
Aku dilecehkan.
Di dalam kereta yang sesak ini, seorang tante-tante berpakaian kantoran meraba-raba tubuhku dengan jemarinya.
Aku menoleh ke arahnya. Wanita tua itu langsung menyeringai.
Orangnya cantik sih, umurnya terlihat masih 30-an. Parfumnya wangi, dan tubuhnya juga terbilang seksi.
Tapi, entah mengapa, aku takut saat melihat wajahnya.
Aku sudah menghalau lengan tante-tante itu, tapi dia kembali menaruhnya di sana. Bahkan mulai bergerak ke celana depanku.
Aku ingin membela diri, tapi bingung harus melakukan apa. Tak kusangka laki-laki juga bisa dilecehkan seperti ini.
"Oi, bangsat!"
Seorang gadis bermasker mencengkram lengan wanita itu.
"Jauhkan tanganmu dari temanku!"
Orang yang berteriak itu, dari suaranya aku tahu. Dia Kusakawa Keiko, teman sekelasku yang tomboy. Aku tidak sadar dia satu kereta denganku.
"A-apa yang kau bilang? Aku tidak melecehkan dia, kok!" Wanita itu membela diri.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!"
"Hah? Mana buktinya?!"
"Ini! Aku sudah merekamnya barusan! Kau tidak akan kulepaskan, sialan! Akan kulaporkan kau pada polisi!" Keiko menunjukkan rekaman di ponselnya pada wanita itu.
Seketika orang-orang menjauh dari wanita itu, tampak merasa jijik saat melihatnya.
"Ma-maafkan aku...."
Selepas turun dari kereta, Keiko menggeret wanita itu ke kantor polisi dengan aku yang disuruh untuk ikut bersamanya.
Wanita itu tidak melawan, dan pasrah menerima sanksi dari pihak kepolisian.
Kami lalu pergi meninggalkan kantor polisi bersama-sama.
"Ma-makasih, Keiko."
"Tidak apa-apa, Erza. Kau pasti ketakutan, kan? Apa kau baik-baik saja sekarang?" Keiko melepas masker, menatap lembut ke arahku.
"Y-ya... aku baik-baik saja."
Sejujurnya, aku memang baik-baik saja. Hanya sedikit merasa kaget.
"Syukurlah... orang seperti dia perlu diberi hukuman."
"Aku setuju."
Keiko lalu memegang wajahku dengan jemarinya, kembali menatapku dengan khawatir.
"Sungguh, kau baik-baik saja, Erza?"
Posisi ini...
__ADS_1
Perasaan ini...
Kenapa aku merasa seperti perempuan yang baru saja diselamatkan oleh karakter utama laki-laki?
"Aku baik-baik saja, Keiko. Sungguh." Aku menghalau tangan Keiko.
Dia lalu tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu."
Ah, ya, perkenalkan, dia adalah Kusakawa Keiko. Teman sekelasku di SMA Subarashii. Perempuan yang tampan. Mantan anggota idol grup terkenal di Jepang.
Dia adalah satu dari tiga murid di kelas 1-F yang tidak dibenci oleh murid kelas lain. Yang pertama Lev, yang kedua Sera, dan yang ketiga dirinya.
Tidak aneh Keiko terkenal di kalangan murid laki-laki mengingat parasnya yang cantik dan sifatnya yang tomboy. Namun, yang mengherankan, dia juga terkenal di kalangan murid perempuan.
Bersama dengan Lev, dia menjadi murid yang menjadi magnet bagi siswi-siswi SMA Subarashii untuk datang ke Kelas 1-F.
Keiko memang tampan dan bersikap jantan secara alami, membuat para siswi tersihir olehnya. Keiko bahkan mengaku pernah ditembak oleh seorang siswi.
Dia sampai curhat padaku.
"Erza, kenapa para perempuan itu mengajakku berpacaran? Bukankah mereka tahu aku juga sama-sama perempuan?"
"Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang," jawabku saat itu.
Pertemuanku dengan Keiko bisa dibilang keberuntungan. Sebelum masuk ke SMA Subarashii, aku memang sudah kenal dirinya. Aku penggemar berat Miyu, rekan satu anggotanya di idol grup Sakurakarasu.
Saat melihat Keiko ada di kelasku, jantungku berdebar kencang. Tak pernah sekalipun dalam hidupku punya pengalaman satu kelas dengan orang terkenal seperti dia.
"Anjir, ada Keiko si cuek!"
Pada awalnya aku gugup setiap bicara dengan Keiko. Rasanya tentu sulit untuk bicara dengan orang yang selama ini kau anggap berada di atasmu. Namun, lama kelamaan, aku mulai terbiasa, dan akrab dengan dirinya.
"Oh iya, maaf sudah menurunkanmu di sini, Erza. Tujuan akhirmu mau ke mana?"
"Aku memang mau turun di sini, kok."
"Oh, baguslah. Kau mau pergi ke mana?"
"Ke Shinjuku 07 Maid Cafe."
"Eh, maid cafe? Laki-laki memang suka ke sana, ya."
"Aku ingin mencoba beberapa menu di sana."
"Bohong... pasti mau lihat cewek pake baju maid, kan?"
Aku memalingkan pandangan.
Ya, pasti ketahuan, sih.
"Kau sendiri mau ke mana, Keiko?"
"Aku mau ke...."
Keiko tiba-tiba menarik kepalaku dengan tangan kanannya sehingga wajahku menempel di dadanya. Gadis itu menekan kepalaku dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Ma-maaf, Erza! Tanganku berulah lagi!"
Ya, ini adalah kutukan yang Keiko miliki, yaitu tangan kanannya dapat bergerak sendiri.
Kutukan ini tidak bisa diprediksi, dapat bergerak dengan sendirinya tanpa dapat Keiko kendalikan. Dia menyebut kutukan ini tangan setan.
Sangat wajar disebut tangan setan karena tangan Keiko sering sekali berbuat jahat dan jahil. Misalnya menghancurkan ponsel orang lain, mendorong orang sampai kecebur sungai, juga berbuat mesum dengan melakukan pelecehan pada laki-laki maupun perempuan.
Contohnya yang terjadi padaku saat ini.
Keiko selalu merasa bersalah jika tangan setannya berulah, tapi dia benar-benar tidak bisa mengendalikannya.
Sangat beruntung sampai sekarang tidak ada kejadian fatal yang disebabkan oleh tangan setannya. Itu karena tangan setannya cenderung berbuat nakal dibanding melakukan hal-hal berbahaya.
"Ah, maaf Erza, padahal kau baru saja dilecehkan orang lain. Sekarang kau malah dilecehkan lagi olehku. Aku sungguh minta maaf." Tangan kanan Keiko sudah bisa dikendalikan lagi.
"Tidak, tidak apa-apa, Keiko."
Meskipun sama-sama dilecehkan, kenapa rasanya berbeda ya saat digerayangi tante-tante itu, dan menempel di dada Keiko yang nyoi-nyoi?
Aku sama sekali tidak terganggu, jantungku malah berdebar semakin kencang.
"Kau mau pergi ke mana, Keiko?"
"Ah, aku mau bertemu dengan anggota idol grupku dulu. Sudah lama kami tidak bertemu."
"Anu... apa Miyu juga ikut?"
"Oh, ya tentu saja dia ikut. Kenapa?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Keiko langsung menundukkan kepalanya dan menatap ke arahku.
"Hee... jangan-jangan kau ngefans sama Miyu?"
"Tidak, aku cuma kenal dia saja di Sakurakarasu. Tetangga mantan pacar temanku menyukainya."
Aku merahasiakan pada Keiko bahwa aku penggemar berat Sakurakarasu. Aku tidak ingin dia tahu.
"Oh... padahal kalau kau penggemar Miyu, aku bisa memberikanmu tanda tangannya, loh."
"Aku tidak butuh tanda tangan Miyu. Aku mau tanda tanganmu saja, Keiko si cuek."
Dia langsung menepuk punggungku.
"Ahaha, apaan sih kau ini. Aku sudah bukan idol grup lagi sekarang."
"Hahaha."
Kami lalu berpisah di penyebrangan. Aku berjalan ke tempat tujuanku, begitu pun dengan Keiko yang kembali memasang maskernya.
Meski dia sudah keluar, tetap saja banyak orang yang mengenalnya mengingat betapa populernya Keiko dulu.
Mengobrol dengan Keiko memang menyenangkan. Rasanya seperti mengobrol dengan laki-laki lagi.
Namun, entah mengapa, aku malah ingin melihat Keiko mengenakan baju maid sekarang.
__ADS_1