Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 42 - Kampung Hantu 6


__ADS_3

(POV Kihara Lullin (Tsuruga Saori))


3 tahun yang lalu (2020)


Lima puluh tahun aku habiskan di kampung hantu tanpa terasa. Sebagian besar waktu aku habiskan untuk bermain dan berlatih Shogi bersama para penduduk di sana.


Umurku tidak bertambah. Lima puluh tahun berlalu, wajahku masih sama seperti saat tahun 1970. Pola pikirku pun tidak lantas menjadi dewasa atau seperti nenek-nenek. Aku merasa masih berusia 12 tahun meski sudah melalui waktu selama itu.


Mungkin karena aku tidak menikah seperti kebanyakan warga di sana. Tidak mempunyai pasangan, tidak minum alkohol, juga tidak pernah melakukan hubungan intim.


Aku adalah anak paling muda di kampung itu. Lebih muda dari seorang lelaki berumur 30 tahun yang datang pada tahun 2000.


Pikiranku memang menjadi lebih kritis, tapi tidak lantas menghilangkan sifat kekanakanku. Kondisi mentalku masih sesuai dengan umurku sekarang.


"Ruri-san, sekarang sudah tahun 2020, kan? Aku sudah bisa pergi keluar, kan?" Aku menarik lengan bajunya.


"Iya, kau sudah bisa pergi keluar, Saori."


"Bantu aku daftar di sekolah baru, ya?"


"Iya."


"Nanti aku tinggal di mana? Apa harus bolak-balik sekolah - kampung hantu?"


"Aku sudah menyewakan apartemen murah untukmu."


"Benarkah? Yatta!"


Ruri-san adalah wanita yang mungkin menjadi pengganti ibuku selama berada di kampung hantu. Dia selalu melayaniku, dan membantuku kapan pun aku mau.


Dia sudah bisa keluar dari tahun 1980. Sejak saat itu, aku selalu menitip berbagai barang padanya. Menitip buku shogi, papan shogi, serta kaset rekaman pertandingan shogi.


Ruri-san sering menceritakan padaku bagaimana kondisi dunia saat dia pergi keluar. Soal lagu Jepang yang sedang hits, artis-artis terkenal, perkembangan alat-alat canggih, juga sering menjadi orang yang membeli majalah manga, dan menjadi rebutan teman sekampung. Kami harus bergantian membacanya.


Saat pertama bertemu di kampung hantu, Ruri-san masih terlihat sangat muda. Dia bilang usianya 20 tahun.


Sekarang, di tahun 2020 ini, Ruri-san bilang umurnya mungkin sudah menyentuh angka 30. Dan sudah berganti nama belasan kali serta pindah-pindah tempat kerja.


Aneh sekali kan jika kau menemui gadis berumur 20 di tahun 1980, tapi masih terlihat muda di tahun 2020?


"Saori, kau harus mengganti namamu saat sudah di luar nanti. Akan repot jika kerabatmu masih hidup, dan melihat dirimu yang masih semuda sekarang."


"Iya, aku akan mengganti nama sekaligus margaku, tapi apa, ya...."


"Kihara saja. Kau akan jadi anakku di dunia luar. Proses pembuatan kartu keluarganya pun tidak akan repot. Kau akan menjadi anak angkatku. Bagaimana?"


"Boleh."


"Bagus. Kalau begitu, mulai sekarang namamu Kihara Lullin!"


"Eh? Lullin? Nama aneh macam apa itu? Memangnya itu nama orang Jepang?"


"Hahaha, tidak apa-apa. Biar mirip dengan namaku, Kihara Ruri. Oke?"


"Heee, bukankah lebih mirip kalau namaku Rori atau Riri?"


"Aku lebih suka Lullin, pokoknya namamu Lullin!"


"Kalau Rui bagaimana?"


"Lullin!"

__ADS_1


"Eeehh... ya sudah."


Aku pun mulai menginjakkan kakiku di dunia itu lagi setelah lima puluh tahun lamanya. Aku turun di Tokyo, tempat yang jauh dari rumahku dulu, Osaka.


Jantungku berdebar-debar. Dunia ini sudah sangat berubah dibanding saat aku masih kecil dulu. Ruri-san bilang dunia memang makin canggih dan serba elektronik, tapi aku tak menyangka akan sedrastis ini perubahannya. Aku seperti berada di masa depan yang begitu maju.


Aku jadi teringat pada keluargaku. Apa ibu dan ayah masih hidup? Berapa umur Shiori sekarang? Apa dia menikah dengan Yamada?


Setelah kuhitung, umur Shiori sekarang adalah 60 tahun. Dia lahir tahun 1960, dan sekarang sudah tahun 2020. Kalau dia masih hidup, Shiori sekarang sudah jadi nenek-nenek.


Aku menggelengkan kepalaku. Berusaha tidak mengingat lagi keluargaku. Aku ingin memulai hidup baru sebagai seorang pelajar SMP lagi.


Kami tiba di sebuah apartemen sederhana. Meski dibilang sederhana, tapi tetap saja bagus menurutku. Setidaknya apartemen ini lebih modern dibanding tempat tinggalku dulu.


"Saori... ah tidak, Lullin. Kau serius ingin meneruskan hidup di dunia ini?"


Aku mengangguk.


"Aku merasa menyesal pergi ke kampung itu. Aku ingin hidup di dunia ini, dan meninggal di dunia ini. Meski nanti banyak penderitaan, aku tidak akan kabur ke kampung itu lagi."


Ruri-san tersenyum.


"Begitu, ya. Ya, tidak apa-apa, tapi aku mungkin tidak akan sering ada di apartemen ini. Aku tidak ingin umurku terus bertambah. Suamiku akan marah jika aku bertambah tua, hahaha."


"Aku akan sekolah sampai lulus, mendapat pekerjaan yang layak, setelah itu mengganti semua ongkos yang kau berikan, Ruri-san. Aku berjanji!"


Ruri-san mengusap-usap kepalaku.


"Tidak usah khawatir soal biaya. Sudah kubilang, kau sekarang anak angkatku, Lullin. Fokus saja sekolah, tidak perlu memikirkan biaya. Oke?"


Aku mengangguk.


"Sekali lagi, aku bakal jarang ada di sini. Aku hanya akan mampir sesekali untuk mengirim uang dan sebagainya. Jika ada kebutuhan, langsung saja susul aku ke kampung hantu. Oke?"


"Panggil aku Mama."


"I-iya, Mama."


Semenjak itu, aku kembali hidup di dunia, menjadi pribadi baru bernama Kihara Lullin yang memulai garis awal kehidupannya di sekolah menengah pertama.


Kupikir semua akan berjalan lancar, tapi ternyata sifat pemaluku kembali muncul, bahkan lebih parah.


Aku menjadi lebih pemalu dari sebelumnya. Orang-orang banyak membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti.


Game online, streaming, VTuber, FPS, banyak istilah asing terdengar di telingaku. Aku tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka.


"Kihara kok tidak tahu email?"


"Browsing juga tidak tahu, hahaha."


"Dia orang kampung kali."


"Eh, orang kampung saja tahu, loh."


"Kihara seperti orang jaman dulu, ya."


Jika aku pikir-pikir, aku ini memang orang jaman dulu. Aku seharusnya sudah menjadi nenek-nenek. Murid-murid seumuranku di kelas adalah orang-orang yang seharusnya seumuran dengan cucu-cucuku. Usiaku lima puluh tahun lebih tua dari mereka meski umur kami sama-sama dua belas.


Mengetahui hal itu, aku jadi minder. Aku merasa sungkan. Aku merasa tidak cocok dengan mereka. Aku asing pada manusia. Asing pada barang-barang zaman sekarang. Aku merasa sendirian meski orang-orang berkeliaran di sekitarku.


Pada akhirnya, masa SMP-ku menjadi lebih suram dibanding masa SMP-ku saat dulu. Aku tidak memiliki satu pun teman, dan mendapat gelar murid paling aneh seangkatan.

__ADS_1


Aku ingin kabur. Kembali lari dari kenyataan. Pergi ke kampung hantu, dan hidup dengan nyaman.


Tapi, aku sudah berjanji pada Ruri-san. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan kabur. Aku akan bertahan di dunia ini sekeras apa pun masalah menerjang.


Karena itu, aku terus bertahan. Aku berusaha keras mempelajari dunia zaman sekarang. Mengejar ketertinggalan informasi selama lima puluh tahun ke belakang.


Aku sudah menyerah dengan masa SMP-ku, dan bertaruh di masa SMA dengan segudang pengetahuan modern yang telah aku dapatkan.


Namun, meski begitu, meski sudah bisa mengikuti perkembang teknologi modern ke tahap yang paling update, aku tetap saja menjadi anak yang sangat pemalu saat masuk ke SMA.


***


Di SMA, aku terkejut saat bertemu seorang siswi bernama Akemi. Dia agak mirip dengan adikku. Aku bahkan hampir memanggilnya Shiori.


Saat tahu dia berasal dari Osaka, tebakanku semakin mengarah ke sana. Akemi mungkin adalah cucu dari adik perempuanku, Shiori. Tapi aku tidak mau menerima fakta tersebut. Aku terus bungkam dan tak pernah menanyakan soal Shiori pada Akemi.


Ketika hasil UTS diumumkan, keyakinanku semakin membesar lagi. Gadis dengan tingkat kepintaran seperti ini kembali mengingatkanku pada Shiori. Wajah mirip, kepintaran pun sama. Akemi jadi semakin mirip dengan Shiori yang aku tahu. Bedanya Akemi lebih pendiam, berbeda dengan Shiori yang sangat aktif.


Murid yang paling kutakuti di kelas adalah Shino. Dia pernah diam-diam berdiri di belakangku saat aku sedang memikirkan Ruri-san yang sedang tinggal di kampung hantu.


Saat itu, aku panik, aku takut Shino tahu identitasku yang sebenarnya.


Shino bilang.


"Are... kenapa aku tidak bisa membaca pikiranmu?"


Aku langsung bernapas lega.


"Gajah gajah gajah...." pikirku.


"Sekarang kau memikirkan gajah, tapi kenapa pikiranmu yang sebelumnya tidak terbaca, ya?"


"Mu-mungkin kutukanmu tidak bisa membaca rahasia terdalam. Ra-rahasia yang paling tidak ingin diketahui oleh orang lain."


Shino mengangguk-angguk.


"Ah, sepertinya begitu. Soalnya terkadang aku tidak bisa membaca pikiran anak-anak. Begitu ya, begitu ya. Jadi soal Erza yang pernah masturbasi sambil memikirkanku bukan rahasia terdalamnya, ya. Aku mengerti sekarang."


"Eh...." Aku mendengar sesuatu yang seharusnya tidak aku dengar.


"Maaf, tidak sengaja bocor. Jangan bilang ke orangnya, ya." Shino menangkupkan kedua lengan.


Aku bersyukur kutukan Shino memiliki kekurangan. Segala informasi tentang kampung hantu sepertinya tidak dapat dia baca.


***


Selama bersekolah di SMA Subarashii aku merasa sangat senang. Meskipun sifatku sangat pemalu, tapi teman-teman sekelas tidak ada yang mempermasalahkan. Mereka tidak menghinaku, dan selalu memperlakukanku dengan setara. Aku bahkan mulai berteman baik dengan Nana dan Giana. Rasa maluku terhadap orang-orang perlahan mulai terkikis. Aku jadi bersyukur memiliki sebuah kutukan, karena dengan begitu, aku bisa bertemu dengan mereka.


Namun, aku terlalu naif, kutukan ini bagaimanapun adalah sebuah masalah. Aku terlalu ceroboh membiarkan kutukan ini terlalu sering aktif.


Puncaknya, aku menyebabkan masalah besar. Aku membuat seorang guru marah sehingga dia tidak mau mengajar di kelasku lagi.


Aku merasa sangat bersalah. Keberadaanku ternyata sangat merepotkan. Kutukan ini benar-benar berbahaya.


Teman-temanku sering sekali pingsan olehku. Mereka tidak pernah marah karena mereka memang anak-anak yang baik, tapi kalau dipikir lagi, kutukan ini sudah membuat mereka kerepotan. Aku tidak bisa membuat mereka mengalami ini terus menerus.


Kalau aku pergi, tidak akan ada yang pingsan lagi, kan? Tidak akan ada yang dirugikan lagi, kan?


Aku mulai berpikir bahwa kutukan yang kudapatkan adalah balasan dari dosa besar yang telah kulakukan di masa lalu.


Keberadaanku sekarang hanya akan membuat sengsara orang lain.

__ADS_1


Maaf Ruri-san, sepertinya aku memang tidak layak untuk tinggal di dunia yang indah ini.


__ADS_2