
(POV Kihara Lullin)
Dua minggu telah berlalu semenjak mereka datang ke dunia ini. Semakin lama aku semakin merasa ngeri karena mereka mulai terbiasa tinggal di tempat ini. Upaya dan daya mereka untuk pulang jadi semakin tak terlihat lagi. Antara pasrah, putus asa, atau sudah betah di nirwana yang baru, aku tak tahu mana yang mereka rasakan.
Nana sudah tidak menangis lagi, dia mulai akrab dengan para wanita di sini, belajar merajut bersama mereka.
Rock mulai magang di toko kue.
Giana akrab dan terlihat punya hubungan dengan seorang laki-laki.
Keiko tetap menjadi artis.
Erza mudah beradaptasi.
Yurina tetap menempel pada Erza.
Aku mulai merasa, jika mereka tidak pulang pun, semuanya akan baik-baik saja.
Lagipula, aku tidak tahu bagaimana cara memulangkan mereka. Kalau sudah masuk sini, maka akan terkurung selama lima puluh tahun. Itulah hukum yang ada di dunia ini.
"Saori."
Di tengah lamunanku saat menjaga penginapan, seseorang memanggil.
"Ah ya, ada apa Kepala Desa?"
Kepala Desa adalah orang yang membawaku ke sini lima puluh tahun lalu. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Orang-orang hanya memanggilnya Kepala Desa.
"Kau tidak bermain dengan teman-temanmu?"
"Ah, tidak bisa, saya harus berjaga di sini."
"Kau tidak perlu menjaganya, kok. Kau tahu kan, tidak ada kriminalitas di dunia ini?"
"Ya, memang, sih. Saya berjaga bukan karena harus, tapi hanya untuk menghabiskan waktu."
"Kalau begitu kenapa tidak pulang ke sisi dunia lain saja? Kau jadi murid sekolahan, kan?"
Aku langsung menunduk mendengarnya.
"Saya tidak pantas datang ke sana lagi. Saya sudah membuat banyak kekacauan. Saya pun sebenarnya malu bertemu dengan teman-teman saya lagi. Gara-gara saya, mereka harus terjebak di dunia ini. Saya benar-benar orang yang buruk."
Tak pernah kusangka mereka akan datang menyusulku ke tempat yang bahkan tak ada di peta dunia. Orang jahat yang menculik mereka ke sini, aku ingin menghardiknya.
"Menurutku tidak begitu. Mereka tidak marah padamu. Mereka datang ke sini justru karena menyayangimu. Kau seharusnya bersyukur punya teman seperti mereka."
Apa yang Kepala Desa katakan memang benar. Selama aku bersekolah, baik sekarang atau masa lima puluh tahun lalu, aku tak pernah benar-benar punya teman. Aku yang terlalu pemalu dan hanya bisa main shogi sangat kesulitan mendapatkan mereka. Wajahku biasa saja, otak tidak pintar, keluarga tidak kaya, obrolan tidak nyambung, tak ada hal menarik dariku yang bisa membuat orang-orang ingin menjadi temanku. Aku hanya berteman dengan Shiori, Yamada, senior di klub shogi, dan orang-orang dewasa di perguruan. Itu pun tak bisa kubilang teman, melainkan hanya rekan sehobi. Hanya Shiori dan Yamada saja yang bisa dibilang akrab denganku.
__ADS_1
Namun, sekarang, saat aku masuk kelas 1-F, aku merasa duniaku berubah. Mereka menyambutku. Mempedulikanku. Menganggapku sebagai kawan yang setara. Apalagi Giana dan Nana. Tak pernah sebelumnya aku punya teman dekat seperti mereka, yang bahkan berani mencariku sampai ke sisi dunia yang lain.
Aku jarang bicara dengan anak laki-laki, tapi aku tak merasa terganggu, mereka selalu memperlakukanku dengan baik. Dengan beberapa murid perempuan pun aku tidak akrab, tapi aku merasa nyaman saat berada di dekat mereka. Aku tak pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.
Apakah ini yang dinamakan berteman?
"Kepala Desa. Bisakah Anda memulangkan mereka ke dunia luar meskipun belum lima puluh tahun?"
Aku sebenarnya ragu dia bisa melakukannya, karena sudah banyak orang-orang di sini yang meminta begitu, tapi Kepala Desa selalu menjawab tidak bisa. Aku harap ada pengecualian bagi mereka.
"Bisa, kok."
"E-eh?! Sungguh?!"
"Iya, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Kau harus kembali ke dunia luar bersama mereka, dan kau tidak akan bisa kembali ke dunia ini lagi sebagai bayarannya. Bagaimana?"
"Setuju! Saya setuju!"
Tanpa kusadari, aku menjawab setuju. Rasanya jika untuk mereka, aku bisa mengorbankan apa saja. Mereka mungkin terlihat tegar, tapi aku tahu di hati kecilnya, mereka semua ingin pulang.
Kepala Desa tersenyum.
"Syukurlah aku menculik mereka ke sini. Dengan begitu, aku bisa mengusirmu dari sini, Saori."
Kepala Desa mengangguk. "Kau tidak seharusnya ada di sini, Saori. Tempatmu sekarang ada di dunia luar. Kau lebih bahagia saat berada di sana."
Aku terdiam. Ucapannya memang benar. Semenjak kenal dengan mereka, aku jadi lebih bahagia. Banyak hal yang ingin aku lakukan bersama mereka. Meskipun aku diam, tapi aku mengagumi mereka semua. Ingin akrab dengan mereka. Ingin kenal lebih dekat. Ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Banyak hal di dunia luar yang ingin kupelajari. Aku ingin ikut turnamen shogi. Aku ingin makan di restoran cepat saji sepulang sekolah. Aku ingin punya pacar yang baik hati.
Mungkin sekaranglah saatnya bagiku untuk bersinar. Mungkin di zaman inilah aku bisa hidup. Mungkin di zaman inilah teman-temanku yang sebenarnya hidup. Mungkin di zaman inilah aku bisa menemukan orang yang kucintai melebihi Yamada.
Aku ingin melanjutkan hidupku sekarang juga!
"Kepala Desa! Kapan kami semua bisa pulang?!"
Dia tersenyum. "Kau yakin ingin keluar dari sini? Setelah keluar, kau tidak akan bisa kembali lagi. Kau akan menua dan meninggal seperti orang-orang biasa. Yah, kau masih bisa bertemu dengan Ruri, sih."
"Saya tidak akan kabur lagi! Saya tidak ingin membuang teman saya hanya karena sebuah masalah yang kecil! Tekad saya sudah bulat sekarang! Saya ingin hidup di dunia luar!"
Kepala Desa mengelus kepalaku.
"Aku akan merindukanmu, Saori. Berbahagialah di sana."
Tak lama setelah itu, aku mengabari teman-teman bahwa mereka bisa pulang ke dunia luar sekarang juga.
__ADS_1
Reaksi mereka lebih gila dari yang kuduga. Mereka langsung menangis dan bersujud syukur. Mereka mengepalkan tangan berkali-kali, mengangkatnya ke udara, dan mengatakan "Yosha", "Yatta", "Yokatta", secara berulang-ulang.
Aku pun memberitahu rahasiaku yang sebenarnya pada mereka, tentang diriku yang bernama Tsuruga Saori, tentang diriku yang hidup di sini selama lima puluh tahun, tentang diriku yang merupakan anak kecil di tahun 1970.
"Eh?! Kau sudah hidup di sini selama 50 tahun?!"
"Umurmu berarti seharusnya 65?!"
Mereka tampak begitu tercengang.
"Ma-maaf sudah merahasiakan ini dari kalian." Aku menundukkan kepala.
Erza menatapku dengan aneh.
"Be-berarti... kau seumuran nenekku?"
"Y-ya... begitulah."
Keiko memelukku dari samping. "Erza, tidak sopan berkata begitu pada perempuan!"
"Eh... tapi kan memang begitu. Apa mulai sekarang aku harus memanggilmu Nenek?"
"Erza!!!"
"Erza-hentai!!!"
Nana dan Giana lalu memelukku setelah menghantam kepala Erza bersamaan.
"Lullin, aku tidak peduli bagaimana masa lalumu. Aku tak peduli kau berusia 65 tahun, bagiku kau tetap temanku! Kau tetap Lullinku!" Giana mengusap-usap punggungku.
"Aku mungkin anak kecil bagimu, tapi aku ingin kita tetap berteman, Lullin!"
Petualanganku di kampung hantu akhirnya selesai. Kepala Desa berubah menjadi Hide sebentar untuk meminta maaf pada mereka, dan akhirnya mengirim kami bersama-sama ke halte yang sudah tak beroperasi itu. Kata-kata selamat tinggalnya masih terngiang di telingaku.
"Selamat tinggal, Saori."
Setelah itu, berita soal tujuh murid yang menghilang telah ditemukan pun heboh. Kami didatangi massa selama berhari-hari, dan ditanyai ke mana kami pergi selama dua minggu. Kami semua sepakat untuk merahasiakan kampung hantu, dan mengatakan bahwa kami sendiri tidak sadar.
Berbagai spekulasi pun muncul di media. Ada yang mengira kami diculik alien, ada yang mengira kami tersesat di isekai, ada pula yang dengan tepat menebak soal kampung hantu, sehingga mitos itu kembali marak di internet.
Untuk yang kedua kalinya, dengan kikuk dan terbata-bata, aku menjelaskan pada teman sekelas tentang eksistensiku yang sebenarnya, sekaligus kebenaran tentang kampung hantu. Itu adalah bentuk maaf dariku karena telah kabur dan mengkhawatirkan semuanya. Tentu rahasia ini hanya aku katakan pada Jui-sensei dan murid-murid kelasku. Tidak ada orang luar yang tahu.
Selepas itu, Akemi berjalan mendekat. Dia mengulurkan tangan. Senyumnya yang sangat jarang, memekar untukku.
"Senang bertemu denganmu, Saori obaa-san."
***
__ADS_1
Author's Note
Novel ini akan libur dulu sampai lebaran.