
Semburat senja terlukis indah di langit sore sebagai pertanda akan datangnya malam yang menggeser terangnya cahaya sang bagaskara. Arum tengah duduk di kursi teras rumahnya untuk menyambut kedatangan sang suami. Apalagi hari ini ia telah selesai dengan urusan tamu bulananya.
Senyum mengembang di bibir wanita itu kala melihat mobil Johan yang telah memasuki pagar rumahnya. Sekarang Arum memang lebih banyak di rumah, hanya sesekali datang ke caffe untuk mengecek laporan keuangan. Namun, berbeda dengan saat masih menjadi istri Arka dahulu. Sekarang meskipun lebih banyak di rumah, Arum jauh lebih bahagia karena selain Johan yang selalu berusaha melakukan apapun untuk membahagiakan dirinya juga ada Bi Marni yang menemani dirinya mengobrol agar tak merasa kesepian.
Ternyata pilihan Arum untuk tetap tinggal di rumah itu tidaklah salah. Johan pun merasa betah dan senang berada di sana karena jarak ke kantornya menjadi lebih dekat. Arum langsung menyambut sang suami yang baru saja keluar dari mobil dengan wajah lelahnya. Mengambil alih tas kerja Johan dan mencium punggung tangan sang suami. Sebuah senyum terbit dari bibir lelaki itu.
"Ternyata begini ya rasanya punya istri, bahagia sekali," celetuk Johan sembari membelai lembut puncak kepala sang istri.
"Ada satu lagi yang pasti akan membuat kamu semakin bahagia," ucap Arum sembari menaik-turunkan kedua alisnya menggoda sang suami.
Dahi lelaki itu mengernyit, menatap bingung ke arah sang istri yang sedang tersenyum jahil kepada dirinya.
"Emang apa sih yang akan buat aku lebih bahagia? Kamu masak buat aku?" tebak Johan sembari mengetuk-ngetukan jari telunjuk di dagunya.
"Itu kan udah biasa, Mas. Tiap hari juga aku sama Bi Marni masak buat kamu. Yang lain donk, ayo apa coba tebak," Arum semakin semangat menggoda suaminya yang nampak bingung.
"Aku menyerah deh sayang kalau disuruh main tebak-tebakan begini. Mending kamu bilang sekarang sebelum aku mati karena penasaran."
Arum tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami.
"Aku udah selesai datang bulan," bisik Arum yang membuat mata Johan berbinar, sejurus kemudian lelaki itu telah tersenyum lebar.
"Akhirnya, jadi unboxing juga. Sekarang aku mandi dulu habis itu makan terus langsung unboxing ya," sorak Johan kemudian berlari menaiki tangga menuju ke kamar untuk membersihkan diri, meninggalkan Arum yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd sang suami yang terladang seperti anak kecil.
__ADS_1
Wanita itu hendak mengayunkan langkah kaki menyusul sang suami ke kamar untuk menyiapkan baju ganti. Namun, langkahnya terhenti karena Bi Marni yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Non, Mas Johan kenapa? Kok kayaknya kegirangan begitu?" tanya Bi Marni dengan wajah kepo.
"Lagi seneng karena udah bisa unboxing, Bi," jawab Arum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
Setibanya di kamar, dari arah kamar mandi terdengar suara Johan yang tengah bersenandung diiringi suara gemericik air. Arum hanya bisa tersenyum kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami dan langsung turun kembali ke ruang makan. Tanpa ia sadari jika ada sesuatu yang telah terjatuh dari lemari.
"Bi, Bibi," panggil Arum membuat Bi Marni tergopoh menghampiri majikanya itu.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Marni yang sudah berdiri di depan Arum, nampak jika wanita paruh baya itu juga baru saja selesai mandi.
"Duduk, setelah ini kita makan bareng. Nunggu Mas Johan selesai mandi dulu," titah Arum pada ARTnya, wanita paruh baya itu mengangguk dan menghenyakan bobot tubuhnya di salah satu kursi.
Beberapa menit kemudian, Johan menuruni anak tangga sembari bersiul-siul. Nampak jelas binar kebahagiaan yang terpancar di wajah tampan lelaki itu. Arum segera mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami. Tak butuh waktu lama bagi Johan untuk memindahkan seluruh isi piring ke dalam perutnya.
"Sayaang, aku ke atas dulu ya. Kalau di sini bisa mati malu karena digodain Bi Marni mulu," rengek Johan seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya, membuat Arum dan Bi Marni tergelak bersama.
"Iya, nanti setelah selesai makan aku susulin ke atas ya," balas Arum setelah berhasil meredakan tawanya.
Johan segera menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Merebahkan diri di ranjang sembari menunggu sang istri masuk. Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Arum memasuki kamar. Johan langsung menyunggingkan senyum nakal menatap ke arah sang istri. Lelaki itu menepuk sisi ranjang sebagai kode agar sang istri merebahkan diri di sampingnya. Arum menurut dan langsung merebahkan diri berbantalkan lengan kekar sang suami.
"Sayang, ganti kostum donk. Kan kamu udah siapin buat aku, masa nggak dipake?" Perkataan Johan membuat Arum mengernyit, menatap sang suami dengan pandangan bingung.
__ADS_1
"Kostum, kostum apa sih, Mas?" tanya Arum pada sang suami.
Lelaki itu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian. Menambil sesuatu kemudian memperlihatkanya pada sang istri. Mata Arum melotot dengan wajah merah karena malu. Sang suami tengah berdiri sembari membentangkan lingerie yang diberikan Aline sebagai hadiah pernikahan untuknya. Ternyata saat mengambilkan baju ganti untuk sang suami tadi, tanpa sadar Arum sudah menjatuhkan baju haram itu dan ditemukan oleh sang suami.
"Ya ampun, Mas. Kamu dapat itu dari mana?" heran Arum sembari menatap sang suami yang masih tersenyum nakal pada dirinya.
"Aku nemuin ini tadi di lantai, bukanya kamu sengaja nyiapin ini buat malam pertama kita?"
Arum buru-buru mengambil benda itu dari tangan sang suami kemudian kembali menghenyak di sisi ranjang.
"Bukan, Mas. Sebenarnya ini kado dari Aline, sengaja aku sembunyikan karena aku malu buat pakai. Eh, malah kamu juga yang nemuin ini," jelas Arum yang malah membuat senyum di bibir Johan semakin mengembang.
"Itu tandanya kamu memang harus pakai lingerie itu untuk menyenangkan aku, Sayang. Menyenangkan suami itu kan ibadah juga," bujuk Johan agar sang istri bersedia mengenakan baju haram tersebut.
"Tapi aku malu, Mas. Aku nggak percaya diri pakai itu," rengek Arum berusaha menolak permintaan sang suami.
"Ayo dong, coba dulu. Pasti kamu cantik banget kalau pakai itu."
Akhirnya Arum hanya bisa pasrah, membawa lingerie itu ke dalam kamar mandi dan memakainya. Sedangkan Johan menunggu di ranjang dengan tak sabar. Pasti Arum akan tampak semakin mempesona dengan baju itu.
Lima menit kemudian, Arum keluar dengan wajah menunduk. Kedua telapak tanganya menutupi bagian da da yang berlubang di bagian ujungnya. Mata Johan tak berkedip menatap pemandangan indah yang tersaji di hadapanya.
Lelaki itu mendekat dan melepaskan kedua tangan Arum yang sedang berusaha menutupi kedua buah melon kembar miliknya.
__ADS_1
"Sempurna, kamu benar-benar sempuna, Sayang." Johan memuji kecantikan sang istri.
Tanpa basa-basi, Johan membawa tubuh sang istri ke ranjang. Menatap lekat-lekat wajah yang masih bersemu merah itu kemudian mengecup bibir ranum milik Arum yang sedari tadi menggoda imanya. Menyesap manisnya cinta yang tengah ia rasakan dan berakhir dengan saling berbagi kenikmatan hingga pagi menjelang dan Arum tertidur dalam pelukan Johan.