mendengar kabar bahagia yang aku disampaikan oleh sahabatnya itu.


"Aline," lirih Arum memanggil nama sahabatnya, Aline menatap wajah sembab Arum dengan tatapan iba. Baru saja Tuhan memberi kebahagiaan untuknya, sudah datang lagi cobaan yang menghampiri.


"Maaf, karena kejadian ini kalian juga jadi repot. Bahkan, kamu belum sempat menyampaikan kabar Bahagia itu padaku." Arum mengingatkan tujuan awal Aline saat mengundang dirinya ntuk makan malam bersama.


"Apa kamu mau mendengar kabar bahagia itu sekarang?" tawar Aline dengan sebuah senyuman tipis. Tak ada Jawaban yang terlontar dari bibir milik Arum, wanita itu hanya mengangguk samar untuk mengiyakan ucapan sahabatnya.


Aline merogoh sesuatu dari dalam tas, kemudian memberikan sebuah amplop kecil berwarna pink kepada Arum. Wanita cantik itu mengernyitkan dahi, menatap bingung pada amplop yang kini berada di tangannya.


"Amplop apa ini, Aline?"


"Kamu buka saja, siapa tahu kamu bisa tersenyum setelah melihat apa yang ada di dalamnya." Aline mengerlingkan sebelah matanya, menatap dalam wajah sendu di hadapnnya.

__ADS_1


Arum menurut, wanita muda itu mulai membuka amplop kecil yang berada di tangannya. Seketika senyum tipis tersungging dari bibir Arum kalahl melihat benda mungil yang ia keluarkan dari dalam amplop pemberian Aline.


"Ini kam tespek. Garis dua? Kamu hamil?" tanya Arum memastikan tebakannya, Aline mengangguk kemudian kembali memeluk tubuh ramping milik Arum.


"Iya, Arum. Aku hamil, dan kita akan sama-sama mengasuh anak-anak kita nanti. Sampai mereka meneruskan persahabatan kita," ucap Aline dengan wajah berbinar.


"Selamat ya Aline, aku ikut bahagia atas kehamilan kamu."


"Terima kasih, Arum. Kamu juga harus kuat. Aku yakin, Johan akan bertahan untuk kamu dan anak di dalam kandungan kamu!" Aline terus berusaha untuk membesarkan hati sahabatnya itu.


Mereka terus mengobrol, membicarakan kehamilan keduanya dan rencana masa depan. Berusaha untuk sekedar membunuh waktu dan membuat Arum merupakan sejenak kesedihannya. Sampai obrolan itu terhenti kala seorang dokter pria keluar dari dalam ruangan UGD.


Arum segera menyongsong kedatangan dokter tersebut, ingin segera mengetahui keadaan sang suami.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok? Dia baik-baik saja kan, dia akan segera sembuhkan, Dok?" Arum langsung memberondong sang dokter dengan berbagai pertanyaan.


Namun, tak Ada Jawaban yang terlontar dari bibir dokter muda itu. Dokter lelaki itu menundukkan kepalanya, menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari wanita itu. Sementara Arum yang sudah tak sabar menunggu semakin mendekati sang dokter.


"Kenapa diam? Ayo, Dok, katakan sama saya kalau suami saya baik-baik saja! Suami saya kuat kan, Dok? Dia nggak akan meninggalkan saya dan juga calon anaknya kan, Dok?" histeris Arum sembari menggoyang-goyangkan kedua bahu sang dokter yang berdiri di hadapannya dengan wajah lelah.


Dokter tersebut mengusap wajahnya kasar seolah ragu untuk memberitahukan keadaan Johan setelah mengetahui jika Arum tengah mengandung. Ia takut jika Arum akan shock dan berpengaruh pada kondisi kehamilannya.


"Dok, kenapa dokter diam saja? Tolong katakan Bagaimana keadaan suami sahabat saya ini," desak Aline yang ikut mendekat pada dokter tersebut.


Dokter muda itu membuang nafasnya kasar kemudian menatap Arum dengan pandangan yang sudah diartikan.

__ADS_1


"Sebenarnya Pak Johan ...."


Kalimat itu terhenti karena terdengar bunyi nada dering yang berasal dari telepon genggam milik Arum.


__ADS_2