
Jantung Aline berdegup tak karuan kala melihat pria yang baru saja menepuk pundaknya. Mungkinkah Arka telah mendengar semua yang dikatakan Aline tadi. Tapi jika dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya Arka tak tahu apa-apa. Namun, untuk apa Arka datang ke sini di jam kerja deperti saat ini?
"Lho, Mas. Kok kamu bisa ada di sini? Kan ini masih jam kerja?" tanya Aline agar tak terus menelan rasa penasaranya sendiri.
Arka mengulum semyum kala mendengar pertanyaan itu, Arka sebenarnya memang sengaja mengambil cuti hari ini. Dia hanya pura-pura ke kantor dan mengikuti ke mana Aline pergi tanpa sepengetahuan wanita itu.
"Kepalaku tiba-tiba pusing, jadi aku izin untuk pulang. Rencananya aku mampir ke sini buat beliin makan siang buat kita, eh malah udah ketemu kamu di sini," jelas Arka membuat Aline manggut-manggut tanda mengerti.
"Ya sudah, kalau gitu kita take away aja terus pulang. Biar aku setirin, kebetulan tadi aku naik taksi online ke sini karena mobilku dipakai ibu," ujar Aline kemudian memesan beberapa makanan untuk dibawa pulang.
Setelah makanan yang dipesan oleh Aline selesai dibuatkan, keduanya langsung berpamitan pada Arum dan Johan untuk pulang. Aline menyuruh sang suami untuk duduk di kursi penumpang, dan dirinya memilih untuk mengemudikan mobil milik Arka karena takut akan terjadi sesuatu jika Arka yang mengemudi dalam keadaan sakit seperti itu. Tak ada obrolan di sepanjang perjalanan mereka. Sesekali Arka hanya melirik wanita di sampingnya menggunakan ekor matanya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Arka saat ini. Yang jelas, Arka ingin semuanya segera selesai. Lelaki itu tidak ingin terus-menerus menjalani rumah tangga dengan hambar seperti ini. Bagaimanapun, Arka juga lelaki normal yang ingin memiliki rumah tangga harmonis seperti orang lain, bukan seperti yang ia jalani dengan Aline saat ini. Memiliki seorang istri tapi seolah hanya sebagai pelengkap status saja, apalagi mereka hanya menikah secara siri.
Mobil yang dikemudikan oleh Aline telah sampai di rumah Arka. Wanita itu langsung mendudukan Arka di meja makan dan menyiapkan makan siang. Tak lupa membuatkan teh hangat untuk lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Makan dulu, Mas. Sama tehnya diminum, habis itu minum obat ya biar nggak tambah sakit," titah Arum yang ternyata masih memiliki sedikit perhatian untuk Arka.
Arka mengangguk kemudian mulai menyantap makan siangnya dengan lahap. Aline mengerutkan dahi melihat itu, karena biasanya Arka tak akan mau makan jika sedang sakit. Tapi, wanita itu segera menepis pikiranya dan memilih untuk ikut menyantap makan siang miliknya. Setelah selesai dengan ritual makan mengisi perut, Aline mengambil obat dari kotak p3k dan hendak memberikanya pada Arka dengan membawa segelas air putih.
"Ini, Mas. Diminum dulu obatnya," ucap Aline seraya meletakan obat itu di depan Arka.
__ADS_1
Lelaki itu mendongakan kepala menatap wanita yang tengah berdiri di sampingnya.
"Duduklah, aku ingin bicara. Minum obatnya nanti saja," titah Arka, Aline menurut dan segera menghenyak di kursi sebelah Arka.
"Ada apa, Mas? Kamu kan lagi sakit," tanya Aline dengan lembut.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak punya cinta untukku lagi?"
Pertanyaan dari Arka membuat wanita itu secara refleks memejamkan mata untuk berpikir sejenak. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Arka. Apalagi sedang tak ada Bu Kanti yang akan mengompori pembicaraan antara mereka berdua.
"Mas, maafkan aku. Tapi sejak aku kehilangan anakku, sejak itu pula perasaanku padamu berubah menjadi hambar," kalimat itu akhirnya berhasil lolos dari bibir tipis Aline.
Arka membuang napasnya kasar, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut. Lelaki itu sudah melakukan kesalahan dengan berselingkuh dan melepaskan Arum untuk menikah dengan Aline. Lalu, haruskah sekarang ia membiarkan Aline pergi dari hidupnya.
Hening, tak ada jawaban yang terucap dari mulut Aline. Wanita itu masih menimbang-nimbang keputusanya.
"Katakan, Aline. Apa yang kamu inginkan sekarang, aku janji tak akan marah ataupun kasar padamu," titah Arka dengan wajah datar, lelaki itu tengah menahan rasa perih dalam hatinya.
"Maafkan aku, Mas. Tapi aku ingin kita berpisah saja, aku akan kembali ke rumahku sendiri. Membuka bisnis kue dan membuka lembaran baru tanpa ada kamu yang mengisi hari-hariku," ucap Aline mulai terisak, air mata mengalir membasahi pipi mulusnya.
Tangan Arka terulur untuk menggenggam jemari lentik milik wanita itu, sekedar untuk memberikan ketenangan.
__ADS_1
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini. Kamu harus mengkhianati sahabatmu sendiri demi mendapatkan cintaku, dulu. Apakah semudah itu kamu melepaskan perjuanganmu? Padahal kamu saat itu dengan terang-terangan mempertaruhkan hubungan persahabatan dengan Arum hanya demi mendapatkan cintaku."
Deg, ucapan Arka seolah menjadi tamparan keras untuk Aline. Pendirian wanita itu mulai goyah, antara memilih berpisah atau bertahan dalam hubungan ini.
"Aline, aku sudah dengar semua pembicaraanmu dengan Arum di caffe tadi. Tapi aku masih mencintai kamu, aku tidak ingin berpisah dengan kamu," tegas Arka, matanya menatap dalam ke arah manik mata milik Aline. Mencari sebuah pancaran cinta yang nyaris tak ia temukan.
"Lalu, apa maksudmu, Mas?" Aline membalikan pertanyaan pada Arka.
"Apa kamu mau kita memperbaiki semuanya? Kita pindah ke rumah kamu, biarkan rumah ini ditempati oleh ibu. Dan setiap bulan kita cukup memberikan jatah uang untuknya." Satu solusi terlontar dari bibir Arka demi kelangsungan hubungan mereka.
Aline yang sedari tadi menundukan wajahnya seketika mendongak, membalas tatapan dalam nan hangat yang diberikan oleh Arka.
"A- apa kamu yakin mau pindah dari rumah ini tanpa mengajak ibu?" Kali ini terlihat sedikit binar cinta di mata Aline yang membuat Arka menyunggingkan senyumnya.
"Ya, aku akan mengalah demi hubungan ini. Aku tidak akan memaksa kamu untuk meresmikan pernikahan ini sebelum kamu siap, aku akan menunggu kamu." Arka merengkuh tubuh ramping itu agar masuk ke dalam pelukanya.
"Aku mau, Mas. Aku mau untuk memulai semuanya dari awal, kapan kita akan pindah dari rumah ini?" tanya Aline dengan antusias.
"Besok, kebetulan besok kan weekend jadi aku libur," ucap Arka dengan mantap.
Air mata Aline kian menganak sungai, bukan karena sedih atau tersakiti. Tapi, karena merasa bahagia. Aline tak pernah menyangka jika Arka akan rela melakukan hal seperti ini untuk dirinya. Kedua pasangan itu kembali berpelukan, meluapkan perasaan masing-masing.
__ADS_1
Namun, pelukan itu harus terurai kala telinga Arka mendengar derab langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka.
"Arka, Aline, ada apa ini? Kenapa kalian tangis-tangisan begini?" tanya Bu Kanti yang sudah berdiri di hadapan mereka.