Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 43


__ADS_3

"Aline, Aline kamu kenapa, Sayang?" panik Arka melihat sang istri yang tiba-tiba pingsan di dalam pelukannya. Lelaki itu segera menggendong tubuh ramping sang istri menuju ke kamar dan dengan hati-hati meletakkannya di atas ranjang.


Arka berinisiatif untuk mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di sekitar hidung Aline agar wanita itu cepat sadar. Dan benar saja, beberapa menit kemudian Aline mulai membuka matanya. Wanita itu memijat kepalanya yang terasa begitu pusing, wajahnya juga kelihatan begitu pucat.


"Aline, kamu kenapa?" tanya Arka yang masih khawatir dengan kondisi sang istri.


Aline mulai bangkit dari posisinya, Arka membantu wanita itu untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Aku nggak tahu, Mas. Tiba-tiba saja kepalaku pusing banget," keluh Aline, secara refleks Arka meletakkan punggung tangannya di kening sang istri.


"Nggak panas kok tapi," ucap Arka kemudian menarik kembali tangannya.


"Mungkin aku cuma masuk angin, Mas. Atau kecapean aja."


"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu, setelah itu aku anterin kamu ke dokter buat periksa ya," ujar Arka memberi saran pada sang istri.


Aline hanya menganggukkan kepalanya samar untuk menjawab ucapan sang suami. Dengan hati-hati, Arka menggandeng tangan sang istri untuk menuju ke meja makan. Lelaki itu langsung mengambilkan nasi beserta lauk pauk, dan menyuapi sang istri. Namun, baru beberapa sendok yang masuk ke dalam mulutnya, Aline sudah mendorong piringnya menjauh.


"Sudah, Mas. Aku sudah kenyang," ucap Aline meminta Arka berhenti untuk menyuapi dirinya.


"Tapi kamu baru makan beberapa suap aja lho, kamu kan lagi sakit. Harus banyak makan," bujuk Arka agar sang istri mau kembali menerima suapannya, namun wanita itu hanya menggeleng.


Arka menyerah, meletakkan piring milik sang istri dan mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Usai dengan ritual mengisi perut, Arka megambil jaket kemudian memakaikan pada sang istri dan menuntunya menuju ke mobil yang berada di car port. Wajah lelaki itu terlihat begitu khawatir melihat kondisi sang istri.

__ADS_1


"Kamu sabar, ya. Kita ke dokter sekarang," ucap Arka kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya.


Mobil itu mulai melaju membelah jalanan malam yang lumayan sepi. Hampir setengah jam berkendara, akhirnya Arka dan Aline tiba di sebuah tempat praktek dokter umum. Lelaki itu segera membantu sang istri untuk masuk ke dalam klinik. Beruntung tak ada pasien lain yang datang sehingga mereka bisa langsung masuk ke ruangan praktek dokter tersebut.


"Selamat malam, ada keluhan apa?" sapa sang dokter paruh baya dengan ramah.


"Istri saya tiba-tiba pingsan, Dok. Katanya kepalanya pusing tapi badannya nggak panas." Arka menyampaikan keluhan yang dirasakan oleh sang istri.


Setelah memeriksa kondisi Aline, dokter tersebut memberikan sebuah tespek dan meminta Aline untuk tes urine. Wanita yang kondisinya masih lemas itu hanya menurut, melangkah gontai menuju ke kamar mandi.


Wanita muda itu masih tak menyadari apa yang tengah terjadi dengannya. Bahkan, Aline juga tak berpikir untuk melihat bagaimana hasil dari tes urinenya. Aline langsung menyerahkan begitu saja hasil tespeknya pada sang dokter, membuatya menyunggingkan semyum setelah melihat hasil yang ada pada benda mungil tersebut.


"Jadi istri saya ini sakit apa, Dok?" tanya Arka setelah sang istri kembali duduk di sampingnya dengan kepala bersandar pada bahu Arka.


"Bapak tenang saja. Dari hasil pemeriksaan barusan, Ibu Aline baik-baik saja."


"Bapak, tenang dulu. Istri Bapak tidak apa-apa, dari hasil pemeriksaan tadi. Sepertinya istri bapak sedang hamil muda, tapi untuk memastikan kebenarannya saya akan memberikan surat rujukan ke dokter kandungan."


Mata Arka dan Aline seketika melotot setelah mendengar penjelasan dari dokter paruh baya di hadapannya. Pasangan suami istri itu saling melempar pandangan kemudian saling berpelukan.


"Kamu hamil, Sayang. Akhirnya Tuhan kasih kita kepercayaan lagi."


Seketika Aline mengurai pelukan itu, matanya nanar menatap dokter di hadapannya.

__ADS_1


"Dok, apa benar saya sedang hamil?" tanya Aline seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Dari hasil pemeriksaan tespek dan pemeriksaan denyut nadi Ibu Aline. Saya bisa menyimpulkan kalau Ibu kemungkinan besar sedang mengandung." Dokter tersebut menjeda kalimatnya sejenak.


"Saya akan memberikan surat rujukan ke dokter kandungan agar ibu bisa segera mendapatkan vitamin dan juga penguat kandungan. Serta untuk memastikan bagaimana kondisi janin yang ada di dalam rahim Ibu Aline," jelas dokter tersebut panjang lebar.


Pasangan suami istri itu segera pamit setelah mendapatkan surat rujukan untuk pergi ke dokter kandungan besok pagi. Wajah Arka begitu berbinar. Lelaki itu telah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga sang istri agar kejadian pahit waktu itu tak terulang kembali.


"Sayang, besok aku ambil cuti ya. Aku antar kamu periksa kandungan," ucap Arka sembari melirik wanita di sampingnya menggunakan ekor mata.


Aline tak bergeming, wanita itu masih belum percaya jika Tuhan kembali menitipkan seorang malaikat kecil di dalam rahimnya. Aline juga tak mau terlalu berharap sebelum mendengar penuturan langsung dari dokter spesialis kandungan.


"Mas, aku minta kamu jangan terlalu berharap. Aku takut kalau ternyata hasil pemeriksaan ini salah." Suara Aline terdrngar serak karena wanita itu tengah menahan agar air matanya tak tumpah.


Tangan Arka terulur membelai rambut panjang sang istri. Tentu saja lelaki itu cukup paham kalau Aline masih trauma dengan yang namanya kehilangan.


"Kok ngomongnya begitu sih, kita berdoa saja ya, Sayang. Semoga hasil pemeriksaan besok kamu benar-benar hamil," ucap Arka mencoba meyakinkan sang istri.


Arka kembali fokus pada jalanan di depannya, mengemudikan mobil hitam itu sampai tiba di tempat tinggal mereka. Arka buru-buru turun dari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah. Lelaki itu berniat menuntun sang istri menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Namun, Aline menolak dan malah melangkah lebar meninggalkan Arka.


Lelaki itu tak menyerah, mengekori sang istri yang sudah masuk ke dalam kamar.


"Kamu lapar nggak? Biar aku buatin makanan, atau kamu mau aku beli'in sesuatu?" tawar Arka pada sang istri yang langsung memutar tubuhnya memunggungi sang suami. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Aku mau tidur, Mas. Jangan berlebihan, belum tentu aku hamil beneran. Nanti kamu kecewa," ketus Aline yang diam-diam sudah meneteskan air mata yang membasahi wajahnya di balik selimut.


Arka menyerah, tak lagi mengajak sang istri berbicara. Sepertinya menunggu hasil pemeriksaan esok hari adalah yang terbaik. Aline benar-benar masih takut akan kecewa lagi karena kehilangan. Lelaki itu ikut merebah di samping sang istri dan mulai memejamkan mata.


__ADS_2