
Johan menatap Arka dengan pandangan yang sulit diartikan. Jujur saja, sebenarnya lelaki itu juga memiliki kecemasan sendiri akan keselamatan sang istri dan juga kedua bayi kembar mereka yang baru saja lahir. Hanya saja Johan berusaha untuk menyembunyikan kecemasannya agar tak sampai diketahui oleh orang lain, terutama Arum. Ia tak ingin jika sampai Arum juga ikut khawatir dan bisa menyebabkan wanita itu mengalami baby blues. Apalagi saat ini Arum baru saja melahirkan dan harus menyusui kedua bayi mereka.
"Apa maksudmu, Arka? Memangnya masih ada bahaya yang mengintai keluargaku setelah kecelakaan yang menyebabkan aku harus terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan? Bahkan, aku sampai tak bisa menemani istriku di masa-masa kehamilannya." Raut penuh penyesalan tampak jelas di wajah tampan lelaki itu.
Arka menghembuskan nafas panjang, tak tahu harus memulai dari mana pembicaraan ini. Namun, ia mencoba untuk menanyakan masalah kecelakaan itu pada Johan terlevih dahulu.
"Apa kecelakaan yang menimpamu itu disengaja oleh seseorang?" Mata Arka memincing penuh selidik.
"Disengaja? Disengaja bagaimana maksud kamu, Arka?" Johan berpura-pura tak mengerti ke mana arah pembicaraan Arka.
"Kamu tahu kan kemarin gadis yang bernama Fitri itu dengan sengaja ingin mencelakai Arum? Dan satu hari sebelumnya, kami juga menangkap basah Fitri yang sedang mengintip ke dalam ruangan perawatanmu." Arka menjeda seje ak kalimatnya untuk menghiruo oksigen.
"Sebelumnya, Ayah gadis itu juga sempat menemui Arum dan memintanya untuk meninggalkanmu agar Fitri berhenti melakukan kegilaan yang bisa mencelakai Arum. Namun, Arum menolaknya. Dan dari awal Arum juga sudah curiga jika kejadian yang menimpa dirimu itu bukanlah murni sebuah kecelakaan," oceh Arka panjang lebar.
Johan benar-benat tak menyangka jika Fitri akan berbuat nekat. Laki-laki itu berpikir sejenak, menimbang-nimbang. Haruskah ia menceritakan semua kejadian itu pada Arka. Tapi saat ini Johan perlu teman bicara dan solusi agar semua masalah dan teror ini segera berakhir.
"Jika aku menceritakan semuanya kepadamu, apakah kamu bisa menyimpan rahasia ini? Cukup hanya kita berdua yang tahu, aku tidak ingin Arum dihantui rasa takut dan aku juga ingin kamu membantuku menyelesaikan semuanya," lirih Johan dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Laki-laki itu hanya bisa berharap, semoga Arka benar-benar bisa dipercaya saat ini.
__ADS_1
"Tentu saja kamu bisa menceritakan semua itu padaku, Jo. Aku janji akan menjaga rahasia ini, dan aku juga akan membantumu untuk menyelesaikan semuanya. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan kepadamu."
"Ada apa lagi? Katakanlah, Arka," pinta Johan pada lelaki yang tengah duduk di sampingnya itu.
Arka mengedarkan pandangan mata ke arah sekelilingnya. Takut jika ada irang yang memata-matai mereka dan menguping obrolan ini, "Sebelum aku masuk tadi, aku sempat melihat seorang wanita berambut panjang juga sedang mengintip ke ruangan rawat kalian. Tapi aku tidak bisa melihat wajah Gadis itu dengan jelas."
Seketika Johan mendesah kasar, tentu saja ia tahu pasti siapa gadis berambut panjang yang dimaksud oleh Arka. Hanya saja Johan tak menyangka jika Gadis itu bisa benar-benar bertindak di luar batas hanya karena cintanya ditolak. Di sisi lain, ia memang sudah tahu jika gadis itu memiliki dua sisi kepribadian yang tak bisa ditebak. Johan sampai tak habis pikir dengan semua yang terjadi pada dirinya. Bisa-bisanya ia dicintai oleh seorang psikopat macam gadis itu, yang bisa menghalalkan segala cara agar keinginannya bisa tercapai. Bahkan, sampai ingin menghilangkan nyawa orang lain.
"Aku sudah tahu siapa gadis itu, dan ku pastikan kamu juga akan terkejut jika aku menceritakan semuanya." Kalimat yang terlontar dari bibir Johan membuat mata Arka semakin menyipit. Apalagi ini? Kemarin gadis berhijab dan sekarang gadis berambut panjang. Sepertinya, lelaki di hadapannya ini benar-benar digilai oleh banyak wanita.
"Jadi, ada gadis selain Fitri yang juga mencintaimu?" Tebakan Arka langsung dibalas oelh Johan dengan sebuah gelengan kepala.
Benar saja, Arka benar-benar kembali dikejutkan oleh ucapan Johan. Kenapa Fitri sekarang tak berhijab lahi? Apakah gadis itu benar-benar merasa frustasi karena tak berhasil mendapatkan cintanya?
"Tapi bukankah selama ini Fitri berhijab? Sedangkan gadis yang aku lihat tadi tidak?" heran Arka mengetahui siapa yang tadi ia pergoki tengah mengintip ke dalam ruangan Johan.
Johan tersenyum kecut, dengan malas ia menjelaskan seperti apa Fitri yang sebenarnya, "Fitri itu punya dua kepribadian, dia bisa berubah baik dan bisa berubah menjadi monster ketika keinginannya tak bisa terpenuhi. Saru lagi, tebakan kalian semua benar. Kecelakaan itu memang ulah Fitri.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila, Jo. Bagaimana bisa Fitri dapat melakukan hal seperti itu? Apa gadis itu tidak takut dipenjara?" Arka memijat keningnya yang mulai berdenyut. Mereka juga tak menyadari jika sudah ada orang yang menguping pembicaraan dua lelaki itu.
"Arka, Fitri itu sakit jiwa. Tentu saja dia tak takut dipenjara. Kalaupun kita melaporkannya ke polisi, mungkin dia hanya akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa."
Kali ini Arka benar-benar dibuat terperangah oleh penjelasan dari Johan, ia tak menyangka gadis yang terlihat pintar dan sesempurna Fitri ternyata adalah seorang dengan gangguan mental.
"Jo, apakah malam itu kamu benar-benar meeting dengan ayahnya Fitri?" Arka masih belum puas juga mengorek informasi dari Johan.
"Menurutmu bagaimana?" Johan menaik-turunlan sebelah alisnya untuk menggoda Arka.
"Kalau aku punya jawabanya tak mungkin aku bertanya padamu," kesal Arka memalingkan pandangannya ke arah lain, Johan memecahkan tawa melihat tingkah Arka yang cemberut seperti bocah.
"Baiklah, aku akan ceritakan."
Ingatan Johan terlempar pada kejadian malam itu, ia yang baru saja mengantar Arum segera menuju ke restoran tempat ia janji bertemu dengan Tirta. Setibanya di sana, Johan terkejut karena satu restoran itu telah dibooking oleh Tirta. Lelaki tua itu sama sekali tak berniat untuk membicarakan soal pekerjaan bersama Johan, ia malah meminta Johan untuk menikahi putrinya yang bernama Fitri. Tentu saja Johan menolaknya mentah-mentah karena ia telah menikah dengan Arum, selain itu ia juga sama sekali tak punya perasaan apapun terhadap Fitri. Namun Tirta tetap ngotot, bahkan ia rela jika Fitri hanya dijadikan istri kedua dan dinikahi secara siri. Johan yang mulai tersulut emosi memilih untuk meninggalkan restoran tersebut.
Namun tak disangka, ternyata sedari tadi Fitri bersembunyi di balik ruangan dan menguping semua pembicaraan itu. Fitri yang mengetahui jika Johan tetap menolak cintanya memutuskan untuk mengikuti mobil lelaki itu. Bahkan pada sore harinya, Fitri juga sempat menyuruh seseorang untuk merusak CCTV di area dekat jembatan. Gadis ia sudah bertekad, jika ia tak bisa memiliki Johan maka Arum pun juga tidak boleh memilikinya. Sesuai rencana, saat mobil Johan sudah mendekati jembatan Fitri langsung menabrak mobil itu dari belakang sampai oleng dan menabrak pembatas jembatan.
__ADS_1
Arka hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita dari Johan hingga satu tepukan di pundak Arka membuat kedua lelaki itu menoleh.