
Hari demi hari telah berganti, tanpa terasa pernikahan Johan dan Arum sudah memasuki usia satu bulan. Pagi ini Arum tengah menyiapkan sarapan untuk sang suami bersama Bi Marni. Entah mengapa, wanita muda itu merasakan lelah yang sangat luar biasa. Bahkan wajahnya masih terlihat pucat meski sudah dipoles dengan make up natural.
"Non, Non Arum sakit ya? Kok wajahnya kelihatan pucat sekali?" tanya Bi Marni yang khawatir pada kondisi majikan perempuannya.
"Iya, Bi. Saya lagi nggak enak badan, mungkin masuk angin," jawab Arum sembari memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kalau begitu Non istirahat saja, biar Bibi saja yang siapkan semuanya. Atau Non mau sarapan duluan?" Bi Marni menuntun tubuh ringkih itu untuk menghenyak di salah satu kursi, Arum menurut dan memilih untuk menyantap sarapan paginya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, Johan mulai terlihat menuruni anak tangga dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya. Lelaki itu langsung mengecup kening sang istri seperti biasanya, namun kali ini terasa panas hingga membuat pria tampan itu mengerutkan dahinya.
"Sayang, kok badan kamu panas banget. Kamu sakit?" tanya Johan yang khawatir setelah merasakan hawa panas di badan sang istri serta melihat wajah pucat itu.
Arum hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai sebuah jawaban. Tiba-tiba wanita muda itu merasakan mual yang luar biasa kala mencium aroma parfum sang suami, padahal biasanya ia sangat menyukai aroma itu.
"Mas, kamu hari ini pakai parfum apa sih? Kok baunya nggak enak banget, aku cium baunya sampai pusing," protes Arum yang sudah menutup ujung hidungnya.
Mulut Johan menganga kala mendengar protes dari sang istri. Kenapa tiba-tiba Arum menbenci aroma tubuhnya. Padahal yang ia pakai saat ini adalah parfum favorite Arum. Bahkan, wanita itu sendiri yang membelinya untuk sang suami.
"Sayang, ini kan parfum yang kamu beli buat aku. Kok tiba-tiba kamu bilang bau sih?" ucap Johan menghembuskan napasnya kesal.
"Jangan-jangan Non Arum lagi ngidam ini," celetuk Bi Marni yang baru saja muncul dari arah dapur.
Johan dan Arum saling pandang dengan senyum mengembang setelah mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
"Ma- maksud Bibi, Arum sedang hamil?" Johan kembali memastikan ucapan Bi Marni barusan
__ADS_1
"Kalau dilihat dari gejalanya sih begitu, coba aja di test dulu, Non," ujar Bi Marni mencoba memberikan solusi untuk kedua majikanya.
"Tapi Arum nggak punya tespek, Bi. Bisa tolong Bibi beli'in nggak?" pinta Arum yang langsung diangguki oleh wanita paruh baya itu.
"Ya sudah, biar Bibi belikan. Mas Johan tolong temani Non Arum ya, kasihan kelihatan pucat dan lemas begitu."
"Iya, Bi. Saya nggak jadi ke kantor hari ini."
Bi Marni segera berangkat ke apotek dengan naik ojek, sementara utu Johan yang hendak memapah sang istri untuk menuju ke kamar menghentikan langkah karena Arum terlebih dahulu meletakkan lima jarinya ke depan sebagai kode agar sang suami tak mendekat.
"Kenapa, Sayang? Aku mau bantuin kamu ke kamar lho biar bisa istirahat," tanya Johan dengan wajah bingung.
Arum menyeka keringat dingin yang menetes di dahinya. Badannya benar-benar terasa lemah.
"Kamu mandi terus ganti baju dulu, Mas. Aku nggak mau cium aroma parfum kamu yang bau banget itu," rengek Arum yang masih memegangi ujung hidungnya.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali menemui sang istri tanpa memakai parfum ataupun deodorant.
"Gimana, Sayang? Masih bau nggak sekarang?" Arum langsung mengendus-endus tubuh sang suami seperti seekor kucing yang mencari bau sesuatu.
"Nah ini baru harum, kalau begini aku suka. Yuk, bantuin aku ke kamar sekarang," ucap Arum dengan senyum tipis yang menghiasi bibir pucatnya itu.
Johan tak mengizinkan Arum untuk berjalan, lelaki itu memilih untuk menggendong sang istri sampai ke kamar. Bahkan, jika Arum benar-benar hamil nanti. Lelaki itu juga sudah berencana untuk memindahkan kamar mereka berdua ke lantai bawah.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Bi Marni akhirnya kembali dan langsung masuk ke dalam kamar majikanya.
__ADS_1
"Ini, Non tespeknya. Sekarang Non cek dulu ya beneran hamil apa tidak. Semoga saja beneran akan segera ada bayi di rumah ini," ujar Bi Marni dengan penuh harap sembari mengulurkan kantong kresek kecil berisi tiga buah tespek pada wanita muda itu.
"Lho, Bi. Kok banyak sekali ini?" tanya Arum dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Iya, Non. Biar akurat hasilnya, sudah sekarang Non tes dulu sana."
Arum melangkah pelan menuju ke kamar mandi, meninggalkan Johan dan Bi Marni yang sibuk mondar-mandir di depan pintu kamar mandi karena penasaran dengan hasil tes yang dilakukan oleh Arum.
Hampir sepuluh menit Arum berada di dalam kamar mandi, wanita itu akhirnya keluar dengan wajah murung yang membuat suami dan ARTnya semakin merasa penasaran.
"Sayang, gimana hasilnya? Positif atau negatif? Hamil nggak kamu?" Johan memberondong sang istri dengan pertanyaan beruntun. Namun, Arum tak bergeming. Wanita itu masih terus menundukan kepalanya.
Bi Marni yang takut kalau Arum tengah merasa kecewa karena hasil tesnya negatif, berinisiatif untuk mendekati wanita muda itu dan merengkuh tubuh lemasnya ke dalam pelukan. Membelai lembut rambut panjang milik majikan yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Non, hasilnya gimana? Kalau hasilnya negatif juga tidak apa-apa. Semoga Allah segera merubah garis satu menjadi garis dua merah," bisik lembut Bi marni yang masih memeluk erat tubuh Arum.
Johan ikut mendekat dan membelai puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Apapun hasilnya nanti, Johan percaya jika Allah akan memberikan keturunan untuk melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka.
"Ayo katakan, Sayang. Jangan bikin aku dan Bi Marni mati penasaran, kalau memang hasilnya negatif juga nggak apa-apa. Itu tandanya Allah mau kita pacaran dulu." Lelaki itu ikut memberikan semangat pada sang istri.
Arum mulai mengurai pelukan Bi Marni, matanya menatap kedua orang di hadapannya secara bergantian. Tiba-tiba air mata membasahi pipi mulus wanita itu, Arum tak tahu harus memulai dari mana.
Bi Marni dan Johan hanya bisa menunggu kata-kata yang akan dilontarkan oleh wanita muda itu. Namun, Arum masih tak bergeming. Bukannya bicara, wanita itu malah kian terisak. Karena tak tahu bagaimana harus mengatakannya, Arum lebih memilih untuk menterahkan ketiga tespec di tanganya pada Bi Marni.
Wanita paruh baya itu memandangi satu-persatu benda mungil di tangannya kemudian beralih menatap ke arah Johan.
__ADS_1
"Jadi gimana hasilnya, Bi? Positif apa negatif?"