Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 1 - Murid Terpeka


__ADS_3

"Erza, bangun! Erza!"


Crispy mematuk-matuk keningku.


"Ah, selamat pagi, Crispy." Aku menengok ke arah ayam peliharaanku.


"Astaga, kau ini, semalaman main gim terus. Apa kau lupa hari ini ada sekolah?"


"Sekarang masih jam delapan. Lima belas menit lagi, ya." Aku kembali memejamkan mata.


"Oi, Erza!" Crispy kembali mematuk keningku.


"Iya, iya, aku bangun!"


Dengan malas, aku pun pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahku.


Semenjak mendapat tato bintang merah, aku mulai bisa mendengar suara hewan-hewan. Burung yang mengejek, anjing yang membentak, dan kucing yang menghina, aku bisa mengerti apa yang mereka ucapkan.


Ya, itu adalah kutukan yang kudapatkan setelah tato bintang merah tiba-tiba muncul di tubuhku. Sebuah kutukan yang bagiku cukup merepotkan.


Bagaimana tidak, semua suara hewan bisa aku dengarkan. Termasuk suara jeritan semut yang tidak sengaja aku injak di kamar mandi.


"Oi, manusia, tega sekali kau membunuh Daichi!"


"Dia adalah kepala desa kami!"


"Tanggung jawab kau, manusia! Anak dan istrinya-"


CRAK!


"Haaah... leganya...."


Kau mengerti?


Hidupku menjadi tidak tenang semenjak dapat kutukan ini. Setiap melihat cicak, mereka selalu mencaciku. Melihat kecoa, selalu terbang ke arahku.


Paling parah saat melewati pasar ikan. Aku seperti mendengar jeritan orang-orang yang sedang dieksekusi.


"Erza, sudah kubilang tidak boleh memasukan ayam ke kamarmu!" Ibu kos memarahiku.


"Ahaha, maaf, aku menjadikan Crispy sebagai alarm."


"Tetap tidak boleh!"


"Kenapa memasukan ayam tidak boleh, tapi memasukan perempuan boleh?"


"Karena perempuan tidak buang kotoran di mana-mana!"


Aku bertopang dagu.


"Bagaimana kalau begini. Saat waktunya tiba nanti, aku akan memotong Crispy dan membagikan dagingnya padamu. Soal kotoran, aku akan mengumpulkannya sebagai pupuk, dan menaburkannya di kebunmu. Bagaimana?"


"Setuju!" Ibu kos menyalamiku dengan cepat.


Setelah itu, aku berganti baju dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


"E-Erza... kau tidak serius kan soal memotongku?" Crispy terlihat tegang.

__ADS_1


"Kita sudah berteman sejak kau menetas, Crispy. Aku tak mungkin memotongmu."


"E-Erza...."


"Aku tidak tega memotongmu, jadi aku akan meminta tolong pada orang lain."


"Oi!"


...×××...


"Erza!!!" Hoshi yang baru datang langsung berlari ke arahku. "Apa kau sudah mengerjakan PR matematika?"


"Sudah."


"Boleh lihat?"


"Tidak."


"Oi, jangan pelit begitu! Kita ini teman sekelas, kawan! Ayolah!"


Melihat Hoshi memelas, aku pun merasa iba.


"Iya, iya, ini lihat sendiri."


Ketika hendak memberikan PR-ku, beberapa murid tiba-tiba masuk ke kelas. Mereka memberi tatapan merendahkan pada kami semua.


"Huh, dasar orang-orang gagal. PR saja masih mencontek. Memalukan SMA Subarashii saja." Seorang lelaki berkacamata yang berdiri paling depan, berbicara.


Salah satu dari mereka lalu mengambil buku PR-ku, dan melihat isinya.


"Apa-apaan ini. Jawabanmu banyak yang salah! Parah sekali!" Murid perempuan itu lalu melempar bukuku ke lantai.


Ketua kelasku, Roman, berjalan menghampiri mereka dengan eskpresi yang santai.


"Ada perlu apa kalian di sini?"


"Kau ketua kelasnya?" tanya si murid berkacamata yang berpostur cukup tinggi.


"Ya. Kenapa?"


"Keluar lah dari sekolah ini. Kalian murid-murid terkutuk hanya mencemari reputasi SMA Subarashii. Jangan datang ke sini lagi besok. Mengerti?" Murid berkacamata menatap Roman serius.


"Maaf, yang menentukan kami boleh di sini atau tidak bukan kau, tapi kepala sekolah. Kau tidak berhak mengusir kami, kacamata." Roman menjawab dengan santai.


"Aku sudah berbicara dengan ketua kelas B, C, dan D. Mereka semua sepakat, tidak mengakui kalian sebagai murid sekolah ini. Kami akan melakukan rapat besar-besaran bersama anggota OSIS untuk mengeluarkan kalian dari sekolah ini. Sebelum itu terjadi, aku harap kalian sadar diri, dan pergi secepat mungkin."


"Tidak mau...." Roman menjulurkan lidahnya.


"Oi, sadarlah! Kalian itu aib SMA Subarashii!"


"Bodo amat...." Sikap santai Roman membuat lelaki berkacamata itu jengkel.


Seorang gadis berambut panjang lalu berjalan menghampiri mereka.


"Umm... kalian abaikan kami saja, oke? Kami tidak mengganggu, kok. Anggap saja kami tidak ada." Emili tersenyum.


"Mana bisa begitu. Aku alergi dengan orang-orang bodoh seperti kalian. Cepat pindah sebelum kalian menyesal."

__ADS_1


Ya, kelas kami memang bukan kelas yang berisi murid-murid pintar seperti kelas lain. Kelas kami hanyalah kumpulan murid-murid yang mempunyai sebuah kutukan.


Hanya sedikit murid yang pintar, atau bahkan tidak ada sama sekali.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengusir murid-murid Kelas 1-D? Mereka orang-orang bodoh juga, kan?"


Kelas 1-D kebanyakan dihuni oleh para murid yang masuk lewat jalur mandiri. Mereka sangat dihormati karena memberikan banyak sumbangan untuk SMA Subarashii. Mereka lah yang membuat SMA Subarashii tetap mewah dan terawat.


"Ma-mana bisa aku mengusir mereka. Mereka berjasa besar untuk SMA Subarashii." Lelaki itu membenarkan kacamatanya.


"Hee, bukannya kau bilang alergi dengan orang-orang bodoh?"


"Mereka berbeda!"


"Oh... jadi kalau orang bodohnya kaya raya kamu jadi tidak alergi? Hmm... bukankah itu namanya standar ganda?" Emili terus memojokkan ketua Kelas 1-A.


"Orang tua mereka adalah donatur terbesar di sekolah ini. Mereka orang-orang penting! Sedangkan kalian, kalian hanya beban di sini! Kalian tidak memberikan apa pun untuk SMA Subarashii!"


"Kau sendiri sudah memberikan apa untuk SMA Subarashii? Apa kau juara lomba? Apa kau menyumbang dana? Atau jangan-jangan kau sudah dapat nobel internasional? Waah, hebat sekali! Sudah berapa prestasi yang kau sumbangkan untuk SMA Subarashii?"


Lelaki itu terdiam.


"Bodoh, aku baru sepuluh hari di sini. Aku belum memberikan apa-apa."


"Kami pun begitu. Kami baru sepuluh hari di sini, jadi belum memberikan apa-apa. Kau mengerti?"


Lelaki itu berdecih. Aku menahan tawa, kagum dengan kemampuan berbicara Emili sampai membuat ketua Kelas 1-A malu.


"Lakukan sesuka kalian! Tapi awas, kalau kalian membuat kekacauan, aku akan langsung melapor pada kepala sekolah! Ingat itu!"


Lelaki itu lalu pergi bersama para pengikutnya.


Murid-murid Kelas 1-F langsung bersorak dan memberi ucapan terima kasih pada gadis itu.


"Terima kasih, Emili! Kau telah menyelamatkan kami!"


"Kau sangat keren!"


"Emili, daicuki!"


Aku merasa kagum pada gadis berambut panjang itu. Sejak mengenalnya minggu lalu, aku sudah bisa menebak bahwa gadis itu memang pandai bicara.


"Emili pintar bicara, ya. Dia pasti masuk jurusan hukum." Hoshi menaruh tangannya di pundakku.


"Belum tentu lah, aku yang suka hewan saja belum pasti jadi dokter hewan."


"E-Erza... kau menyukai hewan?" Hoshi menatap ngeri.


"Bukan itu maksudku!"


"Kau suka kucing jantan atau kucing betina?"


"Aku masih normal, tentu saja suka kucing betina!"


"Kau tidak normal, Erza!!!"


"Bukan begitu!"

__ADS_1


Aku bertemu berbagai macam orang menarik di sini. Ada Emili si pesatir handal. Ada Roman si ketua kelas santai. Juga ada Hoshi si botak bersahabat.


Meski terkadang merepotkan, aku bersyukur bisa berkumpul di kelas aneh ini bersama mereka semua.


__ADS_2