
Giana, Erza, Yurina, Rock, Keiko, Hide, dan Nana berdiri di sisi jalanan yang jarang dilalui kendaraan. Belakang tempat mereka berdiri adalah kawasan menuju hutan dan pegunungan. Terdengar suara-suara serangga yang hanya bisa diartikan oleh Erza.
Mereka bertujuh berdiri cukup lama di sana, menunggu waktu menuju pukul lima sore.
"Oh iya, aku baru sadar. Kalau masuk kampung hantu bakal sulit untuk keluar, kan?" ucap Keiko.
"Ya, terus kenapa?"
"Di sini kan ada Yurina! Kalau kita sulit keluar, teleportasi saja oleh Yurina!"
Ide cemerlang Keiko mendapat respon positif dari teman-temannya.
"Benar juga, aku baru kepikiran."
"Yurina sudah lama tidak menggunakan kutukannya, aku sampai lupa."
"Kalau gini kita gak perlu takut untuk pulang."
Yurina yang dibicarakan hanya memasang wajah dengan datar.
"Terus saya gimana? Siapa yang akan menteleportasi saya?"
Tidak ada yang bisa menjawab, semuanya jadi merasa bersalah.
"Kalau situasinya genting, teleportasi saja mereka, Yurina. Aku akan tetap di sana bersamamu." Erza tersenyum.
"Kalau gitu sih gapapa." Yurina mengangguk-angguk.
Saat langit mulai berwarna oranye, sebuah bis tiba-tiba muncul dan berhenti di halte tempat mereka berdiri.
"Anjir, beneran ada!" Keiko kaget sekaligus terpana.
"Ini beneran bis hantu?" Rock menatap Hide.
"Tidak pernah ada bis yang berhenti di halte ini selama bertahun-tahun. Sudah pasti ini bis hantu."
Rock menelan ludah.
"Tiba-tiba, aku jadi ragu untuk masuk."
"Kau takut hantu?" tanya Keiko.
"Tidak, tidak, ayo kita masuk."
Mereka bertujuh pun masuk ke dalam bis tersebut. Hal yang membuat mereka terkejut, bis ini tidak memiliki sopir, dan kursi-kursi di dalam sudah dipenuhi oleh orang-orang yang terlihat transparan.
"Ka-kalian melihatnya?" tanya Giana.
"Jelas banget."
"A-aku takut!!!" Nana setengah berteriak.
Mereka berjalan menuju kursi bagian belakang, bersiap menempati kursi yang kosong.
"Aku duduk dengan Rock-hentai, ya," pinta Nana.
"Ehh, Rock dengan aku lah!" Keiko menyerobot.
"Ya sudah, dengan Erza-hentai!"
"Kamu mau ribut sama saya?!"
"Ehh... ehh... kalau gitu...."
"Kamu dengan Giana saja, aku bisa sendiri." Hide pun duduk di salah satu kursi yang kosong.
Bukannya duduk bersama Giana, Nana malah duduk di sebelah Hide, menyerobot masuk agar duduk di sebelah jendela.
"Nana... kenapa kau tidak duduk denganku?" Giana menatapnya dari kursi depan.
"Aku ingin duduk dekat jendela, hehe."
Giana cemberut.
"Kalian sudah menghubungi orang tua belum? Perjalanan ini mungkin memakan waktu lama, loh." Erza mengingatkan.
"Oh iya, aku akan kabari mereka dulu."
"Aku juga."
"Saya tidak perlu, orang tua saya ada di Rusia."
Tak lama kemudian, bis pun melaju.
***
Suara burung berkicau terdengar dari luar. Mentari pagi menerobos masuk melalui jendela.
Saat terbangun, bis yang mereka tumpangi sudah berhenti di ujung jalan. Penumpang lain sudah turun. Hanya menyisakan mereka bertujuh.
"Uhum... kenapa pintunya gak mau buka, ya?" tanya Keiko.
Mereka hendak keluar, tapi pintu bis tak bisa dibuka.
__ADS_1
"Apa kita harus bayar dulu?"
Hide tiba-tiba menaruh tujuh buah kerikil di dekat kaca jendela depan. Setelah itu, pintu pun terbuka dengan sendirinya.
"Lah, bayarnya pake batu doang? Murah amat," celetuk Erza.
"Gak harus batu, kok, yang penting kasih barang," jawab Hide sembari turun.
"Berarti dikasih upil pun bisa, ya?"
"Kayaknya bisa."
Giana menatap penasaran. "Hide, kau pernah ke sini ya sebelumnya?"
"Tidak, temanku yang bercerita."
"Oh...."
Mereka turun tepat di sisi jalan, di depan sebuah gapura tua yang bertuliskan nama desa. Tidak ada bangunan lain di sekitar jalanan itu, hanya ada pepohonan yang membentang di sepanjang jalan.
"Onika... Kushi... Mura?" Yurina mengeja.
"Onikakushi Mura. Begitu cara bacanya," ucap Hide.
"Kampung hantu, ya."
Hide mengangguk.
Tanpa basa-basi, mereka pun berjalan masuk melewati gapura itu.
"Kok ada yang aneh ya...." Selama berjalan, Erza merasa ada sesuatu yang janggal.
"Lah, sekarang udah pagi?! Bukankah kemarin kita berangkat sore?!" Keiko yang terlebih dahulu sadar.
"Eh... bener juga, ya. Kok baru sadar."
"Saya tidur selama perjalanan."
"Aku juga."
"Aku pun."
Semuanya ternyata tertidur saat bis melakukan perjalanan.
"Kalau sekarang udah pagi, berarti bis yang kita tumpangi... jalan berapa jam, ya?"
"12 jam lebih."
"Waduh, tempat ini sejauh apa, sih?!"
"Tentu saja, tulisan di gapura tadi kan bahasa Jepang."
"Sudahlah, itu tidak penting, kita cari Lullin sekarang."
Mereka berjalan mengelilingi desa yang benar-benar kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak terlihat ada orang, atau suara-suara manusia. Tempat ini seperti sudah ditinggalkan.
"Sepi banget, ya."
"Ya, namanya juga kampung hantu."
"Tapi rumahnya masih pada bagus, loh. Bukan rumah-rumah rusak yang habis terkena badai."
"Ya, hantu juga pengen tinggal di rumah yang bagus, lah."
"Terserah."
Mereka terus berjalan mengelilingi desa yang luasnya tidak mereka ketahui. Sejauh apapun mereka berjalan, tidak pernah sampai di ujung desa. Jalan terus terbentang, dan rumah-rumah serta toko-toko yang mereka lalui semuanya berbeda.
Dua jam berlalu tanpa menemukan sedikit pun petunjuk akan keberadaan Lullin.
"Lullin! Lullin! Kau di mana?!"
"Lullin... ayo pulang!"
"Lullin, Nishimura-sensei tidak marah, ayo keluar!!!"
Mereka berteriak-teriak memanggil namanya, tapi tidak ada satu pun balasan yang menyahut.
"Ini gimana... Lullin tidak kunjung menjawab."
"Apa dia sedang tidur di salah satu rumah?"
"Lullin ada di salah satu rumah? Tapi rumah yang mana? Ini banyak banget, loh."
"Kita coba ketuk satu-satu?"
"Eh... gak bakal ganggu?" Nana khawatir.
"Kita datang ke sini aja udah ganggu. Sekalian aja," balas Erza.
"Kalau nanti keluar hantu gimana?"
"Ya gapapa, ini kan kampung hantu. Malah aneh kalau yang keluar bapakmu."
__ADS_1
"Erza-hentai!" Nana mencubit tangannya.
Mereka pun setuju untuk mengetuk salah satu pintu rumah yang tertutup.
Tok tok tok
"Permisi, ada paket~"
"Oi, Erza, kau jangan bercanda!" Hide membentak.
"Kalau gak gini nanti gak dibuka pintunya."
Pintu pun terbuka. Sesosok manusia hitam tanpa kepala muncul di hadapan mereka.
"Aaa!!! Hantu!!!" Nana berteriak.
"Ya memang hantu, Nana," balas Keiko datar.
Rock tiba-tiba berpindah ke belakang Keiko. Mencengkram lengan baju seragamnya.
"Rock... kau takut, ya?" tanya Keiko.
"Ti-tidak, kok."
Keiko hanya tertawa kecil.
"Anu... apa di sini ada Lullin? Teman kami?" tanya Giana pada hantu itu, memberanikan diri untuk bertanya.
Hantu itu tidak membalas, hanya menyodorkan tangannya.
"Apa?" tanya Giana.
Hantu itu menggerak-gerakan tangannya kembali, seperti meminta sesuatu.
"Tuh kan, dia minta paket! Ini salahmu, Erza!" Hide menepuk punggungnya.
"E-eh...." Erza kebingungan.
"Ini paketnya." Yurina menyerahkan sebuah karet gelang yang masih dibungkus.
Hantu itu menerimanya, lalu menutup kembali pintunya.
"Maaf Yurina, kau jadi harus menyerahkan gelangmu. Padahal masih baru, ya?" Erza merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Itu cuma gelang." Yurina tersenyum.
"Kau memang baik ya, Yurina."
"Iya dong, hehehe."
Melihat Erza dan Yurina yang bersikap akrab begitu, Giana dan yang lain selalu merasa curiga.
"Kalian berdua pacaran, ya?" tanya Giana.
"Tidak, tidak." Keduanya menyanggah dengan cepat, tanpa merasa malu, atau wajah yang tiba-tiba memerah.
Keduanya memang benar-benar hanya teman.
"Lullin tidak ada di rumah itu, kan? Hantu itu tidak menyembunyikannya, kan?" Giana penasaran.
"Tidak, tenang saja, Lullin memang tidak ada di sana. Satu hal yang temanku ceritakan saat dia diculik ke sini. Dia bilang, hantu di sini tidak ada yang jahat. Jadi kemungkinan hantu itu tidak sedang menyembunyikan Lullin." Hide menjelaskan.
"Lah, kalau hantunya tidak jahat, kenapa mereka malah menculik temanmu?"
"Temanku bilang hantu di sini bisa berwujud jadi manusia saat berada di sisi dunia kita. Dia menghasut orang-orang depresi untuk datang ke tempat ini, tapi tidak menyakiti, justru memberi mereka tempat tinggal. Orang yang sudah datang ke sini, tidak bisa kembali, alasannya karena mereka bahagia di sini, bahagia hidup berdampingan dengan para hantu yang baik. Itulah mengapa tidak pernah ada yang mau kembali setelah sampai di kampung ini."
Mereka mengangguk-angguk.
"Jadi temanmu itu depresi, lalu diculik, tapi ujung-ujungnya mau pulang?"
Hide mengangguk. "Begitulah."
Erza menghela napas.
"Jadi, kalau Lullin bahagia di sini. Dia juga tidak akan mau pulang?"
Giana tersentak.
"Tidak, dia harus pulang! Apapun yang terjadi, dia harus pulang!" Giana bersikukuh.
"Iya, Lullin harus pulang!" Nana menambahkan.
Hide tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita cari dia di rumah yang lain."
"Waah, Hide senyum," komentar Keiko.
"Memangnya tidak boleh, ya?!"
"Hahaha, maaf-maaf, soalnya jarang. Hide kan selalu serius."
"Iya, Hide cuma senyum saat bersama Inami saja." Giana mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Wah, sayang banget malah putus." Yurina geleng-geleng.
Hide tersipu malu. "Su-sudah lah... ayo kita ketuk rumah yang lain."