
Di antara semua murid laki-laki di Kelas 1-F, Ota adalah murid yang paling mendekati kategori suami idaman. Meski dia seumuran denganku, tetapi dia dapat melakukan banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang dewasa.
Ota pandai membetulkan atap, menservis AC, memperbaiki mesin, juga berbagai hal lain yang pada umumnya anak SMA tidak bisa melakukannya.
Namun, di antara semua keahliannya itu, Ota paling jago dalam hal memasak.
Suatu hari, dia pernah membawa sampel masakan buatannya sendiri ke kelas. Dia memasak hidangan daging sapi dari Rusia yang bernama beef stroganoff.
Yurina yang asli Rusia saja tidak tahu cara memasaknya.
Dia membawa hidangan itu ke kelas, meminta kami untuk mencicipinya.
"Tolong beri komentar jujur kalian," ucapnya saat itu.
Saat kucoba, masakan buatannya ternyata benar-benar lezat. Aku baru pertama kali menyantap hidangan seenak itu.
"Bagaimana rasanya?" tanya Ota pada para murid.
"Rasanya ingin mencobanya lagi."
"Rasanya ingin nambah."
"Rasanya ingin menikahimu."
Para murid memberi jawaban yang berbeda, tapi semuanya merupakan tanggapan yang positif.
"Terima kasih."
Sifat yang tenang, senyum yang ringan, serta keahlian memasak yang cemerlang membuat Ota disukai oleh murid-murid di kelas.
Namun, di balik berbagai keahlian yang membuatnya menjadi lelaki idaman, Ota memiliki kutukan yang tidak termaafkan. Kutukan yang sangat merepotkan sampai-sampai membuat dia sering ditinggal oleh semua orang.
Kutukan milik Ota adalah jika dia tertidur, maka orang-orang di dalam ruangan tidak akan bisa bernapas.
Mengingat Ota orang yang baik dan sering membagikan makanan, kami jadi tidak tega untuk berbuat jahat padanya. Setiap kali kutukannya aktif, kami hanya bisa bersabar dan pergi keluar menunggu Ota bangun dengan sendirinya.
Namun, lama-lama kami kesal juga.
"Semuanya, keluar!"
Kami berlarian meninggalkan Ota sendirian di kelas. Guru yang sedang mengajar pun lari karena ruangan itu tidak bisa dipakai untuk bernapas lagi.
Kami senang sih karena dengan begitu, pelajaran otomatis berhenti dan berubah jadi jam kosong.
Tapi kalau begini terus, kami akan ketinggalan pelajaran, dan semakin tertinggal dari kelas lain.
"Aduh... keluar lagi. Padahal aku hampir mengerti bab yang sulit tadi."
"Bangunkan dia, yuk."
"Kau bercanda? Ada bom atom pun dia tidak akan bangun!"
"Iya, sih."
Seorang gadis lantas pergi ke kamar mandi dan kembali dengan menjinjing seember air.
"Nana, apa yang akan kau lakukan dengan ember itu?" tanya Giana.
"Ota-hentai sulit dibangunkan, kan? Kalau begitu biar aku siram saja!" Gadis berpostur pendek itu tampak bersungguh-sungguh.
"Nana, tunggu! Dia bukan tanaman!"
WURRR!!!
__ADS_1
Nana mengguyur seember air penuh pada tubuh Ota, membuat lelaki itu basah kuyup.
Namun, Ota masih belum bangun.
"Anjing!"
"Nana jangan ngomong gitu!"
Nana keluar dari kelas dengan ekspresi kecewa.
"Padahal sudah disiram, tapi masih saja tidak bangun."
"Sudah kubilang dia itu bukan tanaman!"
Kami lantas menatap Jui-sensei bersama-sama, tapi wali kelas kami itu malah asik bermain game online di ponselnya.
"Mabar?"
Dia sama sekali tidak bertanggung jawab.
"Biar aku yang urus." Seorang lelaki dari klub sepakbola memegang sebuah terompet besar di tangannya.
Dia membawa terompet itu dari ruang musik.
"Oi Kensel, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" tanya anak-anak.
"Tentu saja membangunkan Ota!"
Kensel lantas berjalan memasuki kelas. Dia mendekati Ota yang sedang tertidur dalam keadaan basah kuyup.
Kami menutup telinga bersama-sama saat Kensel mendekatkan terompet besar itu pada telinga kanan Ota.
Dia langsung meniupnya.
TEEET!!!!
Namun, Ota masih saja belum bangun.
"Astaga, anak itu masih hidup tidak, sih?!" Kensel menendang tembok.
"Mungkin dia dibius."
"Siapa yang membiusnya? Semua murid kan sedang belajar!"
"Hantu mungkin?"
Semuanya langsung terdiam.
Setelah itu, kami mencoba berbagai cara lain untuk bisa membangunkan Ota.
Kami mencubit pipinya, menggelitiki pinggangnya, bahkan mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai.
Tapi sayangnya cara ini masih gagal.
"Teman-teman, aku punya ide. Ayo kita gotong tubuh Ota keluar!" Ketua kelas berbicara.
Ide yang bagus. Aku sama sekali tidak kepikiran. Daripada repot-repot membangunkan, lebih baik kami pindahkan saja tubuhnya ke luar ruangan. Dengan begitu, ruang kelas kami bisa dipakai lagi untuk belajar.
"Ayo lakukan!"
Para murid lelaki yang penuh emosi beramai-ramai memasuki kelas dan menggotong tubuh Ota yang terbaring di lantai.
Aku juga ikut mengangkat.
__ADS_1
"Tunggu! Kalau Ota ditaruh di luar, bagaimana jadinya nasib umat manusia di muka bumi? Apa semua orang tidak akan bisa bernapas?" tanya Hoshi.
"Tenang, kutukan Ota tidak akan aktif jika dia berada di luar. Buktinya sekarang kita masih bisa bernapas, kan?" Shuu yang menjawab.
"Benar juga."
Kami pun membawa Ota ke belakang sekolah. Rencananya kami akan menaruh dia di sana.
"Lihat, di sana ada tempat pembakaran sampah! Ayo kita taruh dia di sana!"
"Apa kau gila? Apinya sedang menyala!"
"Memang itu tujuanku, biar dia tidak membuat masalah lagi."
Kami saling menatap, lantas mengeluarkan senyuman jahat.
"Kalau Jui-sensei bertanya bilang saja kita terpeleset."
"Iya, terpeleset kulit pisang terus tubuh Ota tidak sengaja terlempar ke tempat pembakaran."
"Ide bagus."
Namun, sebelum itu terjadi, Ota terbangun dari tidurnya.
"Kenapa tubuhku basah?"
Kami langsung menurunkannya bersama-sama. Roman, Hoshi, Shuu, juga aku, merasa sangat bersalah.
"A-anu... tadi kau tertidur, kami hendak menaruhmu di sini... maaf, Ota!!!" Roman menangkupkan kedua lengan.
"A-aku juga... aku dirasuki iblis tadi, aku hendak melemparmu ke perapian... maaf!!!" Hoshi juga meminta maaf.
Aku dan Shuu hanya memalingkan pandangan, pura-pura tidak tahu.
"Kawan...."
Kami langsung menatap ke arah Ota.
"Terima kasih sudah membangunkanku."
Kami semua tercengang.
"Kau tidak marah? Kami menyirammu dengan air, loh!"
"Kami mengguling-gulingkan tubuhmu di lantai!"
"Kami hampir membakarmu!"
Ota tersenyum.
"Tidak apa-apa... aku sudah sering menyakiti kalian. Saat aku tidur, kalian tidak bisa bernapas kan saat di kelas? Aku tidak tahu bagaimana rasanya, pasti kalian repot. Karena itu, tidak apa-apa. Kalian sama sekali tidak bersalah."
"Ota...."
Tidak seharusnya Ota merasa bersalah. Itu bukan salahnya, tapi salah kutukannya. Dan juga, kalau disebut paling repot, kutukan milik Rock jauh lebih merepotkan.
Ota benar-benar anak yang baik.
"Sekali lagi, maafkan aku, teman-teman."
"Iya, tidak apa-apa, Ota."
"Mulai besok, aku akan berusaha untuk tidak tidur di kelas lagi."
__ADS_1
"Ya!"
Kupikir Ota serius saat mengatakannya, tapi keesokan harinya dia tertidur lagi di kelas.