Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 73


__ADS_3

Johan berpikir sejenak sembari mengelus dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Bagaimana kalau kita laporkan saja dia ke polisi? Dia ini tidak gila kan," ucap Johan setelah mendapatkan ide untuk memberikan pelajaran pada Tirta.


"Kamu benar, Mas. Lebih baik kita segera laporkan dia ke polisi karena kalau tidak, aku takut ia akan melakukan hal yang lebih nekat lagi. Apalagi dia memiliki dendam kepada kita," balas Arum yang menyetujui usulan sang suami.


Sedangkan Arkamasih diam, lelaki itu memandang lekat-lekat ke arah Tirta yang juga diam membisu, "Aku tidak yakin kalau dia akan dipenjara."


Ucapan Arka membuat mata Arum dan Johan membola, tak mengerti dengan pikiran lelaki itu.


"Apa maksud kamu dengan tidak mungkin, Arka?" tanya Johan pada sang sahabat.


Lelaki itu terus memandangi setiap gerak-gerik dari Tirta, sepertinya Arka punya penilaian lain kepada lelaki paruh baya yang sedang duduk di kursi dengan kedua tangan terikat, "Aku lihat, orang ini pun sama seperti Fitri. Aku yakin, meskipun kelihatannya dia baik-baik saja tapi sebenarnya jiwanya juga sakit. Sama seperti putrinya."


"Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu, Mas?" Arum tak mengerti dengan maksud Arka, lelaki itu mendadak berubah menjadi seorang detektif yang bisa menganalisa setiap gerak-gerik dari lawanya.


Arka menghembuskan nafasnya kasar, "Kalian tahu bukan, teror yang ia lakukan kepada kalian tidak main-main. Mulai dari bangkai tikus, darah dan semuanya. Bahkan, dia sampai rela menaburkan belatung. Hanya orang tidak waras yang bisa melakukan hal yang menjijikan seperti itu.


Johan dan Arum berpikir ulang, haruskah mereka benar-benar melaporkan Tirta ke polisi. Namun, di tengah kebingungan itu, Arka memberikan sebuah alternatif untuk keduanya.


"Tapi tidak apa-apa, toh nanti polisi juga akan melakukan penyelidikan dan akan ketahuan dia ini sakit jiwa atau tidak. Kalau dia memang sakit jiwa pasti akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tapi, kalau tidak ya dia bisa menjalani hukuman di penjara. Tidak masalah, kalian lapor saja sama polisi."


"Kamu benar Arka. Sebentar, biar aku telepon polisi." Johan menepi sejenak di kamar, menelepon seseorang untuk segera datang ke rumah mereka.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, terdengar sirine mobil polisi yang masuk ke pekarangan rumah Arum. Beberapa orang polisi keluar dan langsung masuk ke dalam rumah yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Johan memang menunggu kedatangan polisi-polisi itu untuk menangkap Tirta.


"Selamat malam, Pak Johan," sapa salah seorang polisi berbadan tegap.


"Selamat malam, Pak. Ini pelaku teror yang sudah meresahkan keluarga saya beberapa waktu ini. Dan beliau sendiri juga sudah mengakui kalau memang beliau ini memiliki dendam terhadap keluarga saya, karena menganggap kami adalah penyebab putrinya melakukan bunuh diri di rumah sakit." Johan mulai menceritakan awal mula kejadian yang menimpa keluarganya.


"Baik, Pak. Untuk sementara kami akan membawa pelaku ke kantor polisi untuk dilakukan penyelidikan. Selanjutnya kami akan memberikan kabar kepada Bapak," ujar salah seirang polisi.


"Baik, Pak. Silakan."


Polisi-polisi tersebut segera membawa Tirta untuk masuk ke dalam mobil polisi. Namun di luar dugaan, tiba-tiba tenaga Tirta seolah bertambah dua kali lipat. Lelaki itu memberontak kemudian lari dengan secepat kilat karena tak ingin dimasukkan ke penjara.


Satu suara tembakan terdengar bersamaan dengan robohnya tubuh Tirta ke tanah. Sebuah timah panas bersarang di betis lelaki paruh baya itu.


Johan merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukan dan menuntunnya untuk segera masuk ke dalam rumah, menghampiri Bi Marni yang masih setia menjaga kedua bayi kembar mereka. Sementara Arka Masih berdiri di luar, memastikan para polisi polisi itu berhasil untuk meringkus Tirta dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Pak Arka, karena tersangka mengalami luka jadi kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit Harapan Jaya. Kalau keluarga Pak Johan ingin bertemu dengan tersangka bisa datang ke rumah sakit tersebu.


"Apa Bapak yakin kalau si tua bangka itu tidak akan kabur?" tanya Arka yang masih menyimpan kekhawatiran, ia bisa membaca jika Tirta adalah orang yang licik.


"Kami pastikan, kami akan melakukan penjagaan ketat di depan pintu ruang rawat pasien. Jadi Bapak tidak perlu khawatir kalau tersangka akan kembali kabur," ujar polisi tersebut berusaha menenangkan Arka.


"Baiklah, Pak. Mungkin besok saya akan datang ke sana bersama Johan dan Arum."

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kami permisi. Selamat malam," pamit polisi setelah berhasil meredakan rasa khawatir lelaki di hadapnnya.


"Silakan, Pak." Arka segera masuk setelah mobil polisi keluar dari gerbang.


"Arum, Johan. Sekarang istirahatlah, Tirta sudah dibawa ke rumah sakit Harapan Jaya. Kalian bisa ke sana jika ingin bertemu dengannya. Aku harus pulang, tiba-tiba aku rindu sekali dengan Aline dan perut buncitnya itu," pamit Arka pada kedua sahabatnya.


"Terima kasih untuk semuanya, Arka. Sekarang pulanglah, aku yakin istrimu juga sudah menunggu dengan perasaan khawatir," ucap Johan, Arka mengangguk kemudian berlalu keluar dari rumah itu.


Johan beranjak untuk mengunci pintu rumahnya, kemudian mengajak Arum masuk ke dalam kamar. Saat membuka pintu kamar, nampak pemandangan di mana Bi Marni sedang duduk sembari memandangi wajah baby Zio dan baby Zia yang tengah terlelap di dalam box bayi. Arum mendekat dan memegang lembut kedua bahu wanita paruh baya itu.


Bi, kok ngelamun sih?" tanya Arum pada Bi Marni, wanita paruh baya itu menatap wajah Arum dengan sebuah senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Bibi lega, Non. Akhirnya si peneror itu tertangkap juga, jadi baby Zio dan baby Zia sekarang aman. Semoga ini teror yang terakhir ya, Non," Bi Marni berucap dengan bibir bergetar.


"Kami juga berharap begitu, sekarang Bibi istirahat ya. Biar Arum dan Mas Johan yang temani mereka tidur," titah wanita muda itu pada asisten rumah tangganya.


"Baik Non, kalau gitu Bibi juga tidur dulu ya." Bi Marni segera beranjak meninggalkan kamar Arum setelah menyelesaikan kalimatnya.


Sementara itu, Arka tengah menyetir mobilnya yang sudah hampir sampai di rumah. Bersamaan dengan mobil Arka yang hendak memasuki gerbang, sebuah mobil ambulans tampal keluar dari gerbang rumahnya. Menyisakan beberapa orang yang berdiri di depan pintu rumah Arka, membuat lelaki itu mengerutkan keningnya karena penasaran dengan apa yang telah terjadi pada keluarganya.


"Kok ada ambulance, terus rumah juga rame. Ada apa ini?" gumam Arka yang segera membelokkan mobilnya untuk memasuki pekarangan rumah.


Beberapa orang tetangga langsung menyambut kedatangan Arka yang baru saja turun dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ada apa ini, Pak? Kenapa ramai sekali dan tadi saya lihat ada mobil ambulance yang keluar dari sini?"


__ADS_2