
"Ma-maksudnya tidak bisa keluar?!" Erza kembali bertanya, tidak ingin percaya begitu saja.
"Bisa sih kalau mau keluar, tapi harus menunggu 50 tahun. Baru setelah itu bisa keluar." Si pelayan menjawab.
"50 tahun?! Keluar dari sini sudah jadi tua dong?!"
"Ah, tidak, tidak, biar aku jelaskan. Kalian sepertinya memang tidak tahu apa-apa soal kampung ini."
Si pelayan mengambil kursi, lalu duduk untuk memberi penjelasan.
"Selama berada di kampung ini, umur kalian tidak akan bertambah. Kalian akan selamanya muda. Tidak akan terserang penyakit, tidak akan meninggal, dan tidak akan merasakan penderitaan. Saat datang ke sini, umurku saat itu 23 tahun, sampai sekarang, 100 tahun kemudian, penampilanku masih tetap seperti ini. Dengan kata lain, orang-orang di kampung ini akan memiliki kehidupan yang abadi."
Mendengar pernyataan itu, anak-anak tercengang.
"Jadi, orang-orang yang berada di kampung ini... semuanya manusia?"
"Ya. Para manusia yang meninggalkan dunia luar. Para manusia yang datang dari zaman yang berbeda. Semuanya berkumpul di sini."
"Tapi, saat siang kalian semua berwujud bayangan?"
"Ah... ya, memang begitu. Saat siang, kami semua kehilangan energi, dan akan berubah wujud menjadi bayangan. Hanya orang-orang kuat saja yang mampu mempertahankan wujudnya di siang hari."
Erza langsung teringat pada sosok bayangan yang berubah menyerupai Hide.
"Kalau sudah tinggal satu bulan di sini, kalian juga akan seperti kami. Menjadi bayangan saat siang hari."
"Eh??!!!"
Pelayan itu tertawa. "Hahaha, nikmati saja waktu kalian di sini. Tempat ini lebih baik dari yang kalian bayangkan, loh. Aku saja betah."
Selepas pelayan itu pergi, Erza dan yang lain langsung terlihat depresi. Tatapan sedih dan putus asa terpancar dari raut wajah mereka.
"Kita... benar-benar tidak bisa kembali?"
"Aku rindu keluargaku."
"Ibu dan ayah pasti mencariku!"
"Ahhhh!!! Kenapa harus begini?!!!"
Giana yang paling terpukul atas kejadian ini. Dia merasa bersalah telah melibatkan teman-teman sekelasnya.
"Maaf, teman-teman, gara-gara aku... kalian jadi terseret ke tempat ini. Seandainya aku mendengarkan perkataan anak-anak, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Mereka benar, masalah seperti ini seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa. Aku... benar-benar minta maaf...." Giana mengucurkan air matanya.
Nana dan Keiko juga mulai menangis membayangkan mereka akan terkurung di tempat ini selama lima puluh tahun ke depan.
Rock dan Erza hanya bisa berdecih, menahan kesedihan yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Saya... tidak keberatan. Asalkan bersama Erza... saya tidak keberatan tinggal di sini selamanya." Yurina bangkit dari tempat duduk, dan memeluk Erza dari belakang.
Meski begitu, air matanya tetap mengalir.
Mereka menangis seperti anak kecil di kedai ramen yang penuh dengan pelanggan. Hanya Rock yang masih terlihat tegar.
"Maafkan aku, maafkan aku...."
Giana terus meminta maaf, tapi tidak ada yang menanggapinya.
"Kalau begini, percuma kita bertemu dengan Lullin. Dia pun pasti terjebak di kampung ini...." ucap Rock.
"Tidak, aku tetap ingin bertemu dengan Lullin!" Giana menyeka air matanya. "Maaf, aku tidak pantas berkata begini, tapi apapun yang terjadi, aku ingin bertemu dengan dirinya lagi. Setidaknya, itu akan sedikit meredakan kesedihanku."
Rock tersenyum. "Iya, bagaimana pun, kita harus tetap bersama-sama."
"HUAAAAA!!! MAMA, PAPA, SHOUTA!!!" Nana menangis dengan kencang, membuat mereka jadi bahan tontonan.
Tak seberapa lama, datang seorang lelaki dewasa yang terlihat setengah mabuk. Wajahnya begitu merah, tapi kesadarannya masih terkendali.
"Kalian kenapa sedih begitu? Enak loh tinggal di sini. Kalian bisa makan gratis di semua tempat, loh!"
Tidak ada yang menyahut.
"Di tempat ini, kalian tidak perlu khawatir soal uang atau pekerjaan. Perut kalian akan selalu kenyang, dan kalian bisa bermain-main sepuasnya tanpa harus takut menghabiskan waktu. Waktu kalian tak terbatas di sini, kalian bisa bersantai selama-lamanya!"
Erza menyeka air matanya.
"Tentu saja enak! Kau bisa berhubungan *** dengan kekasihmu selama-lamanya di sini! Dia tidak akan menjadi tua, akan terus menjadi cantik! Kalian bisa berkencan kapanpun kalian mau, melakukan berbagai hal yang kalian mau. Ah ya, tapi di sini tidak mungkin ada kehamilan, jadi meski menikah, kalian tidak akan pernah punya anak. Tapi siapa peduli? Yang penting bisa berhubungan *** sepuasnya, hahaha!"
"Cih! Aku tidak tertarik dengan hal itu, aku lebih senang keluar dari sini dan menua dengan wajar!"
"Hahaha, kau memang tidak tertarik, tapi bagaimana dengan pacarmu yang berambut pirang itu? Lihat, wajahnya memerah, hahaha!"
Yurina langsung memalingkan pandangan.
"Kami tidak pacaran." Erza mengklarifikasi.
Lelaki dewasa itu berhenti tertawa. "Sudahlah, tidak usah bersedih. Nikmati saja kehidupan kalian di sini. Enak loh, umur kalian jadi lebih panjang. Kalau sudah 50 tahun, kalian bisa keluar, loh. Tapi ya buat apa, orang tua kalian mungkin sudah meninggal, dan teman-teman kalian sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Sedangkan kalian? Kalian masih akan berumur 15 tahun! Bukankah itu hebat?"
"Tidak... apa gunanya terus muda kalau tidak bahagia? Aku ingin lulus dari sekolah dan bertemu dengan teman-temanku lagi. Ibu dan ayahku pasti sedih melihatku tidak ada di dunia itu. Sebenarnya apa yang membuatmu berpikir aku bisa bahagia tinggal di sini?"
"Tentu saja karena kau bisa terus bercinta dengan pacarmu yang berambut pirang itu!"
"Sudah cukup! Diam kau laki-laki mesum!"
Keiko berdiri, dan meninju wajah orang dewasa itu sampai hidungnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Meski sudah disakiti begitu, si lelaki dewasa tampak tidak marah. Kesadarannya mulai pulih total.
"Maaf, sepertinya kalian tidak tertarik dengan topik seperti itu."
"Memang tidak!" Keiko menjawab dengan tegas.
Si lelaki dewasa minum air putih, lalu kembali berbicara pada mereka.
"Aku tahu, kalian memang bersedih terjebak di tempat ini. Aku tadi dengar percakapan kalian. Kalian dijebak oleh bayangan, ya? Ya, satu atau dua orang di sini memang bisa berubah wujud jadi orang lain, tapi biasanya tidak sampai menculik dan menyeret ke tempat ini. Kalian adalah yang pertama."
"Tiga tahun lalu temanku diculik. Ini bukan yang pertama." Rock menyanggah.
"Tidak mungkin. Orang-orang di sini sudah sangat bahagia, tidak mungkin mereka melakukan tindakan kriminal seperti menculik orang lain. Semua orang yang ada di sini, datang atas keinginan masing-masing. Tidak ada yang dipaksa."
"Lalu, kenapa kami diculik?"
"Aku tidak tahu, sudah kubilang, kalian itu yang pertama."
Rock menghela napas.
"Sebagai permintaan maaf, ayo aku carikan tempat tinggal untuk kalian. Di sini masih banyak penginapan yang kosong. Kalian bisa tinggal dengan gratis di sana. Oke?"
Mereka berenam menurut. Semuanya meninggalkan kedai ramen, dan berjalan-jalan di luar untuk mencari penginapan.
Selama di perjalanan, Erza berbincang-bincang dengan lelaki dewasa itu.
"Anu, kau bilang setelah 50 tahun, kami bisa keluar, ya? Kalau sudah keluar nanti, apa bisa tetap di sana terus?"
"Kalau sudah 50 tahun, kalian bebas keluar masuk kampung ini. Cukup banyak orang di kampung ini yang pergi keluar sekedar untuk berkencan atau membeli makanan. Aku pun sering melakukannya," jawab lelaki dewasa itu.
"Kenapa kau tidak tinggal di dunia luar saja? Kenapa malah kembali ke sini?"
"Saat pergi ke dunia luar, waktuku kembali berjalan. Semakin lama di sana, semakin bertambah pula umurku. Aku akan menua jika terlalu lama tinggal di sana, jadi aku lebih senang tinggal di sini."
Erza mengangguk.
"Di dunia luar juga ada resiko kematian. Di sini, meski kau mati ditusuk, kau akan hidup kembali. Luar biasa, bukan? Bukankah ini yang kita sebut dengan surga?"
"Tidak, bagiku ini neraka, bukan surga." Erza membantah.
"Haha, kau belum tahu sih kenikmatan dunia ini. Setelah tinggal satu bulan, kau pasti akan betah tinggal di tempat ini."
Nana terus menangis. Keiko masih tidak percaya hal ini terjadi. Giana kembali menyalahkan diri. Rock mulai terlihat putus asa. Yurina tidak banyak bicara lagi. Namun, mereka terus berjalan mengikuti Erza dan juga si lelaki dewasa.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di penginapan yang baru buka.
"Selamat malam. Selamat datang di...."
__ADS_1
Mereka berenam terkejut melihat resepsionis yang menyambut mereka.
"Lullin?!"