
Sepemalu-pemalunya dirimu, aku yakin, kau tidak sepemalu teman sekelasku yang bernama Lullin. Gadis itu pemalunya keterlaluan sekali sampai-sampai pada dirinya sendiri pun malu.
Namun, malu bukan berarti tidak punya teman. Penghuni Kelas 1-F untungnya orang-orang yang baik. Lullin tetap bisa berteman dengan kami.
Meski begitu, sungguh, tingkat pemalu Lullin sudah berada di level lain. Melihat mobil malu, melihat kucing malu, melihat papan tulis pun malu sehingga Lullin sering menunduk saat di kelas.
Melihat benda saja malu, apalagi melihat wajah orang lain. Lullin akan selalu menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya.
Merepotkan sih tidak, karena kami masih dapat berkomunikasi. Yang merepotkan dari Lullin adalah kutukan miliknya.
Kutukan Lullin adalah jika dia menguap, seseorang di ruangan akan pimgsan.
Jika Lullin sedang naik lift lalu tiba-tiba menguap, maka salah satu penumpang di lift akan pingsan. Jika Lullin menonton pertandingan basket lalu tiba-tiba menguap, maka salah satu pemain di lapangan akan pingsan. Jika Lullin naik becak yang sedang menuruni bukit lalu tiba-tiba menguap, bayangkan sendiri akibatnya.
Setiap kali Lullin menguap, seseorang akan pingsan. Orang yang pingsan terpilih secara acak, asalkan berada di ruangan yang sama. Semua orang di Kelas 1-F pernah menjadi korban kutukan miliknya, kecuali Lev dan Akemi.
Aku tidak tahu mengapa bisa begitu, tetapi mereka berdua sangat hebat selalu bisa lolos dari kutukan Lullin.
...×××...
Suatu hari, pelajaran sedang berlangsung. Setiap anak disuruh maju ke depan untuk berpidato bahasa inggris.
Murid yang pertama maju adalah Sera. Gadis yang cantik dan juga pintar. Kalau tidak ada Akemi, dia pasti yang akan menjadi nomor satu di kelas ini.
Awal-awal membacakan pidato tidak ada masalah, namun setelah itu dia jatuh pingsan.
Bukan karena belum makan atau kekurangan darah, tapi karena Lullin menguap!
Nishimura-sensei langsung menatap ke arahnya.
"Ma-maaf!!! Saya tidak sengaja!!!" Lullin menundukkan kepala berkali-kali sampai menabrak ke meja.
"Ya sudah, jangan nguap lagi, ya."
Lullin mengangguk.
Karena Sera pingsan, dia pun digotong ke UKS.
Pelajaran kembali dilanjutkan. Kali ini yang maju adalah Hide, seorang lelaki yang selalu terlihat serius.
__ADS_1
"I am very happy," ucapnya dengan wajah datar.
Pidato Hide tidak panjang seperti pidato Sera tadi. Tapi karena terlalu datar, Lullin jadi mengantuk.
"Hoahm...."
*gletak
Hide pingsan.
Guru bahasa inggris kembali menatap Lullin.
"Ma-maaf, Sensei!!! Tidak akan diulangi lagi, kok!!!" Lullin menabrakan lagi wajahnya ke meja.
"Kamu ke UKS saja kalau mengantuk, Bapak mengizinkan kok," ucap Nishimura-sensei.
"Sa-saya tidak mau, Sensei! Saya ingin mendengarkan pidato teman-teman!" Dia bersikeras. "Saya mohon, kali ini saya tidak akan menguap lagi. Saya berjanji!" Lullin menangkupkan kedua tangan.
Nishimura-sensei pun mengiyakan.
Kupikir Lullin benar-benar akan berhenti menguap setelah memohon dengan sangat seperti itu, tapi ternyata tidak ada perubahan.
Murid-murid Kelas 1-F yang maju ke depan tumbang satu per satu. Roman, Hoshi, Nana, Giana, Gen, dan Keiko, secara bergantian mereka pingsan ketika sedang berpidato. Sera yang baru kembali dari UKS pun pingsan lagi. Staff kesehatan sekolah sampai berbondong-bondong masuk ke kelas untuk menggotong anak-anak yang pingsan.
"Korban selanjutnya?" Nishimura-sensei menatap murid-murid yang hanya tersisa lima orang, yaitu aku, Lullin, Shino, Lev, dan Akemi.
Para staff kesehatan pun sudah menunggu di dekat pintu bersiap menggotong murid yang akan pingsan berikutnya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju ke depan, apalagi Lullin yang pemalu. Dia bilang ingin maju terakhir.
"Ayo, siapa korban selanjutnya?" Nishimura-sensei mendesak agar salah satu dari kami segera maju.
Di antara murid-murid yang ketakutan, akhirnya ada satu yang berani maju ke depan. Dia adalah Lev, lelaki yang tidak pernah terkena kutukan Lullin.
"My name is Lev, I am very happy." Lev berpidato dengan sangat lancar.
Tidak ada kejadian aneh yang menimpanya, Lev berpidato dengan lancar, tidak pingsan seperti murid-murid yang lain.
Yang pingsan malah Shino yang sedang duduk di bangkunya.
__ADS_1
"Terima kasih, Lev. Murid selanjutnya silakan maju."
Aku menoleh ke belakang.
Murid yang masih bangun tinggal Akemi dan Lullin. Tinggal kami bertiga yang belum melakukan pidato.
Kalau aku maju ke depan, kemungkinan aku yang akan menjadi korban selanjutnya.
"Ayo, siapa selanjutnya."
Akemi tidak bergeming. Dia masih duduk di bangkunya.
"Akemi, ayo maju. Kau takut kena kutukan Lullin, ya?" Aku berteriak padanya, berharap dia yang maju lebih dulu.
Akemi menggeleng.
"Orang yang selanjutnya akan pingsan adalah Nishimura-sensei. Jadi percuma aku maju, karena nantinya tidak akan dinilai."
"Eh? Dari mana kau tahu?"
"Firasatku mengatakan begitu."
Mendengar hal itu, aku merasa lega. Entah mengapa, aku bisa mempercayai perkataan Akemi. Aku pun mengajukan diri untuk maju.
"Sensei, saya siap!" Aku mengangkat tangan.
"Ma-maaf, kucing bapak tiba-tiba telpon. Bapak akhiri saja pertemuan kali ini. Sampai jumpa!" Nishimura-sensei berlari meninggalkan kelas.
Nishimura-sensei juga percaya pada perkataan Akemi. Dia tampak ketakutan.
"Akemi, Nishimura-sensei sudah pergi, siapa yang selanjutnya akan pingsan?" tanyaku.
"Kau, Erza."
"Ma-masa sih?"
"Itu kalau Lullin menguap."
"Oh...."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Lullin kembali menguap.
Dan yang pingsan ternyata Akemi.