Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 53 - Kunjungan Keluarga


__ADS_3

(POV Erza Junisar)


Pagi ini, Akemi terlihat bersemangat sekali. Setelah di grup chat aku bilang butuh seseorang untuk menemaniku keliling sekolah bersama adik perempuanku, dialah yang paling pertama menjawab. Yurina bilang juga ingin ikut, tapi tidak bisa karena sedang terserang demam musim panas.


Akemi sudah berpenampilan rapi dan tampil sederhana dengan citra dewasa. Dia menunggu di depan gerbang kosan sembari menenteng sebuah tas serut yang entah apa isinya.


"Akemi... bukankah kau bilang hari ini mau pulang kampung ke Osaka bersama Lullin?" tanyaku.


"Aku undur jadi besok."


"Kenapa?"


"Lullin katanya sakit perut."


Aku tidak bisa mempercayai perkataannya, tapi dia mengatakan hal itu dengan wajah percaya diri. Aku anggap dia jujur saja deh.


Tak seberapa lama, muncullah adikku dari balik pintu. Adik perempuan yang terpaut dua tahun dariku. Dia baru pertama kali datang ke Jepang. Sebelum-sebelumnya tidak pernah karena selalu sakit di saat kami berangkat ke negara ini. Dia bilang ingin berkeliling SMA Subarashii.


"Ohayou...." Dia menyapa Akemi.


Berbeda denganku atau ayah dan ibuku, adik perempuanku ini, Femi, sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang. Hanya kalimat sapaan itu saja yang dia tahu.


"Selamat pagi." Akemi menyapa dengan bahasa Indonesia.


"Kakak bisa bahasa Indonesia?!" Femi terkaget.


"Alah... paling selamat pagi doang." Aku menimpali.


"Jahat sekali... aku bisa kok bahasa Indonesia." Akemi cemberut, lagi-lagi membalas dengan bahasa negaraku. Dia lalu kembali menatap Femi. "Namaku Akemi, teman sekelas kakakmu yang payah ini. Namamu siapa?"


"Aku Femi!"


Mereka berdua bersalaman.


Femi ini orangnya memang aktif dan cukup banyak bicara. Aku tak menyangka Akemi yang pendiam bisa menyesuaikan diri dengannya.


"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang." Aku mengajak.


Akemi melihat jauh ke belakangku dan Femi.


"Ayah dan ibumu tidak ada? Aku ingin menyapa mereka sebentar."


"Mereka sudah pergi pagi-pagi sekali."


"Be-begitu ya...." Akemi tampak cemberut. "Ya sudah, nanti pulangnya saja."


Saat bicara denganku, Akemi menggunakan bahasa Jepang, tapi saat dengan Femi menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin dia tidak ingin Femi tahu apa yang kami berdua bicarakan.


Tak seberapa lama, kami berjalan sebentar dari kos-kosan menuju halte. Perlu menaiki bis dari sini untuk sampai di SMA Subarashii.


Di dalam bis, aku duduk sendirian sementara Akemi duduk bersama Femi. Entah mengapa keduanya bisa cepat akrab meski baru pertama bertemu. Mungkin sifat Femi yang ceria dan Akemi yang adaptip cocok satu sama lain.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di dalam bis, kami pun sampai di depan gerbang SMA Subarashii.


Femi tampak terpukau. Mulutnya menganga. Aku bisa memaklumi sih. Aku yang sudah satu semester bersekolah di sini saja masih merasa seperti bermimpi setiap kali melewati pintu gerbangnya. SMA Subarashii yang selalu aku kagumi di internet benar-benar menjadi sekolahku.


"Megah sekali! Lebih bagus dari yang aku lihat di iklan!" Femi mengedarkan pandangan ke seluruh bangunan dan tamannya yang serba hijau.


"Itulah istimewanya SMA Subarashii. Biasanya profil sekolah di iklan lebih bagus daripada aslinya, tapi SMA Subarashii sebaliknya. Kenyataannya lebih bagus daripada iklan." Akemi menjelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Kami lalu berjalan memasuki gerbang. Meski sekarang sedang liburan musim panas, tapi sekolah masih tetap ramai oleh banyaknya murid yang datang. Mereka disibukkan oleh kegiatan klub masing-masing. Baik di lapangan atau dalam ruangan, para murid terlihat aktif di sekolah ini. Aku jadi iri pada semangat yang mereka tunjukkan, dan jadi ingin masuk salah satu klub di sekolah ini dan membuat kenangan. Namun, tidak semua klub ramah dan bisa menyambutku seperti klub volinya Roman, klub basketnya Gen, klub memasaknya Ota, atau klub merajutnya Nana.


Aku harus membersihkan nama kelas F dulu agar bisa diterima di klub yang aku mau.


Selama di SMA Subarashii, kami berkeliling ke berbagai tempat. Pertama-tama dalam ruangan dulu. Kami berkeliling gedung sekolah mengunjungi kelas-kelas, laboratorium, ruang musik, serta ruang seni. Kami mengintip kegiatan klub mereka.


"Kak Akemi, apa aku boleh masuk?" Femi menatap ke arahnya.


"Boleh."


"Heh, Akemi, memangnya boleh? Kita ini murid kelas F, loh."


"Tenang, aku kenal ketua klubnya."


"Kenal dari mana?"


"Dia pernah mengajakku berpacaran, tapi aku menolaknya."


"Bu-bukannya itu malah akan jadi lebih sulit?!"


"Tenang saja, dia orang yang baik, kok."


Akemi pun masuk duluan, dan bicara pada seorang senior perempuan.


Akemi lalu kembali.


"Katanya boleh, kok. Asal jangan berisik."


"Yang tadi itu ketuanya?"


"Iya. Yuri-senpai. Kelas 2-C."


"Dia yang mengajakmu berpacaran?"


"Iya."


"E-eh...."


Kami bertiga lalu masuk. Adikku tampak antusias. SMP-nya di Indonesia memang tergolong biasa saja, tidak ada ruang seni mewah seperti ini. Dia tidak hentinya dibuat takjub oleh segala ruang dan fasilitas mewah di sekolah ini. Aku tidak heran, sih.


"Kak, gambar mereka bagus-bagus banget," bisik Femi.


"Iya...."


Seorang lelaki lalu berjalan ke arah kami.


"Erza, adikmu sedang melihat-lihat, ya?"


"I-iya... maaf, tapi apa kau mengenalku?"


"Tentu saja, kau murid kelas kutukan itu, kan? Aku fans berat kalian. Namaku Kaito, dari Kelas 1-C." Dia mengajakku bersalaman.


"A-aku Erza. Salam kenal."


Tak kusangka ada yang seperti ini.


"Aku sebenarnya ingin bicara dengan kalian, tapi rasanya agak canggung jika tiba-tiba sok akrab seperti itu. Jadi ini momen yang pas bagiku untuk menyapa kalian." Dia tersenyum.


"Te-terima kasih, Kaito."


"Bilang pada adikmu, apa dia mau aku gambar? Tidak akan lama, kok."


"Ah, ya, boleh."

__ADS_1


Aku lalu bicara pada Femi, dan dia mengangguk dengan antusias. Femi duduk sebagai model, dan Kaito mulai melukisnya dengan kuas.


Sementara melihat Femi digambar, aku bicara pada Akemi yang nganggur. Menanyakan rasa penasaranku padanya.


"Akemi... kenapa bahasa Indonesiamu lancar sekali? Sejak kapan kau belajar?"


Satu semester satu sekolah dengannya, baru hari ini aku mendengar Akemi bicara bahasa Indonesia.


"Dari kelas satu SMP."


"Ha-hah? Sudah selama itu?! Untuk apa kau belajar bahasa Indonesia?"


"Jaga-jaga jika aku punya pasangan orang Indonesia dan tinggal di sana, jadi aku tidak perlu belajar bahasa mereka lagi."


"Hee...."


"Erza tolong jangan kegeeran. Orang Indonesia di sekolah ini bukan cuma kau saja. Ada Udin dan juga Denji Manusia Ikan yang masuk rangking sepuluh besar kemarin."


"Oh... jadi mereka berdua, ya. Ya, wajar sih, keduanya memang anak yang pintar."


"Murid Indonesia di sekolah ini ada 4 orang, semuanya masuk rangking sepuluh besar, cuma kau saja yang tidak, dasar payah."


"Be-benarkah? Satu orang lagi siapa?"


"Mince, siswi dari Kelas 1-B. Aku sering bicara bahasa Indonesia dengannya. Dia yang membantuku melancarkan bahasa Indonesiaku."


"Hee... begitu, ya. Jadi, yang kau sukai itu siapa? Udin atau Denji Manusia Ikan? Kalau Udin, aku kebetulan satu kos dengannya, nanti aku bilang."


"Cih." Akemi memalingkan pandangan.


"Ke-kenapa?!"


"Tidak apa-apa."


Sungguh, wanita sulit untuk dimengerti.


Tak lama, gambar Femi pun jadi. Hasilnya lebih bagus dari dugaanku. Seperti yang diharapkan dari anak klub seni.


"Ini ambil sebagai hadiah," ucapnya pada Femi.


Femi langsung menoleh ke arah kami.


"Dia bilang itu hadiah untukmu." Akemi menyahut.


"Arigatou!" Femi menundukkan kepalanya setelah mendapat lukisan tersebut.


Kami lalu keluar dari ruang seni tersebut. Akemi pamitan pada senior perempuannya. Pikiranku menjadi liar setiap kali melihat mereka.


Femi terlihat senang dengan gambar tersebut, melihatnya berulang-ulang sembari berjalan ke tujuan berikutnya, yaitu kelas kami. Sengaja dikunjungi paling akhir.


Di perjalanan, kami berpapasan dengan Lev.


Dia menyapa duluan.


"Wah, Erza, Akemi, kalian sedang ngedate, ya?"


"Bo-bodoh, mana mungkin."


Akemi tidak menjawab.


Lev berganti menatap Femi. Femi tampak terpukau saat menatapnya.


"Gadis ini siapa?"


"Dia adikku, Femi."


Femi mematung. Wajahnya memerah. Dia yang banyak bicara tiba-tiba kehabisan kata-kata.


"Hei, Femi, balas dong sapaannya." Aku menyenggol bahunya.


"Fe-Femi-desu! Yoroshiku onegaishimasu!" Femi menundukkan kepalanya.


"Lah, bisa bahasa Jepang?"


"Bisa, dikit!"


"Oh...."


Aku lupa Femi sudah belajar bahasa Jepang sebelum datang ke sini. Itu gara-gara Akemi terus menerus mengajaknya bicara bahasa Indonesia.


"Sedang apa kau di sini, Lev?" tanya Akemi.


"Tadi ada senior yang minta bantuanku."


"Bohong, pasti ada gadis yang mengajakmu ketemuan lewat WA, kan? Dia mengajakmu berpacaran, kan? Padahal tolak saja langsung, tidak usah repot-repot menemuinya."


Lev tertawa kecil, menggaruk belakang kepalanya.


"Akemi memang tahu segalanya ya, haha. Tidak apa-apa, dia sudah menyatakan perasaannya dengan berani. Aku ingin menghargai usahanya."


"Kau terlalu baik, Lev."


"Aku harus sedikit jahat, ya?"


"Iya, seperti Erza, yang tidak peka dan sering mengabaikan perasaan orang yang menyukainya. Aku jadi kasihan pada gadis itu."


"Maksudmu apa Akemi? Siapa sebenarnya gadis yang menyukaiku?"


"Tuh kan tidak peka."


"Eh...."


Lev tertawa kecil.


"Saat bersama Erza, Akemi jadi lebih banyak berekspresi, ya."


"Ti-tidak juga."


Lev hanya tersenyum.


"Ya sudah, aku pergi dulu, ya." Berganti menatap Femi. "Sampai jumpa lagi, Femi."


Begitu Lev pergi, barulah Femi bicara.


"Ta-tadi itu Kak Lev teman sekelas Kakak, kan?!"


"Iya. Ganteng, ya?"


Femi meremas kerah bajuku.


"Aku... aku ingin berfoto dengannya! Aku lupa!"


"Eh... kenapa tadi tidak bilang?"

__ADS_1


"Aku gugup!"


"Hahaha, salah sendiri, maaf Anda kurang beruntung."


Femi langsung mencubit lenganku.


Setelah itu, kami pergi keluar dan berkeliling banyak lapangan. Teriknya matahari membuat kami cepat berkeringat. Namun, berbagai lapangan dengan kualitas mentereng ini membuat Femi betah melihatnya.


"Sekolah ini gede banget, ya. Ada lapangan bola, tenis, bisbol, atletik. Semuanya lengkap. Beda banget sama SMP-ku."


"Jangan dibandingin, Femi. SMP kita cukup bagus kok, tapi levelnya cuma kabupaten, bukan internasional seperti SMA ini."


"Iya juga."


Kami lalu duduk di kursi panjang tepat di bawah pohon besar dan berteduh di sana. Akemi membelikan kami minuman dingin.


"Sekolah ini bagus banget. Aku ingin bersekolah di sini. Tapi, apa bisa, ya?"


"Murid biasa sepertimu tidak akan bisa. Kecuali kalau punya kutukan sepertiku dan Akemi. Ah, tapi kalau Akemi sih memang pintar. Tanpa kutukan pun pasti bisa sekolah di sini."


Femi cemberut. Setelah melihat betapa mewahnya sekolah ini, tentu dia jadi ingin bersekolah di sini. Sekolah ini mungkin bagai surga yang ingin digapai olehnya.


"Kamu bisa, Femi. Asalkan berusaha dengan keras. Kakak nilainya dulu kecil banget, tapi setelah berusaha mati-matian, akhirnya naik juga. Tidak ada yang mustahil, kok. Seandainya gagal pun, pasti tidak akan menyesal."


Femi berganti menatap Akemi.


"Kak Akemi kenapa bisa bicara bahasa Indonesia? Bukankah itu sulit? Apa motivasi Kakak? Aku juga ingin bisa bicara bahasa Jepang!"


"Motivasi Kakak?" Akemi menatap ke arahku sejenak, lalu kembali menatapnya. "Sebenarnya Kakak berencana bersekolah di Indonesia saat SMA, tapi gara-gara mendapat kutukan, Kakak jadi harus sekolah di sini. Gitu, deh."


"Kenapa Kak Akemi mau sekolah di Indonesia? Bukankah sekolah ini lebih bagus?"


Akemi melirikku sejenak lagi.


"Kakak ingin bersekolah di luar negeri."


"Kenapa harus Indonesia?"


"Kakak dengar orang-orang sana baik-baik dan ramah-ramah. Kakak tidak punya banyak teman di sini, jadi pengen sekolah di Indonesia."


"Oh, begitu, ya!" Femi tampak antusias.


Entah mengapa aku mencium bau kebohongan dari mulutnya. Mana mungkin alasannya seperti itu. Dia pandai sekali membuat kebohongan.


Apa dia berencana menemuiku seandainya kami tidak bertemu di sini?


Femi yang murung berhasil ceria kembali berkat Akemi. Adikku ini memang cukup mudah dibuat senang.


"Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha! Belajar bahasa Jepang dan belajar dengan sungguh-sungguh!"


"Kau serius ingin bersekolah di sini? Di Indonesia juga banyak yang bagus, kok."


"Aku ingin bertemu Kak Akemi dan Kak Lev lagi, jadi aku akan berusaha agar bisa bersekolah di sini! Aku juga ingin berterima kasih pada Kak Kaito, dan mungkin akan masuk ke klub seni!"


"Memangnya kau suka seni? Aku baru tahu."


"Tidak juga, sih, iseng saja, hahaha."


"Hadeuh."


Kami mengunjungi toko udon setelah menghabiskan waktu beberapa jam di sini. Kami makan siang bersama sebelum akhirnya kembali pulang ke kosan.


Akemi menanyakan keberadaan ibu dan ayahku, tapi mereka berdua masih belum pulang.


"Titip salam saja kalau begitu," ucapnya.


"Iya. Titip salam juga pada orang tuamu di Osaka."


"Tidak mau, kau harus datang sendiri dan menyapa ibuku. Kalau ayahku tidak usah, aku sendiri tidak tahu dia di mana."


"E-eh...."


Femi memegang tangan Akemi.


"Kak Akemi, makasih ya sudah mengantarku berkeliling."


"Iya, sama-sama, Femi."


"Makasih juga sudah mau jadi pacar Kakakku yang payah ini. Aku tidak menyangka Kak Erza punya pacar secantik Kak Akemi."


Akemi tidak membalas.


"Ka-kau ini bicara apa, Femi?! Akemi itu bukan pacarku!"


"Eh, bukan?! Aku pikir kalian pacaran. Pantas saja aneh. Rasanya tidak mungkin Kak Akemi mau sama Kakak."


Entah kenapa aku jadi merasa seperti diejek.


"Kak Akemi, tolong jaga Kak Erza, ya. Dia mungkin terlihat agak nakal, tapi dia sebenarnya sangat baik dan suka membantu orang-orang. Kalau Kak Erza nembak Kak Akemi, tolong dipertimbangkan ya, dia baik, kok, aku jamin."


Akemi tersenyum.


"Iya, Kakak mengerti."


Femi membalas senyumnya.


Akemi pun pulang.


"Kak, aku lihat Kak Akemi sepertinya suka sama Kakak. Kenapa kalian tidak pacaran saja?"


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Aku perempuan seperti Kak Akemi, dan cara dia melihat Kakak, sudah jelas dia suka sama Kakak. Dia yang semangat menemaniku berkeliling juga pertanda yang jelas. Tidak mungkin gadis yang bersemangat seperti itu tidak punya rasa apa-apa."


"Kau... ternyata sudah mengerti hal-hal seperti ini, ya."


"Tentu saja, aku sudah kelas 2 SMP!"


"Hahaha, benar juga."


"Jadi bagaimana jawaban Kakak?"


Aku menghela napas.


"Ini tidak mudah, Femi. Banyak hal yang harus Kakak pertimbangkan."


Aku selalu menimang alasan Akemi menyukaiku, apa benar dia menyukaiku atau itu hanya balas budinya saja karena aku pernah menolongnya saat kecil?


Aku juga mempertimbangkan sahabatku, Yurina. Seandainya aku berpacaran dengan Akemi, akan seperti apa reaksinya?


Juga mengenai prestasinya. Akemi itu anak yang sangat pintar dan teladan. Bagaimana jika nilainya turun setelah berpacaran denganku?


Banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Tidak cukup asal suka lantas berpacaran. Aku membutuhkan banyak waktu untuk membuat keputusan yang tepat.

__ADS_1


Aku memang pernah mengaguminya, saat pertama bertemu di kelas di hari pertama masuk sekolah.


Saat itu, aku langsung bisa menebak bahwa Akemi adalah yang sosok spesial.


__ADS_2