
(POV Tamaki Hoshi)
Dengan pemain seadanya, kami latihan sesuai bidang masing-masing. Tidak ada yang diharapkan dari pemain basket putra sebenarnya, karena kelompok ini hanya berisi orang-orang yang tak pandai berolahraga seperti diriku, Shuu, Ota, dan Hide. Harapan dan tumpuan kami cuma dari Gen saja. Berharap dia sedang berada di mode perakus atau penyombong. Karena saat berada di mode itu, Gen akan menjadi pemain basket yang hebat layaknya kiseki no sedai dari anime Kuroko no Basket.
Namun, hari ini Gen sedang berada dalam mode pemalas, yang artinya otaknya encer, tapi jadi malas gerak.
"Oi Gen, ayo latihan!" ucapku.
"Malas," jawabnya sambil duduk memeluk lutut.
"Sudah Hoshi, tidak perlu dipaksa. Gen itu sudah jago. Nanti dia bisa menyesuaikan," ucap Ota.
"Baiklah...."
Kami pun akhirnya latihan berempat. Lev dengan senang hati mengajari kami dari yang paling dasar. Mulai dari aturan memegang bola sampai cara mengoper dengan baik.
"Kita tidak mungkin menang melawan Kelas 1-C. Pemain inti basket kelas satu setengahnya ada di sana. Tidak mungkin kita bisa menang melawan orang-orang yang latihan setiap hari. Tapi, setidaknya kita bisa memberikan perlawanan. Tahu aturan dasar. Bisa mengoper, bisa bertahan, dan bisa merebut bola. Tumpuan kita hanya Gen. Kalau sudah dapat bola langsung oper padanya. Dijamin bolanya pasti masuk." Lev memberi pesan.
"Itu kalau dia sedang berada di mode perakus atau penyombong, kan?" tanya Shuu yang ****** ******** sudah pindah ke kepala.
"Ya, kita memang berjudi di sini. Kalau di hari senin malah Gen pemalas yang muncul, tamatlah riwaya kita." Lev tertawa kecil.
"Memang sehebat itu ya, Gen mode perakus dan penyombong itu?" tanya Hide.
"Aku pernah menontonnya saat latihan. Kalian tahu? Ketua klub saja sampai dibuat tak berdaya. Gen bisa melakukan lemparan tiga poin dengan sempurna, dan melakukan dribble sampai dunk dengan sangat mudahnya. Gen di mode terbaiknya, sudah setara pemain NBA."
Kami semua terpukau.
"Pokoknya, strateginya oper ke Gen. Jaga pertahanan, rebut bola, oper ke Gen. Begitu cukup."
Kami semua mengangguk.
"Ya sudah, ayo sekarang latihan!"
Kami pun memulai latihan. Dimulai dari latihan memegang bola dan saling oper bersama rekan setim. Aku latihan bersama Shuu, sedangkan Hide dengan Ota.
Lev yang sudah memberi kami arahan, langsung bergabung dengan grup pemain voli. Dia benar-benar berperan banyak di latihan hari ini.
"Hoshi, pemandangan yang indah, ya." Shuu tiba-tiba berhenti mengoper, dan menonton para murid gadis yang sedang main voli.
Shuu menyoroti Sera dan Giana yang saat meloncat, oppai-nya bergerak-gerak.
Bukannya aku tidak tertarik, tapi di mataku hanya Akemi saja yang menarik. Saat ini dia sedang berlari mengitari lapangan tanpa mengenakan syal merah yang biasa menempel di lehernya. Setiap kali dia lewat, jantungku berdebar kencang.
"Shuu, ayo lanjut latihan!"
"Sebentar lagi...." Shuu masih menahan bolanya.
Saat menoleh ke pinggir, Ota dan Hide pun sama-sama sedang menonton para gadis bermain voli.
__ADS_1
Aku bisa mengerti soal Hide, tapi Ota pun begitu juga?
"Oi Hide, siapa yang sedang kau lihat?" tanyaku.
"Hah? A-aku tidak melihat Sera, kok!"
Ah, ternyata Sera ya, sudah pasti, sih.
"Mentang-mentang sudah putus, langsung beralih ke cewek lain."
"Oi! Aku dan Asuka sudah balikan sekarang!"
"Lah, balikan?! Kalau gitu aku laporin ke dia, ya?"
"Oi, awas saja, kau!"
Hide yang sudah punya pacar pun tergoda oleh kemolekan tubuh Sera. Ya, wajar sih, tubuh Sera memang sering mengundang perhatian banyak laki-laki.
Saat melihat Ota, dia sama sekali tak berekspresi.
"Siapa gadis yang kau lihat, Ota?" tanyaku.
"Tidak, aku sedang memperhatikan Yurina sedari tadi. Dia sepertinya sedang sakit."
"Eh? Benarkah?"
"Oi Shuu, niat latihan tidak, sih? Oi!"
Shuu kembali menatap para gadis yang bermain voli. Wajahnya memerah.
"Hoshi... punya Keiko juga lumayan gede."
Anak ini sudah tidak tertolong.
"Sudah, aku latihan lari saja kalau begitu. Main basket juga ada lari-larinya."
"Ya, sana."
Aku pun mulai meninggalkan Shuu, dan siap berlari di track yang dilalui Akemi. Aku mulai berlari setelah Akemi melewatiku. Jadi, aku berada di belakangnya.
Aku ingin coba menyusul dan mengajaknya mengobrol, tapi rasanya terlalu gugup. Melihat rambutnya yang dikuncir ponytail saja sudah membuatku dag dig dug.
Aku tidak dapat melihat wajahnya dari belakang, tapi sudah pasti dia menunjukkan ekspresi yang serius.
Semakin lama berlari, jarakku dengan Akemi jadi semakin menipis. Dia sepertinya sudah mulai kelelahan. Ya, wajar saja, sedari tadi dia memang tidak istirahat.
Ketika melewati lapangan voli putra, aku melihat Rock berjalan mundur dan hendak menabrak Akemi. Akemi tidak melihat, karena dia berlari sambil menunduk ke bawah.
Aku langsung menaikkan kecepatan, dan mendorong Akemi jauh ke depan.
__ADS_1
Hasilnya, aku tertubruk oleh tubuh raksasa Rock, dan tertindih olehnya.
"Hoshi, kau tidak apa-apa?! Maaf, aku tidak melihatmu!" Rock membantuku berdiri.
"Ta-tanganku... tanganku sepertinya terkilir... ahahaha."
Aku tidak dapat menyembunyikannya. Memang terlihat jelas. Posisi jatuhku tidak tepat. Tubuh Rock yang tinggi besar menindih lengan kananku.
"Wah, agak bengkak." Roman mengangkat lenganku.
"Waduh, kalau begini tidak bisa latihan. Sudah, pulang saja, Hoshi. Pergi ke UKS sekolah sekarang. Biar mereka yang merawat." Lev memberi saran.
"Maafkan aku, Hoshi!" Rock tampak merasa bersalah.
Akemi lalu berjalan ke arahku. Dengan ekspresi wajah yang sedih dan tubuh yang bergetar.
"Ma-maafkan aku, Hoshi. Ini salahku. Seandainya... aku tidak melamun. Maaf...." Dia menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Akemi, ini hanya bengkak. Besok juga sembuh." Aku tertawa kecil.
"Matamu. Minggu depan baru sembuh ini mah." Erza berkomentar.
"Se-separah itu?"
"Sudah Hoshi, ke UKS sekolah sekarang. Aku tahu kau sedang menahan sakit." Lev menepuk pundakku.
"Tidak usah ke UKS. Di rumahku ada dokter keluarga. Ayo, aku antar." Sera membantuku berdiri.
Aku melihat ke arah Akemi. Dia masih terlihat merasa bersalah. Menatapku dengan khawatir. Ekspresinya yang cuek itu berubah menjadi sedih.
"Tidak apa-apa, Akemi."
"Sekali lagi, maaf!" Akemi kembali menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, sungguh."
Dibanding ucapan maaf, aku sebenarnya mengharapkan ucapan terima kasih. Tapi melihatku yang cedera seperti ini, sudah pasti Akemi merasa bersalah, sih.
Tapi... sudahlah, yang penting Akemi tidak celaka. Aku tidak ingin melihat gadis yang kusukai cedera seperti ini. Biar aku saja.
"Terima kasih sudah membopongku, Sera. Apa aku berat?"
"Hah, berat? Kau ini ringan sekali, Hoshi. Apa kau cukup makan?" Sera menatapku.
"Cu-cukup, kok."
Sebenarnya, posisi ini agak berbahaya. Dada sera agak menyentuh tubuhku, dan aku bisa merasakan keempukannya.
Aku mungkin beruntung.
__ADS_1