
(POV Teruaki Lev)
"Lev, temui aku sepulang sekolah. Di sini."
Pada jam istirahat, ketika Asuka baru keluar dari kelas, Hide berbisik di telinga kiriku.
Aku tak punya kesempatan membalas. Hide langsung pergi seolah tidak ingin aku menolak permintaannya.
Perasaanku tidak enak. Apa Hide sudah tahu hubunganku dan Asuka di masa lalu? Siapa yang memberitahunya?
Ini akan merepotkan.
***
Pulang sekolah, aku turuti permintaannya. Aku kembali ke kelas setelah para murid pulang dari piket.
Kupikir sudah datang cepat, tapi rupanya di dalam sudah ada Asuka dan Hide yang duduk berhadapan berbincang dengan akrab. Aku ragu untuk masuk, tidak ingin mengganggu waktu mereka berdua.
"Film yang kau rekomendasikan sangat seru. Ternyata film-film lama juga banyak yang menarik."
"Iya, memang seru! Aku suka tokoh utamanya. Dia mempunyai ciri khas unik yang tidak banyak dimiliki oleh tokoh utama film-film zaman sekarang."
"Iya, iya, kau benar! Kapan-kapan nonton film jadul bareng, yuk. Di rumahmu, ya!"
"Aduh, jangan deh, ibu dan ayahku orang yang merepotkan. Kalau mereka tahu aku punya pacar, mereka pasti akan sering memintamu untuk datang."
"Tidak apa-apa, aku ingin bertemu kedua orang tuamu, Hide."
"Nanti saja, deh."
"Eh, kenapa?"
Sial... jadi makin sulit untuk masuk.
Aku menunggu cukup lama di depan pintu, duduk menyender mendengar percakapan mereka yang tak kunjung usai. Aku menunggu waktu yang pas untuk masuk agar tak mengganggu mereka berdua.
Ketika mereka mulai terdiam, barulah aku bangkit. Aku menggeser pintu kelas, dan berjalan masuk dengan senatural mungkin.
"Maaf menunggu lama, tadi ada urusan."
"Oh, ya, duduk di sini, Lev."
Aku duduk di sebelah Hide dan Asuka yang saling berhadapan. Asuka tampak bingung, seperti tidak tahu bahwa aku akan datang. Dia hanya tersenyum padaku.
"Langsung saja. Lev, siapa Asuka bagimu?" tanya Hide.
"Siapa? Tentu saja pacar teman sekelasku."
"Tak perlu kau tutupi lagi, Lev. Aku sudah tahu semuanya. Katakan saja dengan jujur. Bilang semuanya di depan Asuka."
Sudah kuduga akan seperti ini jadinya. Ada yang memberitahu Hide soal hubunganku dengan Asuka dulu. Aku dipaksa untuk mengungkapkan semuanya.
"Maksudnya apa, Hide?" tanya Asuka.
"Dengar saja perkataannya." Hide mengarahkan pandangannya padaku, membuat Asuka mengikutinya.
"Ada apa, Teruaki-kun?" Asuka menatapku penasaran.
Kalau sudah begini, tidak bisa aku tutupi lagi. Kenapa juga aku berdebar-debar. Asuka sudah bukan pacarku lagi. Aku tak boleh senang berbicara dengan dirinya.
"Inami-san...." Aku menatap kedua bola matanya, yang dulu sering kutatap dengan penuh kebahagiaan, yang kini telah menjadi orang asing. "Kau adalah pacarku, Asuka."
Asuka menatap lurus padaku. Reaksinya agak terlambat.
"Ha-hah?"
"Dulu kita berpacaran, tapi kau melupakanku. Kau menyentuhku saat itu."
Asuka tampak sedikit kebingungan.
"Kutukanmu itu... orang yang menyentuhmu, akan lupa padamu. Begitu, kan?"
"Iya."
"Jadi, saat kita pacaran, aku menyentuhmu, sehingga aku lupa padamu. Begitu?"
"Ya."
Asuka menggaruk belakang kepalanya.
"Sungguh, aku tidak ingat. Memang begitu, ya. Hide?" Asuka menoleh ke arahnya.
"Aku tidak tahu. Apa kau punya buktinya, Lev? Seperti foto atau riwayat chat?"
"Aku tidak punya. Baik foto atau riwayat chat, aku sudah menghapusnya. Asuka lah yang punya."
Asuka langsung memeriksa ponselnya.
"Tidak ada, kok. Tidak ada foto dan chat kita berdua."
__ADS_1
"Bukan di ponsel yang itu. Di ponselmu yang satunya. Yang tercelup ke kolam renang saat aku mengagetkanmu. Setelah itu, kau belum membeli ponsel baru lagi, dan kau melupakanku."
Itu benar-benar sebuah bencana. Sehari setelah ponsel Asuka rusak, kutukanku muncul dan membuat Asuka lupa padaku. Aku jadi tak punya bukti untuk menunjukkan kebersamaanku dengannya.
"Ah, ponsel yang itu. Masih bisa diperbaiki sih, tapi aku sengaja beli yang baru karena ponsel lamaku modelnya sudah jadul. Apa harus aku perbaiki?"
"Tidak, tidak usah. Tidak ada gunanya juga. Aku sudah berkata putus padamu, Asuka. Kita bukan siapa-siapa lagi sekarang. Lanjutkan saja hubunganmu dengan Hide."
"Eh, tapi...."
"Perbaiki ponselmu sekarang juga, Asuka. Kita pergi ke tempat reparasi sekarang." Hide berbicara.
"Ah, bagaimana kalau ambil kartu memorinya saja? Nanti kita lihat isinya di laptop? Bagaimana?" Asuka memberi ide.
"Boleh."
"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya. Kalian berdua tunggu di sini."
"Ya."
Agak canggung rasanya berduaan dengan Hide. Kami berdua sangat jarang berbicara. Teman akrabku di kelas cuma Roman dan Erza. Sisanya aku tidak terlalu dekat.
"Kau masih menyukai Asuka, ya?"
"Tidak."
"Jangan bohong!"
"Tidak."
Ya, aku memang masih menyukai Asuka, tapi tak ada gunanya mengatakan itu pada Hide. Aku takut Hide jadi kepikiran.
"Jujur saja, Lev."
"Kalau masih suka, aku pasti mengajaknya berpacaran lagi."
"Cih."
Tak lama, Asuka pun datang. Dia menaruh laptop di atas meja, dan memasukkan kartu memori ke card reader.
Aku dan Hide langsung menatap layar laptop Asuka, bersiap untuk melihat isinya.
"Bagus, kartunya terbaca. Sekarang, mari kita lihat isinya...."
Saat membuka folder galeri, sekumpulan foto-fotoku dengan Asuka langsung muncul di bagian paling atas. Terus bermunculan ke bawah sampai jumlahnya melebihi ratusan.
"Astaga...." Asuka bergumam.
Kenangan-kenangan lama muncul kembali dalam kepalaku. Momen-momen ketika aku masih berpacaran dengan Asuka.
"Ayo, kita lihat satu-satu."
Asuka mengklik foto paling atas. Nampak foto kami yang baru pulang dari bioskop. Asuka yang memotret. Aku hanya mengangkat dua jari.
Foto berikutnya di tempat makan. Kali ini hanya fotoku sendiri. Asuka memotretnya diam-diam.
Asuka terus memencet tombol next, menampilkan foto-foto kami berdua. Cukup banyak fotoku yang dia ambil secara diam-diam.
"Astaga... kenapa... kenapa aku menangis? Padahal aku tidak ingat kejadian ini."
Tanpa kusadar, Asuka sudah meneteskan air mata.
Dia terus menggulir fotonya, sampai berhenti di sebuah video.
Asuka langsung memutarnya.
"Hello!!! Siapapun yang melihat, dengarkan aku!!! Pacarku, Teruaki Lev, dia bilang tidak mau punya pacar lagi setelah dikhianati oleh mantannya, katanya trauma, hahaha. Tapi sekarang aku telah merebut hatinya. Cukup sulit sih, tapi karena aku berusaha keras, akhirnya dia mau jadi pacarku, yeayy!!!"
"Oi, kau sedang apa, Asuka? Dasar orang gila."
Aku termangu. Itu adalah video ketika kami baru saja jadian. Lokasinya di apartemenku, saat sepulang sekolah. Dia memaksa ingin jadi pacarku, padahal aku selalu menolak, tapi dia tak pernah menyerah. Akhirnya aku pun mengiyakan, aku tak berharap akan berjalan lancar, tapi selama menjalani hubungan ini, aku malah jadi jauh lebih mencintainya.
Kami beda sekolah, tapi entah mengapa dia bisa mengenalku.
"Lev depresi banget, gak mau pacaran lagi katanya gara-gara pacarnya selingkuh. Aku kasihan. Aku gak mau dia punya pemikiran bahwa semua cewek itu tukang selingkuh. Aku akan buktikan pada Lev bahwa cewek setia juga ada. Aku kasihan sama Lev. Jadi aku terpaksa nembak dia."
"Oi, akulah yang terpaksa menerimamu! Ayo putus sekarang juga!"
"Aaah!!! Iya, iya, cuma bercanda!!! Jangan marah, dong!!!"
Video terus berlanjut.
"Dengan ini, aku Inami Asuka, menyatakan, akan setia selamanya pada Teruaki Lev. Tidak akan pernah meninggalkannya untuk laki-laki lain. Aku, Inami Asuka, akan jadi pacar terakhir Lev, dan menjadi istrinya di masa depan! Ayo Lev, kau juga buat sumpah!"
"Kita baru pacaran Asuka, paling sebulan putus."
"Heiiii, jangan bilang begitu! Aku sulit mendapatkanmu, jangan bilang putus dengan mudah!"
"Iya, iya."
__ADS_1
"Ayo buat sumpah juga."
"Iya, iya, aku akan mencintaimu selamanya, Asuka. Puas?"
"Horee!!!"
"Tapi bohong."
"Eehhhh!!!"
Video berakhir. Asuka tidak melanjutkannya lagi.
Dia langsung menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, maafkan aku, Lev."
"Tidak apa-apa, ahaha. Kau sedang dimabuk cinta saat itu. Jadi membuat janji yang tidak masuk akal. Aku bisa mengerti."
"Maafkan aku Lev, maaf." Asuka menyeka air mata, suaranya terdengar sendu.
Hide tampak begitu sebal. Dia pasti cemburu melihat Asuka yang terlihat begitu menyukaiku.
Suasana jadi canggung. Asuka masih menangis. Hide tidak kunjung bicara. Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata.
"Maaf Lev, maaf. Aku sama sekali tidak ingat semua kejadian itu. Aku tidak ingat pernah membuat janji padamu. Maaf karena pada akhirnya, aku sama saja dengan perempuan lain. Aku sama-sama mengkhianatimu."
"Tidak apa-apa. Kau tidak salah. Ini semua karena kutukanku, ahaha."
"Tolong, jangan trauma lagi pada perempuan. Aku tidak mau menjadi alasan kau tidak mau punya pasangan lagi selamanya."
"Iya, tidak kok, tenang saja."
Maaf Asuka, tapi aku memang sudah tidak percaya lagi pada perempuan. Aku akan mati membusuk sendirian selamanya.
"Kalau begitu, lanjutkan hubunganmu dengan Hide, Asuka. Semua yang ada di foto ini hanyalah masa lalu. Hubungan kita sudah berakhir. Ya?"
Asuka mengangguk.
"Meskipun ingatanmu kembali, kau harus tetap bersama Hide, oke? Aku sudah tidak mencintaimu lagi sekarang. Aku hanya ingin kita berteman."
Asuka mengangguk.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Aku beranjak pergi, meninggalkan Hide dan Asuka yang masih bersama di ruangan itu.
Sekarang semuanya benar-benar telah berakhir.
***
"Lev, aku sudah putus dengan Asuka."
"Hah? Kenapa?!" ucapan Hide mengagetkanku.
"Rasanya tidak adil mengambil Asuka saat dia sedang lupa pada dirimu. Rasanya seperti bukan diri Asuka yang asli. Karena itu, aku akan menunggu sampai ingatannya kembali. Setelah itu, kita lihat, siapa yang lebih Asuka sukai, kau atau aku. Kita bersaing secara sehat."
"Hide...."
"Aku tahu, kau masih menyukai Asuka, Lev. Terlihat jelas di matamu."
"Kau tidak perlu...."
"Jangan mengalah lagi! Kita bersaing secara adil kali ini! Oke?" Hide menepuk pundakku.
"Baiklah."
Hide tersenyum.
"Dan juga, tolong jangan berwajah putus asa begitu. Ekspresimu mengatakan bahwa kau sudah tidak percaya lagi pada perempuan. Jangan begitu Lev, kau ingin membuat Asuka bersedih, ya? Tenang saja, Lev. Gagal dua kali bukan berarti akan gagal lagi untuk yang ketiga kalinya. Kejadian dengan Asuka hanya kecelakaan. Dia bukan gadis yang buruk. Dan kalau kau benar-benar ingin gadis yang baik. Kelas ini punya banyak. Tapi jangan Akemi. Kau tak mungkin bisa mendapatkannya. Ayo kita ke kafe sepulang sekolah. Kita mengobrol yang banyak."
"Hide...."
"Bu-bukan berarti aku ingin jadi temanmu, ya! Aku hanya mencoba menghiburmu! Jangan salah paham!"
Aku tertawa kecil.
"Iya, iya, baiklah, ayo kita pergi nanti."
Setelah itu, kami sepakat untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan Asuka, melainkan hanya berteman biasa. Asuka pun tak keberatan dengan keputusan ini. Dia putus dengan Hide secara baik-baik.
Entah mengapa, semuanya malah menjadi lebih baik. Aku salah mengira bahwa Hide adalah orang yang arogan. Dia ternyata sangat baik.
Aku bersyukur punya teman seperti dirinya.
"Berterima kasihlah pada Sera. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan tahu loh kau pernah pacaran dengan Asuka."
"Sera, ya. Iya, aku akan berterima kasih padanya nanti."
Sejak SMP, kami hampir tak pernah berinteraksi. Meski banyak yang menjodohkan, tapi kami sama-sama tidak peduli.
__ADS_1
Kupikir dia membenciku. Benci karena sering dijodohkan denganku. Syukurlah di kelas ini tidak. Mungkin karena itu dia tidak membenciku lagi.
Aku akan berterima kasih padanya nanti.