
Lagi-lagi Johan dan Arum dibuat tercengang dengan cerita dari Arka.
"Lalu, kenapa kamu tidak memberitahuku tentang masalah ini, Arka?" Johan menaikkan sebelah alisnya menarap wajah Arka yang begitu serius.
"Aku sengaja tidak memberitahu kalian karena aku takut kalian akan khawatir. Aku hanya tidak ingin kalian berdua terus dihantui dengan rasa takut akan kehadiran teror dari Tirta."
"Betul, lagi pula kalau sekarang Tirta sudah meninggal bukannya malah bagus. Kalian bisa hidup tenang, tidak akan ada lagi teror yang menghampiri kalian," sahut Aline dengan suara yang cukup nyaring.
"Ibu juga setuju. Arum, Johan, memang lebih baik dia mati saja. Agar kalian bisa hidup tenang." Bu Kanti ikut membenarkan ucapan sang menantu.
Arum terdiam sejenak, memikirka pendapat dari para sahabat dan juga mantan ibu mertuanya. Sepertinya ini memang jalan yang terbaik,agar Tirta tidak lagi berambisi untuk membalas dendam pada keluarga Arum.
"Ya, kalian benar. Sepertinya ini memang yang terbaik, Mas. Dengan begini dia tidak akan berusaha membalas dendam pada keluarga kita. Sedangkan aku dan kamu, kita tidak perlu lagi takut dengan bahaya teror yang mengintai Zia dan juga Zio." Johan mengangguk, menyetujui ucapan sang istri.
"Ya, kamu benar, sayang. Mungkin ini memang sudah takdir yang terbaik untuk Tirta dan juga untuk kita." Johan menatap benda yang melingkar di pergelangan tangannya, jam tangan itu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Arum, sebaiknya kita pulang sekarang. Kasihan si kembar ditinggal terus," ajak Johan pada sang istri.
Arum mengangguk, wanita itu segera pamit pada Aline dan juga Bu Kanti.
"Jangan lupa besok kalian ke sini ya, besok aku dan Arshaka pulang dari rumah sakit ini," pinta Aline yang nampak begitu bahagia.
Sebuah senyum terbit di bibir Arum dan Johan setelah mendengar jika Aline dan baby Shaka bisa segera keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Pasti, besok pagi kita bakal ke sini, dan si kembar juga akan main ke rumahnya adik Arshaka," ujar Arum diiringi sebuah senyuman yang tersungging dari bibirnya.
Arka dan Bu Kanti mengantar Arum serta Johan sampai ke depan pintu kemudian kembali masuk untuk menemani Aline.
Johan terus menggandeng tangan sang istri, sedikit rasa lega menghampiri lelaki itu. Berharap kali ini semua masalah di hidupnya telah benar-benar usai, berharap hanya kebahagiaan yang akan menghampiri mereka.
Johan mulai melajukan mobilnya, tak ada percakapan di sepanjang perjalanan sampai mobil yang dikendarai oleh lelaki itu tiba di rumah. Pasangan suami istri itu mengayun langkah kaki untuk memasuki rumah mereka. Arum langsung menuju ke kamar, mencari keberadaan Bi Marni dan kedua bayinya.
"Bi, mereka rewel nggak?" Pertanyaan yang selalu dilontarkan Arum ketika baru saja pulang dari manapun.
Bi Marni mengulas senyum, menatap majikan perempuannya, "Tidak Non, mereka anak yang baik. Tadi setelah mandi mereka minum susu dan tidur lagi."
"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan yuk, Bi." Arum sama Mas Johan udah lapar banget," ajakArum, wanita muda itu menggandeng tangan Bi Marni untuk keluar dari kamar. Arum juga ingin sekalian menyampaikan kabar meninggalnya Tirta.
Ketiganya menyantap sarapan tanpa ada perbincangan. Setelah selesai dengan ritual sarapan, mereka memilih untuk mengobrol di ruang keluarga.
"Memangnya Mas Johan sama Non Arum ada apa sih ke rumah sakit? Pasti jengukin Mbak Aline kan? Atau Mbak Aline dan bayinya sudah keluar dari rumah sakit?" ujar Bi Marni menjawab pertanyaan dari Johan sesuai apa yang ia ketahui selama ini.
"Aline memang akan keluar dari rumah sakit, Bi. Tapi itu besok, bukan hari ini." Bi Marni semakin penasaran setelah mendengar ucapan majikan perempuannya.
"Lha terus kalian berdua ngapain ke rumah sakit kalau Non Aline pulangnya masih besok?"
Johan dan Arum saling melempar pandangan sejenak,Arum menganggukkan kepalanya sebagai kode agar Johan memberitahukan semuanya kepada Bi Marni. Ia yakin Bi Marni juga akan merasa lebih tenang setelah mendengar kabar itu.
__ADS_1
"Kami ke rumah sakit karena Pak Tirta meninggal, Bi."
"Yang bener, Mas? Jadi Pak Tua itu sudah meninggal? Dia meninggal kenapa? Apa dia sakit, atau dia tidak bisa menahan rasa sakit akibat tembakan di kakinya?" Bi Marni tampak begitu antusias untuk mendengar cerita dari kedua majikannya.
"Bukan, Bi. Pak Tirta meninggal karena bunuh diri," timpal Arum.
"Masya Allah sudah tua bukannya tobat malah nyari jalan kematian yang sesat," celetuk Bi Marni seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hah, kok jalan sesat sih? Jalan sesat gimana nih maksud Bibi?" balas Arum yang merasa sedikit bingung dengan ucapan asisten rumah tangganya itu.
Bi Marni menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian menatap Arum dan Johan secara bergantian, "Ya jelas Jalan kematian yang sesat lah, Non. Bunuh diri itu kan dilarang sama agama, pasti nanti Pak Tua itu masuk neraka!"
Johan terkekeh geli mendengar penuturan dari Bi Marni, terkadang cara bicara wanita wanita paruh baya itu memang sedikit absurd.
"Tapi Pak Tirta itu bunuh diri lho, Bi. Terrnyata dia juga mengidap gangguan jiwa sama seperti Fitri," jelas Johan kemudian.
"Ya ampun. Pantas aja, Mas, dia sampai bikin teror yang mengerikan seperti itu. Mana kemarin sampai ada belatungnya lagi. Bibi nggak habis pikir, pantas sih kalau orang gila yang melakukan hal seperti itu."
"Terus menurut Bibi gimana? Lebih baik ada Pak Tirta atau tidak?" Arum sedikit menggoda asisten rumah tangganya.
"Ya jelas lebih baik nggak ada dia lah, Non. Nggak ada teror, kita bisa tidur nyenyak. Keselamatan si kembar juga tidak terancam lagi, pokoknya ini lebih baik dari sebelum-sebelumnya." Raut kebahagiaan mulai terlihat di wajah Bi Marni.
"Ya sudahlah, Bi. Kalau begitu habis ini nunggu si kembar bangun terus Bibi ikut kita cari kado buat Aline dan baby-nya ya. Besok kita ke rumahnya," pinta Arum pada Bi Marni yang langsung mengiyakan.
__ADS_1
"Iya Non, siap. Lalau gitu sekarang Bibi ke belakang dulu ya, mau beres-beres," pamit Bi Marni pada kedua majikannya. Arum mengangguk, membiarkan wanita paruh baya itu untuk berlalu dari hadapannya.
Johan merengkuh tubuh ramping sang istri ke dalam pelukannya membelai lembut puncak kepala sang istri, menikmati kebersamaan yang sudah lama tak mereka nikmati karena banyaknya permasalahan hidup. Perlahan, Johan mulai mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang istri. Namun, suara tangisan dari dalam kamar membuat kebersamaan itu harus terhenti. Arum terkekeh geli kemudian melangkah lebar menuju ke kamar, menghampiri kedua bayi kembar yang kembali terbangun untuk meminta ASI.