Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 9 - Hari Ini


__ADS_3

(POV Yoshino Akemi)


Pada akhirnya, kutagih janji itu hari ini. Aku tak mau terlalu lama menunggu, karena yakin si bodoh Erza itu tidak akan pernah sadar. Maka, kukirimlah selembar surat ke loker sepatunya, dan meminta dia untuk datang ke ruang kelas f yang kosong pada pukul lima sore sendirian.


Untuk jaga-jaga, aku datang jam empat. Aku mengambil napas yang banyak, melakukan peregangan, menggunakan waktu selama mungkin untuk menenangkan diri. Di depan Erza, aku selalu gugup, tapi aku selalu berhasil menyembunyikannya.


Sudah kupastikan ruangan ini akan kosong pada pukul lima sore. Para murid sudah pulang, dan tidak ada satu pun anak kelasku yang berkegiatan ekstrakurikuler hari ini.


Aku tidak ingin ada orang yang tahu pertemuan yang sudah aku rencanakan sore ini. Aku pasti akan terlihat berbeda nanti, dan yang melihat mungkin akan menertawakanku.


"Haah...." Aku menghela napas lagi.


Satu jam kemudian, pukul lima lebih lima menit, Erza pun datang. Sendirian. Seperti yang sudah kuminta di surat.


"Kau telat, Erza." Aku bangkit dari tempat duduk.


"Ahaha, maaf Akemi, tadi ada urusan sebentar."


"Ya, tidak apa-apa."


Gugup.


"Jadi ada apa kau memanggilku ke sini? Aneh sekali tiba-tiba dipanggil olehmu. Kau mau menyatakan cinta padaku, ya? Ahahaha, mana mungkin sih."


Tebakan dia hampir benar.


"Erza, bahasa Jepangmu lancar sekali. Dulu kau pernah sekolah di Jepang, ya?" Aku coba menggali ingatannya.


"Oh, ya, aku pernah masuk SD di Osaka. Tapi cuma satu bulan."


"Apa saat itu bahasa Jepangmu sudah lancar?"


"Sudah."


"Kenapa bisa? Kau orang Indonesia asli, kan? Kenapa kau bisa berbicara bahasa Jepang sejak kecil?"


Erza tersenyum. "Ah, itu karena aku lahir dan tumbuh di negara ini. Kedua orang tuaku orang Indonesia asli, tapi mereka berdua tinggal dan bekerja di Jepang selama lima tahun. Kami kembali ke Indonesia tepat di saat aku akan masuk SD. Saat itu, aku kesulitan ngomong bahasa Indo, loh. Aku sampai disangka orang asing, hahaha."


"Oh, begitu." Aku mengangguk.


"Jadi, ada apa sebenarnya Akemi? Apa yang ingin kau sampaikan padaku? Aku penasaran!"


Aku berbalik badan, memunggungi Erza.


"Erza, kau ingat pada murid gadis bodoh dan pendiam yang kau temui saat SD? Yang orang bilang suaranya akan menyakiti telinga orang lain?"


"Eh? Sebentar aku ingat-ingat...."


"Gadis yang dirasuki iblis."


Erza tiba-tiba terdiam.


Kutunggu beberapa detik, tetap tidak bersuara.


Saat aku menoleh, matanya terbelalak.


"Ja-jangan-jangan... gadis itu kau, Akemi?"


Aku tersenyum.


"Ya, aku Yoshino Alkemi."


Dia menampar wajahnya sendiri, lalu berjalan menghampiriku dengan raut wajah kegirangan.


"Astaga, ternyata kau, astaga! Ini terlalu tidak nyata, maaf ya, astaga!!! Benar kau gadis itu?!"


Aku menahan tawa melihat betapa kaget dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa lupa padaku, Erza? Padahal aku mengingatmu, loh."


"Bagaimana mungkin aku bisa ingat! Dulu rambutmu pendek, dan kau tidak mengenakan syal berwarna merah. Astaga... astaga...."


Aku tertawa kecil. "Tapi namaku Yoshino Akemi, loh. Aku juga pernah bilang bahwa aku orang Osaka. Masa tidak ingat, sih?"


"Aku ingat gadis pendiam itu, tapi aku lupa namanya, dan sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata kau."


Aku berdecak, memukul-mukul pundaknya dengan pelan sambil menahan senyum.


"Jahat, jahat, jahat! Padahal selama ini aku selalu mengingatmu! Setiap hari, dari hari itu, sampai hari ini. Aku tak pernah melupakanmu satu hari pun. Jahat sekali kau melupakan gadis cantik sepertiku!"


"Ahahaha, maaf-maaf, aku benar-benar lupa."


Aku berhenti memukulinya, dan berganti menatapnya.


"Kalau begitu, kau ingat dengan perjanjian kita dulu?"


Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia ingat.


Tidak ada harapan.


"Cih." Aku memalingkan pandangan.


"Maaf, aku lupa! Katakan apa janji kita saat itu!"


Aku menatapnya cemberut.


"Ja-jangan begitu dong, Akemi. Aku jadi tidak enak, nih. Cepat katakan apa janjinya?"


"Kau yakin akan menepati perjanjian kita dulu?"


"Kalau sanggup, aku akan menepatinya."


"Kalau sanggup, ya... Kalau tidak sanggup bagaimana?" Aku menatapnya serius.


"Katakan saja dulu, jangan buat aku penasaran, Akemi."


"Bukan sesuatu yang serius, kok."


"Iya, apa? Cepat katakan!"


Karena Erza terlihat begitu penasaran, aku pun memberitahunya.


"Dulu aku pernah bilang padamu, jika aku mendapat rangking satu di kelas. Kau akan menggendongku sepuluh keliling di lapangan. Kau ingat?"


Wajah Erza mendadak pucat. Dia langsung memalingkan pandangannya.


"Aku... tidak ingat...."


"Haa!! Kau pasti ingat!! Reaksi wajahmu kelihatan!!"


"Tidak! Aku tidak ingat!!"


Aku lalu mengambil buku rapor SD dan SMP-ku, dan menunjukkannya pada Erza.


"Lihat, dari kelas lima sampai kelas sembilan, aku terus menerus mendapat rangking 1! Aku sudah lima kali mendapat rangking 1, itu berarti kau harus menggendongku di lapangan sebanyak 50 keliling!"


Wajah Erza semakin memucat. "Kau ingin membunuhku, Akemi?"


"Eh??? Kau mendapat kehormatan untuk menggendong murid terpintar di SMA Subarashii, loh. Ayo, sepuluh keliling saja. Di sini."


Erza lalu jongkok memunggungiku, danĀ  mengerahkan tangannya ke belakang.


"Di sini saja, ya? Jangan di lapangan. Aku malu."


"Ya, tidak apa-apa."

__ADS_1


Aku lalu menempelkan tubuhku ke punggung Erza, dan dia mulai berdiri mengangkatku.


"Berat."


"Oi!"


"Ahaha, bercanda Akemi. Kau ringan, kok."


"Huu!!! Ayo jalan!!!"


"Iya...."


Rasanya memalukan bermanja-manja pada Erza seperti ini. Ini seharusnya dilakukan saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Kalau sudah sebesar ini, rasanya sedikit aneh.


"Satu keliling... empat puluh sembilan keliling lagi!!!"


"Oi! Katanya cuma sepuluh keliling!"


"Ternyata enak digendong olehmu, jadi lima puluh keliling aja, ya."


"Akemi...."


Kerja kerasku selama ini akhirnya terbayarkan. Aku berhasil mendapat hadiah istimewa dari orang yang kukagumi. Erza. Pahlawanku saat kecil.


Aku tidak ingin momen ini cepat berakhir.


"Tujuh belas...."


"Oi! Harusnya delapan belas! Kenapa tujuh belasnya dua kali?!"


"Tujuh belas kan tanggal kemerdekaan negaramu, jadi harus dua kali."


"Akemi... kau ini benar-benar sadis."


Di putaran ke tiga puluh empat, seseorang membuka pintu kelas.


Yang masuk ternyata Lev.


"E-eh... apa aku mengganggu?" Lev hendak keluar lagi saat melihat kami berdua.


Erza langsung menurunkanku.


"Lev, tolong aku! Akemi memaksaku untuk menggendongnya lima puluh keliling! Dia ingin membunuhku!"


"Hee...." Lev berganti menatap ke arahku, aku langsung memberinya simbol peace.


Erza ngos-ngosan.


"Mau juga, dong. Setelah gendong Akemi, gendong aku, ya." Lev menepuk pundak Erza.


"Ka-kau juga ingin membunuhku?!"


"Aku tunggu, ya." Lev lalu duduk di kursinya, mengambil barang yang sepertinya ketinggalan.


Aku menepuk bahu Erza.


"Erza, ayo... dua puluh keliling lagi."


"Bu-bukannya delapan belas?!"


"Tidak, dua puluh lagi."


"Iya, iya, ayo naik ke punggungku!"


"Asik!!!"


Sebenarnya masih ada satu janji lagi yang kami buat saat kecil. Tapi aku tidak mau menagihnya sekarang.

__ADS_1


Hari ini aku sudah terlalu bersenang-senang.


Akan kutagih satu janjinya lagi suatu saat nanti.


__ADS_2