Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 7 - Murid Terpintar


__ADS_3

Hasil UTS baru saja dibagikan, dan ini adalah peringkat sepuluh besarnya.



Yoshino Akemi (1-F): 497


Takuma Kaoru (1-A): 495


Christina Statzfeldt (1-A): 482


Eguchi Kyouya (1-A): 480


Toshinou Akari (1-E): 475


Hitori Bocchi (1-G): 472


Uchiha Zoro (1-D): 462


Udin (1-B): 446


Mince (1-B): 445


Denji Manusia Ikan (1-B): 444



Satu sekolah shock saat melihat nama yang muncul di peringkat pertama. Akemi yang melihat sendiri hasilnya hanya tersenyum kecil sembari mengepalkan tangannya.


"Apa-apaan ini, murid Kelas 1-F peringkat pertama?!"


"Siapa itu Yoshino Akemi?!"


"Haha, ini sih jelas kecurangan."


Murid-murid Kelas 1-A langsung mencurigainya. Mereka menatap kami yang sedang memberi ucapan selamat kepada Akemi.


"Haha, terima saja kekalahan kalian! Kali ini kelas kami lah yang menang!" Roman tampak begitu bangga.


"Oi, yang benar saja. Tidak mungkin murid Kelas 1-F dapat nilai setinggi ini. Gadis itu pasti berbuat curang! Ayo mengaku!"


Akemi ditunjuk oleh murid-murid Kelas 1-A.


"Aku tidak curang, kok." Akemi menjawab santai.


"Hahaha, mana ada maling ngaku. Sudah pasti kau curang. Aku laporkan sekarang ke kepala sekolah."


"Silakan saja."


"Oi!"


Hoshi hendak mengejar mereka, tapi Akemi memegang bahunya.


"Tenang saja Hoshi, aku tidak berbuat curang, kok. Aku tidak akan dihukum."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Para murid Kelas 1-A benar-benar melaporkan kecurigaan mereka pada kepala sekolah. Gadis bersyal merah itu langsung diminta untuk melakukan ujian ulang seusai jam pelajaran. Soal yang diberikan berbeda, dan jauh lebih susah.


"Roman, Eguchi, kalian masuk kelas bersamaku sebagai perwakilan ketua kelas. Kita awasi Akemi bersama-sama. Murid-murid lain silakan menonton di luar." Jui-sensei mengarahkan.


Murid-murid yang berkerumun di Kelas 1-A langsung keluar bersama-sama, termasuk aku dan Hoshi yang sebenarnya ingin menonton di dalam.


"Akemi, soal ini berjumlah 100, gabungan dari matematika, fisika, biologi, kimia, dan bahasa inggris. Masing-masing soal berjumlah 20, waktu mengerjakan 120 menit. Jika nilaimu mencapai 75, kau lulus dan dinyatakan tidak bersalah. Mengerti?" Jui-sensei menatap ke arahnya.


"Iya."


"Tidak, 90! Aku baru bisa mengakuinya kalau dia mendapat nilai 90!" Eguchi bangkit dari bangkunya.


"Bagaimana, Akemi?" Jui-sensei menatap ke arahnya.


"Aku tidak keberatan."


"Soal ini dibuat lebih susah Akemi, kau tidak keberatan?"


"Tidak masalah."


"Baiklah, kalau begitu, silakan mulai!"


Akemi pun mulai mengerjakan soal-soal tersebut sendirian di bangkunya. Puluhan pasang mata menatap ke arahnya.


Tidak ada kesempatan bagi Akemi untuk berbuat curang. Kalau dia mendapat nilai tinggi lagi, itu berarti dia memang benar-benar genius.


Tanpa terasa, dua jam pun berlalu. Jui-sensei langsung memeriksa hasil ujiannya saat itu juga.


"Aku sudah selesai memeriksanya."


Para murid langsung bangkit untuk mendengar hasilnya.


"Wooahhh!!!"


Murid-murid Kelas 1-F langsung bersorak dan berduyun-duyun masuk ke dalam kelas.


Eguchi memeriksa kembali soal-soal yang dikerjakan olehnya, dan tampak tidak ada protes.


Beberapa murid Kelas 1-A kompak memeriksa tempat duduk Akemi untuk menemukan apa di sana ada contekan atau tidak, tapi hasilnya nihil.


"Kau memang hebat, Akemi. Selamat, ya!" Jui-sensei menepuk pundaknya.


"Itu semua karena bimbingan Anda, Jui-sensei."


Meski Akemi sudah membuktikan diri, murid-murid Kelas 1-A tetap tidak mau percaya pada hasilnya.


"Itu pasti gara-gara kutukannya!"


"Tidak mungkin ada murid yang lebih pintar dari Kaoru!"


"Aku tidak mau mengakuinya!"


Kami sekelas geram dengan sikap mereka. Bisa-bisanya mereka tidak mau menerima kekalahan. Akemi memang berasal dari SMP yang tidak terkenal, tapi bukan berarti dia tidak lebih pintar dari mereka.


Akemi sendiri bersikap bodo amat. Dia tidak peduli lagi dengan pendapat mereka, dan bersikap dengan biasa.

__ADS_1


"Kutukan Akemi adalah berubah jadi kucing saat dia bersin! Mana mungkin kutukan itu membuat dia jadi pintar!" Hoshi membela.


"Asal kalian tahu, saat SMP Akemi rangking 1 di sekolahku. Dia memang anak yang pintar!" Hide juga memberi pembelaan.


"Sekolah dia cuma SMP Higashiyama, sekolah berperingkat ratusan dari semua SMP yang ada di Jepang. Sepintar-pintarnya dia, tidak mungkin melebihi pintarnya para alumni SMP Subarashii. Ini pasti gara-gara kutukannya."


Para murid Kelas 1-A lalu tertawa bersama-sama.


Sekali lagi, Akemi tampak tidak peduli, tetapi kami semua panas.


"Sudah, sudah, tidak ada gunanya berdebat. Kalian itu murid SMA Subarashii. Apa pantas kalian bersikap begini? Memalukan sekali sampai menuduh yang tidak-tidak pada Akemi. Kalau kalian kalah, itu berarti kalian harus belajar lebih keras lagi. Mengerti?!" Jui-sensei memarahi para murid Kelas 1-A.


"Me-mengerti... Jui-sensei."


Jui-sensei adalah guru favorit murid-murid Kelas 1-A. Mereka selalu tunduk pada dirinya.


Jui-sensei juga salah satu alasan mengapa murid-murid Kelas 1-A membenci kami. Itu karena seharusnya Jui-sensei menjadi wali kelas mereka. Tapi, gara-gara ada Kelas 1-F, Jui-sensei pun dialihkan menjadi wali kelas kami oleh kepala sekolah.


Sampai saat ini, aku masih bisa merasakan tatapan kebencian dari mereka. Selain mencuri peringkat pertama, kami juga telah mencuri calon wali kelas idaman mereka.


"Sudah, teman-teman, Akemi bisa jadi pintar karena Jui-sensei lah yang menjadi wali kelasnya. Jui-sensei lah yang hebat, bukan Akemi." Eguchi memandang rendah Akemi.


Murid jangkung berkacamata itu benar-benar menyebalkan. Hoshi terlihat ingin memukulnya.


Setelah itu, pembuktian berakhir. Akemi dinyatakan tidak berbuat curang, dan berhak menerima pin bintang emas sebagai bentuk penghargaan. Pin ini hanya bisa didapatkan oleh murid-murid peraih sepuluh besar saat ujian, peraih juara kompetisi olahraga, seni, musik, atau game tingkat nasional, juga diberikan pada mereka yang selalu bersikap disiplin selama berada di SMA Subarashii.


Pin ini bisa digunakan untuk berbagai hal, salah satunya merekomendasikan aturan baru di sekolah pada para anggota OSIS di SMA Subarashii. Jika disetujui, aturannya akan langsung diberlakukan.


...×××...


Seusai kejadian itu, aku langsung bicara pada Akemi keesokan harinya.


"Akemi, kenapa kau bisa sangat pintar?"


"Tentu saja karena belajar."


"Aku juga sering belajar, tapi tak sepintar dirimu."


Akemi tiba-tiba menunduk.


"Dulu... aku ini anak yang bodoh dan tidak punya teman. Namun, suatu hari ada seorang murid yang datang menyelamatkanku. Semenjak saat itu, aku mulai rajin belajar karena ingin terlihat hebat di mata orang itu. Jadi, kalau disimpulkan, anak itulah alasan mengapa aku bisa menjadi seperti sekarang."


Aku mengangguk-angguk.


"Dia pasti orang hebat, ya. Sampai-sampai bisa membuatmu jadi seperti ini."


"Ya, dia orang hebat, aku sangat mengaguminya." Akemi tersenyum.


"Begitu, ya. Aku jadi ingin bertemu orangnya. Siapa tau aku bisa jadi sepertimu, kan? Hahaha."


Dia tiba-tiba cemberut, dan memalingkan pandangan.


"Bodoh."


"Eh? Apa maksdunya Akemi?"

__ADS_1


"Tidak... kau itu bodoh, Erza. Kau tidak mungkin bisa sepertiku." Akemi menggembungkan pipinya.


"Eh...."


__ADS_2