Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 58 - Latihan Terakhir


__ADS_3

(POV Yoshino Akemi)


Latihan intens terus berlanjut sampai sekarang di hari Sabtu. Besok kami akan istirahat sehari sebelum memulai turnamen yang sesungguhnya: festival olahraga.


Aku sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk menang atau mendapat uang dari hasil turnamen lomba, tapi setelah Erza bilang, "Ayo kita menangkan lomba ini bersama-sama, Akemi."


Aku jadi semakin bersemangat.


Latihan baru saja selesai hari ini, semua telah mengerahkan usahanya masing-masing, sekuat tenaga, dan sungguh-sungguh. Kami tahu, kami sama sekali tidak diunggulkan. Mana mungkin murid biasa seperti kami bisa menang melawan murid-murid elit. Terlebih jumlah kami lebih sedikit dibanding murid kelas lain. Namun, Jui-sensei selalu menekankan bahwa kami ini bisa melakukan perlawanan, bahkan tanpa harus menggunakan kutukan milik kami.


"Terima kasih sudah hadir anak-anak. Kalian tidak perlu khawatir, kalian semua sudah melakukan yang terbaik. Kita pasti bisa mendapat hasil yang memuaskan!" Jui-sensei menutup latihan.


"Sensei, bukankah ada satu hal lain yang ingin kau bicarakan pada anak-anak? Aku tidak percaya kau melakukannya, aku kecewa padamu, Sensei!" Shino tiba-tiba mengangkat tangan dan membuat pernyataan yang mengejutkan.


Anak-anak pun bertanya-tanya, termasuk diriku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh Shino.


Jui-sensei berdehem.


"Maaf, anak-anak, aku merahasiakan sesuatu dari kalian. Di festival olahraga kali ini, aku membuat taruhan dengan wali Kelas 1-A. Jika kelas kita menang, aku minta dia untuk pakai rok ke sekolah. Maaf ya, kemarin itu... aku benar-benar sedang emosi... aku tidak tahan karena dia terus menerus mengolok-ngolok kalian, hehehe."


"Lalu kalau kelas mereka yang menang?" tanya anak-anak.


"Lev harus pindah ke Kelas 1-A."


"Apa?!"


Para murid terlihat kaget, terutama murid-murid perempuan.


"Sensei ini kenapa membuat taruhan bodoh seperti itu! Kalau kelas kita kalah bagaimana?!" Emili tampak emosi.


"Sensei hanya bercanda, kan?" Giana tampak tidak percaya.


Lev sendiri hanya tersenyum.


Jui-sensei menatap ke arahnya.


"Maaf karena sudah menjadikanmu bahan taruhan, Lev. Tapi, aku sangat yakin, kita bisa menang di festival kali ini. Jadi, jangan khawatir, oke?"


Lev mengangguk.


"Sensei... tidak usah bertingkah bodoh seperti itu. Aku tahu, kau itu orang hebat, kau sudah mengkalkulasikan semuanya dengan benar, kan? Aku percaya padamu, Sensei. Jauh lebih percaya dibanding pada diriku sendiri."


Eh... apa Jui-sensei memang sehebat itu, ya? Aku yakin bisa menang juga sih, tapi kalau disuruh membuat taruhan, aku tidak berani.


"Iya, aku juga percaya padamu, Sensei. Aku sudah melihat banyak keajaiban yang kau lakukan di sekolah ini. Yang perlu kami lakukan hanya berusaha keras, bukan?" Sera menambahkan.


Sera yang merupakan alumni SMP Subarashii juga tampak begitu yakin.


"HORAAAAA!!!!" Hoshi tiba-tiba berteriak.


Semua orang menatap padanya.


"Kenapa melihat ke sini? Aku hanya ingin berteriak saja."


Hoshi langsung ditimpuk anak-anak.


"URAAAAA!!!" Erza juga berteriak. "Entah mengapa perasaanku jadi lebih baik sekarang. Rasa tegangku hilang."


"URAAAAA!!!" Yurina ikut berteriak. "Saya ikut-ikutan Erza saja."


Para murid mulai berteriak satu per satu. Semuanya berteriak, kecuali Lullin dan Kensel yang memang sedang tidak ada di sini. Lullin fokus latihan shogi, sementara Kensel sedang berwujud kakek-kakek ringkih, jadi tidak latihan.


Para murid berteriak semua, hanya aku saja yang tidak. Rasanya terlalu memalukan. Lagipula aku juga tidak gugup. Untuk apa berteriak segala?

__ADS_1


"Akemi tidak berteriak?" tanya Shino.


"Teriak apa?"


"I love you Erza gitu."


Aku langsung membekap mulutnya.


***


Sebelum kami bubar dan pulang dari rumah Sera, aku mendekati Hoshi saat anak itu sedang duduk sendirian di pinggir lapangan.


"Hoshi, ternyata memang tidak bisa, aku tidak bisa mengabaikan pengorbananmu begitu saja. Aku ingin membalas budi. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membalas budimu itu?"


Hoshi telah menyelamatkanku dari rasa sakit dan cedera yang mungkin akan kualami seandainya dia tidak menyelamatkanku saat itu. Aku tidak bisa tenang jika tidak memberi sesuatu yang membahagiakan untuknya juga. Sesuatu yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan padaku.


"Kau ini pemaksa sekali ya, Akemi. Tidak apa-apa, sungguh." Hoshi tidak mau mengalah.


"Iya, aku pemaksa, tolong beritahu aku apa imbalan yang ingin kau dapat dariku." Aku juga tidak mau mengalah.


Hoshi bertopang dagu.


"Kalau melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang aku katakan bagaimana?"


"Sebuah perintah?"


"Iya."


"Boleh."


"Ya sudah, tembak Erza sana."


Aku mematung sesaat. Wajahku pasti memerah sekarang. Apa dia tahu aku menyukai Erza?!


"Dia kan laki-laki yang kau sukai."


Ternyata Hoshi memang tahu. Apa sejelas itu ya rasa sukaku pada Erza?


"Ja-jangan itu! Yang lain saja! Yang lain!"


"Heee... kenapa? Ayo cepat tembak dia, Akemi. Bukan cuma kau saja yang suka Erza, loh."


"Kau juga suka ya, Hoshi?"


"Tentu saja tidak!!!"


Aku tertawa. Hoshi benar-benar lucu.


"Yurina! Maksudku Yurina! Selain Yurina, suatu saat Erza pasti akan bisa menggaet perempuan lain juga. Kau tahu, Erza itu laki-laki yang berkarakter seperti pemeran utama di sebuah anime romcom. Erza sangat baik dan bisa diandalkan. Kalau tidak hati-hati, gadis lain mungkin akan mendahuluimu, Akemi!"


Hoshi sangat baik. Sampai-sampai memintaku untuk menyatakan cinta pada Erza cepat-cepat... dia seorang teman yang suka mendukung temannya lagi. Aku beruntung berteman dengan Hoshi.


"Tidak, pokoknya yang lain!"


Aku belum mau menyatakan cinta padanya. Aku tidak mau buru-buru. Tidak mau tergesa-gesa. Tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan. Tidak mau memaksakan cintaku.


Aku ingin membuat Erza jatuh cinta padaku. Aku ingin Erza sendiri yang memilihku. Aku ingin hubunganku dengan Erza ini terjalin di saat yang tepat.


Kalau sekarang, Erza mungkin tidak mau dikarenakan ada Yurina. Yurina memang selalu mengaku sebagai sahabatnya, tapi aku tidak percaya. Insting gadisku mengatakan bahwa Yurina juga menyukai Erza, sebagai lawan jenis, lebih dari sekedar sahabat.


Karena itu, aku akan bersabar. Aku akan terus membuat Erza jatuh cinta padaku, dan membuat dia memilihku dengan sendirinya. Tidak apa-apa semisal Erza pacaran dulu dengan orang lain, atau punya ketertarikan pada gadis lain, tidak apa-apa, asalkan aku menjadi wanita terakhirnya. Aku tak hanya memikirkan waktu sekarang, tapi juga di masa depan. Aku harus sudah menjadi gadis idaman ketika Erza memilihku nanti.


Aku sangat yakin, Erza akan memilihku. Sama sekali tidak ada keraguan. Aku sama sekali tak terbayang jika suamiku di masa depan bukan Erza. Orang itu pasti Erza, dan harus Erza. Aku akan pergi ke Indonesia dan tinggal bersamanya di sana.

__ADS_1


Itu mungkin baru akan terjadi sepuluh tahun lagi, tapi keyakinanku tidak berubah. Aku ini Akemi. Aku ini gadis yang cantik dan imut. Tidak mungkin Erza tidak mau denganku.


Hoshi menghela napas.


"Ya sudah, main ke rumahku bagaimana. Pura-pura jadi pacarku sehari. Oke?"


Aku menatap aneh padanya.


"Heee...."


"Te-terlalu berlebihan, ya? Ya sudah, tidak usah, aku minta yang lain saja, ahahaha."


"Boleh," jawabku.


Hoshi terkejut.


"Eh, serius Akemi?"


"Iya, aku serius? Kau ingin latihan pacaran kan agar saat nanti sudah punya pacar sungguhan tidak gugup lagi?"


Hoshi mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu, tidak masalah. Aku juga ingin mencoba berperan sebagai pacar. Nanti kau nilai aku, ya?"


"I-iya, boleh!"


"Kalau begitu sudah dipastikan, besok aku akan datang ke rumahmu pagi-pagi sekali. Kita mungkin akan berkencan. Pergi ke taman hiburan, bioskop, makan bareng, kau yang tentukan, ya, Hoshi. Aku akan jadi pacar yang penurut."


"I-iya!"


Aku tersenyum.


"Kurasa ini rencana yang bagus. Aku memang sedang ingin jalan-jalan besok."


"Aku juga!" Hoshi membalas dengan semangat.


"Tapi... apa tanganmu itu baik-baik saja? Apa tidak akan tambah parah jika kau banyak bergerak?"


"Tidak!!! Kita kan hanya kencan, bukan main badminton atau bola basket! Ah, berarti kita tidak bisa main ke arcade, ah sayang sekali!"


"Kau suka main ke sana, ya?"


"Iya, biasanya ke sana bareng Shuu dan Erza. Ya, sudah lama sih, pas awal-awal masuk."


"Hee, begitu, ya."


Hoshi mengangguk.


"Ya sudah, nanti kau share loc rumahmu, ya. Aku bakal datang pagi-pagi sekali. Sekalian sarapan di sana boleh?" tanyaku.


"Iya, boleh!"


"Tapi bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka mengizinkan?"


"Pokoknya besok datang saja! Bilang kalau kau pacarku! Tidak apa-apa, bohongi saja dulu mereka, nanti aku yang akan menjelaskan semuanya di akhir. Kau mengerti, Akemi?!"


Aku mengangguk.


"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik besok. Bersiaplah, Hoshi!"


Hoshi juga mengangguk-angguk.


Akhirnya aku bisa membalas budi juga pada Hoshi. Dengan begini, hatiku jadi lebih tenang. Hoshi sudah berbuat baik padaku, sekarang giliranku untuk menghiburnya yang sedang merasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2