
Setahun sekali, SMA Subarashii biasa mengadakan pemeriksaan fisik yang cukup lengkap seperti tes mata, pendengaran, tekanan darah, tes kekuatan genggaman, kecepatan langkah kaki, dan lain-lain yang bisa menghabiskan waktu seharian penuh. Namun, di antara semua pemeriksaan itu, yang paling dinanti-nanti oleh para murid lelaki adalah tes tinggi badan, berat badan, serta pengukuran lingkar dada untuk para perempuan.
"Erza, berapa tinggimu?"
"172cm. Kau berapa Lemon?"
"Panggil aku Roman! Aku juga 172cm."
"Yang tertinggi berarti Rock, ya. Tingginya 185."
"Ya, yang kedua Lev, 177."
Shuu mendatangi Erza dan Lemon yang sedang mengobrol.
"Kalian ini membosankan sekali membicarakan tinggi badan sesama lelaki. Kalian tidak penasaran dengan hasil pemeriksaan fisik perempuan?"
"Hah? Cuma tinggi dan berat badan doang, buat apa?" Lemon tidak tertarik.
"Bodoh, bukan itu, tapi ukuran dada mereka!"
Lemon mematung seketika. "O-oh!!! Itu diukur juga, ya?!"
"Tentu saja!" Shuu berganti menatap Erza. "Kau juga penasaran kan, Erza?"
"Y-ya, lumayan."
"Bagus, di antara semua gadis, aku paling ingin tahu ukuran milik Sera, gadis dengan oppai terbesar di kelas kita. Kalau aku perkirakan, ukurannya mungkin F-Cup!"
"Wooooah!!!" Erza dan Lemon membulatkan mulut.
"Karena itu, bagaimanapun caranya, kita harus mendapatkan kertas hasil itu. Oke?"
Erza dan Lemon mengangguk.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Erza.
Shuu langsung menatap Lemon.
"Roman, kau masuk ke ruang pemeriksaan perempuan, lalu curi atau foto hasil pemeriksaannya."
Lemon terperanjak. "O-oi! Mana mungkin aku masuk ruang pemeriksaan perempuan! Aku pasti ditangkap!"
"Kau ini perempuan! Tidak mungkin kau ditangkap!"
"Fisikku memang perempuan, tapi dalamnya laki-laki!" Roman meremas dadanya sendiri. "Aku sudah dibilang tidak boleh masuk ke sana!"
"Sudahlah, tenang saja, kau sering masuk pemandian perempuan, kan?"
"Itu beda lagi! Aku tidak kenal orang-orang di sana! Kalau di sini...."
Shuu menepuk bahu Lemon.
"Demi memenuhi hasrat para lelaki jomblo di kelas 1-f... aku mohon... berjuanglah Roman." Shuu menatap serius. "Kau juga sama penasaran, kan? Berapa ukuran beha Akemi? Giana? Keiko? Emili? Kau ingin tahu, kan?"
Roman menelan ludah.
"Iya, iya, baiklah aku mengerti. Aku akan datang ke sana, dan mencuri hasil pemeriksaan fisiknya."
"Bagus!" Shuu mengacungkan jempol.
Erza menatap dada Lemon. "Punyamu ukurannya apa?"
"Mana aku tahu! Behaku dipilihin penjaga toko!"
"Oh."
Rencana pun telah matang. Lemon bersiap pergi keluar dan menyelinap ke ruang pemeriksaan para gadis.
__ADS_1
"Oi, apa yang kalian bertiga rencanakan?" Lev memergoki mereka.
"Ti-tidak, soal itu...."
"Aku sudah tahu, kok. Nanti perlihatkan padaku juga, ya."
"Oi!"
Tak seberapa lama, Lemon pun keluar dari ruang pemeriksaan.
"Lah, Roman kenapa keluar?" tanya Hoshi.
"Mau ambil dokumen negara," jawab Shuu.
"Dokumen negara?"
Erza langsung membisikkannya.
"Oh!!! Aku doakan Roman berhasil!"
Sementara itu, di depan pintu ruang pemeriksaan fisik perempuan, Lemon tampak gugup untuk masuk.
"Ah, harusnya aku pakai rok saja seperti hari pertama. Kalau pakai celana panjang bakal ketahuan."
Dari luar, Lemon mendengar suara ocehan para perempuan. Dia menempelkan telinganya ke tembok agar dapat mendengar lebih jelas.
"Keiko! Punyamu ternyata besar ya, punya segede gitu malah ditutup-tutupi!"
"He-hentikan Emili!"
"Akemi juga, udah cantik, pinter, asetnya juga besar. Kamu ingin mencuri semua laki-laki di kelas, ya?!"
"Punyaku tidak besar."
"Lebih besar dari punyaku!"
"Punyamu saja kecil."
"Kalian ini bersyukur punya dada yang menonjol, lihat punya saya!"
"Tapi kau tinggi dan ramping, Yurina! Kulitmu juga mulus!"
"Hiii!!! Jangan sentuh bagian itu!!!"
Lemon yang mendengar, wajahnya langsung memerah.
"Pe-pembicaraan macam apa ini?! Apa mereka sedang tidak pakai baju?!"
Lemon jadi semakin ragu untuk masuk. Dia ingin menunggu waktu yang tepat sampai semua siswi keluar dari ruangan.
"Roman, kau sedang apa di sini?" Seorang gadis menepuk pundaknya dari belakang.
Ternyata itu Sera.
"Se-Sera! A-anu... aku... aku...."
"Kau sedang menguping, ya?"
"Tidak, aku...."
Sera tersenyum. "Tidak apa-apa. Itu hal yang normal dilakukan laki-laki. Ya, meskipun kau sekarang perempuan. Jadi, apa tujuanmu sebenarnya datang ke sini?"
"Aku... aku... aku ingin tahu hasil pemeriksaan fisik para gadis! Tolong, berikan aku kertas hasilnya!" Lemon menunduk di depan Sera seperti orang mesum.
"Baiklah, akan kusalin hasilnya, lalu kuberikan padamu."
"Eh?!!!"
__ADS_1
"Kenapa kaget?"
"Ka-kau serius mau memberikannya?!"
"Astaga, itu cuma sebuah data, Roman. Aku beri kok, tunggu di sini, ya."
"Y-ya."
Sera pun pergi masuk ke dalam, sedangkan Lemon menunggu di luar dengan detak jantung tidak keruan.
"Sudah, ini hasilnya." Sera memberi secarik kertas pada Lemon.
Akemi 160
Shino 158
Emili 159
Yurina 164
Giana 162
Sera 165
Keiko 167
Lullin 152
Nana 132
"Ini... cuma tinggi badan mereka?"
"Iya, berat badannya tidak aku cantumkan, soalnya itu hal yang sensitif."
"Eh... lalu itunya?"
"Itunya?"
Lemon meremas dadanya sendiri.
"Oh... kalau itu rahasia, maaf, ya. Tidak boleh."
Lemon tertunduk lesu.
"Baiklah."
"Tapi... kalau hanya ukuranku saja... kuberitahu deh."
"Eh? Apa ukuranmu?"
Sera mendekatkan telinganya pada Lemon.
"G-cup."
Pikiran Lemon seketika melayang.
Setelah itu, Lemon kembali ke ruang pemeriksaan fisik para murid laki-laki dengan tangan yang kosong. Wajahnya sangat memerah.
Para murid antusias saat Lemon datang.
"Bagaimana hasilnya?!"
"Punya Sera F-Cup, kan?!"
Lemon meninju tembok.
"Dasar bodoh! Mana mungkin aku mencuri kertas hasil milik para perempuan. Aku ini ketua kelas!!!"
__ADS_1
Kerumunan murid langsung bubar.
"Yah, tidak asik."