
Jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan pagi. Arum dan Johan baru saja selesai bersiap untuk pergi ke rumah sakit, hendak membantu Aline dan bayinya yang hari ini akan pulang ke rumah. Tak lupa mengajak Bi Marni dan juga kedua bayi kembarnya, beberapa kado untuk baby Arshaka juga telah tertata rapi di bagasi mobil mereka.
Namun, saat berjalan menuju ke mobil terdengar suara telepon genggam milik Arum yang berbunyi. Wanita itu menghentikan langkah, merogoh benda pipih dari dalam tas. Dahinya mengernyit kala menatap nama kontak Aline yang tertera di layar benda pipih tersebut.
Arum segera menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo Aline, ini aku lagi mau jalan ke rumah sakit," ucap Arum seraya masuk ke dalam mobil.
"Nggak usah ke rumah sakit, kalian langsung ke rumah aja. Aku sudah pulang barusan. Ini sudah mau sampai di rumah." Arum tersenyum mendengar suara Aline di ujung tolepon.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera ke rumah kamu. Aku juga tidak perlu repot-repot menyuruh Bi Marni menunggu di mobil bersama si kembar."
"Oke, kalau gitu aku tunggu di rumah ya, bye bye," ucap Aline, Arum segera mematikan sambungan telepon dan menyimpan kembali telepon pintarnya ke dalam tas.
"Ada apa, Sayang?" tanya Johan yang sudah duduk di balik kemudi, bersiap untuk memacu mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Kita langsung ke rumah Aline saja, Mas. Dia sudah pulang dan sekarang juga dia sudah hampir sampai di rumah," kata Arum pada sang suami.
__ADS_1
Johan mengangguk, lelaki itu mulai menginjak pedal gas dan menjalankan mobil hitam kesayangannya itu menuju ke kediaman Aline. Setelah hampir 30 menit berkendara, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Johan memasuki gerbang rumah milik sang sahabat. Pintu rumah itu sengaja dibiarkan terbuka lebar seolah memang nanti kedatangan Arum dan Johan. Ketiganya segera turun, Arum mendorong Stroller bayi kembarnya sedangkan Bi Marni dan Johan membawa beberapa oleh-oleh yang akan diberikan untuk baby Arshaka.
Arka langsung menyongsong kedatangan sahabatnya, "Arum, Johan. Cepat sekali kalian sampai di sini?"
"Hai Arka, aku bawa beberapa hadiah untuk Arshaka," ujar Arum, jari telunjuknya mengarah pada dua manusia yang nampak kepayahan membawa beberapa paper bag. Bukan beberapa, tapi sangat banyak paper bag berisi hadiah.
Arka terkekeh melihat ekspresi Johan dan Bi Marni, laki-laki itu segera membantu untuk membawa beberapa paper bag dan menaruhnya di atas meja. Sedangkan Arum, ia langsung menghampiri sahabatnya di dalam kamar. Nampak Aline yang tengah duduk sembari memangku bayinya dengan ditemani oleh Bu Kanti.
"Hai Baby Arshaka, ada bayi kembar nih. Main yuk," sapa Arum menirukan suara anak kecil yang membuat senyum mengembang di wajah Aline dan juga Bu Kanti.
"Hai, Sayang. Selamat datang di kamar adik Arshaka." Aline juga ikut menirukan apa yang dilakukan oleh sahabatnya, wanita itu menirukan suara anak kecil seolah-olah Arshaka yang sedang menjawab ucapan Arum.
"Ya ampun, imut banget ya mereka," ucap Aline seraya menatap kagum kepada ketiga bayi mungil yang tengah terlelap di atas ranjang miliknya.
"Kita makan dulu yuk, ini bayi-bayinya mending dibawa di stroller aja. Kasihan kalau ditinggal sendiri," ajak Aline kemudian.
Bu Kanti menepuk jidatnya, bagaimana ia bisa lupa untuk mengajak tamunya makan bersama. Padahal ia sudah masak beberapa hidangan.
__ADS_1
"Ya ampun, Ibu sampai lupa kalau sudah masak banyak untuk kalian. Ya sudah, Aayo kita makan." Arum kembali mendorong stroller berisi tiga bayi itu menuju ke ruang makan.
Sedangkan Bu Kanti menuntun sang menantu untuk berjalan. Beberapa hidangan kesukaan Aline dan Arun sudah tersaji di meja makan. Bu Kanti mendudukan Aline di salah satu kursi, kemudian berjalan ke ruang tamu untuk menghampiri Bi Marni dan juga dua lelaki muda yang sedang asik mengobrol.
"Bi Marni, Johan, Arka. Ayo kita makan bersama, Ibu sudah masak banyak sekali," ajak Bu Kanti pada tiga manusia tersebut.
Mereka menikmati sarapan pagi itu dengan suasana hangat penuh canda tawa, tak ada lagi raut ketegangan atau kesedihan di wajah Arum maupun Johan. Semuanya bahagia karena tak ada lagi teror yang menghantui keluarga Arum, tak ada lagi bahaya yang mengintai baby kembar. Dan Aline juga sudah mendapatkan kebahagiaannya, cinta yang utuh dari Arka serta seorang bayi laki-laki yang sangat tampan telah melengkapi kehidupannya saat ini.
Sementara di tempat lain, jenazah Tirta baru saja selesai dimakamkan berdampingan dengan makam Fitri. Kini sepasang ayah dan anak itu sudah bisa bersatu di alam yang kekal. Semoga setelah ini kebahagiaan keluarga Arum dan Arka benar-benar abadi tanpa ada lagi masalah yang mengganggu kehidupan mereka. Percayalah di balik semua masalah pasti akan ada kebahagiaan, setelah hujan pasti akan ada pelangi yang indah. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini.
Keluarga Arka dan Johan telah selesai menikmati sarapan pagi mereka. Semuanya bergegas pergi ke halaman belakang, di mana telah tersedia banyak balon yang memang disiapkan oleh Arka.
Kini, mereka semua telah memegang balon di tangan masing-masing sesuai dengan permintaan Arka.
"Sekarang kita ucapkan harapan masing-masing. Dalam hitungan ketiga, kita lepaskan balon ini seperti kita melepaskan penderitaan dan kegelisahan yang selama ini menghantui hidup kita," ucap Arka pada semua orang yang ada di sana.
Semuanya menurut, terdiam, mengucapkan harapan di dalam hati.
__ADS_1
"Satu, dua, tiga!" Semua balon yang berada di tangan masing-masing terlepas saat Arka mengucap hitungan ketiga. Mereka telah melepaskan semua harapan, membiarkannya terbang bersama balon-balon tersebut.
Tamat ....