
Hari masih sedikit gelap karena sang bagaskara belum sepenuhnya menampakan sinarnya. Hanya terdengar beberapa kicauan burung di luar jendela kamar yang mengusik Arka dari lelap tidurnya. Lelaki itu menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi, kemudian beralih ke sisi ranjang di sampingnya. Di mana sang istri masih terlihat asyik bergelung di bawah selimut karena hawa dingin yang masih begitu terasa menusuk kulit.
Lelaki itu memandang lekat-lekat wajah sang istri, memindai setiap jejak air mata yang masih terlihat jelas meskipun sudah mengering. Perlahan, Arka Bangkit Dari Ranjang empuknya. Mulai melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali keluar dengan wajah segarnya. Pandangannya kembali tertuju pada sang istri yang masih nampak begitu terlelap. Arka tak ingin mengganggu, lelaki itu langsung turun ke lantai bawah dan memasak sarapan sederhana untuk dia dan sang istri. Nasi goreng dan telur mata sapi adalah pilihan terbaik untuk laki-laki yang tak terlalu pandai memasak seperti dirinya. Arka itu mulai berkutat di dapur, setengah jam kemudian dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi telah terhidang di meja makan.
Arka tersenyum puas melihat hasil tangannya. Lelaki itu melepas celemek yang berada di tubuhnya, kemudian kembali menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Menghampiri sang istri yang ternyata masih belum juga bangun. Perlahan, Arka mulai mendekat dan mengecup mesra kening sang istri sehingga membuat si empunya mulai menggeliat karena tidurnya merasa terusik.
"Aline, ayo bangun. Sudah pagi," bisik Arka lembut di telinga sang istri yang mulai membuka matanya.
Wanita itu terkejut kala melihat Arka yang sudah duduk di hadapannya. Tak biasanya lelaki itu bangun sepagi ini.
"Lho, Mas. Kok kamu udah bangun?" heran aline melihat wajah sang suami yang masih dipenuhi binar kebahagiaan.
"Iya, aku sengaja bangun lebih pagi. Bahkan, aku sudah masak sarapan buat kita berdua," ucap Arka dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Hah? Emang kamu bisa masak?" kaget Aline setelah mengetahui sang suami yang baru saja selesai memasak sarapan.
"Bisa dong, aku cuma bikin nasi goreng sama telur mata sapi saja. sekarang kamu mandi terus kita makan ya," titah Arka yang langsung diangguki oleh sang istri.
Aline mulai bangkit dari ranjang, mengayun langkah kakinya ke arah kamar mandi. Lima belas menit kemudian wanita itu keluar dengan tampilan yang lebih segar. Keduanya bergandengan tangan untuk turun menuju ke meja makan. Menyantap sarapan yang telah dibuat oleh Arka.
"Enak juga masakan kamu, Mas," puji Aline yang nampak begitu lahap menikmati sarapannya.
__ADS_1
Arka tersenyum kemudian mulai menyuap makanannya sendiri. Namun, di luar dugaan. Arka langsung melepeh nasi goreng yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Lelaki itu buru-buru mengambil segelas air di hadapannya dan menenggaknya hingga tandas. Sorot matanya menatap bingung ke arah sang istri yang masih terlihat begitu menikmati sarapan paginya.
"Sayang, kamu nggak salah? Bilang nasi goreng ini enak, ini asin banget lho. Aku aja nggak ketelen?" tanya harga pada sang istri.
Aline menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap sang suami dengan wajah polos.
"Asin? Nggak kok, ini enak banget buat aku. Ini buktinya udah mau habis," jawab Aline sembari menunjuk ke arah piring nasi goreng miliknya.
Wanita itu melanjutkan aktivitasnya untuk menghabiskan isi piring di depannya hingga habis tak tersisa. Arka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan indera perasa sang istri, bagaimana bisa nasi goreng seasin itu dia bilang enak. Tapi sudahlah, persetan dengan itu semua. Yang penting Aline mau makan sekarang.
Setelah Aline selesai dengan ritual sarapan, Arka segera mengajak sang istri untuk pergi ke dokter kandungan.
"Kita pergi ke dokter kandungan sekarang ya. Aku nggak sabar pengen tahu hasilnya," ajak Arka yang langsung dijawab sang istri drngan sebuah anggukan kecil.
Wanita itu segera pergi ke kamarnya dan kembali dengan sebuah tas selempang kecil yang sudah terpasang apik di pundaknya.
Seperti biasa, Arka membukakan pintu mobil untuk sang istri. Baru kemudian masuk dan duduk di balik kemudi. Lelaki itu mulai menginjak pedal gasnya, menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju sebuah rumah sakit yang sudah dirujukan oleh dokter umum yang mereka datangi semalam. Siapa sangka, dokter yang dimaksud ternyata adalah Dokter Miranda yang juga menangani kehamilan Arum.
Arka dan Aline langsung dipanggil masuk ke dalam ruangan setelah mendaftar ke resepsionis terlebih dahulu, karena kebetulan pagi itu kondisi masih sepi sehingga mereka menjadi pasien pertama yang datang.
"Selamat pagi, Dok," sapa Arka dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi, ada keluhan apa?" balas dokter tersebut tak kalah ramah.
"Saya ingin memastikan apakah istri saya ini benar-benar hamil atau tidak, Dok," ucap Arka to the point.
"Baik, silahkan Ibu Aline naik ke atas bed pasien," titah Dokter Miranda, Aline menurut dan segera merebahkan diri di atas bed pasien.
Seorang perawat mendekat dan membantu mengoleskan gel di perut bagian bawah milik Aline. Dokter Miranda mulai menggerak-gerakkan alat USG di atas perut yang masih rata itu. Beberapa menit kemudian pemeriksaan telah selesai. Aline kembali menghenyak di kursi samping Arka. Begitu juga dengan Dokter Miranda yang duduk berhadapan dengan mereka berdua.
"Jadi bagaimana, Dok. Apakah istri saya beneran hamil?" todong Arka yang sudah tak sabar untuk mendengar kabar bahagia tersebut.
Dokter Miranda hanya tersenyum, ia bisa melihat dari ekspresi wajah jika Arka dan Aline benar-benar menginginkan hadirnya seorang anak dalam mahligai rumah tangga mereka berdua. Wanita itu menegakkan tubuhnya hendak memberitahukan hasil pemeriksaan Aline barusan.
Arka dan Aline saling berpegangan tangan, penasaran bagaiman hasilnya.
"Jadi begini, menurut hasil pemeriksaan tadi. Ibu Aline memang benar hamil, usia kandungannya baru lima minggu jadi masih sangat rawan." Dokter Miranda sengaja menghentikan penjelasannya karena ingin melihat bagaimana ekspresi Aline dan Arka.
Arka langsung memeluk tubuh sang istri, mengecupi puncak kepala wanita itu penuh kasih sayang. Akhirnya mereka akan menjadi sepasang orang tua. Dan Aline benar-benar bisa sama-sama menggendong anaknya bersama Arum yang juga tengah hamil muda.
"Ternyata semua pasangan muda sama saja," batin Dokter Miranda teringat akan tingkah Arum dan Johan kemarin.
"Lalu bagaimana kondisi janinnya, Dok," tanya Aline dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Alhamdulillah janinya juga sehat, tapi karena usia kandungannya masih sangat muda jadi belum bisa dipastikan untuk jenis kelamin. Bu Aline banyak-banyak istirahat dan jangan strees. Nanti saya akan resepkan vitamin dan jangan lupa untuk chek kandungannya secara rutin," pesan Dokter Miranda pada calon ibu muda itu.
Aline dan Arka mengangguk. Kedua sejoli itu langsung pulang setelah menebus obat yang diresepkan oleh dokter Miranda dan berencana akan mengundang Arum dan Johan makan malam di rumah mereka besok. Sekaligus menyampaikan kabar bahagia pada sahabatnya itu.