
Langit begitu cerah berhiaskan gumpalan-gumpalan awan putih, Johan dan Arum tengah bersiap untuk pulang ke rumah bersama kedua bayi kembar mereka. Setelah penantian panjang akhirnya mereka bisa berkumpul kembali. Mata Arum begitu berbinar menatap dua malaikat kecil yang tengah berada di dalam stroler. Pintu ruangan itu terbuka, membawa Arka, Aline serta Bu Kanti untuk masuk ke dalam. Mereka bertiga sengaja datang untuk menyambut kepulangan Arum dan Johan. Bahkan, Arka telah menyuruh seorang karyawan caffe untuk mengantar makanan ke rumah Johan agar Bi Marni tak lerlu repot untuk memasak makan siang nanti.
"Wah, cucu kembar Eyang sudah mau pulang. Tungguin adik kalian lahir ya, biar tambah ramai," ucap Bu Kanti sembari menatap wajah polos dua bayi yang tengah terlelap itu.
"Iya Eyang, sebentar lagi aku juga mau keluar dari perut Mama Aline," balas Aline sembari menirukan suara anak kecil yang mengundang gelak tawa semua orang.
"Sudah, ayo kita pulang. Semuanya sudah selesai," ajak Johan yang sudah menenteng dua tas besar. Bi Marni mengangguk, mendorong stroler dua anak majikannya itu menuju ke mobil.
Johan mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah bersama mobil Arka yang mengekor di belakang. Senyum terus tersungging di wajah cantik Arum, membuat ekor mata Johan terus tertuju pada sang istri.
"Sayang, kamu kenapa dari tadi senyum-senyum begitu?" tanya Johan dengan pandangan yang masih fokus ke arah jalanan.
Arum menatap ke arah Bi Marni yang duduk di kursi belakang kemudian beralih menatap sang suami, "Aku bahagia sekali, Mas. Akhirnya kita bisa kembali pulang ke rumah, Fitri juga sudah dimasukan ke rumah sakit jiwa. Aku berharap kali ini tak ada lagi yang mengganggu kebahagiaan kita ya, Mas."
"Iya Sayang, aku harap juga begitu. Dan kita sekarang memiliki banyak hutang budi pada Bi Marni, Arka dan juga Aline." Johan melirik wanita paruh baya itu dari kaca spion tengah.
"Mas Johan bilang apa sih, Bibi ini sudah menganggap kalian seperti anak-anak Bibi. Dan si kembar ini juga sudah Bibi anggap cucu sendiri. Jadi, Bibi melakukan semuanya dengan ikhlas. Jangan merasa berhutang budi sama Bibi," sangkal Bi Marni, wanita paruh baya itu memang benar-benar tulus membantu kedua majikannya.
"Tetap saja, Bibi sudah berjasa. Menjaga Mas Johan saat koma, juga menjaga si kembar sampai Fitri gagal menculik mereka. Arum nggak bisa bayangkan kalau nggak ada Bibi." Ingatan Arum kembali terlempar pada hari di mana Fitri hampir mencelakai bayinya.
Obrolan itu terus berlangsung sampai tanpa tersa mereka telah sampai di rumah. Johan sedikit terkejut saat melihat salah seorang karyawan caffenya duduk di teras. Laki-laki itu segera turun menghampiri pemuda yang tengah duduk sembari membawa beberapa kotak makanan.
__ADS_1
"Mas, ada apa? Kok bisa ada di sini?" tanya Johan pada karyawannya itu, bersamaan dengan Arka yang juga baru saja turun dari mobil.
"Aku minta dia antar makanan untuk makan siang kita semua, Jo," ujar Johan sembari mengulas senyum.
"Ya ampun, aku kira ada apa. Terima kasih ya, Mas. Sekarang Mas boleh kembali ke caffe, dan ini untuk ongkos bensin, Mas." Johan mengulurkan beberapa lembar uang merah sebagai tanda terima kasih untuk karyawannya.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi." Pemuda itu segera pergi setelah mendapat sebuah anggukan dari Arka dan Johan.
"Ayo masuk, kasihan si kembar kepanasan nanti kalau terlalu lama di luar," sorak Aline yang baru saja membuka kunci pintu rumah itu.
Semua berjalan beriringan untuk masuk ke dalam rumah, Bi Marni segera menuju ke kamar Arum dan meletakkan kedua bayi mungil yang tengah terlelap itu di box bayi lalu kembali melangkah ke luar. Wanita itu hendak mengambil kotak makan yang dibawa oleh pelayan caffe tadi. Namun, tangannya lebih dulu dicekal oleh Bu Kanti.
"Biar saya saja, Bi. Bibi istirahat dulu saja, pasti Bibi lelah sekali," ujar wanita bergamis cokelat tersebut dengan seulas senyuman.
"Tidak apa-apa, Bi. Tenang saja, sekarang saya nggak suka ngomel seperti dulu," kelakar Bu Kanti membuat Bi Marni terkekeh kemudian mengangguk.
Bu Kanti dengan sigap menata semua makanan itu di atas meja, tak lupa menyiapkan piring dan sendok serta membuat minuman. Setelah lima belas menit berkutat di dapur, akhirnya Bu Kanti kembali ke ruang keluarga, tempat di mana yang lain tengah asyik mengobrol, membicarakan dua bayi kembar yang baru saja hadir di tengah-tengah mereka.
"Makanan sudah siap, ayo kita makan semuanya," ajak Bu Kanti yang langsung mendapat anggukan dari semua orang. Mereka segera menghenyak di kursi masing-masing untuk menyantap makan siang.
"Arum makan yang banyak, ayam sama ikannya dimakan biar jahitan kamu juga cepat kering dan Asinya bernutrisi. Pasti si kembar kuat banget itu mimiknya," pesan Bu Kanti yang mendapat sebuah senyuman dari mantan menantunya.
__ADS_1
"Iya, Ibu. Ini Arum makan banyak nih, biar tambah gemoy setelah berbulan-bulan hidup di rumah sakit," ucap Arum kemudian kembali menyuap isi piringnya.
"Aline, kamu juga makan yang banyak ya, Nak. Biar dedek bayi yang ada di dalam perut nggak lapar. Nanti dia nangis lho kalau lapar." Bu Kanti telah benar-benar berubah. Wanita paruh baya itu kini menjelma menjadi sosok Ibu yang begitu baik untuk anak-anaknya. Tak ada lagi dandanan glamour yang dulu selalu ia pamerkan. Wanita itu kini lebih suka mengenakan gamis sederhana dan jilbab instan.
Tepat saat mereka selesai makan, terdengar suara tangis kencang yang berasal dari dalam kamar.
"Wah, mereka tahu kalau Bundanya sudah selesai makan langsung mau mimik. Ayo Non Arum, saatnya meng-Asihi," ujar Bi Marni yang dibalas Arum dengan sebuah anggukan. Ibu muda itu bergegas menuju ke kamar diikuti Aline dan yang lainnya. Namun, saat berada di depan pintu, Aline malah menghalangi langkah kedua lelaki itu untuk ikut masuk ke dalam kamar.
"Sayang, minggir dong. Kan kita mau lihat si kembar," protes Arka pada sang istri.
"Kalian itu laki-laki, tunggu di luar saja. Ini urusan wanita, kalau Johan boleh sih sebenarnya. Tapi nanti aja kalau udah nggak ada Mas Arka," usir Aline pada kedua lelaki itu, Johan dan Arka hanya bisa saling pandang kemudian memutar badan. Kedua lelaki itu memilih untuk membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor karena nampaknya para wanita saat ini sedang sangat sibuk.
Arum menyusui dua bayinya sekaligus. Wanita itu sesekali meringis kesakitan karena belum terbiasa. Aline mendekat dan menghenyak di sisi ranjang.
"Arum, mereka udah punya nama apa belum sih? Aku penasaran lho," celetuk Aline yang memang belum mengetahui nama kedua bayi kembar itu.
"Elzio Putra Joar dan Elzia Putri Joar. Panggilnya babby Zio dan babby Zia." Arum mengulas senyum saat menyebutkan nama kedua malaikat kecilnya itu.
Zio dan Zia telah kembali terlelap setelah kenyang meminum Asi. Bi Marni dan Bu Kanti membantu Arum untuk mengembalikan keduanya ke dalam box bayi.
Sementara di luar sana, dua lelaki tampan baru saja selesai mencuci piring. Arka menatap Johan, seolah ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Arka punya keberanian untuk menanyakan semuanya.
__ADS_1
"Jo, aku ingin bicara serius!"