Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 61


__ADS_3

Arka dan Johan langsung menghembuskan napas lega kala melihat siapa sosok yang telah berdiri di belakang mereka. Aline menatap kedua lelaki itu dengan sebuah senyum tipis.


"Aline, kamu sejak kapan berada di situ?" tanya Arka pada sang istri.


Wanita itu kembali menyunggingkan senyum, kemudian menghenyak, berpindah untuk duduk di sebelah sang suami.


"Aku itu udah dari tadi mendengar pembicaraan kalian berdua, karena kalian lama jadi aku nyusul ke tempat Bi Marni. Tapi, kata beliau kalian langsung pergi setelah ngasihin makanan itu. Pas aku mau balik ke ruang rawat Arum, aku malah melihat kalian lagi asyik ngobrol di sini. Mana kelihatannya serius banget, jadi aku nguping sekalian aja deh," jelas Aline dengan wajah tanpa dosa.


Johan dan Arka Saling pandang kemudian mengalihkan fokus mereka pada wanita yang tengah mengelus perut buncitnya itu.


"Aline, kami mohon jangan sampai Arum mengetahui hal ini," pinta Johan dengan tatapan memohon.


Aline malah terkekeh melihat Johan yang begitu takut kalau ia akan membocorkan rahasia itu pada Arum, padahal Aline juga paham Jika ia harus menjaga perasaan sahabatnya agar tak sampai mengalami baby blues.


"Iya, aku ngerti kok. Aku juga nggak bakalan ceritain semuanya ke Arum. Aku juga tak ingin kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya setelah mengetahui semua ini," ucap Aline dengan wajah serius.


"Ya udah, ayo balik. Nanti malah Arum curiga lagi kalau kita lama-lama di sini." Aline mengajak kedua lelaki itu untuk segera kembali ke ruang rawat.


Ketiganya berjalan beriringan untuk kembali ke ruang rawat Arum. Setibanya di sana, nampak Bu Kanti yang tengah bercanda dengan mantan menantunya. Mereka terlihat begitu akrab, seolah tak pernah terjadi hal buruk di masa lalu.


"Mas, kok kamu lama banget sih nganterin makanan buat beli Marni aja?" protes Arum saat sang suami telah menghenyak di sisi ranjang.


"Iya maaf, tadi aku sama Arka nyari kopi dulu soalnya ngantuk banget."


Arum hanya ber "O" ria setelah mendengar penjelasan dari sang suami.


"Arka, Aline, sudah siang. Kita pulang yuk biar Arum bisa istirahat," ajak Bu kanti pada anak dan menantunya. Aline dan Arka mengangguk menyetujui ajakan wanita paruh baya itu, ketiganya segera pamit pada Arum dan Johan.


Johan kembali duduk di kursi sebelah ranjang pasien setelah mengantarkan Arka sampai di depan pintu ruangan.


"Sayang, kamu mau makan sop ikan gabus dari Bu Kanti nggak? Ini bagus lho buat pemulihan bekas operasi caesar kamu," tawar Johan yang langsung mendapat sebuah anggukan dari sang istri.


Arum menyantap makan siangnya lebih awal dengan disuapi oleh sang suami. Namun, tanpa disangka Arum bisa membaca raut kegelisahan di wajah suaminya hingga mengundang rasa penasaran. Tapi, wanita itu menahannya sampai sang suami selesai menyuapinya makan. Baru setelah itu, ia akan menanyakan semuanya kepada Johan.


"Mas, aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?" ujar Arum menatap sang suami dengan mata menyipit.


Johan meletakkan rantang di tangannya kembali ke atas nakas, "Boleh dong, mau tanya apa memangnya?"

__ADS_1


"Ini soal kecelakaan kamu, Mas."


Johan seketika memejamkan mata, jantungnya berdegup tak karuan. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi juga, lelaki itu memutar otak. Bagaimana menyusun kata-kata agar tak membuat sang istri kembali merasa cemas.


"Kecelakaan aku? Memangnya ada apa sama kecelakaan aku, Sayang?" Johan berpura-pura bersikap bodoh di hadapan sang istri, sama seperti ia bersikap pada Arka di awal tadi.


"Aku merasa kalau kecelakaan kamu itu disengaja oleh Fitri." Arum langsung mengeluarkan dugaan yang selama ini selalu ia simpan.


"Kok kamu bisa bicara begitu, nggak baik lho menuduh orang sembarangan, apalagi tanpa bukti," balas Johan dengan sangat hati-hati.


Arum langsung membalikakan tubuhnya memunggungi sang suami. Wajahnya memberengut dengan bibir bawah yang ia majukan. Tentu saja Johan langsung mengerti jika sang istri tengah merajuk. Namun, apa yang salah dengan kata-kata Johan.


"Sayang, kok malah ngambek begitu? Memangnya ada kata-kata aku yang salah?" Johan melangkah dan berdiri di hadapan sang istri, namun lagi-lagi Arum memutar badannya ke arah lain.


"Kamu belain si Fitri itu kan, Mas!" Suara Arum mulai meninggi dan terdengar serak seolah tengah menahan tangis.


Lelaki itu mendengus pelan, posisinya serba salah. Jelas tak mungkin jika ia membela wanita psycopath itu. Tapi jika Arum tahu semuanya pasti akan membuat beban pikiran sang istri kian bertambah. Hal itulah yang tak diinginkan oleh Johan, dan kini mulai terdengar suara isak tangis Arum yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Bukan sayang, mana mungkin aku membela Fitri. Kamu itu istri aku," lirih Johan di telinga sang istri.


Arum segera menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar. Matanya menatap tajam ke arah sang suami yang juga sedang menatapnya dengan pandangan sendu.


Kepala Johan benar-benar terasa berdenyut mendengar ucapan Arum. Sepertinya, mau tak mau ia harus menceritakan semuanya pada sang istri agar tak terus-menerus mengundang pertengkaran di antara mereka.


"Kenapa kamu diam, Mas? Ayo bicara, kenapa kamu membela wanita itu?" desak Arum yang emosinya sudah mulai tersulut.


"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya. Tapi aku mohon, kamu percaya sama aku."


Johan mulai menceritakan rentetan peristiwa yang terjadi pada malam itu. Sama persis seperti apa yang ia ceritakan pada Arka di taman tadi. Arum hanya bisa tersenyum kecut mendengar semua cerita dari sang suami. Ingin rasanya wanita itu segera menjebloskan Fitri ke dalam penjara. Namun apa daya, Johan sama sekali tak mau melakukan hal itu karena takut Fitri akan lebih nekat lagi. Di tengah-tengah obrolan serius itu, seorang perawat datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Arum.


"Pak Johan, ada seorang wanita yang ingin menculik bayi bapak. Beruntung ada ART Bapak yang menangkap basah wanita itu." Seketika Arum dan Johan saling melempar pandangan dengan mata membulat. Apalagi ini, bayinya mau diculik oleh seseorang. Siapa yang tega melakukan hal itu.


"Lalu bagaimana, Sus? Apakah pelakunya sudah tertangkap?" Terdengar kepanikan dari nada suara Jihan.


"Sudah, Pak. Sekarang wanita itu ada di pos satpam dan Bapak dimohon untuk segera ke sana."


"Mas, aku ikut!" sela Arum sebelum Johan pergi meninggalkannya bersama perawat itu.

__ADS_1


"Tapi sayang, kamu kan masih sakit."


"Aku sudah tidak apa-apa. Pokoknya aku mau ikut, kan kita bisa pakai kursi roda. Iya kan, Sus?" Perawat itu menggangguk kemudian mengambilkan kursi roda untuk Arum dan membantu mendorong wanita itu sampai tiba di pos satpam.


Betapa terkejutnya Arum dan Johan melihat Fitri yang tengah terduduk sembari terisak dengan rambut panjangnya yang terurai.


"Fitri, bagaimana semua ini bisa terjadi," lirih Johan setelah mengetahui siapa yang hendak menculik bayinya.


Wanita itu berdiri, menatap nyalang ke arah Arum dan Johan, terlihat jelas kilatan benci dan dendam dalam pandangan mata Fitri yang sekilas nampak kosong.


"Iya ini aku, aku tidak rela kalian bahagia. Hanya aku yang boleh memiliki kamu Johan, bukan wanita sialan ini!" Jari telunjuk Fitri mengarah pada Arum yang hanya diam sembari menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Nanti Bapak dan Ibu bisa tanyakan kronologinya pada ART kalian. Karena beliau yang menangkap basah wanita ini," ujar seorang satpam rumah sakit.


Sejurus kemudian, Tirta, ayah Fitri juga tiba di sana. Lelaki itu segera menghampiri sang anak dan menangkup kedua pipi mulus gadis kesayangannya.


"Fitri, apa yang sudah kamu lakukan. Cukup sudah semuanya, Johan itu sudah menikah. Relakan dia, Nak!" Nasihat pria paruh baya itu justru membuat putrinya semakin murka.


"Tidak, Ayah. Aku tetap nggak bisa menerima semua ini. Kalau aku nggak bisa memiliki Johan, maka wanita itu juga nggak boleh memilikinya!"


Tanpa diduga, Fitri mengambil sebuah pisau lipat yang tersimpan di dalam saku celananya. Wanita itu berusaha untuk menu- sukkan pisau tersebut ke arah Johan, namun beruntung, seorang satpam berhasil mencegahnya.


"Pak, wanita ini sudah keterlaluan. Sebaiknya kita laporkan saja dia ke polisi!" Seorang satpam yang tengah memegangi Fitri memberikan sebuah saran kepada Johan.


"Sepertinya percuma, Pak. karena Fitri ini memiliki gangguan jiwa. Sebaiknya kita bawa saja dia ke rumah sakit jiwa," sahut Arum membuat Johan nampak berpikir.


"Baiklah, saya sendiri yang akan mengantar Fitri ke rumah sakit jiwa asal ...."


"Tidak tidak bisa, Pak Tirta!" potong Johan sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya.


Pria tua itu menatap Johan dengan wajah bingung. Bukankah Arum yang meminta agar Fitri dimasukan ke rumah sakit jiwa, tapi kenapa sekarang Johan malah melarangnya.


"Apa maksud kamu tidak bisa?" Dahi yang mulai terlihat keriput itu mengernyit


"Saya tidak percaya kalau bapak akan benar-benar memasukkan Fitri ke rumah sakit jiwa. Saya ingin petugas rumah sakit jiwa itu yang menjemput sendiri Fitri ke sini!"


"Tolong telepon pihak Rumah Sakit Jiwa sekarang juga untuk menjemput wanita ini, Pak!" perintah Johan pada seorang satpam yang duduk di belakang mejanya. Satpam tersebut mengangguk, kemudian menghubungi pihak rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, datang mobil ambulans dari rumah sakit jiwa yang bertugas menjemput Fitri. Wanita itu awalnya memberontak, namun petugas rumah sakit jiwa dengan sigap menyuntikkan obat penenang hingga gadis itu terlelap dan bisa dengan mudah dibawa ke rumah sakit jiwa.


Kini, Arum dan Johan bisa sedikit bernafas lega karena pengganggu kehidupan mereka telah pergi.


__ADS_2