
Papan pengumuman di lantai dasar SMA Subarashii dipenuhi oleh murid-murid yang berdempetan untuk melihat hasil UAS Semester satu kemarin.
Peringkat UAS Semester 1 Kelas 1
Takuma Kaoru (1-A): 498
Honma Sera (1-F): 497
Christina Statzfeldt (1-A): 495
Yoshino Akemi (1-F): 493
Toshinou Akari (1-E): 490
Hitori Bocchi (1-G): 488
Eguchi Kyouya (1-A): 485
8. Kotobuki Koyomi (1-A): 482
Mihama Tenri (1-A): 480
Denji Manusia Ikan (1-B): 475
Sera menghela napas, lagi-lagi dia kalah oleh Takuma Kaoru. Semenjak kelas satu SMP, dia tak pernah sekali pun mendapat peringkat satu di sekolah, selalu kalah oleh Kaoru. Kali ini pun dia harus menerima kekalahannya lagi dengan selisih poin yang sangat tipis.
Berkebalikan dengan Sera, Akemi justru tidak pernah tidak mendapat peringkat pertama semenjak kelas satu SMP. Kali ini dia harus mengakui bahwa di atas langit memang masih ada langit. Terlebih, dia dikalahkan oleh dua temannya sendiri, Sera dan gadis yang dia temui di apartemen Yurina, Christina.
"Hahaha, akhirnya kau kalah juga, Yoshino Akemi. Sudah jelas kan siapa murid terpintar di sekolah ini? Yang kemarin pasti karena kau curang! Hahaha!" Orang yang bersuara lantang itu adalah Eguchi Kyouya, ketua Kelas 1-A sekaligus pembenci Kelas 1-F paling terdepan.
Akemi tidak menanggapi, hanya berbalik meninggalkan papan sambil berdecih sebal. Dia mengepalkan tangan kanannya.
"Sudah cukup, Eguchi. Akemi itu temanku. Aku tidak mau bermusuhan dengan Kelas F." Christina menepuk pundaknya.
"Hah? Kau menganggap murid terkutuk itu temanmu? Jangan bercanda Kurisutina!"
"Berhenti memanggilku begitu!"
__ADS_1
"Mereka adalah pencuri, Kurisutina. Jui-sensei, uang beasiswa, perhatian warga sekolah, seharusnya kitalah yang mendapatkan semua itu, bukan mereka!"
"Kau ini anak orang kaya, kan? Untuk apa kau merengek minta beasiswa? Beasiswa itu untuk murid-murid pintar yang ekonominya tidak melebihi standar sepertimu. Anak sultan kok minta beasiswa." Christina bersungut-sungut.
"Lagipula, penambahan beasiswa pada mereka tidak mengurangi beasiswa yang kita dapat, kok. Jadi ada tidaknya mereka tidak berpengaruh." Kaoru ikut berbicara.
"Kau sama sekali tidak mengerti, Kaoru-kun. Kalau tidak ada mereka, uang yang didapat para penerima beasiswa pasti jadi lebih besar dibanding biasanya. Itu artinya, seorang penerima beasiswa sepertimu telah dirugikan oleh mereka."
Jui-sensei tiba-tiba datang dan merangkul Eguchi dan Kaoru.
"Kalau mereka tidak ada, tentu tidak akan ada beasiswa apa pun yang turun. Benar kata Kaoru-kun, ada tidaknya mereka sama sekali tidak berpengaruh terhadap nominal beasiswa yang kalian dapat. Tidak berkurang atau pun bertambah."
"Jui-sensei!" Kaoru dan Eguchi menatap antusias.
"Kalian berdua sungguh hebat, kalian konsisten masuk sepuluh besar. Bapak bangga pada kalian berdua."
Dipuji seperti itu, mereka berdua merasa senang.
Jui-sensei hanya mengajar mereka selama satu bulan saat semester 2 di tahun terakhir SMP mereka. Dalam kurun waktu sesingkat itu, mereka berdua dibuat jatuh cinta oleh cara mengajarnya yang asyik, menyenangkan, dan mudah untuk dimengerti.
Jui-sensei lalu bilang, jika ingin menjadi muridnya, mereka harus berjuang mati-matian mengambil satu dari empat puluh kursi di Kelas 1-A SMA Subarashii. Saingan mereka bukan cuma teman sekelas, tapi juga sekolah-sekolah lain dari berbagai penjuru Jepang serta murid-murid internasional yang mendaftar ke sana.
Kaoru dan Eguchi bersyukur bisa dapat satu kursi di Kelas 1-A, dan merasa bersemangat karena akan menjadi anak didiknya Jui-sensei.
Memang, mereka masih dapat jatah ajaran dari Jui-sensei di kelas, tapi sensasi saat jadi guru dan wali kelas tentu jauh berbeda.
Eguchi patah hati sampai saat ini.
"Sebentar lagi akan diadakan pekan olahraga. Kalian berdua ikut apa?" tanya Jui-sensei.
"Aku akan main Shogi," jawab Kaoru.
"Aku mungkin estafet." Eguchi menambahkan.
Jui-sensei tersenyum.
"Siap-siap kalah, ya. Kelas 1-F yang akan jadi juara umum." Jui-sensei terkikik.
"Sensei bicara apa? Mana mungkin mereka menang. Mereka itu kan murid-murid payah. Sudah jelas kelas kami yang akan menang. Atau mungkin Kelas C." Eguchi mempertimbangkan Kelas C yang berisi murid-murid jalur prestasi.
"Kami tidak akan kalah." Kaoru membalas singkat.
__ADS_1
Mereka pun berpisah. Jui-sensei pergi ke kantor dan bersantai di kursinya menunggu jam pertama yang masih tersisa satu jam lagi sebelum dimulai.
"Jui-sensei, bagaimana persiapanmu untuk pekan olahraga nanti?" Harima-sensei, Wali Kelas 1-A, memijat punggungnya.
"Kami akan menang."
"Menang? Hahaha, dapat peringkat 5 saja sudah keajaiban. Selain Teruaki si "Monster Olahraga", sepertinya tidak ada lagi murid yang mencolok di sana. Ah, sayang sekali, seharusnya dia masuk ke kelasku."
"Kau jangan meremehkan kami, Harima-sensei."
"Aku tidak meremehkan, tapi kenyataannya memang begitu. Selain Teruaki siapa lagi murid yang bisa kau andalkan? Sera-chan hanya pandai bermain musik. Selebihnya? Shirakawa masuk klub voli, tapi jarang main gara-gara sering ganti kelamin. Yukimura kepribadiannya ganti-ganti terus, dan sering main jelek. Siapa lagi? Tidak ada, kan? Apa kau lupa bahwa Kelas A itu kandangnya para juara? Setengah dari mereka adalah anak-anak genius dalam bidang olahraga. Jawara basket, voli, tenis, lari marathon, semua ada di sana. Murid-murid Kelas 1-A adalah definisi dari murid yang sempurna. Mereka yang berada di sana adalah orang-orang yang berdiri di puncak keahlian mereka. Mana mungkin murid-murid aneh nan terkutumu itu bisa menang. Hahaha."
Harima-sensei pergi dengan tawa yang cukup keras. Jui-sensei emosi. Kupingnya panas mendengar ejekan dari guru berkacamata itu.
"Harima-sensei... mau taruhan? Kalau kelasku menang, kau harus pakai rok selama satu minggu saat mengajar. Bagaimana?"
Harima-sensei tersenyum.
"Boleh, tapi kalau kelasku yang menang... berikan Teruaki Lev padaku! Biarkan dia pindah ke Kelas 1-A!"
Jui-sensei tersentak.
"Heee... jadi kau mengincar dia, ya."
"Iya, aku akan mengawasi dia lebih baik darimu. Aku tak peduli soal kutukannya, itu bisa diatur."
"Heee... kau sepertinya serius ingin mengalahkanku."
"Ya, dalam prestasi mengajar, aku tidak mungkin bisa mengalahkanmu. Tapi dalam hal ini, aku tidak akan kalah."
Harima-sensei tampak begitu percaya diri.
Jui-sensei mengangkat alisnya dan tersenyum.
"Akan kutunjukkan kau bagaimana cara mendidik murid yang benar."
"Hahaha, kita lihat siapa yang menang. Murid-murid gagalmu itu, atau murid-murid jawara di kelasku."
"Aku tidak sabar menunggunya."
Aura persaingan sudah terasa antara kedua wali kelas ini.
__ADS_1
Jui-sensei yang sudah berada di kelas f langsung mengumumkan dengan lantang.
"Kita harus jadi juara umum di pekan olahraga nanti!"