
Di antara semua murid Kelas 1-F, Shino lah yang paling aku takuti. Dia tidak kuat seperti Giana atau seorang pesatir seperti Emili. Namun, dia bisa menghancurkan kehidupan seseorang hanya dengan satu perkataannya saja.
Shino adalah kunci dari pintu rahasia-rahasia murid Kelas 1-F. Dia tahu segala hal tentang kami. Apa yang kami pikirkan, apa yang kami sembunyikan, dan apa yang kami rencanakan.
Itu semua gara-gara kutukan miliknya.
Kutukan milik Shino adalah pikiran orang yang berada di dekatnya akan terbaca.
Sekilas memang tidak seperti kutukan. Apa ruginya bisa membaca pikiran orang lain? Bukankah justru enak karena bisa mendapatkan berbagai informasi rahasia?
Awalnya aku berpikir begitu, sampai suatu hari gadis berkacamata itu berkata padaku.
"Erza, tadi aku baca pikiran murid-murid kelas lain saat aku lewat di lorong. Mereka berpikir aku jelek, suram, dan lebih baik mati saja. Aku tahu sih mereka tidak menyukaiku, tapi kalau mendengar hal itu setiap hari rasanya sedih juga."
Pasti berat jadi Shino. Aku yang hanya ditatap sinis saja sudah merasa tidak nyaman. Bagaimana Shino yang mendengar ujaran kebencian setiap hari?
Meski begitu, kutukan Shino memang bisa menjadi senjata andalan juga buatnya. Terutama jika dia sedang ingin mengancam para murid yang ketahuan mengejeknya tersebut.
"Hei, aku tahu kau mencontek saat ujian fisika kemarin."
"Kau mengambil sedotan gadis yang kau sukai di kantin."
"Kau tidak ganti ****** ***** selama sebulan."
Orang yang dilabrak Shino biasanya akan langsung panik dan menunjukkan raut wajah tidak nyaman. Shino tidak pernah melapor atau menyebarluaskan rahasianya itu. Dia hanya iseng untuk membuat para murid itu merasa malu.
Namun, beda halnya dengan perlakuannya terhadap teman sekelasnya sendiri. Shino sering menyebarluaskannya dengan suara lantang sampai membuat orangnya malu.
"Akemi, Hoshi lagi bayanyin kamu jadi istrinya!"
__ADS_1
"Oi, kenapa malah dibilang!" Kepala Hoshi tidak bersinar, menunjukkan bahwa dia berkata jujur.
"Jangan dipendam terus dong, minta langsung aja ke orangnya!"
"Di-diam kau!"
Dia berganti mendekati Shuu.
"Akemi, Shuu juga bayangin kamu jadi istrinya!"
"Hahaha, memang benar! Aku selalu membayangkan semua gadis di kelas ini menjadi istriku termasuk dirimu, Shino! Aku ingin menjadikan kalian haremku, hahaha!"
Berbeda dengan Hoshi yang malu, Shuu malah percaya diri dan mengatakannya dengan lantang. Membuat dia semakin dipandang mesum oleh para murid.
Bukan hanya para laki-laki, murid perempuan pun menjadi korban Shino.
"Lullin! Aku tidak menyangka kamu...."
"Waah, Sera ternyata pernah...."
Sera langsung membekap mulut Shino saat itu juga.
"Diam! Jangan dibocorkan! Nih uang, jangan pernah bocorkan rahasiaku, oke?!"
Shino menerima beberapa lembaran uang 10.000 yen dari Sera.
"Waah, lumayan buat cosplay."
Selain mereka bertiga, rahasia murid gadis lain pun tidak aman. Termasuk rahasia Akemi yang merupakan teman dekatnya.
__ADS_1
Hanya rahasia Lev yang aman karena pikirannya tidak bisa dibaca olehnya.
Semakin lama, Shino makin liar dan tak terkendali, membuat para murid malu dan lesu karena aib mereka telah dibeberkan olehnya.
Akemi akhirnya ambil tindakan. Aku tidak tahu apa yang dikatakan olehnya. Akemi hanya membawa Shino keluar kelas, lalu beberapa menit kemudian Shino kembali dan menunduk minta maaf pada semuanya.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji. Rahasia kalian aman sekarang."
Para murid langsung bersorak. Sekarang tidak perlu takut lagi dekat dengan Shino karena pikiranku tidak akan dibaca.
Akemi lalu berjalan mendekati Hoshi.
"Hoshi, tidak perlu malu, apa yang kaupikirkan, itu adalah hakmu, duniamu, kau sama sekali tidak bersalah, pikirkanlah apa pun yang kau mau. Karena aku juga... aku juga...."
Akemi tiba-tiba terdiam.
"Aku juga?"
"Tidak jadi."
Akemi lalu pergi meninggalkannya.
Apa Akemi menyukai Hoshi juga, ya? Dia tiba-tiba jadi gugup. Aku jadi penasaran.
Kutanyakanlah apa yang ada di pikiranku sepulang sekolah.
"Akemi, apa kau menyukai Hoshi?"
Tanpa mengatakan apa-apa, dia malah menamparku.
__ADS_1