
Arum mendesah kesal karena gangguan yang kembali datang, wanita itu dengan malas mengambil handphone yang berada di dalam tasnya. Terlihat nama kontak telepon rumahnya di layar, pertanda bahwa Bi Marni adalah orang yang menghubungi dirinya. Arum segera menggeser ikon berwarna hijau pada layar telepon pintar miliknya.
"Ha- hallo, Bi. Ada apa," sapa Arum dengan suara serak.
"Halo Non. Kok suara Non Arum serak begitu? Seperti habis menangis. Ini sudah malam, Non dan Mas Johan juga belum pulang sampai selarut ini?" tanya Bi Marni yang juga merasakan firasat tak enak.
"Saya malam ini nggak pulang, Bi.
Saya nginep di rumah sakit untuk nungguin Mas Johan," jelas Arum dengan bibir bergetar, berusaha menahan air matanya agar tak kembali luruh.
"Apa? Nungguin Mas Johan? Memangnya Mas Johan kenapa, Non?" Suara Bi Asih terdengar panik di seberang telepon.
"Johan kecelakaan, Bi. Dokter juga baru aja selesai menangani dia."
"Bibi sekarang ke sana ya untuk menemani Non Arum?"
"Nggak usah, Bi. Sekarang sudah malam sekali, besok pagi saja Bibi ke sini. Sekalian bawain baju ganti saya," tolak Arum saat sang ART hendak menyusul dirinya ke rumah sakit.
"Baik, Non. Ya sudah Non hati-hati ya. Jangan lupa makan, ingat ada dua dedek utun yang sedang berada di dalam kandungan Non Arum.
Seketika Arum memejamkan matanya, menyadari jika sedari tadi ia memang sama sekali tak mengingat jika kondisinya saat ini tengah hamil muda.
"pasti, Bi. Saya akan jaga mereka dengan baik," ucap Arum dengan nada lemas sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Arum segera mematikan sambungan teleponnya, kini sorot mata Arum kembali tertuju pada sosok dokter muda yang sedari tadi telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Arum pada dokter muda tersebut.
"Begini Bu Arum, kami sudah mengupayakan segala yang terbaik. Namun, saat ini kondisi Pak Johan juga belum stabil karena cedera di kepalanya lumayan parah. Jadi, ada kemungkinan pak Johan mengalami koma untuk waktu yang tak bisa kami prediksi," jelas sang dokter dengan sangat hati-hati.
"Tapi suami saya masih bisa sadar kan, Dok?" panik Arum setelah mendengar kenyataan yang baru saja dijelaskan oleh sang dokter.
"Semoga Pak Johan segera sadar ya, Bu. Ibu berdoa saja dan terus rangsang indera Pak Johan dengan cara mengajaknya mengobrol meskipun dia sama sekali belum bisa untuk merespon. Ibu yang kuat ya, semoga kandungan Ibu juga selalu sehat. Saya permisi." Dokter tersebut segera berlalu karena tak tega melihat ekspresi wajah Arum yang terlihat begitu menyedihkan.
Aline ikut meneteskan air mata setelah mendapati kenyataan jika Johan kemungkinan besar akan mengalami koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Wanita itu mendekat dan kembali memeluk tubuh sang sahabat. Sungguh tak pernah terbayangkan di benak Aline, sahabatnya yang saat ini tengah mengandung harus menghadapi cobaan sebesar ini. Suaminya mengalami kecelakaan dan ia harus berjuang untuk menjaga kandungannya serta merawat sang suami yang entah berapa lama harus berada di rumah sakit.
"Arum, kamu nggak boleh sedih ya. Agar Johan juga punya semangat untuk segera sembuh, ingat anak kamu. Kamu harus kuat demi anak yang ada dalam kandungan kamu," bisik Arum di telinga sang sahabat.
Arum mengurai pelukan itu kemudian terduduk lemas di sebuah kursi, "Aku nggak tahu harus bagaimana lagi Aline. Baru saja aku merasakan kebahagiaan, tapi Tuhan sudah mengambilnya lagi. Entah dosa apa yang aku perbuat di masa lalu," lirih Arum, air mata kembali menetes membasahi pipi mulus nan putih itu.
"Arum, kamu nggak usah khawatir, masih ada aku dan masih ada Aline yang akan selalu ada buat kamu. selama Johan masih belum sadar, aku juga akan membantu kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa bilang padaku ataupun pada Aline," ucap Arka sembari mengelus punggung wanita itu.
Sepercik rasa cemburu tiba-tiba menyelinap di dalam relung hati Aline. Entah mengapa, wanita itu merasakan sebuah ketakutan. Takut jika nanti Arka akan kembali jatuh cinta pada sang mantan istri kalau terlalu sering dekat dan berkomunikasi dengan Arum. Apalagi saat ini Arum sedang dalam kondisi yang terpuruk dan butuh perhatian lebih, pasti akan lebih mudah bagi Arka untuk memasuki hati mantan istrinya.
"Apa sih yang aku pikirkan saat ini, pasti Mas Arka hanya ingin menenangkan Arum karena merasa kasihan melihatnya terpuruk. Apalagi di saat ia mengandung begini," batin Aline yang langsung menepis pikiran buruknya itu jauh-jauh.
"Benar Arum, kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa bilang ke aku. Atau kalau kamu ngidam pengen sesuatu yang aneh-aneh kamu bisa nyuruh Mas Arka kok. Anggap saja kami ini seperti keluarga kamu sendiri," ujar Aline yang ikut memdukung ucapan sang suami.
Arum menyeka kedua matanya yang basah, menatap Aline dan Arka secara bergantian. Sungguh wanita itu tak menyangka, jika mantan suami dan sahabatnya yang dulu telah menghianatinya. Bahkan, pernah saling membenci, akhirnya bisa kembali sedekat ini dan sudah seperti layaknya keluarga sendiri.
"Terima kasih ya, aku beruntung banget punya sahabat seperti kalian. Tapi, aku janji aku nggak akan terlalu merepotkan kalian. Apalagi saat ini Aline juga sedang hamil, pasti dia juga butuh banyak istirahat," ucap Arum dengan wajah sungkan.
__ADS_1
"Nggak usah merasa tidak enak hati, biasa aja lagi," tukas Aline.
Arum tersenyum kemudian melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata waktu telah menunjukkan pukul satu malam.
"Aline, Mas Arka, kalian pulang aja ya. Sekarang sudah sangat larut," pinta Arum pada kedua sahabatnya itu.
"Terus kamu gimana?" tanya Aline yang masih mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.
"Aku nggak apa-apa, aku di sini menemani mas Johan. Tapi kalian tenang saja, besok pagi Bi Marni juga akan datang ke sini kok," ucap Arum agar keduanya tak merasa khawatir.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Kamu yang kuat ya." Arka menepuk lembut bahu wanita itu sebagai bentuk sebuah dukungan.
Aline dan Arka segera pamit. Lelaki itu hendak mengayunkan langkah dengan menggandeng tangan sang istri.
"Eh tunggu, Mas," cegah Arum mencekal pergelangan tangan mantan suaminya.
Aline dan Arka menoleh secara bersamaan dengan kedua dahi yang mengernyit.
"Ada apa, Arum? Apa kamu perlu sesuatu? Atau kamu lagi ngidam?" tanya Arka pada wanita cantik itu. Namun, Arum buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Mas. Aku cuman mau minta tolong supaya kamu bantu selidiki masalah kecelakaan ini. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang janggal," pinta Arum dengan wajah memohon.
"Pasti, besok aku akan sempatkan untuk pergi ke kantor polisi. Aku juga tidak yakin kalau Johanenyerir dalam keadaan mabuk," balas Arka menyanggupi permintaan mantan istrinya.
"Terima kasih," lirih Arum, arka dan Aline mengangguk kemudian memutar badan untuk meneruskan langkah. Pulang menuju ke rumah.
__ADS_1