
Jangan macam-macam terhadap Emili. Dari luar Emili memang terlihat seperti gadis biasa, tapi sebenarnya dia punya mulut seperti ular berbisa. Kalau bukan karenanya, kami tidak akan bisa mengcounter setiap ejekan dari murid-murid kelas lain.
Contohnya.
"Hah, dasar mudid-murid gagal. Kalau tidak punya kutukan, kalian tidak mungkin masuk sekolah ini."
Emili membalas.
"Hah, dasar murid-murid gagal. Kalau tidak punya orang tua, kalian tidak mungkin lahir ke dunia ini."
Mereka langsung terdiam.
Lain waktu, kelas lain mengejek kelas kami lagi.
"Oi, orang-orang miskin. Menyingkirlah dari kantin ini!"
Emili membalas.
"Oi, orang-orang kaya. Katanya kaya, masa makan di kantin. Sana makan di restoran bintang lima!"
Mereka terdiam lagi.
Kami sungguh beruntung punya Emili yang pandai berbicara. Meski sebenarnya kami bisa mengabaikan, tapi perkataan Emili membuat kami puas, dan ingin balik menertawakan mereka.
"Kantin SMA Subarashii itu elit! Orang kaya bisa makan di sini!"
__ADS_1
"Orang miskin juga bisa makan di sini! Yang bilang tidak boleh siapa? Mau taruhan? Yang kalah harus lari telanjang di lapangan. Ayo tanyakan ke kepala sekolah. Berani?!"
Mereka tidak menunjukkan lagi wajahnya di hadapan kami.
Memang tidak semua murid SMA Subarashii bersikap sombong seperti mereka, tapi kebanyakan begitu, dan benar-benar menyebalkan.
"Orang sombong seperti mereka harus disombongi lagi," kata Emili.
Omong-omong soal kutukan, Emili satu-satunya murid di kelas kami yang tidak memilikinya. Emili adalah murid normal. Dia dimasukan ke kelas kami untuk menjadi pembeda.
"Sebenarnya aku akan masuk Kelas B mengingat nilai ujianku yang cukup lumayan, tapi bosen ah masuk kelas biasa. Jadi aku minta Jui-sensei untuk dimasukan ke Kelas F, dan dia bilang setuju. Selain itu, alasanku ingin masuk kelas ini, itu karena... ehehehe." Emili menatap Lev sambil meneteskan air liur.
Ya, terlepas karakternya yang merupakan pesatir handal, Emili hanyalah gadis biasa yang tergila-gila pada lelaki tampan dan bertubuh bagus, salah satunya Lev. Dia menunjukkan rasa tertarik itu secara terang-terangan.
Saat itu sedang jam olahraga. Lev mengelap keringat di wajahnya dengan seragam olahraganya sehingga bentukan perutnya kelihatan. Emili yang menyaksikan langsung mimisan, dan segera berjalan ke arahnya.
"Te-tentu saja tidak boleh. Kau akan melupakanku, Emili."
"Tenang saja, aku tidak akan melupakanmu, Lev. Wajah dan bentukan tubuhmu sudah terpatri kuat dalam ingatanku. Sedikit saja, ya...." Emili hendak menangkap Lev, tapi Giana dan Shino segera menghentikannya.
"Emili, kau ingin menyentuh perutku? Punyaku juga bagus, loh." Roman membuka seragamnya, dan ternyata tubuhnya juga bagus.
Emili kembali mimisan. Matanya langsung tertuju pada perut Roman.
"A-aku mau!!!"
__ADS_1
"Jangan Emili!!!" Giana dan Shino menghentikannya.
"Kenapa tidak boleh?!!!"
"Nanti Roman sombong!"
"Aku mau menyentuhnya!!!"
Dengan kekuatan hasrat, Emili pun berhasil lepas dari pegangan Giana dan Shino. Dia langsung mengelus-elus perut Roman yang cukup berotot.
"Waah, atlit voli memang hebat," ucap Emili.
"Hahaha!!!"
Seperti yang mereka duga, Roman memang jadi sombong. Dia tersenyum narsis, dan membiarkan Emili menyentuh-nyentuh perutnya.
Aku yang penasaran lalu membuka sedikit baju seragamku. Aku lihat, perutku juga cukup terbentuk. Itu karena aku rajin lari pagi, dan olahraga setiap hari.
Tapi, aku tidak mau menunjukkan perutku pada Emili.
"Uhuk, uhuk."
Aku menoleh.
Akemi terbatuk.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja, Akemi? Wajahmu kemerahan."
"Aku... baik-baik saja."