Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 78


__ADS_3

Malam telah larut bersama cahaya rembulan dan ribuan gemintang yang menghias hitamnya langit. Mengiringi seorang pria paruh baya yang baru saja terbangun dari lelap tidurnya setelah mendapat suntikan obat bius tadi siang. Tirta perlahan membuka mata, pandangannya menelisik ke sekitar. Sunyi, tak ada seorangpun yang menemaninya di dalam ruang rawat rumah sakit. Tangannya terulur, memegangi kaki yang terbalut perban akibat sebuah luka tembakan. Lagi-lagi mata pria paruh baya itu menerawang, menatap ke arah dinding kamar yang putih dan kosong.


"Fitri, ayah rindu, Nak. Ayah ingin terus bersama kamu. Datanglah Fitri, datanglah untuk menemui ayah," racau lelaki paruh baya itu diuringi sebuah suara isakan. Terlihat air mata merintik begitu saja dari kedua netra, membasahi pipi yang mulai keriput karena termakan usia.


Tirta bangkit, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Lelaki tua itu hanya terdiam. Entah apa yang ia pikirkan, sampai pada akhirnya dia teringat pada suatu benda yang ia simpan di bawah bantal sejak pertama kali ia masuk ke rumah sakit ini. Pipandanginya benda yang berkilau tajam di tangannya. Perlahan namun pasti, Tirta menggoreskan mata pisau lipat itu pada pergelangan tangan. Rasa sakit dan perih ketika kulitnya tergores tak membuat lelaki itu menangis ataupun memekik. Justru, Tirta tersenyum. Perlahan-lahan, matanya mulai terpejam menikmati setiap rasa sakit yang tengah ia rasakan. Tirta begitu bahagia menanti waktu untuk bertemu dengan putri kesayangannya setelah kehidupan yang amat menyakitkan baginya berakhir.


********


Pagi telah kembali datang bersama cahaya mentari dan kicau-kicau burung yang berada di luar jendela. Arum dan Johan masih asyik bergelung di bawah selimut setelah semalaman begadang untuk menjaga kedua malaikat kecilnya. Suara dering telepon yang berasal dari sebuah benda pipih membuat Johan perlahan membuka matanya. Mata lelaki itu memancing, menatap sebuah nomor tak dikenal yang terpampang di layar telepon pintar miliknya.


"Siapa sih yang pagi-pagi telepon, ganggu orang istirahat aja," gumam Johan kemudian menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo selamat pagi," sapa Johan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Selamat pagi, Pak Johan. Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan jika Pak Tirta telah meninggal dunia!"


"Apa!!" Suara pekikan Johan membuat Arum berjingkat karena kaget, wanita itu memegangi kepala yang terasa berdenyut karena terbangun secara tiba-tiba.


"Apa saya nggak salah dengar, Pak? Bagaimana sampai hal itu bisa terjadi?" tanya Johan pada polisi yang masih berdiri di ujung telepon.


"Mohon maaf, Pak Johan. Kami telah lalai, kami tidak tahu jika beliau masih menyimpan pisau lipatnya. Pak Tirta menggunakan benda itu untuk memotong urat nadi dan mengakhiri hidupnya," jelas polisi tersebut.


"Saya akan segera ke rumah sakit!" Johan segera mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak, lelaki itu menoleh. Menatap sang istri yang sudah dari tadi memandangnya dengan penuh selidik.


"Ada apa, Mas? Siapa yang telepon, kok kamu bisa panik seperti itu?" Arum memberondong sang suami dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu siap-siap, kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Johan masih dengan nada panik.


Arum menautkan kedua alisnya setelah mendengar perintah dari sang suami, "Ke rumah sakit, Mas? Sepagi ini? Tapi untuk apa, apa terjadi sesuatu dengan Aline?"


Secepat kilat Johan menggelengkan kepalanya, "Bukan, Pak Tirta meninggal. Dia bunuh diri."


"Kenapa hal ini bisa terjadi? Memangnya polisi tidak tahu kalau lelaki itu memiliki rencana untuk mengakhiri hidupnya?" Johan hanya bisa menggedikan kedua bahu, ia sendiri tak habis pikir bagaimana seorang yang dijaga ketat oleh dua orang polisi bisa bunuh diri tanpa diketahui oleh siapapun.


"Kata polisi, Pak Tirta bunuh diri dengan menggunakan pisau lipat yang ia sembunyikan selama ini. Sudahlah, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang. Aku ingin memastikan kalau iaemang benar-benar sudah meninggal," pungkas Johan kemudian.

__ADS_1


Arum mengangguk, wanita itu membersihkan diri kemudian berganti baju. Tak lupa untul memoles make up tipis di wajah ayunya. Dengan buru-buru, Arum menghampiri Bi Marni yang sedang berkutat di dapur untuk memasak sarapan.


"Bi Marni," panggil Arum dengan ada suara yang terdengar panik.


"Iya, Non. Ada apa?"


"Saya dan Mas Johan mau ke rumah sakit, ada urusan penting. Titip anak-anak ya, di freezer masih ada ASI parah kan?" Arum memastikan bahwa anak-anaknya tak akan kelaparan saat ia tinggalkan untuk waktu yang cukup lama.


"Masih ada banyak, Non. Jangan khawatir," jawab Bi Marni tanpa bertanya ada apa sang majikan ke rumah sakit sepagi ini.


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu ya, Bi."


Arum dan Johan bergandengan tangan menuju ke mobil, lelaki itu menginjak pedal gasnya dan memacu mobil hitam miliknya dengan kecepatan tinggi untuk menembus padatnya jalanan pagi di kota itu. Setelah tiga puluh menit berkendara, akhirnya Arum dan Johan telah tiba di rumah sakit. Johan menggandeng tangan sang istri untuk menuju ke sebuah ruangan di mana Tirta dirawat sebelumnya.


Di sana tampak sepi, tak ada lagi polisi yang berjaga pintu. Ruangan itu juga dibiarkan terbuka, pertanda jika tak ada lagi penghuninya. Johan berdecak kesal, lelaki itu memutuskan untuk bertanya pada salah satu perawat yang lewat di depannya.


"Permisi, Sus. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" ucap Johan dengan sopan.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" balas seorang wanita yang mengenakan seragam perawat.


"Betul, Pak. Sekarang mayatnya ada di ruang jenazah," jelas perempuan tersebut. Johan mengangguk kemudian kembali menggandeng tangan sang istri setelah mengucapkan terima kasih.


Karena terlalu terburu-buru, Johan tak sengaja menabrak tubuh seorang laki-laki.


"Aduh maaf saya tidak sengaja, Mas.


"Johan!" Ternyata orang yang ditabrak oleh Johan barusan adalah Arka.


"Kenapa kalian sepagi ini sudah berada di rumah sakit? Apa ada masalah yang terjadi pada Tirta?" tanya Arka, perasaannya mendadak merasa tak enak.


"Tirta meninggal, dia bunuh diri!" Jawaban Arum membuat mata Arka melebar seketika.


"Apa? Bagaimana dia bisa bunuh diri?" Tanya Arka, ingatan lelaki itu jembali pada kejadian kemarin siang saat Tirta mengamuk.


"Entahlah, kami juga tidak tahu. Aku mengajak Arum ke sini hanya untuk memastikan kalau Tirta benar-benar meninggal. Bukan hanya sekedar sandiwara."

__ADS_1


"Baiklah, aku ikut kalian ke kamar jenazah sekarang," ujar Arka.


Ketiganya berjalan beriringan, menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ke kamar jenazah. Di depan ruangan tersebut sudah ada beberapa polisi yang nampaknya memang sedang menunggu kedatangan Arum dan Johan.


"Selamat pagi, Pak," sapa Johan pada salah seorang polisi.


"Selamat pagi, Pak Johan. Apakah Pak Johan ingin melihat jenazah Pak Tirta?" tawar lelaki kekar berseragam coklat yang sudah mengenal Johan dengan cukup akrab.


"Iya Pak, saya ingin melihat dan memastikan Kalau Pak Tirta memang benar-benar sudah meninggal. Jujur saja, saya trauma. Takut jika semua ini hanya sandiwara yang sengaja dibuat-buat oleh lelaki tua itu," ungkap Johan berterus terang tentang apa yang ia khawatirkan saat ini.


"Kalau begitu silahkan, saya antar."


Johan dan Arka mengikuti langkah pria tegap tersebut untuk masuk ke dalam ruangan jenazah, sedangkan Arum memutuskan untuk menunggu di luar saja. Wanita itu tak punya cukup nyali untuk melihat keadaan mayat Tirta. Saat masuk ke dalam kamar jenazah, Johan dan Arka langsung bisa merasakan hawa dingin. Langkah kaki kedua lelaki itu terus terayun mengikuti seorang polisi yang berjalan di depan mereka sampai ke sebuah mayat yang tertutup dengan kain putih. Tanpa diminta, polisi tersebut membuka penutup jenazah sampai sebatas dada. Memperlihatkan wajah pias Tirta. Johan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mengapa mudah sekali Tirta untuk mengakhiri hidupnya.


"Apa Bapak yakin kalau dia benar-benar bunuh diri?" tanya Johan dengan mata menyipit penuh selidik.


"Iya Pak, kemarin siang beliau sempat mengamuk dan mendapatkan suntikan obat penenang. Mungkin malamnya beliau sadar, entah berhalusinasi atau apa. Pak Tirta memotong urat nadinya sendiri dan pagi ini saat dokter hendak memeriksa beliau ternyata Pak Tirta sudah tewas dengan darah yang menetes dari pergelangan tangannya." Polisi tersebut mulai menceritakan kejadian kemarin siang yang membuat Johan tercengang. Lelaki itu tak menyangka jika Tirta sebelumnya sempat mengamuk. Setelah memastikan jika Tirta telah benar-benar meninggal, Johan segera keluar dari kamar jenazah itu dan pamit kepada polisi.


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Johan pada sang istri.


"Mau ke mana? Pulang sekarang?"


"Kita sekalian jenguk Aline saja, agar kita juga bisa saling bercerita," ujar Johan, sepertinya lelaki itu sedang membutuhkan teman untuk bicara. Terlalu banyak beban yang memenuhi hati dan juga kepalanya.


Ketiganya kembali berjalan beriringan menuju ruang rawat Aline. Nampak wanita muda itu baru saja selesai menyusui buah hatinya, ia sedikit kaget melihat kehadiran kedua sahabatnya yang sepagi itu sudah sampai di rumah sakit.


"Wow rajin sekali kalian, baru juga jam tujuh pagi. Tapi kalian sudah menjengukku," oceh Alin yang sama sekali belum mengetahui jika Tirta sudah meninggal dunia.


Arum mendesah kesal, berjalan mendekat ke arah Aline dan juga Bu Kanti, "Sebenarnya aku tidak ingin datang ke sini sepagi ini, tapi polisi telepon karena Pak Tirta meninggal. Makanya kami terpaksa datang ke rumah sakit."


"Apa? Tirta meninggal, Nak? Bagaimana bisa?" Bu Kanti menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Arum.


"Dia bunuh diri, Bu. Memotong sendiri urat nadinya, dan katanya kemarin siang dia juga sempat mengamuk," jelas Johan menjawab rasa penasaran Bu Kanti.


Arka menghenyak di sofa samping sahabatnya. Lelaki itu menepuk pelan pundak Johan kemudian menceritakan kejadian yang ia lihat kemarin. Di mana Tirta memang sempat mengamuk dan berteriak-teriak memanggil nama Fitri, ia juga menceritakan jika kemungkinan Tirta bunuh diri karena halusinasi. Kemungkinan besar lelaki tua itu juga menderita gangguan jiwa dan merasa semakin terpukul karena telah kehilangan putrinya. Ditambah lagi ia merasa gagal membalaskan dendam pada keluarga Johan.

__ADS_1


__ADS_2